7 Mitos Tinggal di Apartemen

Kamu punya keinginan untuk tinggal di apartemen? Atau kamu termasuk orang yang gak kepengen tinggal di hunian vertikal itu? Banyak cerita orang tentang apartemen yang memang harus dipertimbangkan dalam membeli unitnya, apalagi yang lokasinya di tengah kota. Memang, baru satu dekade ini hunian vertikal menjadi boom di Indonesia, seiring dengan tingginya kebutuhan untuk tempat tinggal yang dekat dengan lokasi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, sehingga muncullah berbagai mitos-mitos yang menyertainya.

1. Hidup di apartemen membuat susah bersosialisasi

Lorong-lorong yang sempit dan waktu bertemu yang jarang membuat orang-orang yang tinggal di apartemen jarang bersosialisasi seperti layaknya landed house. Tapi tidak bisa demikian juga mengatakan, karena semua kembali ke personality masing-masing, karena orang-orang di landed house ini pun juga kadang-kadang mengalami kesulitan yang sama. Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang ada di apartemen, diharapkan pertemuan antar penghuni akan terjadi dan interaksi sosial pun bisa berlanjut. Jadi ngobrol-ngobrol sambil masak bareng, masih mungkin dilakukan di apartemen, koq!

rumpi dulu besok mau masak apa buat arisan
(foto oleh uni evi indrawanto)

2. Harga apartemen mahal

Membangun aparteman tidak sama dengan rumah biasa. Jika unit rumah di perumahan bisa dibangun satu-satu, di apartemen harus jadi secara keseluruhan sebelum bisa di hand-over. Karena itu reputasi pengembang dan kontraktornya serta waktu pelaksanaan ikut mempengaruhi harga. Karena itu, harga apartemen ketika bangunannya masih di tahap pondasi lebih murah daripada ketika bangunannya sudah jadi kelak. Pintar-pintarlah memilih pengembang supaya yakin bahwa harga yang agak murah di tahap pondasi itu akan menguntungkan sebagai investasi di depan. Karena fakta Senin harga naik itu sudah terbukti!

mahal atau murah, sesuaikan kemampuan, ya!
(foto oleh uni evi indrawanto)

3. Ruangan apartemen sempit

Memang ruangan di dalam tidak luas, namun masih bisa diatasi dengan penataan ruang yang simpel dan kompak. Lagipula kebutuhan ruang dasar sebenarnya pun sederhana saja. Ruang tamu dan ruang makan bisa dijadikan satu karena aktivitasnya sering dilakukan di ruang yang sama. Apartemen bisa dibuat manis dan lucu sesuai selera, atau model minimalis supaya tidak terkesan berantakan. Mau satu pojok me-time untuk aktivitas favorit? Pasti bisa deh, itu! Kalau me-time saya baca buku sampai ketiduran, kalau kamu?

baca di ruangan sempit asal banyak buku, hmm..
(foto oleh uni evi indrawanto)

4. Tidak ada angka empat pada lantai apartemen

Dalam bangunan tinggi sering kali lantai empat ini menghilang. Jadi begini, sebagian masyarakat keturunan tionghoa atau Chinese percaya soal fengshui tentang angka 4. Pada pelafalan Bahasa China angka 4 di baca shi yang jika diartikan artinya mati, karena itu nggak bisa dijadikan sebagai angka keberuntungan. Maka pada banyak hal, angka ini di-skip langsung ke lima atau diganti dengan angka 3A. Kalau dilihat dari bentuknya angka 4 mirip dengan kursi terbalik. Misteri angka 4 ini dipercaya tidak bagus untuk kedudukan dan jabatan karena bisa menyebabkan jabatan yang dimiliki akan turun. Nah, jadi jangan ngototlah untuk cari unit di lantai 4 hanya karena itu sesuai dengan tanggal lahir atau tanggal jadian kamu.

mau lantai 4 atau lantai 13 nggak bakal ada
(foto oleh uni evi indrawanto)

5. Tingkat keselamatan yang terbatas

Bayangkan kalau terjadi sesuatu dalam kondisi darurat, pasti semua penghuni akan berbondong-bondong turun. Karena itu sebuah apartemen mutlak memiliki semua jalur keselamatan yang terdiri dari tangga darurat yang dilengkapi dengan pressurized air fan untuk menyalurkan udara segar dalam tangga, jangkauan tangga yang hanya sejauh 25 meter saja sehingga mudah ditemukan ketika lari, atau tangga yang melayani hingga maksimal 900 m2 luasan. Aturan-aturan ini sudah tercantum dalam standar keselamatan bangunan tinggi sehingga harus diterapkan oleh perencana, pengembang, dan kontraktor. Selain itu, daerah yang rawan keselamatan lagi adalah balkon apartemen. Pemasangan railing yang kuat tertanam pada beton diharuskan supaya tidak terjadi kecelakaan dari arah area terbuka ini. Jangan coba-coba memanjat pagar balkon apartemen, karena tidak ada pohon mangga juga di situ seperti kalau memanjat tembok rumah untuk mencomot buah dari tetangga sebelah.

