cerita dari agats, kota sejuta papan

“To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.”
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

Setelah sekitar 10 jam perjalanan malam di laut, KRI Hasan Basri merapat di Pelabuhan Besar Agats, Papua pada jam 07.16 WIT. Malam sebelumnya kami berangkat dari Dock Freeport di Timika untuk menuju ibukota kabupaten Asmat ini melalui jalur laut. Jalur ini adalah salah satu pilihan menuju Agats dari Timika, selain menggunakan pesawat udara hingga bandara Ewer di Agats.

Hampir keseluruhan tanah di Agats adalah rawa-rawa, sehingga tak heran bahwa kota ini berdiri di atas tonggak-tonggak yang memenuhi setiap ujung kotanya. Sementara barang-barang diangkut lagi dengan perahu ketinting dari tepi pelabuhan, kami berjalan kaki menyusuri jalan di kota Agats. Tim UI Peduli bersama Satgas Kesehatan TNI akan berada di Asmat selama beberapa waktu untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Continue reading

Advertisements

trizara: piknik kaya rasa

Lembang adalah salah satu tempat favoritku di Bandung. Sejak aku SD hingga beberapa tahun yang lalu, aku selalu ke Lembang dengan keluarga, menikmati udara dinginnya yang menggigit kulit. Sayangnya bukan cuma aku yang tahu bahwa Lembang itu indah, sehingga makin banyak orang yang menuju ke sana dan mengakibatkan akses menujunya menjadi padat dan macet.

Karena itu, sepertinya memang untuk liburan di Lembang tak cukup satu hari. Makanya ketika dapat tawaran untuk menginap di Trizara Resorts di Lembang selama 3 hari 2 malam, aku langsung mengiyakan. Apalagi bersama teman-teman travel blogger yang lain, pasti bakal banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana bersama-sama, dibanding hanya liburan sendiri saja.

Perjalanan dari Jakarta ke Lembang sekitar 3 jam lebih, melalui jalan tol Cikampek, jalan tol Cipularang hingga keluar di pintu tol Pasteur. Bis yang membawa kami melaju terus di Jl Pasteur untuk berbelok di depan RS Hasan Sadikin, melewati Mal Paris van Java, terus ke atas bertemu Jl Cipaganti dan Jl Setiabudi, lewat depan terminal Ledeng dan UPI, lalu terus menanjak ke atas melalui jalan berkelak-kelok. Penasaran juga di mana sebenarnya Trizara ini berada, ternyata tepat sebelum gerbang selamat datang Lembang, bis berbelok ke kiri arah Cihanjuang. Sempat berhenti di depan restoran tahu, penumpang berganti dari bis ke angkot untuk masuk ke jalur menanjak yang menantang, dan akhirnya tiba di gerbang Trizara. Continue reading

simpul belajar The Hive singapura

Memasuki kampus Nanyang Technological University di Singapura, suasana teduh dan sejuk melingkupi sebagian besar jalan-jalannya. Pikiranku melayang pada kampus almamater di tanah air yang juga berada di tengah hutan yang hijau, tapi sudah mulai penuh oleh bangunan. Bis tingkat yang membawa kami dari stasiun Bon Lay tadi ikut masuk dan mengelilingi jalan lingkar kampus. Kalau duduk di lantai atasnya, pemandangan kampus akan terpampang seluas jendela.

Tujuan kami, The Hive Learning Hub yang berada di setopan terakhir sebelum bis keluar dari jalur lingkar kampus NTU ini. Sesudah menunggu Intan yang naik bis berikutnya, kami hanya berjalan kaki hingga bangunan The Hive yang difungsikan sebagai simpul pertemuan, tidak hanya antar mahasiswa untuk saling bertukar wawasan dan ilmu, namun juga bisa bertemu rekanan bisnis yang diinisiasi dari kampus. Continue reading

upaya mengembalikan hijau

Good design is sustainable, Great design is responsible

Yang membuat aku banyak berpikir ketika mengunjungi beberapa bangunan yang menerapkan prinsip green building di Singapura ini, ternyata ada investor yang mau menanamkan modal yang cukup besar untuk sistem ini bisa dijalankan. Kebanyakan pengembang di negeri sendiri ketakutan dengan initial cost atau maintenance cost yang tinggi pada sistem dan tidak berpikir bahwa nilai penghematannya akan membuatnya untung sesudah beberapa tahun.

Bangunan-bangunan ini berdiri tidak hanya untuk jangka waktu yang pendek, sehingga bagaimana ia bekerja dan ‘menghidupi’ dirinya sendiri pun perlu dilakukan jangka panjang, tidak sekadar menaikkan biaya perawatan pada penyewa lantainya, tapi juga membuatnya cerdas dan hemat sehingga meminimalisasi dampak lingkungan terhadap generasi sesudahnya. Continue reading

star vista mall singapore: bermain angin

“Jadi, apa yang membuat bangunan ini masuk kategori Green Building?” Begitu tanya bu Elisa sesaat kami menaiki eskalator di tepi atrium besar Star Vista Mall yang berada di kawasan Buona Vista pada perjalanan ekskursi Sustainable Architecture ke Singapura beberapa waktu yang lalu. Bangunan dengan bentuk sudut-sudut bertumpuk itu sudah memesona pandanganku sejak dari seberang kaveling tanah terbuka di depan stasiun MRT.

