tugu kunstkring paleis : bercengkrama lewat masa

0-cover-tugu-kunstkring-paleis-review

I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world.
― Sukarno

Berulang kali aku melewati bangunan Tugu Kunstkring Paleis ini dalam perjalanan melewati Menteng. Lokasi tapaknya memang unik, berbentuk hampir seperti segitiga dengan sisi samping menghadap Cut Nyak Dhien yang merupakan jalan terluar Menteng yang berbatasan dengan Cikini, dan sisi lainnya adalah jalan Teuku Umar, salah satu poros utama kawasan yang menghubungkan antara bundaran di depan tapak, bundaran dengan air mancur, hingga taman Surapati yang merupakan square utama kawasan Menteng.

Daerah Menteng sendiri dikembangkan sebagai pemukiman pada tahun 1890 oleh P.A.J. Moojen dari Belanda yang terinspirasi oleh model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitek pembaharu dari Inggris. Dahulu ketika pusat pemerintahan masih berada di Beos (Jakarta Kota sekarang), Menteng adalah kawasan suburban yang menjadi daerah pemukiman yang elit dengan taman-taman yang berada di dalamnya yang tadinya adalah kebun luas di mana banyak tanaman ‘Menteng’ yang tumbuh di atasnya.

Berada di posisi yang strategis membuat bangunan ini pernah memiliki berbagai fungsi penting juga untuk Menteng. Sejarah mencatat awalnya didirikan sebagai Bataviasche Kunstkring, yang artinya Pusat Seni Batavia yang dibuka pada 17 April 1914 sebagai rumah bagi Nederlandsch-Indische Kunstkring dari Hindia Belanda untuk mempromosikan seni rupa dan dekoratif Hindia. Di sini pernah menampilkan berbagai karya kelas dunia dari Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Paul Gauguin, Marc Chagall dan sejenisnya. Ketika zaman berubah tempat ini pernah menjadi markas Madjlis Islam Alaa Indonesia dan kemudian berubah menjadi Kantor Imigrasi yang huruf-hurufnya masih tertempel paten di dinding atas.

Facade

Bagian depan bangunan ini adalah gerbang tiga pintu dengan dua menara yang menggunakan gaya tropis art-deco dengan jejak-jejak neo-klasik peninggalan abad 19. Jelas, bangunan ini berdiri pada zaman Belanda, pada masa yang sama dengan beberapa bangunan lain di Menteng, termasuk gedung N.V de Bouwploeg yang berada tak jauh dari sini. Berdiri di kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya membuat fasade bangunan tak berubah dari sejak ia berdiri.

Dua menara berdiri di kiri dan kanannya. Salah satu sudah tertutup pohon yang merimbun, sementara satu lagi berdiri di dengan kubah kecil berwarna merah bata. Tulisan Immigrasie NST-Djawa N Immigrasi tertempel paten di dindingnya. Benar, di masa lalu gedung ini adalah salah satu bangunan pemerintahan untuk fungsi Imigrasi. Lokasinya hampir ke tepian Menteng, tapi menghadap satu bundaran yang sepertinya sibuk di masa lalu.

0-c-tugu-kunstkring-paleis-review-arch-facade

0-a-tugu-kunstkring-paleis-review-arch-facade

Foyer

Ruang penerima ini didesain dengan gaya klasik, beberapa sitting groups ditata apik di sini. Sepertinya berada di sini seperti kembali ke zaman kolonial di mana nonik-nonik Belanda masuk dengan anggun.

Sempat juga beberapa waktu yang lalu tempat ini difungsikan sebagai Buddha Bar, yang menuai banyak kontroversi di berbagai kalangan sampai akhirnya ditutup. Pihak managemen hotel Tugu mengambil alih lokasi ini di tahun 2013 dan dengan kecintaan serius terhadap seni,budaya dan Indonesia diizinkan untuk membuka bangunan ini dengan fungsi restoran yang dilengkapi ruang pameran.

0-d-tugu-kunstkring-paleis-review-foyer

0-e-tugu-kunstkring-paleis-review-foyer

0-f-tugu-kunstkring-paleis-review-foyer

Ruang Diponegoro

Ruang utama dan terbesar di sini adalah Ruang Diponegoro, yang sering digunakan sebagai tempat jamuan makan resmi. Meskipun demikian pelanggan juga bebas memilih untuk duduk di meja-meja ini untuk menikmati hidangan dari dapur Tugu Kunstkring. Ruang yang memiliki kapasitas 85 tempat duduk ini didominasi warna merah dan emas dengan lukisan “The Fall of Java” yang berukuran 9×4 m sebagai latar ruangan yang menggambarkan Pangeran Diponegoro usai perang di kediamannya Magelang usai pengkhianatan Jenderal De Cock.

Di tepian terdapat ornamen yang menyerupai tiang, tapi ternyata bukan. Ternyata itu dulu bekas pos penjaga Paku Buwono, kemudian dipasang di sini. Wah, menarik sekali bahwa satu fungsi bisa berubah menjadi fungsi lain yang ornamentik di sini. Ruangan yang didominasi warna merah ini memiliki beberapa dining table dengan berbagai jumlah kursi.

