Tag Archives: anak-anak

cerita dari agats, kota sejuta papan

“To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.”
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

Setelah sekitar 10 jam perjalanan malam di laut, KRI Hasan Basri merapat di Pelabuhan Besar Agats, Papua pada jam 07.16 WIT. Malam sebelumnya kami berangkat dari Dock Freeport di Timika untuk menuju ibukota kabupaten Asmat ini melalui jalur laut. Jalur ini adalah salah satu pilihan menuju Agats dari Timika, selain menggunakan pesawat udara hingga bandara Ewer di Agats.

Hampir keseluruhan tanah di Agats adalah rawa-rawa, sehingga tak heran bahwa kota ini berdiri di atas tonggak-tonggak yang memenuhi setiap ujung kotanya. Sementara barang-barang diangkut lagi dengan perahu ketinting dari tepi pelabuhan, kami berjalan kaki menyusuri jalan di kota Agats. Tim UI Peduli bersama Satgas Kesehatan TNI akan berada di Asmat selama beberapa waktu untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Continue reading cerita dari agats, kota sejuta papan

flores flow #9 : anak-anak wae rebo

anak-anak-wae-rebo-8-j

Lihatlah wajah-wajah polos mereka dengan ingus yang beleleran asyik bermain di pelataran tanpa beban, mengingatkan pada masa kecil yang pernah kau punya. Ketika jungkir walik tak karuan tak mendapat teguran, ketika berdekatan dengan lawan jenis tak meninggalkan kesan. Bahkan juga ketika tak berbaju pun dianggap wajar.

Ingatlah kepada masa di mana rasa ingin tahu selalu menebal, melihat orang baru tanpa rasa gentar, memperkenalkan diri merasa selalu benar. Menari tanpa aturan mengikuti suara hati, melintasi padang sambil berlari, tak malu jika badan masih bau karena belum mandi.
Continue reading flores flow #9 : anak-anak wae rebo

flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

wae rebo cover

kadang-kadang aku hanya ingin melangkahkan kaki,
menjauh dari deru dan menemukan sepi,
namun lebih daripada itu, ternyata yang kutemukan adalah ramai di hati,
senyum yang tulus, percaya kepada negeri.

Malam sudah bertabur bintang ketika Pak Blasius Monta menyambut kami dengan ramah di rumahnya di Denge. Ini adalah titik terakhir yang bisa dilalui dengan mobil. Kami langsung disuguhi kopi setelah perjalanan panjang dari Bajawa tadi pagi. “Besok pagi, mulai jalan ke Wae Rebo jam tujuh saja. Kalau di atas itu nanti panas pas sebelum masuk hutan,” jelasnya. Aku sudah mengenal namanya dari buku Pesan dari Wae Rebo yang dieditori oleh Pak Yori Antar seorang arsitek sealmamaterku, yang kubaca sejak setahun yang lalu. Karena rekomendasi teman-teman juga aku menginap di Denge supaya dekat dengan start point berjalan kaki.

Ada dua titik menginap di desa bawah yang direkomendasikan sebagai tempat istirahat sebelum mulai pendakian ke Wae Rebo. Selain di homestay milik Pak Blasius, ada juga Wae Rebo Lodge yang berada di Dintor, desa di bawah Denge. Lokasi penginapan milik Martinus Anggo ini cukup indah, berada di tengah sawah dan menghadap laut. Tapi karena aku ingin yang lebih dekat dengan start point, maka aku memilih Denge. Tarif menginap di rumah Pak Blasius sebesar Rp. 175.000,- per orang per malam termasuk makan malam dan sarapan. Di depan rumah Pak Blasius juga terdapat Pusat Informasi Wae Rebo yang berisi data-data tentang desa itu, juga perpustakaan yang bisa diakses oleh warga sekitar. Namun sayang ketika aku ke sana, perpustakaan ini tutup, dan tidak banyak juga anak-anak yang beraktivitas di situ.
Continue reading flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus