rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

cover

kepada singgalang bertanya aku
wahai gunung masa kanakku
di lututmu kampung ibuku
kenapa indahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam rinduku?

kepada merapi berkata aku
wahai gunung masa bayiku
di telapakmu kampung ayahku
kenapa gagahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam ingatanku?

:dua gunung kepadaku bicara ~ Taufiq Ismail

cerita sebelumnya : rendang minang #4: air sungai, air manis, air terjun, air hujan

Setiap aku bilang akan berkunjung ke Minangkabau, pasti semua orang menyarankan untuk berkunjung ke Bukittinggi. Kota dengan ketinggian sekitar 900 m dpl ini, yang diapit oleh Gunung Singgalang dan Gunung Marapi, terkenal dengan banyaknya penulis, pemikir, penyair yang berasal dari sini. Salah satu proklamator Indonesia, Moh. Hatta, lahir di kota bertingkat ini. Juga ada Tan Malaka, juga seorang politikus yang banyak membuat tulisan-tulisan pandangan kerakyatan dan kenegaraannya. Kota ini juga pernah dijadikan Ibukota negara sementara dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai presidennya selama 207 hari.

Marco Kusumawijaya, seorang ahli tata kota pernah menuturkan dalam satu kuliah umumnya, bahwa pusat kota Bukittinggi itu seluas Lapangan Merdeka di tengah Jakarta Pusat dengan Monas sebagai aksis tengahnya. Jika di Lapangan Merdeka di bidang datar dengan aktivitas tidak berarti kecuali di hari-hari tertentu ketika diadakan acara, pusat kota Bukittinggi dengan konturnya yang bertingkat naik turun, riuh oleh berbagai aktivitas manusia. Perbedaan yang bukan hanya jarak melainkan ketinggian tetap membuat suasana kota ini hidup dan berwarna. Di Lapangan Merdeka yang datar hanya ramai di seputaran Monas saja, sementara Bukittinggi ramai dengan aktivitas niaga di sepanjang jalan, pelancong di seputar Jam Gadang, Pasar Atas dengan kegiatan jual belinya, atau celah-celah pandang untuk sekadar bersantai melihat bagian bawah kota.
Continue reading

Advertisements

rendang minang #4: air sungai, air manis, air terjun, air hujan

foto2

Di gunuang mintak aia, di lurah mintak angin
~ peribahasa minang

cerita sebelumnya : rendang minang #3: bahasa tropis hotel hangtuah

Dalam rencana perjalanan kami, aku dan Felicia memutuskan tidak berlama-lama di kota Padang. Kami ingin menuju kota tempat lahirnya proklamator Indonesia, Moh. Hatta. Ya, kami ingin menuju Bukittinggi hari ini. Namun kota Padang masih menyisakan beberapa obyek wajib yang harus dilihat. Wajib, karena tempat-tempat ini masuk dalam itinerari setiap biro perjalanan di Padang. Kami memutuskan untuk menyewa mobil (taksi) untuk mengajak kami berputar-putar.

Karena hari makin siang kami janjian dengan supir yang akan mengantarkan kami ke Bukittinggi untuk menjemput di kedai es krim Ganti nan Lamo. Untuk keefektifan jalur, dengan diantar supir kami terlebih dulu membeli oleh-oleh khas kota Padang di toko Sherly, yang berada tepat di depan gerbang masuk Museum Adityawarman. Aku membeli kripik sanjai yang terkenal itu beberapa bungkus, beserta beberapa penganan yang lain. Kripik sanjai pedas yang dikemas di plastik 500gr itu dijual seharga Rp. 28.000,-, dan apabila membeli banyak akan dikemas dalam dus. Kelak esok di bandara Soekarno Hatta, tak perlu lihat petunjuk asal pesawat di conveyor bagasi, cukup lihat sederetan dus bertuliskan Shirley atau Christine Hakim, kamu akan tahu conveyor itu berisi bagasi dari Padang.
Continue reading

rendang minang #3: bahasa tropis hotel hangtuah

cover

Mimpi tentang tidur adalah seindah-indahnya mimpi. Maka: tidurlah. Niscaya engkau akan tidur dalam mimpimu.
~ kata seorang teman

cerita sebelumnya : rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

Tidak ada yang terlalu istimewa dari hotel Hangtuah ini, selain harga yang ditawarkan lewat agoda.com cukup bersahabat. Yah, namanya juga hotel bintang satu. Dengan rate Rp 260 ribu semalam, kami mendapat kamar standar di bagian belakang lantai 3, dengan jendela hanya sistem nako dengan kain korden dan vitras tipis.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah lantainya. Di sepanjang tangga ke lantai tiga anak tangga ditutup dengan teraso hitam dengan berbintik emas dan putih. Demikian juga lobby lantai 3 juga menggunakan teraso warna hitam. Terbit rasa ingin tahuku, sudah berapa lama hotel ini berdiri? Jika dilihat dari material penutup lantainya, aku memperkirakan bangunan ini sudah ada sejak tahun 80-an. Saat itu memang ubin teraso sedang marak digemari.
Continue reading

rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

coverFB

A map such as that one is worth many hundreds, and as luck will have it, thousands of dollars. But more than this, it is a remembrance of that time before our planet was so small. When this map was made, I thought, you could live without knowing where you were not living.
― Jonathan Safran Foer, Everything is Illuminated

cerita sebelumnya : rendang minang #1: mengurai pantai di sikuai

Hari telah gelap ketika kami meninggalkan Muaro Batang Arau. Dengan berpedoman pada google map, aku dan Felicia berjalan kaki sampai penginapan. Kenapa kami memilih berjalan kaki? Melihat jarak tempuh yang diperkirakan google map hanya 21 menit, berjalan kaki akan memperkaya pengalaman lokasi dan orientasi kota. Selain itu, entah kenapa kami selalu berpikir positif bahwa semua orang itu baik, dan akan menunjukkan jalan yang benar.

dua versi dari google map, by car and by foot

dua versi dari google map, by car and by foot


Continue reading

rendang minang #1 : mengurai pantai di sikuai

cover

Bebutir pasir
remah yang dilepih laut
Seperti nasib getir
musti diubah sebelum akut

Belajar dari Ombak ~ Sitok Srengenge : Kelenjar Bekisar Jantan

Pagi 29 Maret 2013 itu pesawat Lion Air JT252 yang dinaiki aku dan Felicia Lasmana mendarat di Bandara Minangkabau, Sumatera Barat jam 07.35. Bandara ini cukup besar dengan arsitektur Gonjong Minang yang khas. Kami yang baru pertama kali ke ranah minang ini celingukan mencari kendaraan yang membawa ke kota. Petugas bandara cukup kooperatif dan menunjukkan lokasi bus Damri yang membawa kami ke tengah kota Padang. Setelah menemukan bis dan bertanya pada supirnya, apakah kami bisa turun ke dekat Jl Batang Arau, uda (panggilan kakak laki-laki di Minang) supir ini menyebutkan akan menurunkan kami di depan museum.
Continue reading