0-cover-rammang-rammang-maros

rammang-rammang : berdialog dengan batu

0-cover-rammang-rammang-maros

Aku tak ingat sejak kapan aku punya perasaan berbeda setiap kali melihat batu. Bukan sekadar batu kecil tapi sebongkah batu, sebukit batu, bongkahan besar hasil sedimentasi dari magma gunung berapi ratusan tahun yang lalu dan membentuk bentang alam yang keras. Sahabatku Felicia hafal sekali kesukaanku ini ketika kami mendaki ke Sesar Lembang di Bandung, atau ketika kami menyusuri jalan di Ngarai Sianok dan berlama-lama di Lembah Harau.

Padahal perkenalanku dengan batu besar untuk pertama dan terakhir kalinya hanya di tahun ’98 ketika mendaki tebing Munara di Rumpin, Bogor sebelum memilih untuk mengenali batu-batu dengan keluar masuk goa. Selain itu, yang kuingat paling ketika nongkrong tiga hari di bawah Tebing Parang tower 2, itu pun jadi tim darat pendaki. Sepertinya aku lebih tertarik dengan batu besar sesudah berkenalan dengan Parang Jati di novel Bilangan Fu, si pemanjat tebing yang memilih untuk tidak menggunakan alat yang merusak batu untuk memanjat tebing. Tapi selebihnya, sepertinya aku cuma menikmati saat-saat memandang batu-batu besar yang terlihat indah itu.

Karena itu ketika ditanya kenapa harus mampir ke Rammang-rammang, jawabanku cuma satu :

Mau melihat batu.  Continue reading

wonderful-life-2

create your wonderful life

bg1

and the day came when the risk to remain tight in a bud
was more painful than the risk it took to blossom
-anais nin

Apakah kamu percaya bahwa perjalanan itu menyembuhkan luka? Jika ada hal-hal yang dirasa tidak berkenan dalam hidupmu maka yang dilakukan adalah pergi untuk mencari obatnya. Mungkin masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan kabur begitu saja, tapi bepergian beberapa waktu akan membuat lepas dari rutinitas, pikiran yang lebih tenang, dan menemukan kelemahannya sendiri.

Dalam film Wonderful Life yang disutradarai oleh Angga Dimas Sasongko ini menceritakan tentang Amelia seorang ibu yang memiliki anak bernama Aqil yang menderita dyslexia atau kesulitan untuk mengenal huruf-huruf sehingga sulit membaca, dan membawanya melakukan perjalanan untuk mencari pengobatan untuk menyembuhkannya. Amelia yang setiap hari disibukkan oleh hari-harinya di kantor dengan klien-kliennya, memilih untuk cuti dan melakukan perjalanan, karena ia percaya bahwa penyakit Aqil ini bisa disembuhkan. Continue reading

transportasi-jakarta-jalan-raya

warna-warni jalur transportasi jakarta

transportasi-jakarta-jalan-raya

“Nih, tanya Teh In saja..” seorang teman menyorongkan ponselnya padaku untuk membantu temannya di ujung sana yang bertanya bagaimana mendapatkan bus tujuan Bekasi dari Jakarta Convention Center. Aku menjelaskan dengan memintanya keluar JCC ke arah kiri hingga jalan raya depan tol dalam kota, naik naik Tranjakarta arah Cawang, turun di depan Plaza Semanggi hingga tepi jalannya dan menunggu bis Mayasari Bakti tujuan Bekasi di situ. Bukan sekali dua kali aku membantu teman-teman yang naik kendaraan umum dari mana ke mana di Jakarta. Bahkan seorang teman lain yang pemerhati kota berseloroh,”Mungkin teknologi aplikasi yang yang cocok untuk masyarakat sekarang adalah teknologi ngobrol-ngobrol. Ngobrol sama kamu, In. Kamu itu apps-nya.”

Aku pengguna transportasi umum secara aktif. Sejak lulus kuliah dan harus bekerja di Jakarta, aku harus menggunakan transportasi umum sebagai sarana bepergian setiap hari. Alasannya simpel, menghemat waktu, malas menyetir dalam waktu agak lama, dan macet. Mobil pribadi hanya aku gunakan di akhir pekan saja, itu pun tidak selalu. Naik kendaraan umum juga membuatku pengeluaran lebih hemat. Kan, lebih baik dananya dialihkan untuk ditabung dan piknik-piknik ke luar kota, daripada terbakar sia-sia di jalan setiap hari. Dan pastinya mengurangi penggunaan bahan bakar karbon emisi gas buang yang ke udara, juga mereduksi dosa terhadap bumi. Makanya, KRL dan bis menjadi sangat umum bagiku yang malas menyetir dan tidak mampu bayar supir pribadi ini. Continue reading

tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

‘I’ve got the snitch!’ he shouted, waving it above his head, and the game ended in complete confusion.
J.K. Rowling, Harry Potter & The Sorcerer’s Stone

