the jewel of Jaipur

Jaipur in Rajasthan is a blushing bride draped in pink, dancing in our dreams while the peacocks sing.

Panas terik menerpa ketika kami keluar dari kereta yang membawa dari Agra ke Jaipur. Walaupun perjalanannya hanya lima jam, tapi panas teriknya memang membuat rasanya semua uap di badan mengangkasa. Di luar hamparan padi dan ilalang, tanah kecoklatan, atap datar kelabu meyakinkan bahwa suhu udara pasti di atas 35 derajat Celcius.

Karena hostel tempat menginap tidak terlalu jauh dari stasiun Jaipur, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tapi begitu sampai memang rasanya kepingin leyeh-leyeh dan ngadem di AC, ketimbang mulai melihat-lihat kota. Jadi, ketika senja menjelang barulah kami mulai jalan kaki menyusuri kota dan menikmati sore di tengah kota Jaipur. Rupanya kota ini penuh dengan bangunan gaya British Colonial yang masih digunakan baik sebagai bangunan pemerintahan, maupun pertokoan. Usai mengudap Masala Dosa dan Chicken Tikka, aku memilih beristirahat saja dan mencari tahu hal-hal yang bisa dieksplor esok harinya. Yang membuat tertarik mengunjungi kota ini dalam salah satu itinerary adalah kota lamanya yang terlihat eksotis, sebagai salah satu pintu masuk daerah Rajasthan dari arah timur, banyak obyek arsitektur klasik India yang masih bertahan di kota ini.

Pink City

Usai sarapan, kami naik tuktuk untuk berkeliling Pink City, yang merupakan daya tarik utama Jaipur. Ditempuh kurang lebih 20 menit naik tuktuk, kami tiba di gerbang utama Pink City ini yang merupakan kota lama dari Jaipur. Kabarnya, kota ini mulai dicat merah muda pada tahun 1876 untuk menyambut kedatangan Pangeran Inggris, Albert Edward. Sebagai simbol selamat datang, dianggap lebih bersahabat dan mencerminkan penduduk kota yang ramah.

Dari dekat, ternyata warnanya tidak pink merah jambu seperti yang kubayangkan, tetapi warna merah koral yang mendominasi berpadu dengan terakota. Deretan toko-toko di tepi jalan yang menjual aneka barang, dengan pola arsitektur penuh dengan ukiran-ukiran yang kaya menjadi keunikan tersendiri yang mencuri perhatian di pagi yang panas itu juga.

Keramaian di depan pasar (bazaar) juga menarik dengan berlalu lalangnya orang-orang dengan salwar khameez yang berkegiatan di sana. Aneka peralatan logam maupun batuan juga dijual di sini. Tampak juga onta sebagai kendaraan melintas dengan badannya yang besar ini.

City Palace

City Palace, yang merupakan bangunan administratif dari Maharaja Jaipur. Di tempat ini juga terdapat museum, ruang budaya, juga detail arsitekturnya indah dan terukir halus. Terbagi menjadi beberapa courtyard, area pertama adalah pekarangan yang di tengahnya berdiri Mubarak Mahal, yang dahulu adalah tempat menerima tetamu raja. Sekarang tempat ini difungsikan sebagai perpustakaas dan museum. Dengan keempat sisinya ditopang oleh lengkung-lengkung yang menahan balkon untuk menikmati courtyard sekitar bangunan.

Baru dari sini aku bertemu dengan gerbang yang dijaga oleh tiga orang berseragam merah yang khas Rajashtan, namun sayangnya kalau mau berfoto dengan beliau harus mengeluarkan uang lagi. Jadi hanya sekadar mengamati gerak gerik mereka kemudian aku lewat gerbang untuk masuk ke courtyard berikutnya.

Di dalam, nuansa warna merah koral mendominasi bangunan Sarvato Bhadra, sebuah ruang luas dengan empat sudut yang hanya terdiri dari satu lantai, yang sering digunakan untuk pagelaran acara-acara budaya. Beruntung sewaktu aku di situ sedang ada pertunjukan sekelompok pria yang menyanyi dan menari menggunakan table, berkostum putih merah dan berputar-putar mengikuti irama. Bangunan ini ditopang oleh lengkung-lengkung besar yang tidak bersekat, dengan kolom dan lantai bernuansa merah koral. Di sekeliling courtyard, terdapat koridor panjang sebagai tempat laluan sebelum masuk ke inner courtyard.

Pada halaman paling dalam yang bisa diakses oleh pengunjung, kami bisa melihat Chandra Mahal yang berdiri tegak dengan ketinggian tujuh lantai, dengan di depannya adalah courtyard Pritam Niwas Chowk dengan empat gerbang. Gerbang tersebut adalah Gerbang Merak Timur Laut (dengan motif burung merak di ambang pintu) yang melambangkan musim gugur dan Dewa Wisnu; Gerbang Teratai Tenggara (dengan pola bunga dan kelopak yang terus menerus) menunjukkan musim panas dan dipersembahkan untuk Dewa Siwa-Parvati; Gerbang Hijau Barat Laut, juga disebut gerbang Leheriya (artinya: “ombak”), dengan warna hijau menandakan musim semi dan didedikasikan untuk Dewa Ganesha, dan terakhir, Gerbang Mawar Barat Daya dengan pola bunga berulang yang mewakili musim dingin dan didedikasikan untuk Dewi Devi.

