morotai dan macarthur


“There is no security on this earth; there is only opportunity.”
– Douglas MacArthur

Menjejakkan kaki di Morotai bukan sekadar keinginan biasa. Pulau kecil di penghujung Halmahera dan menghadap laut Pasifik ini memang bukan pulau biasa, karena pada saat Perang Dunia II, pulau ini adalah beberapa kali diperebutkan karena lokasinya yang strategis. Awalnya Jepang menguasai Morotai dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel, namun pada tahun 1944 Pasukan Sekutu yaitu Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebutnya.

Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat dikenal sebagai otak strategis dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di Morotai, ia berperan besar untuk kemenangan Amerika Serikat dan sekutu di Wilayah Pasifik. Ia terkenal dengan kata-katanya, “I shall return!” di tahun 1941 ketika ia menjabat sebagai Penasehat Angkatan Darat Filipina dan terpaksa mundur ke Australia usai penyerangan Jepang pada Pearl Harbour. Benar, ia kembali dan memenangkan daerah Pasifik lagi dari Jepang.

Bulan Juli 1944, komandan wilayah barat Pasifik Selatan ini memilih Morotai sebagai pangkalan udara dan laut yang dibutuhkan untuk membebaskan Mindanao (Filipina) pada 15 November 1944. Untuk menguasai kembali tidak mudah, karena tentara Jepang tersebar di banyak bagian pulau ini yang masih berupa hutan-hutan. Namun dengan ribuan tentara yang tergabung dalam Divisi Infanteri 31 dengan ratusan kapal laut, Oktober 1944 Morotai dikuasai Sekutu. Landasan terbang pun dibangun di di Warna dan Pitu yang diperuntukkan untuk pesawat tempur dan pesawat pembom, sehingga panjang landasannya menyesuaikan dengan kebutuhan pesawat-pesawat tersebut. Continue reading

Advertisements

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading

dua senja langit tobelo

“What a grand thing, to be loved! What a grander thing still, to love!” 
― Victor Hugo

Pernahkah bepergian hanya mengandalkan kejutan tanpa ekspektasi, karena rencana yang mendadak saja terjadi atas dorongan orang-orang baik yang ada di sekitar. Tiba-tiba saja rasanya berada di dalam mobil travel menuju Tobelo, dengan tujuan rumah tinggal keluarga ibu Heni dan Indah, sebagai tempat transit sementara sebelum kembali menyeberang, tanpa tahu bagaimana cara kembali ke Ternate lagi.

Mungkin benar ada jika ada yang berkata bahwa Tobelo itu adalah to-be-loved, karena sudut-sudutnya yang indah mengundang untuk bercengkrama sembari menunggu kapal yang berangkat esok hari. Banyak cerita yang terungkap ketika tiba, tentang masa lalu yang tak semua orang tahu. Continue reading

Hello, Barcelona!

“Quiere Darme Su Direccion Senorita?”
Kuingin kau ajak serta alam Ini
“Como Se Pronucia Oh Juwita”
Ingin kunyatakan cinta sepenuh hati

Mungkin sejak aku mendengarkan lagu Barcelona sewaktu SD inilah yang membuatku sangat penasaran terhadap kota yang bernama indah ini. Terdengar mengalun, apalagi dinyanyikan dengan nada merayu dengan rentak latin menemani suara Fariz RM yang berparas ganteng ini, menobatkannya juga menjadi penyanyi favoritku saat itu. Saat belum ada google yang membantu menemukan apa saja, ensiklopedi dan majalah-majalah sesekali membawa anganku menuju kota ini.

Olimpiade Barcelona tahun 1992 kembali memenuhi televisi dengan berita-berita dari kota impian ini. Stadion-stadion indah memenuhi televisi dan liputan tentang indahnya musim panas di sana beserta keriaan-keriaan sepanjang pesta olahraga ini membuatku penasaran pada kota ini, apalagi dengan lagu Barcelona-nya Fariz RM yang sering juga didengungkan seiring dengan event empat tahunan disiarkan di televisi. Continue reading

7 Mitos Tinggal di Apartemen

Kamu punya keinginan untuk tinggal di apartemen? Atau kamu termasuk orang yang gak kepengen tinggal di hunian vertikal itu? Banyak cerita orang tentang apartemen yang memang harus dipertimbangkan dalam membeli unitnya, apalagi yang lokasinya di tengah kota. Memang, baru satu dekade ini hunian vertikal menjadi boom di Indonesia, seiring dengan tingginya kebutuhan untuk tempat tinggal yang dekat dengan lokasi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, sehingga muncullah berbagai mitos-mitos yang menyertainya.

