rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

coverFB

A map such as that one is worth many hundreds, and as luck will have it, thousands of dollars. But more than this, it is a remembrance of that time before our planet was so small. When this map was made, I thought, you could live without knowing where you were not living.
― Jonathan Safran Foer, Everything is Illuminated

cerita sebelumnya : rendang minang #1: mengurai pantai di sikuai

Hari telah gelap ketika kami meninggalkan Muaro Batang Arau. Dengan berpedoman pada google map, aku dan Felicia berjalan kaki sampai penginapan. Kenapa kami memilih berjalan kaki? Melihat jarak tempuh yang diperkirakan google map hanya 21 menit, berjalan kaki akan memperkaya pengalaman lokasi dan orientasi kota. Selain itu, entah kenapa kami selalu berpikir positif bahwa semua orang itu baik, dan akan menunjukkan jalan yang benar.

dua versi dari google map, by car and by foot

dua versi dari google map, by car and by foot



Kami berjalan ke arah utara di jalan pesisir laut yang dipenuhi warung-warung yang berjualan makanan. Banyak juga muda mudi yang duduk-duduk sambil mendengarkan debur ombak yang bergemuruh dalam gelap. Jalanan ini cukup ramai dua arah dengan median di tengahnya. Sempat juga kami temui kereta kelinci yang bisa membawa warga sekitar (biasanya anak-anak) untuk berkeliling di jalan seputaran pantai.

Setelah 20 menit berjalan dan sudah mulai lelah kami mengecek lagi ke google map dan menemukan titik berkedip tanda sudah dekat. Namun dimanakah kami sebenarnya? Ha, ternyata posisi di gadget pun membuat kami meragu. Kami pun menyapa seorang penjual mie goreng untuk menanyakan tikungan yang pas menuju penginapan. Ternyata benar dua tikungan lagi ke kanan sampailah kami di jalan Pemuda dan ditemuilah di persimpangan tempat Hotel Hangtuah berada.

Kami berdua segera check-in, naik ke lantai tiga dan membersihkan badan yang lengket oleh air laut. Butiran pasir sedikit bertebaran di sini. Berhubung yang kami pesan kamar standar, maka standar pula kamarnya. Ada televisi yang malas kami nyalakan, dan jendelanya hanya kaca nako di ketinggian 150 cm.

Martabak Kubang
Sesudah mandi terbitlah lapar dan membuat kami mencari tahu apa makanan enak dan khas di sini. Felicia mencari tahu lokasi soto padang di aplikasi foursquare lewat smartphone-nya. Rupanya tidak ada yang dekat dengan lokasi sekarang. Kami memutuskan turun ke resepsionis untuk mencari tahu cara menuju ke sana.

Namun dari info yang kami dapat dari roomboy yang sedang nongkrong di resepsionis, mesti naik taksi atau berganti-ganti angkot ke lokasi soto tersebut. Jadilah kami memilih untuk berjalan kaki saja ke arah pasar di Jalan Moh. Yamin untuk mencari makan malam. Menurut google map juga hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Ternyata ada satu tempat yang direkomendasi sekali yaitu restoran Martabak Kubang Hayyuda yang cukup ramai. Ukurannya yang cukup besar dan dagingnya yang banyak, ditambah roti cane yang khas, cepat sekali berpindah ke perut kami. Kuah martabaknya yang manis asin itu pun terasa enak, beda dengan kuah martabak biasa di Jakarta. Dua gelas teh talua (teh telur) menghangatkan dingin badan usai bermain di laut. Dan untuk makan berdua itu menghabiskan Rp. 36.000,-. Wah, padahal martabak lezat ini kalau di Jakarta jauh lebih mahal.

martabak, roti cane, dan teh talua. wajan untuk memasak martabak besar sekali.

martabak, roti cane, dan teh talua. wajan untuk memasak martabak besar sekali.

