rendang minang #8: bukan menjadi raja sehari di pagaruyung

fotob2

“Above us our palace waits, the only one I’ve ever needed. Its walls are space, its floor is sky, its center everywhere. We rise; the shapes cluster around us in welcome, dissolving and forming again like fireflies in a summer evening.”
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Palace of Illusions

cerita sebelumnya : rendang minang #7: cadas batu lembah harau

Kami berkendara kembali ke arah barat, sampai ke Nagari Lima Puluh Koto untuk berbelok ke selatan ke arah Batusangkar. Jalanan menuju Batusangkar berkelak-kelok dan naik turun bukit, dengan pemandangan Gunung Singgalang di sebelah barat. Kami melalui bermacam-macam pemukiman dan menjumpai banyak sekali rumah gadang. Aku senang mengamati bentuk-bentuk rumah gadang yang bermacam-macam ini. Juga nama-nama desanya terdengar unik dan asing bagiku.

Setelah perjalanan sekitar satu jam lewat dari Harau, kami masuk kota Batusangkar. Lokasi yang dituju oleh kami adalah Istana Pagaruyung, yang merupakan istana raja jaman dahulu yang dipindahkan. Istana ini berada di Kecamatan Tanjung Emas, hanya beberapa menit dari pusat kota Batusangkar. Ketika memasuki areanya masih belum dipungut biaya, sehingga kami bebas masuk saja. Padahal, di sebelah kiri gapuranya terdapat loket untuk membeli karcis masuk.

Di sebelah kiri terdapat rangkiang (lumbung) besar yang dipakai untuk menyimpan beras untuk persediaan makanan. Tepat di tengah jalan masuk, berdirilah Istana Pagaruyung yang dibangun pada tahun 1976 sebagai replika dari Istano Basa Raja Alam yang dibakar Belanda pada tahun 1804. Jalan di depannya dibuat dari susunan batu pecah, yang demikian lebar membentuk pelataran.
Continue reading

Advertisements

rendang minang #7: cadas batu lembah harau

cover

“Adieu to disappointment and spleen. What are men to rocks and mountains?”
― Jane Austen, Pride and Prejudice

cerita sebelumnya : rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

Salah satu tempat akhir yang aku dan Felicia datangi di Sumatera Barat adalah Lembah Harau. Jujur saja, sebelumnya tak ada ekspektasi apa-apa dengan tempat ini. Ketika dicari di google, tidak terlalu banyak terekam dalam jejak blog. Ada juga yang mengatakan bahwa Lembah Harau ini seperti tebing-tebing Yosemite di Amerika. Dengan pemikiran bahwa Lembah Harau ini agak-agak mirip dengan Ngarai Sianok, kami menuju ke sana.

Kami memasuki Kota Harau yang terletak di sebelah timur Payakumbuh, di jalan utama yang menuju Pekanbaru, Riau. Supir mobil kami agak-agak lupa lokasi lembah Harau, tapi tak berapa lama kami menemukan gapura menuju lokasi tersebut. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp.20.000,- untuk tiga orang dan mobil, kami melalui jalan selebar 6 meter di tengah dua persawahan. Udaranya cukup panas terik. Wajar sih, karena waktu juga menunjukkan sudah hampir tengah hari kami tiba di sana.

Dari kejauhan sudah tampak bukit batu, yang lama kelamaan dilihat dari dekat besaaaarrr sekali. Tebing-tebing batu ini membentang ratusan meter dengan kemiringan hampir 90 derajat. Lamat-lamat dari jauh kami melihat air terjun yang jatuh di antara tebing-tebing itu. Tidak cuma satu, hingga kami menyisip dengan mobil di jalan di antara tebing-tebing batu itu, kami sudah melihat tiga air terjun yang berjatuhan. Aku berpikir, seandainya Parang Jati, tokoh sacred climbing di novel Bilangan Fu-nya Ayu Utami ke Lembah Harau, pasti ia sudah jatuh cinta pada bentangan batu ini.
Continue reading

rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

cover

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah,
dan hanya sembilan yang menemui jalan masuk,
yang kesepuluh tidak harus mengatakan,
Ini sudah takdir TUHAN.
Ia harus mencari di mana kekurangannya.

~ Rumi

cerita sebelumnya : rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

Satu hal yang paling menarik hatiku untuk berkunjung ke Ranah Minangkabau adalah Rumah Gadang. Bangunan khas Sumatera Barat tempat bertinggalnya keluarga dengan konstruksi rumah panggung ini bisa ditemui di berbagai kampung. Namun, setiap kali aku bilang ingin melihat Rumah Gadang, pasti orang menunjukkan ke museum Adityawarman atau beberapa restoran yang menggunakan gonjong sebagai penutup atapnya. Nah, kalau ini sih tak beda dengan yang bisa kulihat di TMII. Bangunan yang bagus, namun tak bernyawa karena tak ada yang berkegiatan sehari-hari di dalamnya.

Tidak, yang ingin kulihat adalah rumah gadang asli yang masih ditinggali oleh keluarga. Aku ingin melihat bagaimana mereka hidup di rumah itu, dengan kegiatan sehari-harinya. Sepanjang perjalanan dari Padang hingga Bukittinggi aku hanya menemui tiga rumah gadang di tepi jalan, namun karena hujan kuurungkan niat untuk mampir.

Beruntung aku dan Felicia melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh. Lepas setengah jam kami meninggalkan Bukittinggi, pak supir berhenti dan menunjukkan satu rumah gadang tua yang berada di tepi jalan. Mulanya aku hanya berdiri di pekarangannya, memotret-motret rumah tersebut dari luar, namun pak supir mengajakku untuk masuk. Bercampur gembira dan malu-malu takut, aku mengikuti pak supir yang mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah bercakap sejenak dalam bahasa Minang ternyata pemilik rumah mempersilakan masuk untuk melihat-lihat rumah. Bukan main senangnya aku.
Continue reading