Buat aku yang menghabiskan masa kecil keliling pulau Jawa, pasti akrab dengan segala permainan sore hari yang sering dimainkan bareng teman-teman di berbagai kota. Salah satu yang paling diingat adalah bentengan! Pernah bermain bentengan di masa kecil? Sepertinya sih terakhir main bentengan waktu SMP kelas 1 di Blitar, bikin berisik se-RT karena teriak-teriakan seru, demi memperebutkan tiang listrik oleh sekelompok orang? Apa coba filosofinya? Menurutku bentengan ini membawa nilai-nilai untuk memperjuangkan terus apa yang kita mau, hingga posisi itu jadi milik kita. Tentunya dengan kerjasama antar teman-teman yang berlarian dengan riang gembira serta kejujuran dan sportivitas antar kita sendiri. Karena, permainan seperti ini kan nggak ada wasitnya, apalagi Komite atau Persatuan Nasional-nya, sehingga aturan-aturannya diketahui dan disepakati bersama sebelum main. Kalau ketahuan curang, siap-siaplah di-huu dan disebelin jadi teman. Makanya, asyik-asyik sajalah. Continue reading

0-toraja-bori-batutumonga-cover

menuruni batutumonga hingga palawa

0-toraja-bori-batutumonga-cover

“Harry – you’re a great wizard, you know.”
“I’m not as good as you,” said Harry, very embarrassed, as she let go of him.
“Me!” said Hermione. “Books! And cleverness! There are more important things – friendship and bravery and – oh Harry – be careful!”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone

Sampai sebelum berangkat ke Toraja ini, aku hanya sekali bertemu Winny Alna di salah satu acara yang diadakan di Jakarta. Selain itu, kami hanya bercengkrama di blog, bertegur sapa lewat komentar, dan berbalas twitter saja. Rupanya jadwal jalan Winny dan aku ke Toraja klop, sehingga kami memutuskan untuk menjelajah bersama. Surprisingly, gadis batak ini membuat perjalanan seru dan cerah dengan berbagai keputusan spontan. Sesudah seharian banyak berjalan kaki di Londa, Kete Kesu dan Lemo, di hari kedua kami memutuskan “naik gunung”.  Continue reading

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading

0-toraja-cover

toraja tau-tau: berangkat dari rantepao

0-toraja-cover

Tang ki pomabanda penawa
Ya mo passanan tengko ki
Umpasundun rongko’ki
[lagu Toraja: Marendeng Marampa]

Aku terkantuk di dalam bis besar dengan trayek Makasar-Toraja ini yang meninggalkan poolnya pada jam 10 malam. Menurut info yang didapat, perjalanan di Sulawesi Selatan ini akan ditempuh dalam waktu 8 jam. Berada dalam bis dengan ukuran kursi lebar memeluk badan, ditambah bantal dan selimut yang menemani perjalanan, membuatku lekas berpindah ke alam mimpi hingga terbangun ketika pagi menjelang di sekitar kota Makale yang berhawa sejuk. Satu jam kemudian aku, Winny, dan Lukman tiba di kota Rantepao untuk menuju rumah salah satu teman yang asli orang Toraja, kak Olive di depan alun-alun.

Setelah menyegarkan tubuh, kak Olive menyarankan kami untuk berkeliling Rantepao, mulai dari mengunjungi makam di Londa, rumah adat di Kete’ Kesu’, dan makam batu di Lemo. Memang Toraja adalah salah satu destinasi impianku sejak dulu, sejak masa kuliah aku mengikuti seminar yang bercerita tentang rumah tongkonan yang menjadi ciri khas dari masyarakat adatnya. Di banyak tempat di Toraja, rumah adat ini masih banyak berdiri di satu lingkungan pemukiman yang terdiri dari beberapa rumah tongkonan. Continue reading

0-cover-makassar

makassar dan hujan sehari

0-cover-makassar

Apakah kamu merasa terganggu bila hujan menemani saat liburanmu? Ketika berharap cuaca cerah menemani hari-hari yang ditunggu. Alih-alih merasa sebal, mungkin lebih baik berteman dengannya, dan melakukan hal-hal lain yang tetap membuat liburanmu istimewa. Dengarlah suara air bergemuruh di luar, cium aroma tanah dan pohon yang gembira menyambutnya.

Begitulah hujan menyambut kami yang baru turun di bandara Sultan Hasanuddin. Cuaca yang cerah sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga Makassar, berubah menjadi kelabu usai pesawat mendarat. Dan begitu ranselku keluar dari bagasi, hujan deras menderu di luar tertumpah dari langit. Indriani, bekas teman sekantorku di Jakarta menyambut kami di mobilnya. Ia langsung mengajak sarapan Coto Makasar. Continue reading

annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.
Continue reading

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading