Tag Archives: traditional village

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading warisan lampau desa adat beleq, sembalun

desa tradisional senaru, kunjungan pasca rinjani

cover

A village is a hive for a glass, where nothing unobserved can pass.
– Charles Spurgeon

Aku melihat gerbang desa ini tengah malam ketika kami turun dari gunung Rinjani di desa Senaru. Keesokan paginya ketika kami sudah beristirahat semalam, aku meluangkan waktu untuk mengunjungi desa yang berada di tengah permukiman biasa, namun dipisahkan oleh gerbang. Seolah ada dunia tersendiri di dalamnya.

Kami diterima oleh salah satu warga desa. Ia mengenakan sarung khas Sasak dan banyak bercerita. Di desa adat Sasak Senaru bangunannya masih menggunakan material maupun bentuk lokal. Hampir seluruh mata pencaharian dari kaum lelaki di sini adalah bertani, karena itu di siang hari suasananya tampak sepi.

Di bagian depan desa terdapat dua bale bersama. Bangunan dengan tiga tonggak utama di tengah ini dipergunakan untuk aktivitas bersama dari empat rumah yang ada di depannya. “Di sini digunakan untuk belajar bersama anak-anak, atau ibu-ibu yang mengobrol sambil bekerja mempersiapkan masakan, atau sering juga digunakan bapak-bapak untuk pertemuan. Duduk-duduk melingkar saja di atas dipannya itu, sambil membicarakan hal-hal yang dianggap penting,” jelas bapak penduduk asli itu.
Continue reading desa tradisional senaru, kunjungan pasca rinjani