traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

3-ninenzaka-kyoto

Jujur aku agak sulit memutuskan sewaktu bepergian ke Jepang mau bawa koper atau ransel. Tapi berhubung aku hanya punya ransel 35+10 liter itu plus daypack 25 liter, jadi benda itu saja yang kubawa. Untuk mewadahi kebutuhanku selama 12 hari, jaket, pakaian, tripod, tongsis, kamera, dan alat-alat lain memenuhi tasku. Rencananya ransel akan kutinggal di hotel, sementara daypack dibawa jalan-jalan.

Tapi ternyata ada lokasi-lokasi yang membuatku kepengin bawa koper karena, hmmm.. sakit juga punggung bawa ransel yang berat ini di akhir musim panas yang membuat keringat bercucuran ini. Tetapi setiap kondisi memang ada perbandingan-perbandingannya, koq.

1. Membawa ransel dari stasiun Osaka sampai hotel di kawasan Dotonburi, Osaka. Berhubung berjalan di antara toko-toko lucu yang menarik untuk dilihat-lihat, dimampiri, maka perjalanan selama 25 menit menggendong ransel tidak terlalu terasa, juga lebih praktis sambil window shopping, atau mampir-mampir beli cemilan.

koridor dari stasiun ke dotonburi, asyik buat cuci mata

koridor dari stasiun ke dotonburi, asyik buat cuci mata

walaupun bawa koper atau ransel, tolong tidak diceburkan sembarangan. waterfront di dotonburi, osaka

walaupun bawa koper atau ransel, tolong tidak diceburkan sembarangan. waterfront di dotonburi, osaka

2. Kepingin bawa koper pas sampai hotel di Osaka karena tinggal di kamar yang sama selama 5 hari. Karena kalau bawa ransel udah agak pasti perlengkapan bakal keleleran di mana-mana, sementara kepinginnya meninggalkan kamar dalam kondisi agak rapih. Kalau pakai koper, masukkan semua, kunci deh.

vista grande hotel, osaka

vista grande hotel, osaka

seonggok barang bawaan

seonggok barang bawaan

3. Nggak punya bayangan ransel atau koper ketika harus pakai yukata/kimono keliling-keliling Kyoto. Banyak tangga, jalanan menanjak naik dan turun, sama sekali nggak pantas ransel atau koper dipadupadankan. Jadi kalau nekat bawa, mendingan dititipkan saja di tempat penyewaan kimono, daripada ribet dan nggak bagus masuk frame foto sembari mengenakan kelom kayu yang berisik itu. Tapi berhubung pakai yukata pun aku harus bekerja, jadi tetap saja tangan kanan harus menenteng kamera DSLR.

apalagi sambil pakai yukata di musim panas kyoto

apalagi sambil pakai yukata di musim panas kyoto

ini bukan sales truk himo, bukan!  yukata di higashiyama, kyoto

ini bukan sales truk himo, bukan!
yukata di higashiyama, kyoto

4. Hari terakhir di Osaka dan harus jalan kaki dari hotel sampai stasiun JR Namba itu cukup capek ya. Lumayan lah 3-4 km memanggul ransel yang lebih tinggi dari kepala, sampai-sampai setiap ketemu pot bunga maunya duduk menyandarkan ransel (padahal, dari rumah ke stasiun di Depok saja aku nggak pernah jalan). Saat itu, sangat kepikir enaknya menyeret koper seperti orang-orang yang lain. Jalanan rata, trotoar lebar, jalur penyeberangan yang aman akan menyamankan orang-orang yang bawa koper, bahkan kursi roda atau kereta bayi sekali pun. Stasiun JR Namba dengan semua ramp dan eskalatornya memudahkan pergerakan sambil menggeret koper, menuju platform yang sesuai.

semua menunggu menyeberang dengan rapi

semua menunggu menyeberang dengan rapi

bahkan lorong stasiun pun dilengkapi conveyor. JR Namba Station, Osaka.

bahkan lorong stasiun pun dilengkapi conveyor.
JR Namba Station, Osaka.

5. Nah, masalah ketika sampai stasiun Osaka, mulai solo traveling, ketika harus berpindah dari platform 8 ke platform 24, sementara waktu keberangkatan kereta sudah mepet, mana harus keluar masuk gate naik turun tangga mencari mana pintu yang benar, aku bersyukur membawa ransel karena semangat mengejar jadwal Shinkansen benar-benar melupakan bahwa beban di bahu cukup berat.

tapi, membawa koper sepertinya sudah menjadi kebiasaan di sini.

tapi, membawa koper sepertinya sudah menjadi kebiasaan di sini.

koper berbagai ukuran dan warna di stasiun shin-osaka

koper berbagai ukuran dan warna di stasiun shin-osaka

koper tetap berdiri  setelah susah payah diangkat ke atas.

koper tetap berdiri setelah susah payah diangkat ke atas.

6. Kalau di kota-kota yang tidak terlalu besar cukup mudah menemukan jalan keluarnya, tapi di stasiun Hiroshima, aku tidak menemukan eskalator, sehingga harus turun pakai tangga. Untungnya ranselku cukup nyaman dipakai sambil berlari-lari kecil mencari jalur ke streetcar. Bayangkan menggotong koper satu demi satu anak tangga dari lantai 3 sampai bawah. Mestinya sih ada jalur koper, tapi tidak ketemu di mana.

stasiun hiroshima yang todak ditemukan eskalator

stasiun hiroshima yang todak ditemukan eskalator

jalanan stasiun Hiroshima  yang mulus enak buat geret koper.

jalanan stasiun Hiroshima yang mulus enak buat geret koper.

waktu jalan-jalan ke miyajima, hanya daypack saja yng dibawa

waktu jalan-jalan ke miyajima, hanya daypack saja yng dibawa

menuju stasiun lagi. kalau bawa ransel, bisa selfie seperti ini

menuju stasiun lagi. kalau bawa ransel, bisa selfie seperti ini

7. Sesampai kemalaman di Nagasaki, rasanya lelah sekali menggendong ransel dari stasiun yang katanya cuma 5 menit itu menuju hostel (5 menit sambil menggeret koper sepertinya). Jalannya begitu bagus, mulus, rata, sampai tiba di bagian depan hostel yang bertuliskan Casa Noda Hostel at 3rd floor. Hah? Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku naik tangga menuju ruang bersama di lantai 3 untuk check-in, meletakkan ransel di tepi bed, dan leyeh-leyeh di sofa. Eh, sejam kemudian masuklah satu gadis manis dari Korea terengah-engah mengangkat kopernya sampai atas. Berdasarkan beberapa pengalaman bahwa tingggal di hostel biasanya naik-naik tangga, mungkin ransel lebih enak.

di lantai 3 casa noda nagasaki, ternyata banyak yang membawa ransel

di lantai 3 casa noda nagasaki, ternyata banyak yang membawa ransel

tapi di kamar cewek banyak koper

tapi di kamar cewek banyak koper

8. Balik ke bandara Kansai sebelum bisa drop barang ke bagasi, keliling-keliling bawa ransel itu cukup menguras tenaga karena bandaranya besar (dan aku lelah), jadi sangat berpikiran mungkin lebih enak bawa koper. Sudah tahu kepingin keliling-keliling bandara, tapi malah bawaan pulang banyak banget termasuk brosur-brosur yang tebalnya seisi daypack. Lift dan eskalator yang mudah ditemukan memudahkan transportasi vertikal maupun horisontal.

kansai internasional airport dari luar

kansai internasional airport dari luar

lantai paling atas kansai airport, banyak yang menarik koper

lantai paling atas kansai airport, banyak yang menarik koper

siap ransel, siap daypack, siap pulang, dan belum mandi

siap ransel, siap daypack, siap pulang, dan belum mandi

Tetapi, kebutuhan memakai ransel atau koper itu berpulang pada lokasi dan kenyamanan masing-masing. Jika kebetulan merasa nyaman dengan menggeret-geret, atau merasa lebih oke dengan memanggul di bahu, pasti tahu yang mana paling sesuai untuk kenyamanan. Yang penting nggak menyusahkan orang lain. Tapi gara-gara pergi ke Jepang membawa ransel ini, jadi agak mempengaruhi keputusanku untuk membeli sebuah koper. Kayaknya kece juga, agak stylish gitu.

depok, 1 agustus 2015 | perjalanan september 2014

Advertisements

55 thoughts on “traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

  1. claraBerkelana says:

    Wuihh asik banget jalan-jalan ke Jepang. Kalo pergi 12 hari sih gw mending bawa koper. hahaha Btw beneran itu jalan2 pake kimono? cuman untuk foto doang ato emang literally hari itu pake kimono?

    • indrijuwono says:

      sewa kimono buat dipake jalan2 dari jam 11 sampai jam 7 malam. iya keliling2 berbagai kuil itu teklak tekluk pake kelom, manjat-manjat sambil moto. :))
      tapi aku nggak punya koper waktu itu, buat keliling2 pas pindah kota juga kyknya mending ransel.