tangga darurat di antara unit

6. Biaya perawatan bulanannya yang mahal

Biaya perawatan per m2 unit yang biasanya dibebankan pada pemilik unit oleh pengelola dimaksudkan sebagai biaya pemeliharaan berbagai fasilitas publik seperti lift, tangga, koridor, lobby, kolam renang, dan lain-lain yang menjadi hak guna bersama penghuni apartemen. Jadi makin banyak fasilitasnya, tentu makin tinggi biaya bulanannya. Makin besar juga luas unit yang dimiliki, makin besar biaya bulanannya dengan asumsi bahwa penghuninya pun pasti nambah banyak. Hitung-hitung sajalah, kira-kira berapa banyak yang dikeluarkan setara dengan penggunaannya per bulan? Bisa dilihat wajar atau tidak? Jangan sampai biaya yang ditagihkan oleh pengelola apartemen ternyata tidak sesuai dengan harga pasaran atau fasilitas yang tersedia.

taman, kolam, dan segala ini harus dibiayai bareng-bareng, ya.

7. Susah cari jodoh

Nah, kalau kamu tinggal di apartemen cuma pulang pergi, tap in tap out kartu di security, bayar biaya bulanan tapi nggak pernah menggunakan fasilitas apartemen seperti kolam renang, perpustakaan atau public lounge, maka pastilah bakal susah cari jodoh di sini. Karena ruang-ruang interaksi itu disediakan untuk membuat penghuninya kenal satu sama lain, bukan sekadar menunggu ada yang lari mengejar untuk mengembalikan saputangan yang terjatuh ala iklan Axe di masa lalu. Monica dan Chandler saja jadian sesudah bertahun-tahun bertetangga di Friends, jadi jangan patah semangat!

tetap rukun hingga kelak

Nah, salah satu bakal hunian vertikal teranyar yang ada di tengah kota Jakarta adalah Permata Hijau Suites yang berlokasi di Jalan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Lokasinya yang strategis di dekat pusat kota dan dekat dengan aneka transportasi publik menjadikannya pilihan menarik. Nyata dekatnya bukan?

Karena Permata Hijau Suites ini menyediakan berbagai fasilitas seperti kolam renang, club lounge, sampai yang tenang seperti perpustakaan, atau area refugee floor bisa untuk bersosialisasi sambil menikmati kerlip siang dan malam kota Jakarta. Dengan begitu kejadian di mitos nomor tujuh pasti makin berkurang kesempatannya.

Karena masih dalam tahap pondasi dan pembangunan basement, harga unit apartemen Permata Hijau Suites ini pasti masih banyak diskonnya. Cepat lho, karena kabarnya penjualan sudah laku hingga 80% sehingga kesempatan untuk memilikinya jadi terbatas.

Apartemen Permata Hijau Suites ini memiliki tiga pilihan luas unit yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, yaitu 1-Bedroom dengan Nett Area: 35.01 m2 dan Semi Gross: 40.86 m2, 2-Bedroom dengan Nett Area: 51.66 m2 dan Semi Gross: 60.29 m2, dan 3-Bedroom dengan Nett Area: 78.32 m2, Semi Gross: 91.40 m2. Jadi, bareng dengan jumlah penghuni yang akan tinggal ini menentukan luasan unit apartemen yang akan dibeli.

Kalau sudah baca cerita di sini, dan kepingin banyak tanya tentang apartemen Permata Hijau Suites, bisa langsung menghubungi di lokasi:

PERMATA HIJAU SUITES

PT Palmerindo Properti
Jl Raya Kebayoran Lama, Jakarta 12210.
021 53669600
www.permatahijausuites.com

Advertisements

6 thoughts on “7 Mitos Tinggal di Apartemen

  1. Anesa Nisa says:

    Monica dan Chandleeeerrrr… Ya ampuuunn serial tv jaman kapan iniii?
    Aaahh ini tulisan ngena banget ttg mitos tinggal di apartemen. semacam mejawab komen2 temenku. apalagi ini ditulis sama arsitek, percaya banget lah aku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s