telepon umum kenangan

Kapan terakhir kali anda memakai telepon umum? Buat anda yang sedang membaca blog saya ini, generasi internet dan telepon seluler pastinya, mungkin terakhir kali menggunakan telepon umum di tahun 2000 atau kurang dari itu.

Telepon umum koin, begitulah pada awal yang aku ingat, di masa kecilku hanya mengenakan biaya sebesar Rp. 50,- untuk satu pulsa setara 3 menit menelepon lokal. Di jaman yang masih santai ini, telepon bukanlah salah satu kebutuhan penting yang mengharuskan setiap keluarga untuk memilikinya. Tidak banyak urusan yang harus buru-buru diselesaikan, tidak banyak anak sekolah yang keluyuran di pusat perbelanjaan sehingga harus melapor ke orang tuanya tiap 2 jam sekali. Telepon umum dipasang di tempat-tempat strategis, seperti di kelurahan, di pasar, trotoar alun-alun. Masih dilindungi oleh kotak kaca berukuran 80×80 cm, sehingga penelepon terlindung dari suara-suara bising di sekitarnya.

Ingatkah para remaja pria yang suka menggombal di telepon? Mereka akan mengumpulkan koin yang banyak lalu menelepon pujaan hatinya. Tumpukan koin itu berada di atas telepon, sehingga mereka tidak kerepotan mencari apabila sambungan 3 menit tersebut hampir putus. Biasanya mereka cari telepon umum di tempat yang agak sepi, sehingga bisa menelepon dengan leluasa tanpa ditunggu antrian orang banyak.

Sekitar tahun 90-an, ketika tarif naik menjadi Rp. 100,- per pulsa, muncul juga temannya si telepon umum koin ini, yaitu telepon umum kartu. Dengan selembar kartu magnetik yang berisi pulsa prabayar, resiko putus ketika berlama-lama menelepon akan berkurang, kecuali pulsa tahu-tahu habis. Istimewanya, telepon umum kartu magnetik ini bisa digunakan untuk menelepon interlokal. Selang beberapa tahun kemudian muncullah juga telepon umum kartu chip dengan kartu plastik dan lebih kuat dari kartu magnetik. Telepon umum koin, masih ada karena masih digunakan untuk sedikit keperluan, cuma mengeluarkan sebutir koin saja, dan bisa menyampaikan maksudnya.


Penggerus pertama telepon umum adalah warung telekomunikasi alias wartel, yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dengan wartel orang bisa menelepon dan membayar langsung, tanpa perlu beli kartu dan menyimpan pulsa. Namun masa jaya wartel ini pun tak berlangsung lama. Segera setelah booming telepon seluler bisnis wartel pun mati suri.

Sekarang, telepon umum hanya bisa ditemukan di beberapa pusat perbelanjaan yang sangat padat pengunjung, atau di pusat perumahan padat penduduk, atau tempat-tempat fasilitas umum. Telepon umum biasa berada di dekat lapangan, atau masjid, kantor kelurahan, balai RW, atau tempat-tempat orang biasa berkumpul. Pengguna telepon umum sekarang ini sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah, atau orang kepepet menggunakan telepon umum ketika pulsanya habis, ponselnya kehabisan baterai, atau ponselnya ketinggalan.

Sebenarnya ingin tahu juga, dalam satu lokasi, berapa lama telepon umum ini terpakai dalam sebulan? Apakah telepon umum ini masih menjadi fasilitas yang diharapkan oleh masyarakat umum sebagai satu prioritas yang ada di lingkungan? Karena beberapa tahun terakhir ini, mungkin aku tak pernah melihat lagi orang menggunakan telepon umum. Kadang berpikir juga, apa PT Telkom tidak rugi dengan memasang telepon umum, padahal sangat jarang yang menggunakan. Bahkan, telepon umum yang ada, di lokasi umum seperti stasiun atau kereta api, sering menjadi sasaran vandalisme, sering ditemukan dalam kondisi penuh coretan dan goresan, ditulisi kata-kata aneh. Karena investasi untuk memasang telepon umum, juga anggaran biaya perawatan, sepertinya tidak sebanding dengan penggunaan oleh masyarakat dan keuntungan yang didapat.

