keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana

keraton-kasepuhan-cirebon-2-tempat-raja-Mande-Malang-Sumirang

Above us our palace waits, the only one I’ve ever needed. Its walls are space, its floor is sky, its center everywhere. We rise; the shapes cluster around us in welcome, dissolving and forming again like fireflies in a summer evening.
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Palace of Illusions

Jika disebut ‘keraton’ saja di Cirebon, kebanyakan orang hanya tahu Keraton Kasepuhan yang berada di arah timur. Padahal sebenarnya di Cirebon ada dua keraton lagi yang bisa dikunjungi. Memang kompleks Kasepuhan ini paling tua jika dibandingkan dengan dua keraton lagi, Kanoman dan Kacirebonan, karenanya menjadi paling populer. Apalagi berbagai kegiatan budaya di Cirebon lebih sering dilaksanakan di alun-alun Keraton Kasepuhan.

Sebagai seseorang yang pernah numpang lahir saja di Cirebon, setiap liburan aku sering penasaran ada apa di dalam tempat tinggal raja-raja Cirebon ini. Tapi karena tidak tinggal dekat dengan keraton, maka keluargaku tidak pernah mengajak untuk jalan-jalan ke dekat sana, kecuali ketika ada acara malam Mauludan, dimana ada pasar malam dan aneka mainan dan makanan dijual, di depan Keraton Kasepuhan.

Dengan ketertarikanku pada budaya, aku menilik tiga keraton ini pada satu musim liburan, melihat peninggalan kerajaan di pesisir pantai ini. Hitung-hitung sambil melihat silsilah keluarga kami, walaupun sudah berjarak ratusan tahun. Kota Cirebon kini secara administratif dipimpin oleh Walikota, bukan salah satu dari ketiga penguasa keraton tersebut.

Satu keunikan dari keraton-keraton di Cirebon, selalu ada tumpukan batu karang di beberapa lokasi. Bisa jadi itu menggambarkan bahwa Cirebon yang berlokasi di tepi pantai sangat mengistimewakan laut, atau ada hubungan unik antara keraton dengan penguasa laut.

If  you called ‘palace’ in Cirebon, most people only know Kasepuhan which is in the east. When in fact there are two palaces in Cirebon else can be visited. It is the oldest Kasepuhan complex when compared with the two palace again, Kanoman and Kacirebonan, thus becoming the most popular.

As someone only was born in Cirebon, every holiday I often wondered about life inside the palace. With my interest in culture, I consider three of this palace in the holiday season, see the relics of the kingdom on the coast this. One uniqueness of the palaces in Cirebon, there is always a pile of reef rocks in multiple locations. It could be that it illustrates that the Cirebon is located on the waterfront is very privileging the sea, or there is a unique relationship between the palace with the sea owner?

Aku pertama kali mengunjungi Keraton Kasepuhan pada tahun 1997, ketika itu ada Festival Keraton Nusantara. Sesudah itu sekitar tahun 2008 aku kesana bersama teman-teman. Ternyata ketika beberapa bulan yang lalu ke sana lagi, masih tidak terlalu banyak berbeda. Keraton Kasepuhan tidak terlalu jauh dari pusat kota Cirebon ke arah timur, bisa ditempuh sekitar 20 menit naik becak dari stasiun Cirebon.

Bagian depan dari Keraton Kasepuhan diawali dengan area Siti Hinggil yang berarti tanah yang ditinggikan. Area ini adalah tempat raja melihat latihan keprajuritan. Semua bangunan maupun dinding di Siti Hinggil terbuat dari bata merah, mengingatkan pada ciri kerajaan di masa Hindu. Bata-bata merah yang menempel tanpa adukan ini dijadikan dasaran dari beberapa bangunan terbuka di dalam area. Selain itu di sekeliling dibangun tembok bata setinggi perut jika dari dalam, namun setinggi kepala jika dari luar. Gapura berwujud Candi Bentar menjadi laluan yang harus dilewati untuk memasuki Siti Hinggil.