      • claraBerkelana says:

        Hahahaa kamu niat banget sewa kimono. Emang banyak yah yang nyewa begitu? Menarik juga. Kelom Jepang bukannya rada sakit dan susah utk jalan ya? Ato ini udah dimodifikasi?

      • indrijuwono says:

        Banyak dong. Padahal mahal lho. 😭 banyak yang wira-wiri di Kyoto pakai kimono gitu. Kelom jepangnya brneran yang kayu itu. Tapi sudahlah, buat aku yang pernah kejebak pakai wedges pas survey tanah, ya apalah apalah gitu, haha.

  2. Bulan says:

    Eh ini topiknya bagus, Mbak In! Beruntung di Jepang banyak eskalator ya di stasiunnya. Di Korea Selatan, itu PR banget exit stasiunnya mostly tangga dua sampai tiga tingkat!! Gile beut dah. Hahaha. Bikin hemosih kalo bawa koper.

    • indrijuwono says:

      soalnya Jepang kan negerinya lift dan eskalator yang canggih2 (melihat dari setumpuk brosur di kantor) jadi disebar di mana-mana. bahkan di stasiun JR Namba itu eskalatornya outdoor!

  3. Muhammad Akbar says:

    Weits, sudah jalan-jalan ke Japan, Ini salah satu negara impian yang dulu pengen saya datangi ketika lulus dari SMK lewat jalur magang tapi gak kesampaian.

    Pilihan membawa ransel atau koper memang selalu menjadi pilihan yang sulit, apalagi kalau bepergian selama 12 hari gitu. Sepertinya bawa ransel jauh lebih fleksibel dan enteng bawanya.

    • indrijuwono says:

      ahaa, udah agak lama koq ini, kebetulan ada kesempatan, alhamdulillah deh. dibilang enteng nggak juga. wong kepengennya buru2 sampai hotel/hostel terus keliling kota aja bawa daypack.

  4. sefiiin says:

    waaa kayaknya paling enak pake koper yg ringan sekali, ya? aku pingin banget ke Jepang, Kak!!! apalagi bisa pake yukata kayak gitu, kayaknya unyuuk banget :*

    Sila baca posting terbaru blog #senjamoktika -> Menujuh Kalimantan http://wp.me/p39Fhn-pH #Terios7Wonders

  5. ainun says:

    Sama mb in, kdangkala disuatu situasi ketika mau traveling jadi bingung, koper atau backpack aja ya. Kalo koper pas jalan ke trawangan kemarin, males juga geret2 di tanahnya. meskipun banyak juga sih bule atau wisatawan yg bawa koper.
    Wahhh mb indri beli koper yg warna2 cerah gitu mb, biar catchy, kan pas kalo traveling bawaanya mesti ceria terus, jadi koper kudu yg ceria2 warnanya πŸ™‚

  6. Gara says:

    Jadi pada akhirnya saya harus beli koper atau beli ransel nih Mbak? :hehe.
    Ah, Mbak Indri keren sekali, ber-Kansai (iya, Kansai ya) selama 12 hari dan saya jadi kepengen nyanyi lagu Jepang favorit saya: Osaka no Onna :hehe :peace *kemudian digampar betulan*.
    Untuk sekarang, saya lebih suka ransel sih Mbak, masih berusaha menemukan ransel yang tepat dan cara mengepak pakaian yang benar agar dengan tas yang besarnya cuma “segitu” bisa memuat barang-barang yang “segambreng”. Soalnya kalau koper, buat sekarang masih agak wah mewah dan kayaknya agak kebesaran saja, gitu :hehe. Tapi kalau nanti ada pengalaman buat koper yang membuat saya mempertimbangkan untuk membelinya, pendapat itu bisa sekali berubah :hehe.

  7. Arie says:

    mbak mau nanya itu solo travelling kan..:D otomatis kemana-mana harus bawa tongsis πŸ˜€ itu bawa tongsis pas di bandaranya lolos mbak? terus itu tongsis nya dimasukin tas.. disimpennya di kabin atau bagasi ? hehe πŸ˜€

    • indrijuwono says:

      Tongsisnya di tas kabin sih, yg ditenteng2. Waktu ke sana tongsis belum booming, ditanya2 melulu sama orang Jepang cem, “benda apa itu?” Lagian yg biasa sederhana banget, yg gak pake tombol otomatis apa2..