Star Vista Mall adalah mall pertama di Singapura yang menggunakan ventilasi alami untuk koridor-koridornya. Bukaan massa yang besar pada atrium ditopang oleh kolom-kolom super besar yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dan koridor tepi yang menghadapnya, membuat sirkulasi udara berjalan dengan lancar, dengan bukaan-bukaan kecil di ujung-ujungnya untuk mengalirkan udara. Karena beban energi pada pusat perbelanjaan terutama pada sistem pendingin, dengan ventilasi natural seperti ini tentu kerja mesin pendingin tak terbebani dengan koridor. Sehingga tentu saja, angka pemakaian energi per m2 bangunan akan menurun. Meski demikian, tetap saja di beberapa titik ada penggunaan kipas angin untuk lebih menyalurkan udara. Continue reading

kapal

“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.” 
― Dee Lestari

Judulnya sama dengan buku ke-9 Balada si Roy, Kapal. Ceritanya pun tentang Maluku, negeri berbagai pulau yang membuat kapal menjadi transportasi utama. Setelah berhari-hari naik berbagai macam kapal mulai dari speed boat, kapal kayu hingga ketinting, aku harus kembali ke Ternate dari Morotai. Karena tak mendapat tiket pesawat, maka pilihanku hanyalah jalur laut. Continue reading

morotai dan macarthur


“There is no security on this earth; there is only opportunity.”
– Douglas MacArthur

Menjejakkan kaki di Morotai bukan sekadar keinginan biasa. Pulau kecil di penghujung Halmahera dan menghadap laut Pasifik ini memang bukan pulau biasa, karena pada saat Perang Dunia II, pulau ini adalah beberapa kali diperebutkan karena lokasinya yang strategis. Awalnya Jepang menguasai Morotai dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel, namun pada tahun 1944 Pasukan Sekutu yaitu Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebutnya.

Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat dikenal sebagai otak strategis dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di Morotai, ia berperan besar untuk kemenangan Amerika Serikat dan sekutu di Wilayah Pasifik. Ia terkenal dengan kata-katanya, “I shall return!” di tahun 1941 ketika ia menjabat sebagai Penasehat Angkatan Darat Filipina dan terpaksa mundur ke Australia usai penyerangan Jepang pada Pearl Harbour. Benar, ia kembali dan memenangkan daerah Pasifik lagi dari Jepang.

Bulan Juli 1944, komandan wilayah barat Pasifik Selatan ini memilih Morotai sebagai pangkalan udara dan laut yang dibutuhkan untuk membebaskan Mindanao (Filipina) pada 15 November 1944. Untuk menguasai kembali tidak mudah, karena tentara Jepang tersebar di banyak bagian pulau ini yang masih berupa hutan-hutan. Namun dengan ribuan tentara yang tergabung dalam Divisi Infanteri 31 dengan ratusan kapal laut, Oktober 1944 Morotai dikuasai Sekutu. Landasan terbang pun dibangun di di Warna dan Pitu yang diperuntukkan untuk pesawat tempur dan pesawat pembom, sehingga panjang landasannya menyesuaikan dengan kebutuhan pesawat-pesawat tersebut. Continue reading

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading

dua senja langit tobelo

“What a grand thing, to be loved! What a grander thing still, to love!” 
― Victor Hugo

Pernahkah bepergian hanya mengandalkan kejutan tanpa ekspektasi, karena rencana yang mendadak saja terjadi atas dorongan orang-orang baik yang ada di sekitar. Tiba-tiba saja rasanya berada di dalam mobil travel menuju Tobelo, dengan tujuan rumah tinggal keluarga ibu Heni dan Indah, sebagai tempat transit sementara sebelum kembali menyeberang, tanpa tahu bagaimana cara kembali ke Ternate lagi.

Mungkin benar ada jika ada yang berkata bahwa Tobelo itu adalah to-be-loved, karena sudut-sudutnya yang indah mengundang untuk bercengkrama sembari menunggu kapal yang berangkat esok hari. Banyak cerita yang terungkap ketika tiba, tentang masa lalu yang tak semua orang tahu. Continue reading

Hello, Barcelona!

“Quiere Darme Su Direccion Senorita?”
Kuingin kau ajak serta alam Ini
“Como Se Pronucia Oh Juwita”
Ingin kunyatakan cinta sepenuh hati

Mungkin sejak aku mendengarkan lagu Barcelona sewaktu SD inilah yang membuatku sangat penasaran terhadap kota yang bernama indah ini. Terdengar mengalun, apalagi dinyanyikan dengan nada merayu dengan rentak latin menemani suara Fariz RM yang berparas ganteng ini, menobatkannya juga menjadi penyanyi favoritku saat itu. Saat belum ada google yang membantu menemukan apa saja, ensiklopedi dan majalah-majalah sesekali membawa anganku menuju kota ini.

Olimpiade Barcelona tahun 1992 kembali memenuhi televisi dengan berita-berita dari kota impian ini. Stadion-stadion indah memenuhi televisi dan liputan tentang indahnya musim panas di sana beserta keriaan-keriaan sepanjang pesta olahraga ini membuatku penasaran pada kota ini, apalagi dengan lagu Barcelona-nya Fariz RM yang sering juga didengungkan seiring dengan event empat tahunan disiarkan di televisi. Continue reading