The front part of Kasepuhan starting with ‘Siti Hinggil’ meaning elevated land. This place is where the king watch his soldier’s training. All buildings and walls in Siti Hinggil made of red brick, reminiscent of the characteristic Hindu kingdom in the past. Those red bricks without mortar was used as the base  of several open buildings. Linier brick wall was built around as high as our stomach, but the head level from the outside. Gateway as Bentar Temple must pass to enter Siti Hinggil.

gerbang masuk pelataran siti hinggil

gerbang masuk pelataran siti hinggil

gapura lengkung batu bata laluan masuk keraton gapura candi bentar laluan masuk ke siti hinggil

gapura lengkung batu bata laluan masuk keraton
gapura candi bentar laluan masuk ke siti hinggil

Bangunan-bangunan ini memiliki atap limasan dengan beberapa macam jumlah tiang tumpuan. Tiang tumpuan terbanyak adalah enam buah dimiliki oleh limasan utama, Mande Malang Semirang, tempat berkedudukan raja di depan alun-alun kasepuhan. Sementara juga ada Mande Pandawa Lima, dulu difungsikan tempat duduk panglima, tiangnya lima melambangkan rukun Islam. Mande Pengiring dulu difungsikan sebagai tempat duduk para pengiring rajadan ditumpu oleh empat tiang dengan cungkup atap yang lancip. Mande Karesmen yang juga bertiang tumpu  empat, yang sampai sekarang masih difungsikan untuk membunyikan gamelan sekaten setiap Idul Fitri memiliki wuwungan atap mendatar. Tidak tahu apa material atapnya di zaman dulu, sekarang menggunakan sirap kayu sehingga kelihatan alami.

These buildings have a pyramid roof with several pedestal pole number. The main pyramid, Mande Malang Semirang, has six main pole. There is also Mande Pandawa Lima, with five pillars, Mande Pengiring with four main pole with a pointed roof cupola. Mande Karesmen also have four main pole with horizontal roof line. Their roof used wood shingles to get the natural looks.

mande pengiring yang beratap perisai lancip

mande pengiring yang beratap perisai lancip

mande karesmen tempat menyimpan gamelan sekaten

mande karesmen tempat menyimpan gamelan sekaten

struktur atap empat tiang

struktur atap empat tiang

mande pengawal dan detil kepala tiang yang unik

mande pengawal dan detil kepala tiang yang unik

Untuk masuk ke area keraton, melalui gerbang-gerbang besar dan pelataran yang cukup luas. Sebenarnya ada dua bangunan yaitu Museum Kereta dan Museum Benda Pusaka yang bisa dimasuki, namun karena sudah pernah melihat-lihat isinya dulu, dan tidak tertarik, aku memilih untuk mengamati bangunan keratonnya saja.

Salah satu ciri khas keraton Kasepuhan adalah architrave berbentuk mahkota untuk masuk ke pendopo utama yang berwarna putih. Sepertinya bentuk ini dipengaruhi juga oleh kebudayaan Eropa. Posisi Keraton yang tidak jauh dari pelabuhan memberikan akulturasi dengan budaya setempat.

Biasanya di pendopo terdapat kursi-kursi berderet sebagai perlambang penyambutan tamu, kemudian bisa terus masuk ke dalam untuk menilik singgasana raja. Namun entah sejak kapan, kursi-kursi ini tidak ada, dan area yang bisa dikunjungi tamu hanya sebatas pendopo saja, tidak bisa lebih jauh. Mungkin kalau punya kerabat kerajaan, bisa main-main ke sini. Aih, darahku kurang biru rupanya.

