stasiun solo jebres tengah malam

Mengakhiri perjalanan di kota Solo, adalah naik ojek hingga Stasiun Solo Jebres menjelang tengah malam. Meskipun melewatkan nasi liwet di tepi jalan, tiba di stasiun tengah kota itu pada jam sebelas menimbulkan perasaan haru.

Aku jatuh cinta.
Stasiunnya cantik.

Lengkungnya tersenyum dengan gaya aristokratnya, memberi tanda kelahirannya di masa lalu 1844. Entah berapa banyak noni dan sinyo yang melalui pintu ini untuk bertandang ke kota sebelah, mungkin ke Semarang sebelum berlayar kelak dahulu. Suara gamelan dari radio yang diperdengarkan tukang soto membawa ke masa lalu.

Pagar memberi batas pada ruang luar. Tukang becak saling bercakap di antara asap rokoknya. Lampu merkuri di beberapa titik memberi pertanda kehangatan. Sorang ibu mondar-mandir, seorang bapak duduk di undakan, dan seorang gadis bersandar pada bangku. Mungkin masih menunggu, menikmati malam yang menjelang senyap.

Lalu gelap di ujung, pertanda malam benar-benar meminta untuk istirahat.
Hanya lengkung-lengkung ini yang tetap meminta perhatian.

Mesin boarding pass yang modern tak bisa menyaingi keanggunan ruang lobby stasiun yang tinggi. Beberapa orang yang berlalu, menunggu kereta dari Malang akan lewat dan membawa ke ibukota. Suasana tenang dan hening, seakan suara deham batuk pun bisa terdengar kencang. Tengah malam sudah menjelang. Seorang bapak tiba di stasiun baru menyadari kereta sesuai tiketnya sudah berangkat dua puluh tiga jam yang lalu. Seorang ibu lewat membawa dua tas besar. Tak tampak anak-anak menyertai, mungkin mereka sudah berlalu di waktu yang lebih senja.

Masuk ke tepi peron.
Mengamati petugas stasiun dengan topi merahnya membawa lampu, memberi tanda kereta eksekutif untuk berjalan terus dari arah timur. Penumpang duduk, penumpang tidur.

Pengumuman-pengumuman yang berkumandang.

Keretaku tiba, hanya berhenti lima menit saja.
Semboyan 35 pun melengking kencang.

2017

Advertisements

joglo mangkunegaran, anggun dalam sahaja

Kota Solo yang dahulu termasuk dalam Kerajaan Mataram menjadi pilihan saya untuk menemui bentuk joglo yang merupakan bangunan khas daerah Jawa Tengah. Di kota yang juga disebut Surakarta ini, masih terasa suasana Jawa yang begitu kental dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Yogyakarta dan Surakarta terpecah oleh Perjanjian Gianti tahun 1755, berdirilah Kasunanan Surakarta hingga tahun 1757 pecah kembali di satu bagian menjadi Mangkunegara yang nuansa bangunannya lebih sederhana.

Puri Mangkunegara yang masih berada di tengah kota Solo ini berukuran lebih kecil dari Kasunanan Surakarta, namun mengikuti kaidah-kaidah pembangunan Joglo. Sesudah melewati satu pelataran yang besar, bangunan pertama yang ditemui adalah pendopo, yaitu ruang terbuka yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan besar dengan rakyat, tempat mengadakan pertunjukan kesenian, atau keperluan-keperluan lain yang ada hubungannya dengan masyarakat. Bangunan puri ini bukan sekadar museum, karena memang masih dipergunakan sehari-hari oleh keluarga Mangkunegara yang melakukan kegiatan publik. Continue reading

rahasia cetho

She’ll let you come just far enough
So you know she’s really there
Then she’ll look at you and smile
And her eyes will say
She’s got a secret garden
– Bruce Springsteen : Secret Garden

Setiap gunung semestinya punya rahasia, seperti aku yang pagi-pagi meninggalkan kota Solo untuk menuju Candi Sukuh kemudian ke Candi Cetho, yang ternyata berada di kaki gunung Lawu. Kabut menyelimuti perjalanan yang ditempuh dalam setengah kantuk, beberapa kali hentian di tepi Kebun Teh Mustika.

Belum pernah kudengar satu referensi pun tentang Candi Cetho, sampai akhirnya aku tiba di sini sembari menghirup udara yang rasanya senantiasa pagi, karena awan yang terus berarak menyembunyikan mentari. Karena itu, cukup mengejutkan ketika berada di kaki terasnya yang terbawah, menunggu kejutan-kejutan dari tiap undakan dengan latar Gunung Lawu yang eksotis. Continue reading

perempuan sukuh

“Sik, Mbak. Sampeyan ning candi Sukuh? Lha kuwi lak candine saru to, Mbak?”

Begitu tanggapan seorang kawan ketika kuceritakan salah satu tempat yang kukunjungi ketika berada di Solo. Aku agak tergelak, karena persepsi ‘saru’ antar masing-masing orang pasti berbeda. Candi Sukuh memang terkenal karena banyak menampilkan sisi sektualitas manusia untuk keberlanjutan kehidupan di dunia. Manusia yang akan menurunkan generasi-generasinya namun tetap harus berperan sebagai punggawa buana.

Candi Sukuh berada di kaki gunung Lawu dan bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan (naik motor) dari kota Solo. Jika berangkat pada jam enam pagi, cukup kiranya tiba jam delapan sehingga udara masih terasa sejuk dan matahari belum terik. Pemandangan khas pegunungan yang meliuk-liuk hingga tinggi menemani sampai kaki candi yang berada di desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini. Jika kebetulan menginap di sekitar sini, bisa menikmati sunrisenya dari belakang candi yang perlahan-lahan naik menyinari bagian badan candinya. Continue reading