perempuan sukuh

“Sik, Mbak. Sampeyan ning candi Sukuh? Lha kuwi lak candine saru to, Mbak?”

Begitu tanggapan seorang kawan ketika kuceritakan salah satu tempat yang kukunjungi ketika berada di Solo. Aku agak tergelak, karena persepsi ‘saru’ antar masing-masing orang pasti berbeda. Candi Sukuh memang terkenal karena banyak menampilkan sisi sektualitas manusia untuk keberlanjutan kehidupan di dunia. Manusia yang akan menurunkan generasi-generasinya namun tetap harus berperan sebagai punggawa buana.

Candi Sukuh berada di kaki gunung Lawu dan bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan (naik motor) dari kota Solo. Jika berangkat pada jam enam pagi, cukup kiranya tiba jam delapan sehingga udara masih terasa sejuk dan matahari belum terik. Pemandangan khas pegunungan yang meliuk-liuk hingga tinggi menemani sampai kaki candi yang berada di desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ini. Jika kebetulan menginap di sekitar sini, bisa menikmati sunrisenya dari belakang candi yang perlahan-lahan naik menyinari bagian badan candinya.

Agak mirip dengan Candi Ratu Boko di Jogja, orientasi Candi Sukuh ini juga relatif ke arah barat, sehingga bisa juga menikmati senja dari pelataran candi yang bisa memandang langsung ke lembah-lembah di bawahnya. Tak heran lokasi indah inilah yang menjadi pilihan Prabu Brawijaya V untuk mengasingkan diri ketika dikejar oleh Raden Patah dari Demak. Namun bangunan candi ini pun tak semegah candi-candi Hindu yang lain, mungkin karena upaya untuk tidak menyolok di tengah pelariannya.

Di ujung teras pertama, terdapat gawangan yang di dalamnya berisi lambang lingga yoni laki-laki dan perempuan. Agaknya, dahulu ini adalah pintu masuk ke dalam area Candi Sukuh, yang menggambarkan awal terjadinya kehidupan. Kemungkinan di sekitar kiri dan kanannya dahulu adalah pepohonan yang sengaja ditanam dan orang melangkah melalui gawangan ini dengan ukiran di bawahnya, hingga ke tiba di teras pertama.

Perempuan dalam cerita kehidupan, menunggu. Diam untuk dipilih, menjaga ketenangan di dalam. Tapi perempuan pun punya hati dan hasrat untuk berkembang. Keingintahuan untuk melihat dunia dari dekat, bukan hanya mengintip hamparan dari ujung bukit.

Setelah melewati undakan menuju teras kedua, akan ditemui pelataran hijau yang tidak terlalu banyak tinggalan arca atau ukiran andesit di situ. Melihat areanya yang tidak terlalu luas, teras kedua ini kemungkinan digunakan sebagai ruang antara yang menjadi intermediate teras pertama sebagai ruang penerima dan teras ketiga sebagai pusat kegiatan utama.

Undakan berikutnya menuju teras ketiga, langsung berdiri di depan adalah candi utama yang berbentuk piramida, dengan di sisi kanan arca yoni berbentuk uterus atau rahim sebagai lambang perempuan dan di sisi kiri terdapat pelataran dengan arca lingga berbentuk penis sebagai lambang laki-laki. Kedua bentuk ini diletakkan sejajar seolah memang menghormati persamaan laki-laki dan perempuan sebagai sesama penerus kehidupan. Sementara di tengah diantaranya, adalah arca kura-kura datar sebagai pemanggul buwana, menjaga keseimbangan bumi antara daratan dan lautan, juga perlambang kebijaksanaan.

Bentuk piramida, serupa cawan yang tertangkup, perlambang perempuan sebagai tempat perlindungan dari gundah dan memberi rasa nyaman. Perempuan yang memberi hangat dari bentangan pelukan.