One characteristic of Kasepuhan palace is shaped architrave crown before enter the main white pavilion. Looks like this shape is also influenced by European culture because the palace’s position is not far from the port and creates aculturation.
Usually in the pavilion seats are lined as a symbol of welcoming guests, then can continue to go inside to view the king’s throne. Anyway, now these seats do not exist, and visitor can not go further than the pavilion. Maybe if you had a relationship with royal family, you can try to look around.

bangunan utama keraton kasepuhan

bangunan utama keraton kasepuhan

singa barong kembar, perlambang keberanian

singa barong kembar, perlambang keberanian

pendopo yang kosong, tempat raja menerima tamu

pendopo yang kosong, tempat raja menerima tamu

tiang-tiang bergaya eropa dengan ditempel keramik-keramik cina

tiang-tiang bergaya eropa dengan ditempel keramik-keramik cina

motif keramik dan relung berisi batu

motif keramik dan relung berisi batu

Nah, untuk pertama kalinya aku masuk ke area Keraton Pakungwati yang merupakan cikal bakal Keraton Kasepuhan. Begitu melewati gerbangnya, suasana senyap dan dingin langsung merasuki. Pepohonan teramat rimbun menaungi sehingga cahaya matahari hanya masuk di sela-selanya. Pemandu membawaku ke depan satu kolam batu karang yang kukenali berfungsi sebagai Taman Sari, tempat mandi puteri-puteri raja. Benar saja, tak jauh dari situ adalah Paseban Putri, tempat perempuan berkumpul. Sementara di sebelah dalam, terdapat masjid dan tempat air suci, yang sayangnya, perempuan dilarang masuk.

Dinding-dinding area Pakungwati ini dengan bata merah yang berukuran cukup besar. Pasangan bata itu dilekatkan begitu saja tanpa adukan, namun banyak yang sudah tidak utuh lagi. Kelihatan dari ketinggiannya yang tidak sama lagi. Beberapa kolam-kolam juga dalam keadaan lumutan dan tak terawat. Namun beberapa gapura yang dibangun dengan sistem batu kunci pada bata, masih berdiri tegak. Teknologi batu di masa lalu memang dipelajari oleh ahli-ahli bangunan di masa lalu dengan amat baik.

Once through the gate of Pakungwati, the prime area for Kasepuhan, the atmosphere is quiet and cool immediately. Shade trees and sunlight just go in between them. Guides took me to the next one I recognized reef rock pools as Taman Sari, the princess watery area. There’s a gate beside the house to mosque and holy water, but forbidden to female. The walls of this Pakungwati area with large red brick. Masonry was attached to it without mortar, but many are no longer intact because its height are not the same anymore. Some pools are covered with moss and less maintain. But some archway built with brick keystone  systems, still standing upright. Stone technology in the past was studied by experts of the building very well.

pasangan bata di area Pakungwati, besar-besar dengan sistem kunci batu.

pasangan bata di area Pakungwati, besar-besar dengan sistem kunci batu.

taman sari batu karang, tempat putri-putri dulu mandi

taman sari batu karang, tempat putri-putri dulu mandi

paseban keputrian

paseban keputrian

Sebagai jejak masa lalu yang masih terawat apik ini, Cirebon punya potensi pariwisata yang cukup besar untuk destinasi budaya. Meningkatkan kepedulian dan kebanggaan orang Cirebon terhadap daerah tinggalnya ini bisa memperkuat promosi budaya kota udang ini.

Belum lagi daerah pemukimannya yang merupakan akulturasi Melayu, Arab dan Cina, pola jalan grid membuat mudah menemukan orientasi. Area keraton, toko-toko Pecinan, rumah-rumah gedong, hingga kantong-kantong kampung di Cirebon menarik untuk dijelajahi. Tentang rel, becak, angkot, hingga sungai yang mendominasi kota. Apalagi sambil mendengar dialek Cirebon yang keras dan kencang dipercakapkan dengan akrab, khas daerah pesisir.

Karena bukan cuma den dan nok yang harus diandalkan untuk mempromosikan kota Cirebon sehingga terbit rasa aman dan nyaman dikunjungi, tetapi juga kita, yang rindu untuk selalu mengatakan pulang.

As a city with three building complex into a trail past still maintained this slick, Cirebon has tourism potential which is large enough for a cultural destination. Increasing awareness and pride of Cirebon to the residence area can strengthen the promotion of shrimp culture of this city.