Tugu Kunstring Paleis memiliki layanan menghidangkan makanan dengan Rijsttafel, yaitu makanan yang dihadirkan dalam baki-baki oleh pelayan yang mengenakan pakaian tradisional Betawi dengan diiringi perkusi yang memainkan lagu Ondel-ondel Betawi. Tradisi Rijsttafel ini dahulu sering diadakan di Hotel des Indes, Batavia lampau. Sayangnya, tak ada yang memesan layanan ini ketika aku berkunjung.

1-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-ruang-diponegoro

2-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-ruang-diponegoro

3-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-ruang-diponegoro

4-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-ruang-diponegoro

Suzie Wong Lounge

Terinspirasi oleh film “The World of Suzie Wong”, di sisi sebelah timur adalah Suzie Wong Lounge yang bernuansa oriental. Film dengan setting Hongkong di akhir tahun 1950-an itu berkisah tentang seorang pelacur yang digila-gilai oleh Lomax, seorang pelukis yang tiba di Hongkong. Film ini menjadi hit di tahun 1960-an dan properti filmnya menjadi koleksi berharga dan memberi nuansa romantis.

Beberapa sitting group bergaya oriental termasuk partisi lipat dari kayu yang membagi beberapa bagian. Tak seperti di Ruang Diponegoro yang semuanya bergaya fine dining, suasana di Suzie Wong lebih santai dengan meja dan kursi rendah. Di salah satu sudutnya terdapat bar yang meracik minuman sebagai teman bercengkrama. Sepertinya, area ini untuk mengobrol atau minum kopi yang lebih santai.

Warna merah nuansa Tionghoa yang kental tercitra dari lampion-lampion yang digantung di langit-langit untuk menghangatkan suasana. Di satu sisi diletakkan rickshaw dari Wanchai berjok merah yang mengingatkan pada masa lalu. Suasana yang temaram membuat pengunjung merasa akrab, walau agak sedikit seram. Ornamen-ornamen Tionghoa tersebar di pintu, tiang, ataupun kursi-kursi.

5-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-suzie-wong-lounge

6-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-suzie-wong-lounge

7-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-suzie-wong-lounge

8-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-suzie-wong-lounge

Multatuli

Siapa tak kenal dengan Multatuli, penulis buku Max Havelaar yang terkenal itu? Pria yang terlahir dengan nama Douwes Dekker ini rupanya salah satu favorit pemilik Tugu juga, sehingga salah satu ruang makan privat di belakang Ruang Diponegoro ini dipenuhi kenangan tentang mantan asisten residen di Lebak tersebut yang menyuarakan penderitaan kerja rodi lewat tulisannya itu.

Dalam ruangan yang bisa menjamu 12 orang itu, ditata piring dan gelas beserta tempat lilin kristal yang cantik, dengan kandelir yang menggantung di atasnya. Gambar Multatuli besar di satu sisi ruangan, dan foto-foto kecil maupun artikel tentang dirinya tersemat rapi di sisi-sisi dinding.

Lokasi ruangan yang berada di sisi dalam bangunan membuatnya cukup privat karena tidak bertemu dengan lalu lalang orang yang datang dan pergi, cocok sebagai tempat jamuan resmi.

9-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-multatuli

The Colonial Rijsttafel Room

Terletak di samping Ruang Multatuli, perbedaannya terdapat pada ukuran meja yang bundar dengan kapasitas 8 orang. Dinamakan Rijstaffel karena terinspirasi oleh tradisi menghidangkan makanan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini. Di sini bisa dilihat juga gambar-gambar sejarah Rijstafel yang tertempel di dinding.

12-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-rijsttafel

13-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-rijsttafel

14-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-rijsttafel

15-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-rijsttafel

Soekarno Room 1950

Melangkah ke lantai atas, aku ditunjukkan Ruang Soekarno. Ugh, sesudah pernah memasuki Ruang Soekarno di Tugu Hotel Malang dan Tugu Hotel Blitar, di ruangan ini pun tak kurang pesona sang Proklamator ini yang begitu kuat. Kehidupan Soekarno yang terkenal dengan kecintaannya terhadap seni dan kecantikan tergambarkan pada ruangan dengan meja panjang berkapasittas 24 orang ini. Nuansa merah pada dinding-dindingnya memberi kehangatan berbincang, dan juga membuat pembicaraan bisa lebih intim.

Di satu sudut terdapat foto hitam putih Presiden pertama RI ini dengan beberapa penari Legong dari Bali. Beberapa lukisan antik juga menghiasi ruangan dengan kandelir yang menggantung di atas meja. Sekilas terbayang denting gelas anggur yang saling beradu di tengah gelak tawa ramai yang hangat di situ.