Bisa dibilang, pemasangan telepon umum hanya upaya pelayanan masyarakat dari pengusaha jasa telekomunikasi sebagai penyedianya. Kalau dibilang proyek rugi, ada benarnya juga. Berapa sih keuntungan yang didapat dari telepon umum, dibandingkan dengan biaya pemeliharaannya, dan faktor resiko kerusakan oleh tangan-tangan jahil. Kalaupun sekarang ada operator telepon umum swasta yang tadinya bermain di sektor ponsel, itu hanya untuk mendongkrak pemakaian operator itu sendiri, sehingga orang banyak memakai operator tersebut untuk ponselnya, sehingga mudah dihubungi dari telepon umum yang bermerk operator swasta tersebut.

Beberapa telepon umum sekarang juga mengadaptasi layanan standar ponsel, seperti bisa mengirim SMS. Jika tidak begitu, mungkin sangat sulit sekali bersaing dengan ponsel. Tapi telepon umum memang dibuat tidak menyaingi ponsel. Telepon umum bagian dari fasilitas infrastruktur suatu wilayah untuk melayani masyarakat di sekitarnya, sama seperti hal bis surat, halte, rambu-rambu.

Sekarang, tarif pulsa untuk telepon umum adalah Rp. 500 untuk 2 menit. Keluhan yang sering terjadi adalah sudah memasukkan koin lima ratusan, namun tidak ada sambungan dan uang tidak keluar lagi. Atau pemakaian terlihat sisa Rp. 200,- dan uang kembalian tidak keluar. Makanya orang kadang suka kesal dan kapok menggunakan telepon umum. Kalau dilihat dari tarif, jelas telepon umum lebih mahal dari tarif operator telepon seluler jenis CDMA. Tarif operator telepon swasta CDMA yang gila-gilaan murahnya jelas tidak bisa disaingi oleh Rp. 500,- per 2 menit. Makanya, orang lebih suka memakai ponsel temannya daripada menggunakan telepon umum. Segan mendapatkan tarif yang lebih mahal tapi kenyamanan menelepon berkurang.

Sebagai bentuk fasilitas umum, telepon umum memang harus dijaga dengan baik. Mungkin pemakaiannya hanya kebetulan belaka, di saat mendadak, tapi tetap saja, diupayakan untuk senantiasa dapat dipergunakan, bukan hanya sculpture jalanan atau hiasan dinding pusat perbelanjaan.

tomang. 26.08.2011

Advertisements

7 thoughts on “telepon umum kenangan

  1. pandasurya says:

    eh potonya yg pertama lucu juga
    itu di mana lokasinya?
    pake kamera henpon?

    “Ingatkah para remaja pria yang suka menggombal di telepon? Mereka akan mengumpulkan koin yang banyak lalu menelepon pujaan hatinya.”

    ah untunglah sayah gak suka menggombal dan belon lahir ketika jaman pria2 menelepon pujaan hatinya melalui telepon umum ituh. 😀
    skarang mungkin jamannya menggombal di BeBe eMan kali ya ato smsan :p

  2. indrijuwono says:

    poto pertama di Mal Kalibata sewaktu pulang siaran di RPK. Kebetulan liat telepon umum berjejer lucu, jadi dipoto lah, pake ponsel juga.

    apa, kamu gak suka ngumpulin koin buat nelpon pujaan hati? telat pubernya kalii.. :p ngumpulin koin aja emang ga ada salahnya.. :p

  3. pandasurya says:

    iya ini juga masih ngumpulin koin untuk antisipasi kalo2 ponsel mati ato ilang gt :p
    lumayan udah banyak juga sih koinnya, pengennya koin emas juga :p

  4. Noerdianto says:

    skarang benar juga emang kapan terakhir kita mengunakan TU.
    sAYA aja yang bekerja di bagian perawatan TU sekarang merasa sedih karena TU sekarang di indonesia hanya tinggal menunggu kepunahan….
    bukannya TU itu ada lah ciri khas dr satu negara….?
    kenapa bisa begitu karena Telkom sendiri yang punya TU tersebut tidak ada nya anggaran utk perawatan TU,,, sistemnya sekarang penggelolaan TU di Mitra kan ke pada siapa yang sanggup bisa menggelola dengan sistim bagi hasil telkom tinggal menaggih kepada mitra (Isst TU harganya Rp.45.000 Per Bulan) bayang kan ada berapa ribu TU di idonesia .Lumayan lah dengan hanya menyewakan TU Tersebut Tanpa mengeluarkan Biaya Telkom Masih dpt Pemasukan… Soalnya Biaya perawatan semua di bebankan ke Mitra Penggelola. lalu kemana Biaya CSR telkom yang begitu besar sebenarnya bisa di sisakan sedikit agar TU Di Indonesia Tinggal Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s