orientasi
Keesokan paginya, begitu bangun kami memetakan perjalanan hari itu. Kami berencana ke Taman Budaya Sumatera Barat yang sudah dilalui kemarin, Museum Adityawarman, juga makan es krim durian yang terkenal sebelum bertolak ke Bukittinggi. Ah, ternyata semua masih masuk dalam jangkauan jalan kaki. Dasar aku dan Felicia memang hobi jalan kaki, maka kami santai saja menempuh jarak beberapa km itu. Tapi gara-gara arah yang ditunjukkan oleh ‘get direction’-nya google map agak jauh, kami memutuskan untuk menyusuri Jalan Robert Wolter Monginsidi karena melalui beberapa tempat menarik.

museum adityawarman ada di ujung jalan RW Monginsidi

museum adityawarman ada di ujung jalan RW Monginsidi

museum gempa

museum gempa

Taman Budaya
Sesudah sarapan gratis di hotel, kami mulai berjalan di trotoar jalan melewati beberapa perkantoran dan Museum Gempa Padang. Dalam 10 menit termasuk ber foto-foto kami sudah sampai di depan Taman Budaya Sumatera Barat. Di bagian depan tampak hiasan gonjongnya yang khas. Mula-mula kami masuk melalui gerbang bukaan yang di kiri-kanannya difungsikan sebagai ruangan kantor. Sesudah masuk, di kiri terdapat bangunan balai pertemuan yang bisa digunakan sebagai area pertunjukan tertutup. Apabila ada acara kebudayaan bisa menggunakan bangunan yang juga beratapkan gonjong itu. Tepat di depan jalan kami ada teater terbuka. Sayang, karena kami datang terlalu pagi sehingga tidak ada kegiatan apa pun di sini.

gerbang taman budaya

gerbang taman budaya

gedung serba guna

gedung serba guna

teater terbuka

teater terbuka

Di kanan terdapat satu pendopo yang menurut perkiraanku mungkin digunakan sebagai tempat latihan teater atau latihan baca puisi. Langit-langitnya yang tinggi dengan susunan kayu lambrisering juga hiasan tiangnya mempercantik detail bangunan ini. Panggung datar di tengah bangunan terbuat dari kayu yang bisa berderak jika pelakon panggung bergerak di atasnya. Aku membayangkan sastra melayu yang indah itu dibahasakan dan diteriakkan lantang di ruang-ruang pertunjukan terbuka ini. Juga terbayang muda mudi berlatih tari piring yang biasanya hanya kulihat di acara pernikahan saja. Semoga dengan ruang kultural seperti ini, kebudayaan alami tidak punah digerus arus global dan terus ada generasi yang menganggap lokalitas itu sesuatu yang tetap keren dan bangga akan kekhasannya.

ruang pertunjukan terbuka

ruang pertunjukan terbuka

Kami terus berjalan ke arah barat. Ternyata kompleks pusat kebudayaan ini membentang dari Jalan RW Monginsidi ke jalan tepi laut yang sudah kami lalui kemarin. Di bagian yang menghadap jalan tepi laut terdapat gedung stadion dengan menara-menara tinggi di keempat sisinya. Justru yang terbayang olehku bangunan ini mirip stadion Quidditch ala Harry Potter. Di perkerasan barat stadion ini ada beberapa remaja yang bersepeda dan berolahraga ringan. Lokasinya yang dekat sekali dengan laut membuat udara berhembus ringan sehingga nyaman untuk beraktivitas rekreasi. Di sebelah timur stadion ini terdapat Pasar Seni yang berjualan kerajinan khas dan patung-patung Minang. Sebagian besar masih tutup ketika kami melewatinya di pukul sembilan pagi hari itu.

stadion 'quidditch'

stadion ‘quidditch’

pasar seni, belajar seni, obyek tradisional

pasar seni, belajar seni, obyek tradisional

Museum Adityawarman
Kami mengitari kompleks taman budaya itu dan keluar melalui gerbang gonjong yang kami lalui ketika datang. Menyeberangi jalan raya yang tidak terlalu ramai, tibalah kami di samping Museum Adityawarman. Ternyata, masuk tetap harus lewat gerbang depan di Jalan Diponegoro. Setelah membayar karcis masuk sebesar Rp. 2000,-/orang, kami memasuki taman museum ini. Taman ini cukup besar dengan beberapa permainan anak-anak di dalamnya.