Sebelum masuk ke piramida utama, di kiri dan kanan undakan juga terdapat sepasang kura-kura datar yang seolah mempersilakan untuk naik menuju atas candi, undakan curam yang harus didaki sembari menjaga keseimbangan diri, ruang sempit sehingga harus sabar untuk naik satu demi satu. Tanpa pegangan, hanya kepercayaan pada kaki yang menemani langkah.

Di pelataran datar puncak candi, bisa dinikmati keseluruhan teras maupun pemandangan pelataran gunung Lawu. Sepertinya tempat ini yang dahulu memang sebagai tempat bertapa dalam keheningan yang tersembunyi dalam lekukan bukit. Desiran angin menggigit kulit, sementara perbukitan setengah ditelan kabut di bawah sana.

Tidak hanya piramida saja yang menarik, di sekitarnya pun banyak relief yang menggambarkan kehidupan. Beberapa patung di sekitar candi, lenyap kepalanya akibat penjarahan. Entah di mana gerangan bentukan ini sekarang bertandang

Di samping depan area yoni terdapat relief Dewi Uma dalam beberapa panel andesit yang berjajar dari kanan ke kiri.

Alkisah Dewi Uma yang menjadi istri Batara Syiwa diuji kesetiaannya oleh suaminya, yang berpura-pura sakit dan diminta mencari susu. Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan pemerah sapi yang hanya bersedia memberikan susunya jika Uma bersedia tidur dengannya. Siapa sangka, pemerah susu ini adalah Syiwa yang sedang menyamar. Syiwa marah karena menganggap istrnya berselingkuh dan mengutuk Uma menjadi Durga, raksasi buruk rupa. Durga pun hidup di Sentra Gandamayu, kuburan mengerikan dengan roh-roh seram di sekitarnya. Dalam pesakitannya, Durga marah karena merasa diperalat oleh Syiwa dan menyebarkan pengaruh buruk pada dunia. Akhirnya Durga diruwat oleh Sadewa yang mengembalikannya lagi menjadi sosok Uma. Namun ia tidak mau lagi kembali pada Syiwa.

Penceritaan tentang Uma-Durga di sini adalah tentang pengingat kehidupan perempuan yang ditentukan oleh laki-laki yaitu Syiwa, namun juga mengisahkan keteguhan hati Uma ketika dia dikutuk menjadi buruk. Uma adalah korban, namun ia tetap bertahan.

Mengelilingi kompleks Candi Sukuh ini menjadi sangat menarik dengan perlambang kesetaraan laki-laki dan perempuan yang ternyata sudah digambarkan sejak zaman dahulu kala, bahwa untuk meneruskan kehidupan ini tidak hanya hanya mengindahkan satu sisi laki-laki saja, namun juga harus diimbangi oleh sentuhan perempuan yang luwes, karena kerjasama antar keduanya sebagai penerus bumi ini.

Hmm, ada yang bisa melihat bentuk arca yang ada di belakangku ini?

perjalanan juni 2017. ditulis september 2017.

Advertisements

10 thoughts on “perempuan sukuh

  1. Gara says:

    Perjalanan saya ke Sukuh sudah kapan tahun tapi masih belum ditulis, haha. Mungkin harus mengenang dulu yang banyak, hehe. Saya setuju, Candi Sukuh bisa sangat dilihat dari sisi feminis. Di akhir-akhir kekuasaan Majapahit feminisme mulai berkembang secara a contrario. Produk budaya yang menunjukkan kekuasaan pria tampil makin dominan, seperti Kidung Sudhamala dan Geguritan Calon Arang.
    Saya masih penasaran dengan lingga dari Candi Sukuh ini, haha.

  2. mysukmana says:

    loh ke sukuh..kok gak kabar kabar mbak..
    karanganyar kan kota saya sama solo hehe
    nyobain wisata sekitarnya juga gak
    kayak curug sama rumah makan yg instagramable disana?

  3. Matius Teguh Nugroho says:

    Sama-sama di ketinggian juga ya, mirip Candi Ratu Boko sama Candi Ijo. Ternyata kesetaraan gender sudah tertanam sejak dulu kala, lalu kenapa masyarakat Jawa menganggap pria lebih tinggi daripada perempuan ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s