The settlement area which is acculturation Malay, Arabic and Chinese, the street grid pattern makes it easy find orientation. Around the palace, shops Chinatown, big houses, villages in Cirebon interesting to explore. On the rails, tricycles, public transportation, to the river that dominates the town. Moreover, while hearing a dialect Cirebon be spoken loud and fast with the familiar, typical of coastal areas.

Because not only the tourism city ambassador responsible to promote the city of Cirebon,  with the rising sense of security and comfortable visit, but also us, who desire to always say : home.

segera tentang keraton-keraton lain di Cirebon :
keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian.
keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga.

cerita-cerita Cirebon :
cirebon : mudik dan perut yang manja
solo traveling at cirebon | bersendiri di kota udang

Advertisements

22 thoughts on “keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana

  1. arniarnie says:

    Saya pernah mengunjungi ini juga. menarik, ya. sayang kurang dirawat. pernah tanya pemandu wisata kenapa. katanya subsidi dari pemerintah kecil padahal biaya perawatan besar. apalagi keraton Kanoman yang dekat pasar.. sepi. dingin. seperti mau mati ditelan riuh kegiatan ekonomi.

    • indrijuwono says:

      karena sultan di keraton Cirebon tidak jadi kepala pemerintahan, nggak seperti di propinsi sebelah yang jadi daerah istimewa sehingga bisa bikin kebijakan sendiri tentang apa-apa yang dijadikan potensi wisata dan mana yang dijadikan area privat. jadi ya tergantung managemen internalnya, sih.

  2. Gara says:

    Keraton yang bagus sekali dituliskan dalam sebuah naskah yang banyak menggugah pertanyaan. Silsilah keluarga Mbak ada di keraton? Wow, berarti darah Mbak biru juga pastinya :hihi. Terus sistem kunci batu itu apa, Mbak? Dan ya, bahan penyusun dan bentukan candi bentarnya sekilas mirip dengan Majapahit, apa mungkin ada hubungan ya antara dua kerajaan itu :hehe.

    Cirebon jadi mendapat label di kepala saya sebagai kerajaan pesisir, dengan ornamen batu karang yang banyak tersebar di kota. Saya jadi penasaran untuk mengunjunginya, baiklah, kota ini masuk dalam bucket list travel yang semoga bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Di sana pasti banyak jejak yang bisa ditemukan :)).

    • indrijuwono says:

      Wah, darahku masih merah, jenderal! Hehe. Sebenarnya keraton Cirebon adalah perpanjangan dari Keraton Mataram, kalau di urutan silsilahnya ada beberapa kali besanan. Tapi pola candi bentar ini lebih marak di pesisir utara jawa sih, ya.
      Nah, kamu bisa main ke Cirebon, dijamin bakal nambah ndut, karena makanannya enak-enak. :p

      • Gara says:

        Nasi lengko, nasi jamblang, empal gentong, to name some. Mendengar namanya saja kayaknya sudah bikin kenyang… :hihi.

  3. Sarma says:

    Hallooo, Kak Indri. Ada info jalan-jalan gratis, nih. Kak Indri juga bisa berbagi cerita di sini.

    Kesempatan untuk ikut ekspedisi Kalimantan bersama New Daihatsu Terios #Terios7Wonders.

    Dimulai dari Palangkaraya, Kruing, Pulau Kaget & Kandangan, Amuntai & Balikpapan, Samarinda, Tn. Kutai dan berakhir dengan melihat cantiknya pulau Surga, Maratua.

    Caranya, ikutan lomba blog “Borneo Wild Adventure”
    Untuk info lebih lengkapnya,

    http://bit.ly/terios7wonders2015
    Ada Grand Prize MacBook Pro juga, lho!

    Ayo ikutan, Kak! Jangan sampai ketinggalan, ya!

  4. Fahmi (catperku) says:

    Cirebon juga punya keraton toh? baru engeh, kirain cuma di Yogya sama solo aja yang masih terjaga dengan baik. Ternyata di cirebon juga masih utuh, meski ada beberapa bagian yang mulai rusak 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s