Terdapat tugu tepat di depan museum ini yang membuat aku cukup kesulitan mengambil gambar keseluruhan museum. Di depan museum utama terdapat dua lumbung. Museum ini mengambil bentuk arsitektur khas Minangkabau yaitu rumah gadang (rumah besar) yang berada di atas tiang-tiang kayu dengan jarak yang teratur. Terdapat tangga besar di depan sebagai jalan masuk utama ke museum. Pintu dan jendelanya diukir dengan motif yang kaya, salah satu motif kekayaan nusantara. Bangunan ini memanjang dari barat ke timur dan menghadap ke selatan.

tampak samping dan tugu

tampak samping dan tugu

lumbung di depan museum

lumbung di depan museum

museum adityawarman berbentuk rumah gadang

museum adityawarman berbentuk rumah gadang

Karena kami datang terlalu pagi, pintu utama belum dibuka. Seorang petugas memberi tahu kami bahwa pintu masuk bisa melalui belakang dan naik tangga dari dalam ke belakang. Di taman belakang, kami melihat arca Adityawarman yang namanya dijadikan nama museum. Beliau adalah nama salah seorang raja yang pernah berkuasa di Malayapura yaitu dengan masa pemerintahan antara 1347-1375.

adityawarman

adityawarman

Masuk ke bawah museum, terdapat berbagai peralatan berburu dan peralatan memasak di zaman dulu. Bahkan ada goggle yang dipergunakan untuk menyelam beserta tombak untuk mencari ikan. Beberapa binatang khas Sumatera juga dipasang sebagai awetan di situ. Aku bergidik ngeri melihatnya. Sementara Felicia, si ahli biologi ini menjelaskan cara membuat awetan dari binatang mati.

koleksi museum

koleksi museum

macan yang diairkeraskan

macan yang dikakukan

Kami bergerak ke atas, menuju ruang pamer utama. Di sini diperlihatkan singgasana pelaminan minang, juga hantaran yang harus dibawa saat acara lamaran. Selain itu, juga ada bagan matrilieal atau garis keturunan dari pihak ibu yang banyak dianut oleh keluarga-keluarga di Minang.

hantaran pernikahan

hantaran pernikahan

Aku menoleh sekeliling. Museum ini berdinding kayu dengan banyak jendela ukir. Ada beberapa tiang utama di tengah yang menahan puncak bubungan. Tak ada langit-langit selain yang kayu disusun memanjang mengikuti kemiringan atap. Konstruksi kuda-kuda atapnya masih asli dari kayu. Mungkin sudah ratusan tahun umurnya, mungkin juga baru. Sepengetahuanku, kebanyakan bangunan rumah adat yang diperbarui jadi museum berasal dari rumah adat kuno yang tidak kuat dirawat pemiliknya. Namun untuk museum sebesar ini? Kalaupun berasal dari rumah adat tua, pastilah ini istana.

Google Maps
Kami merasa sangat terbantu dengan adanya google map yang menunjukkan banyak jalan-jalan dan tempat menarik. Bukannya kami sombong tidak mau bertanya pada kiri dan kanan, tapi dengan mapping sebelum berangkat akan mengefektifkan waktu dan lokasi yang akan ditempuh. Ini karena kami memiliki keterbatasan waktu berada di satu lokasi. Maklumlah, kami hanya dua orang kantoran dengan muatan harian pekerjaan yang gila yang harus mengefektifkan liburannya jadi senyaman mungkin. Selain itu, google map membuat kita bisa memperkirakan jarak dan jalan sehingga apabila (semoga saja tidak) kita tidak paham dengan petunjuk dari orang-orang sekitar, atau terdengar agak menyesatkan, kami bisa memperkirakan dan kembali ke jalur yang seharusnya.