Jantar Mantar

Tepat di seberang pintu masuk City Palace , adalah Jantar Mantar. Rekomendasi dari penjaga hostel yang membawa kami ke observatorium kuno terbesar di Asia ini. Aneka pembaca pengukur benda-benda langit dengan ukuran besar yang sudah dibangun sejak tahun 1724 dengan konstruksi batu yang berulang kali direkonstruksi. Dahulu  tempat ini dibangun untuk memprediksi waktu dan pergerakan matahari, bulan dan planet oleh Maharaja Jai Singh II yang memang tertarik dengan astronomi.

Dari awal mata sudah tertumbuk pada kemegahan Samrat Yantra. Jam matahari super besar ini penting karena bisa mengukur ketepatan waktu hingga keakuratan dua detik. Dari sisi strukturnya tentulah amat sulit membangun lengkung yang begitu sempurna, sehingga bisa merefleksikan ketepatan matahari jatuh pada equinox-nya. Segitiga tinggi yang menciptakan bayangan ini dilengkapi tangga apabila akan mengecek hingga ujungnya. Sayangnya, demi keamanan, akses ke tangga super tinggi ini ditutup.

Yang tidak kalah menariknya adalah Rasivalya Yantra, yang berisi dua belas struktur, masing-masing mengacu pada konstelasi zodiak dengan mengukur lintang dan bujur suatu benda langit pada saat benda langit melintasi meridian. Langsung saja aku mencari posisi untuk melihat zodiakku Taurus.

Bermacam-macam pengukur ketinggian benda langit juga tersebar di banyak tempat pada Jantar Mantar, yang tentunya tidak semuanya aku ingat. Kapala Yantra, Shasthansa Yantra, Misha Yantra, menjadi benda-benda yang banyak dikunjungi orang-orang di Jantar Mantar. Keseimbangan dan harmoni menjadi nuansa yang menyelubungi kompleks ini terhadap benda-benda langit. Mungkin jika kembali pada malam hari, bisa menikmati langit malam dan mengukur azimuth bintang.

Hawa Mahal

Matahari sudah makin terik di kepala ketika kami melanjutkan perjalanan ke bangunan yang paling diburu orang karena keindahannya tersebut. Masuk dari belakang,kami menemukan area mulai dari lantai dasar berupa courtyard lagi dan tangga-tangga simetris yang bisa dinaiki hingga atas. Bangunan iini didesain oleh Lal Chand Ustad pada tahun 1799. Yang khas dari Hawa Mahal adalah eksterior lima lantainya mirip dengan sarang lebah dengan 953 jendela kecilnya yang disebut Jharokhas dihiasi dengan kisi-kisi dengan kaca patri warna warni. Efek kaca ini dari dalam membuat bayangan berwarna warni juga di lantai.

Lika liku untuk menaiki bangunan ini menjadi pengalaman ruang yang menarik, dengan pintu-pintu unik dan jatuhnya cahaya dan bayangan pada lengkungan. Di bagian dalam, rangkaian Hawa Mahal ini seperti struktur penunjang kulit luar yang tampak dari jalan. Istana ini juga disebut The Wind Palace karena sirkulasi udaranya yang mengalir dengan bagus di sini.

Bagian belakang Hawa Mahal yang sering dikira depan ini adalah tabir untuk para perempuan kerajaan untuk bisa mengamati kehidupan sehari-hari tanpa perlu terlihat, hanya dari jendela-jendela kecil itu saja. Lubang dan kisi-kisi yang dibuat membuat udara terasa sejuk di dalam walaupun ketika cuaca panas. Hawa Mahal adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Jaipur, walaupun cukup lelah juga mendaki tangga-tangga ini sampai atas.

Nah, di luar Hawa Mahal ini banyak sekali warung jualan untuk membeli souvenir khas dengan manik-manik atau sandal yang cantik dan khas. Bisa juga menyempatkan waktu untuk belanja kecil di sini.

Nahargarh Fort

Ketika supir tuktuk menawarkan untuk mendaki bukit dan melihat kota dari ketinggian, tentu saja kami mau, walaupun tidak yakin apakah tuktuk ini bisa sampai atas atau tidak. Di perjalanan malah kami ketemu Jal Mahal atau istana air yang tidak sempat kami mampiri karena keterbatasan waktu. Untungnya tuktuk melewati tanjakan dengan mulus hingga puncak Nahargarh Fort yang ternyata, sudah tutup!

Walaupun kelihatannya di luar masih terang, tapi jam 6 sore di Jaipur memang sudah waktunya berhenti aktivitas. Tanggung sudah sampai di atas, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar banteng terluarnya, yang memang dari situ bisa memandang keseluruhan kota Jaipur. Bahkan kota lama pink city bisa terkelompokkan dan ujung Samrat yantra di Jantar Mantar terlihat jelas dari sini. Lucunya, aku bertemu dengan beberapa orang dari hostel yang sama juga berkunjung ke sini.

Walaupun menunggu senja di ketinggian ini bagus juga, tapi sepertinya daripada kemalaman di negeri orang, di puncak bukit pula, maka kami memutuskan kembali ke kota. Jalan yang berkelak kelok kembali menemani sementara cahaya langit makin temaram. Akhirnya ketika sampai kembali di pink city, hari benar-benar sudah gelap.

Kami segera kembali ke hostel dan membereskan barang-barang, karena malam itu juga kami akan pindah kota lagi ke Udaipur. Walaupun stasiun kereta tidak terlalu jauh, namun karena jam sembilan malam sudah terlalu larut dan tidak tahu bahaya di negeri orang, jadilah kami mengendarai tuktuk lagi ke stasiun untuk menunggu jadwal kereta jam 11 malam.

Perjalanan Maret 2016, ditulis di Matraman, Maret 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.