      • Arie says:

        oh iya πŸ˜€
        mbak itu bawa tas backpack 30L sama daypack ya πŸ˜€

        pas di bandara soetta nya itu tas backpack nya mbak disimpen di kabin atau bagasi? πŸ˜€
        katanya kalau mau di kabin gaboleh lebih dari 7kg ya mbak ?

        oh iya itu pulang nya kan bawa tas backpack sama daypack juga..itu kan isi nya penuh semua dibawa nya gimana? yg 1 dijinjing ? πŸ˜€

      • indrijuwono says:

        bawanya carrier 35 liter yang jadinya ‘berkembang’ ke 45 liter. daypack-ku 25 liter. jadi carrier dibagasiin dan daypack dibawa ke kabin, karena isinya kamera dan printilannya.
        yoi bener kalau masuk kabin mesti maksimal 7 kg, jadi diitung2 lah. waktu itu aku gak bawa laptop sih, soalnya beraat.. heheu.

  8. Arie says:

    ohh iya mbak indri..tahun ini ada rencana ke jepang gak ? πŸ˜€

    biar ada temen jadi bisa barengan keliling osaka, kyoto & nara :p

    ohh iya mbak kan mbak travelling sendirian..pas di jepang pernah kesasar ? πŸ˜€

    mbak bisa bahasa jepang & bahasa inggris..

    *maaf banyak keponya peace πŸ˜€

    • indrijuwono says:

      waa, tahun ini mah nggak. osaka, kyoto, terutama nara itu mengasyikkan buat berjalan kaki. πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ belum ditulis blognya. beberapa kota (di jepang selatan-kyushu area) aku tulis di koran tempo.
      aku nggak bisa bahasa jepaang. pokoknya tiap sampai stasiun satu kota, aku ke tourist information center, dan nanya semuanya sampai lengkap rute seharian, karena cuma di situ yg yakin petugasnya bisa bahasa inggris.
      terus nginepnya di hostel/dorm, biar ada temen ngobrol yg bahasa inggris walo beda negara. petugas hostelnya jg biasanya bisa bahasa inggris, jd bisa ditanya2i.. 😁

  9. Arie says:

    ohh gitu yaa mbak..oke2.. πŸ˜€

    mbak waktu travelling ke jepang sempat ke tokyo?

    mbak kalau pas sampai bandara kansai mau ke hostel tempat menginap yg sudah dibooking gimana itu,,naik apa sama rutenya kan gak tau jadi takut kesasar dan bingung pas disananya 😦

    jadi rencananya tahun ini mbak indri mau travelling ke mana aja nih :p

    • indrijuwono says:

      dari kansai ke tengah kota osaka sih ada kereta, pakai JR pass yg lokal sekitar osaka, nara, kyoto, himeji, berlaku 4 ato 5 hari juga murah. nanti tggl sambung2 kereta JR di osaka sampai lokasi hostel. kamu berangkatnya kapan sih? ayo ngobrol dulu aja tentang transport.

      • Arie says:

        berangkatnya oktober lah masih lama mbak hehe πŸ˜€

        iya mbak…soal transport disana kan aku hanya mauu ke osaka. kyoto dan nara jadi gausaha beli JR PASS dari indo ya mbak,, ?

        menurut mbak..gimana ? πŸ™‚

  10. Arie says:

    iya mbak gpp, lagi sibuk kerja ya ? πŸ™‚
    ohh iya btw waktu ke jpn mbak naik AA ? Atau apa?
    ohh ada yaa tiket jr pass di bandara osaka? bukanya harus beli dari indonesia mbak? itu harganya waktu itu berapan yen? hehe

    • indrijuwono says:

      Naik Garuda πŸ˜€ jadi bagasi gak masalah.
      Hi, aku lupa yg JRPass Osaka berapa. Bisa digugling koq. Cakupannya Osaka, Nara, sampai Kobe kayaknya.
      Terus yg aku beli di Indonesia JRPass Kyushu Province yang bisa sampai Nagasaki. Waktu itu 4 hari pake yg Osaka, trus 5 hari pakai yg Kyushu.

      • Arie says:

        ohh naik garuda , berapa itu PP nya waktu itu mbak ? πŸ˜€ tapi kan Nara sama Kyoto aja mending beli tiket yg biasa aja gitu,, mbak itu nyimpen tas ransel nya di bagasi aman gak yaa? hehe πŸ˜€
        ohh ya mbak IG Ku followback dong:)

  11. eunoiamind says:

    halo, mbak

    Wah kelihatannya perlu dicoba. aku ada rencana ke Jepang sih tahun depan. Rencananya emang bawa ransel aja. Bawa koper bingung ntar hehe…*menurutku soalnya kejadian di seoul.

    btw, hostelnya nyediain laundry atau mesin cuci kah mbak? ada yang recommended gak? aku ada rencana ke Osaka-Kyoto-Tokyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s