Love in the time of Corona: Jakarta 2Q20

Mengakhiri kuarter pertama di tahun 2020, tiba-tiba dunia bergerak lambat. Kecepatan berkurang di segala tempat, di seluruh penjuru dunia atas dasar sesuatu yang tiba-tiba menyebar begitu cepat, yang hanya bisa ditandingi oleh cepatnya hoax pada terusan pesan singkat.

Yah, mungkin Robert Langdon terlambat menyelamatkan dunia.

Jika 24 jam biasanya terasa cepat, sekarang bahkan sejam pun terasa lambat berlalu. Orang-orang berdiam di tempat tidak bergerak, tidak saling ketemu sesamanya. Pesta-pesta berakhir, perjalanan-perjalanan dibatalkan. Janji janji temu pun perakhir pada layar daring yang berbatas jarak, dibantu oleh gelombang-gelombang elektromagnetik yang tetiba memenuhi udara. Satelit di luar angkasa sana pun menjadi sibuk adanya.

Di balik bersihnya udara dan birunya langit di tahun 2020 ini, memang tersemat harapan bahwa pemanasan global akan melambat, lapizan ozon tidak jadi menipis, dan keseimbangan bumi akan kembali pada ratusan tahun yang lalu sebelum masanya revolusi industri. Tiba-tiba timbul kembali harapan bahwa birunya langit ini adalah mimpi yang selama ini milik pejuang lingkungan.

Namun seharusnya di situ juga tersemat ketakutan bahwa tumpukan sampah sekali pakai yang tetiba memenuhi seluruh dunia akan menjadi masalah baru. Bahan-bahan sintetis yang digunakan atas nama sanitasi akan memenuhi ujung-ujung rumah sakit, menuju tempat-tempat pembuangan khusus, dan dimusnahkan dengan energi.

Lalu tidak mungkin sisa pembakaran itu lenyap begitu saja tanpa ada sisa oksidasi yang dilepaskan ke udara. Bahan-bahan yang berubah menjadi gas tak kasat mata, namun perlahan-lahan memenuhi udara di masa pergerakan yang lambat ini. Kemudian oksigen bersih menjadi harta yang luar biasa.

Sampah, yang bukan hanya sampah medis yang jelas memerlukan penanganan khusus untuk pemusnahannya, menjadi ancaman baru di dunia 2Q20. Upaya penurunan di tahun-tahun sebelumnya dengan kampanye-kampanye masif, sekarangkembali akan menggunung karena semua kembali menjadi sekali pakai. Kemasan dan kemasan dan kemasan yang setiap hari sudah banyak pun akan makin memenuhi pojok-pojok lewat kurir-kurir yang berkeliaran ke seluruh penjuru.

Ketakutan dunia berubah. Bukan lagi tentang habisnya sumber energi, atau gunung-gunung batu atau pasir sebagai bahan pembangunan, bukan lagi tentang perang dunia antar senjata kimia. Tetapi pada lekatan sehari-hari yang tidak boleh terkontaminasi. Sanitasi, disinfeksi, pembersihan akan selalu menjadi rutinitas yang kuantitasnya akan meningkat pesat. Kulit dan tanah akan menyerap bahan kimia lebih banyak, begitu pula dengan saluran-saluran air yang juga bergerak menuju sungai dan laut.

Kita akan tergantung pada bahan kimia sebagai pembersih badan, namun air, tanah, dan udara kita tidak bisa membersihkan dirinya sendiri. Selalu ada bahan-bahan baru yang harus diciptakan untuk membuat calon polutan ini tidak perlu membebaskan dirinya ke alam lepas. Juga ada teknologi untuk menyaring dan menetralkan sebelum mencemari lebih jauh lagi.

Mungkin harus tumbuh spesies-spesies alami untuk memakan semua polutan ini, bukan hanya sekadar penetral bahan kimia. Ilmuwan-ilmuwan akan muncul dari penjuru negeri, tidak hanya menyelesaikan masalah utamanya, namun juga dampak-dampak sampingan yang ditimbulkan. Pada setiap bidang ilmu, dititipkan harapan untuk memperbaiki dan mengembalikan pada kondisi. Selain berbagi, juga untuk terus berinovasi di tengah waktu yang terus bergulir ini.

Manusia itu diciptakan untuk berpikir. Selalu harus ditemukan inovasi-inovasi baru untuk kembali membersihkan dunia walaupun harus didorong oleh berbagai peraturan yang seolah-olah meningkatkan perekonomian. Perkembangan teknologi dan kecepatan berpikir menjadi pelik, berpacu dengan keinginan-keinginan untuk memutar dunia kembali seperti seharusnya. Rutinitas yang berulang hari ke hari, yang terselip kejutan pada salah satunya. Harapan-harapan yang terselip untuk ada.

Menyelamatkan lingkungan dari sampah ini harus merupakan campur tangan semua pihak, mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, policy, hingga ilmu-ilmu lain dan rantai pengguna terkecil untuk sama-sama menemukan pola olah yang bisa diterima kembali oleh alam. Walaupun setiap tindakan juga memiliki dampak negatif, namun meminimalisasinya juga harus menjadi prioritas.

Karena seorang introvert pun kadang rindu untuk hilang di tengah keramaian, daripada hanya menyendiri dalam titik sembunyinya. Selamat Hari Bumi 2020.

Love in time of Cholera : Gabriel Garcia Marquez, 1985
1Q84 : Haruki Murakami, 2009
Robert Langdon in Inferno : Dan Brown, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.