Memang, tidak semua tagging di google map berada pada lokasi yang tepat. Saat itulah kami mulai memastikan dengan orang-orang yang berada di sekitar. Tidak selalu jalur yang direkomendasikan oleh ‘get direction’ itu lebih baik. Tidak mengapa dengan salah, karena tersasar merupakan satu bagian perjalanan yang mengasyikkan. Selalu ada cerita lucu yang dibawa dalam tersesat itu. Karena itu, gunakan semuanya, baik peta manual (kertas), peta digital (google maps), atau cari informasi sebanyak-banyaknya dari orang lokal yang ditemui.

Es Durian
Hari sudah semakin panas ketika kami keluar meninggalkan kompleks Museum Adityawarman. Dengan lagi-lagi mengecek ke google map, kami menuju Jalan Pulau Karam tempat es krim durian Ganti Nan Lamo berada. Es krim ini terkenal legendaris dari zaman dahulu. Sesudah pemilik pertamanya meninggal, dilanjutkan oleh anaknya dengan memberi nama Ganti Nan Lamo. Lucunya, di dekat kedai es krim durian ini juga ada kedai es krim lain bernama Iko Gantinyo. Namun kami hanya mencoba yang direkomendasikan Abdyka, salah satu teman kami di Bandung yang asal Padang, yaitu Ganti Nan Lamo.

kedai es durian Ganti Nan Lamo

kedai es durian Ganti Nan Lamo

nuansa kuning durian yang mendominasi

nuansa kuning durian yang mendominasi

Setelah kira-kira 20 menit kami ditambah tanya sana sini untuk menuju Jalan Pulau Karam, sampailah di kedai dengan nuansa kuning yang tidak terlalu ramai ini. Lokasinya di tengah kawasan niaga dengan toko-toko berderet di sekitarnya. Bau harum durian yang menguar membuat terbit air liur untuk segera mencicipi es krim durian ini. Kami memesan dua mangkuk es krim durian float yang terdiri dari es krim durian, dan tiga scoop es krim vanilla, cokelat, strawberry.

es durian float

es durian float

Rasanya, wuih, jangan ditanya. Kalau kamu termasuk pencinta durian asli, harus mencoba makan es krim ini. Rasa durian yang manis dijadikan es krim dengan beberapa potongan daging buahnya dalam satu mangkuk terasa begitu kaya. Ditambah rasa ek krim lainnya juga tidak mengurangi kenikmatan porsi ini. Aku dan Felicia menghabiskan sekitar 15 menit menghabiskan semangkuk campuran es krim seharga Rp. 25.000,- ini. Ini salah satu yang spesial di kota Padang, harus dicoba. Memang kota ini penuh dengan makanan enak.

perjalanan 30 Maret 2013
ditulis di Pink room, 15.07.2013

cerita selanjutnya : rendang minang #3: bahasa tropis hotel hangtuah

Kalau suka tulisan-tulisanku, bisa vote TindakTandukArsitek di Indonesia Travel Blogger Award sampai 17 Agustus 2013. Terima kasih. 🙂

Advertisements

21 thoughts on “rendang minang #2: ber-google maps raun-raun padang

  1. azmee says:

    aaaaaaak teh talua, martabak kubang.. es krim ganti nan lamo,tempat aku kencan di padang :’). aku blum pernah ke taman budaya sama museum adityawarmannya,wkwkwk..

  2. Ira says:

    eh, dari Hang Tuah itu ke soto padang deket kok mba Indri. bisa naik angkot atau jalan kaki kalo mau coba soto karya yang ada diseberang bioskop karya, atau naik angkot putih/orange arah tabing buat nyoba soto garuda di pasar pagi..

    • indrijuwono says:

      Wah, makasih banget koreksinya Alle. Kemarin no guidance sama sekali sih, dan architype-nya agak menunjukkan itu mirip stadion.

      dan yg terpikir stadion quidditch itu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s