1. Hidup di apartemen membuat susah bersosialisasi

Lorong-lorong yang sempit dan waktu bertemu yang jarang membuat orang-orang yang tinggal di apartemen jarang bersosialisasi seperti layaknya landed house. Tapi tidak bisa demikian juga mengatakan, karena semua kembali ke personality masing-masing, karena orang-orang di landed house ini pun juga kadang-kadang mengalami kesulitan yang sama. Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang ada di apartemen, diharapkan pertemuan antar penghuni akan terjadi dan interaksi sosial pun bisa berlanjut. Jadi ngobrol-ngobrol sambil masak bareng, masih mungkin dilakukan di apartemen, koq! Continue reading

7 kriteria memilih apartemen di jakarta

Untuk seseorang yang tinggal di pinggiran kota seperti saya, menempuh perjalanan panjang setiap hari ke tengah kota itu sudah biasa, mengikuti manusia-manusia yang juga setiap matahari menampakkan sinarnya ikut bergerak ke arah utara. Kadang-kadang dalam kereta, kadang-kadang di balik kemudi, dan setiap hari kembali lagi di pinggiran untuk beristirahat, dan mengulang rutinitas lagi setiap hari.

Dulu saya juga pernah punya pikiran, nggak mau tinggal di Jakarta karena berasa nggak ganti hari. Agak wajar karena waktu itu saya sempat tinggal di sebuah kost di Jakarta Utara yang panasnya kebangeten baik siang atau malam kayaknya pengen ngendon saja di bawah AC, beristirahat di ruangan yang hanya sepertiga kamar saya di Depok. Continue reading

orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

Melakukan perjalanan sendirian, tentu saja tidak bisa semata menggantungkan harapan pada jadwal yang benar atau perjalanan yang lancar. Apalagi jika lokasinya di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari dengan pola yang berbeda juga.

Sesudah dua hari berkeliling Ternate Tidore dengan sinyal Telkomsel yang tewas karena kabel bawah laut yang sedang diperbaiki padahal itinerari pun belum ada, atas petunjuk ibu pemilik penginapan, aku mengangkat ransel menuju pelabuhan Dufa-dufa, untuk menyeberang ke Jailolo. Speed boat berkapasitas 15 orang mengantar kami meninggalkan ibukota Maluku Utara untuk menuju pulau terbesar di propinsi tersebut, Halmahera. Continue reading

stasiun solo jebres tengah malam

Mengakhiri perjalanan di kota Solo, adalah naik ojek hingga Stasiun Solo Jebres menjelang tengah malam. Meskipun melewatkan nasi liwet di tepi jalan, tiba di stasiun tengah kota itu pada jam sebelas menimbulkan perasaan haru.

Aku jatuh cinta.
Stasiunnya cantik.

Lengkungnya tersenyum dengan gaya aristokratnya, memberi tanda kelahirannya di masa lalu 1844. Entah berapa banyak noni dan sinyo yang melalui pintu ini untuk bertandang ke kota sebelah, mungkin ke Semarang sebelum berlayar kelak dahulu. Suara gamelan dari radio yang diperdengarkan tukang soto membawa ke masa lalu. Continue reading

joglo mangkunegaran, anggun dalam sahaja

Kota Solo yang dahulu termasuk dalam Kerajaan Mataram menjadi pilihan saya untuk menemui bentuk joglo yang merupakan bangunan khas daerah Jawa Tengah. Di kota yang juga disebut Surakarta ini, masih terasa suasana Jawa yang begitu kental dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Yogyakarta dan Surakarta terpecah oleh Perjanjian Gianti tahun 1755, berdirilah Kasunanan Surakarta hingga tahun 1757 pecah kembali di satu bagian menjadi Mangkunegara yang nuansa bangunannya lebih sederhana.

Puri Mangkunegara yang masih berada di tengah kota Solo ini berukuran lebih kecil dari Kasunanan Surakarta, namun mengikuti kaidah-kaidah pembangunan Joglo. Sesudah melewati satu pelataran yang besar, bangunan pertama yang ditemui adalah pendopo, yaitu ruang terbuka yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan besar dengan rakyat, tempat mengadakan pertunjukan kesenian, atau keperluan-keperluan lain yang ada hubungannya dengan masyarakat. Bangunan puri ini bukan sekadar museum, karena memang masih dipergunakan sehari-hari oleh keluarga Mangkunegara yang melakukan kegiatan publik. Continue reading

rahasia cetho

She’ll let you come just far enough
So you know she’s really there
Then she’ll look at you and smile
And her eyes will say
She’s got a secret garden
– Bruce Springsteen : Secret Garden

Setiap gunung semestinya punya rahasia, seperti aku yang pagi-pagi meninggalkan kota Solo untuk menuju Candi Sukuh kemudian ke Candi Cetho, yang ternyata berada di kaki gunung Lawu. Kabut menyelimuti perjalanan yang ditempuh dalam setengah kantuk, beberapa kali hentian di tepi Kebun Teh Mustika.

Belum pernah kudengar satu referensi pun tentang Candi Cetho, sampai akhirnya aku tiba di sini sembari menghirup udara yang rasanya senantiasa pagi, karena awan yang terus berarak menyembunyikan mentari. Karena itu, cukup mengejutkan ketika berada di kaki terasnya yang terbawah, menunggu kejutan-kejutan dari tiap undakan dengan latar Gunung Lawu yang eksotis. Continue reading