16-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-soekarno

17-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-soekarno

18-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-soekarno

Art Space

Tepat di atas ruang Diponegoro adalah hall besar yang digunakan sebagai pusat seni di masa lalu. Tingginya hampir 8 meter langsung ke langit-langit dengan kuda-kuda yang terekspos dari kayu. Lantai hall ini dari kayu yang di-finishing halus oleh lacquer mengkilap dengan warna gelap yang mendominasi. Di bagian tengah terdapat bar yang cukup besar yang digunakan apabila ada pesta yang cukup besar di situ.

Saat itu sedang berlangsung satu pameran di hall ini di mana papan-papan partisi yang terpasang. Beberapa kali di sini diadakan resital musik, pertunjukan tari, atau balet. Satu panggung panjang di depan bar bisa dijadikan arena untuk para penampil pertunjukan seni ini.

Di samping ruangan art space masih ada lagi dua ruangan privat yang bisa digunakan. Satu ruangan berada di sebelah dalam dengan kapasitas 8 orang, dan satu lagi di pintu menuju luar dengan kapasitas 4 orang. Masih, semuanya bernuansa merah yang hangat.

19-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-space

20-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-space

21-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-space

 

22-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-space

23-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-space

Balcony Van Menteng

Mungkin tempat yang bisa menjadi favorit adalah balkon yang terlihat dari bawah tadi. Beberapa kursi-kursi berpayung dengan dua kursi bisa menjadi tempat berbincang romantis sambil menikmati senja sambil menyesap teh hangat. Silir semilir angin dengan pemandangan menghadap taman, di bawah pepohonan hijau akan makin mengakrabkan obrolan.

24-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-balcony

Bread and Coffee Corner “Bluder Wak Seneng Nio & Bertha”

Kafe mungil di satu sudut luar bangunan ini juga cocok untuk menemani sore yang teduh. Dengan kapasitas 15 orang, kue-kue lezat dihidangkan setiap hari dengan resep tradisional Belanda. Salah satu produk unggulannya di sini adalah Java Robusta Coffee dari Perkebunan Kopi Kawisari Jawa Timur. Jendela-jendela besar di samping menerangi ruangan dengan alami. Kafe ini bisa diakses langsung dari jalan tanpa harus memasuki bangunan utama.

25-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-cafe-bluder

26-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-cafe-bluder

Gallery Shop

Terpesona dengan keunikan ragam interiornya, aku memasuki Tugu Art Gallery, yang memiliki aneka koleksi cinderamata favorit dari aneka lokasi di Indonesia. Berbagai perangkat unik dan antik bercitarasa tinggi dijual di sini dalam rak-rak cantik yang menggambarkan kekhasannya. Batik, tas, notes, mutiara, gelang, boneka, patung, bisa dibeli di sini sebagai hadiah atau koleksi di rumah sendiri. Barang-barang ini membuatku gemas dan ingin memiliki satu koleksi wayang orang yang cantik.

27-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-gallery

28-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-gallery

29-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-art-gallery

Hampir semua sudut dari Tugu Kunstkring Paleis ini begitu menarik dan memanjakan mata untuk menatap setiap detilnya. Tangga menuju lantai dua dengan tegel cap dengan langkan besi yang berukir floral, dipermanis dengan meja kursi jati di bordesnya. Pada satu bordes besar di bawah ruang Soekarno pun diletakkan sofa panjang dengan aneka foto-foto masa lampau yang menemani. Memang agak sedikit takut seperti umumnya berada di bangunan-bangunan tua, ditemani dengan cahaya yang setengah remang.

30-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-stair

31-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-stair

32-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-ornament

33-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-lantern

34-tugu-kunstkring-paleis-review-interior-indri-juwono

Sejarah memang tidak melulu dipandang dari cerita maupun perjanjian-perjanjian di dalamnya. Peninggalan arsitektur yang mampu bertahan lama hingga ratusan tahun kemudian memberi warna cerita dengan fungsi bangunan yang sudah berubah-ubah sesuai perkembangan zaman. Sebuah restoran pun tidak melulu tentang makanan Asia ataupun Western yang menjadi andalannya, di sini bercerita ruang sejarah yang menemani acara makan, memberikan nuansa berbeda yang bisa dipilih antara masing-masing ruangannya. Mengulang eksotis masa lalu, Tugu Kunstkring Paleis ini bercitra amat romantik walau sudah melalui aneka masa.

TUGU KUNSTKRING PALEIS
Gallery, Restaurant & Lounge
11.00 – midnight
Saturday & Sunday
8.00 am – midnight
Open for breakfast, brunch, lunch and dinner

Jl. Teuku Umar 1 Menteng, Jakarta Pusat, Indonesia
kunstkring@tuguhotels.com | +62 21 390 0 899
https://www.tuguhotels.com/restaurants/jakarta/kunstkring/

jakarta-bogor-depok. 13.02.2016. 03:55 AM.

Advertisements

14 thoughts on “tugu kunstkring paleis : bercengkrama lewat masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s