flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

wae rebo cover

kadang-kadang aku hanya ingin melangkahkan kaki,
menjauh dari deru dan menemukan sepi,
namun lebih daripada itu, ternyata yang kutemukan adalah ramai di hati,
senyum yang tulus, percaya kepada negeri.

Malam sudah bertabur bintang ketika Pak Blasius Monta menyambut kami dengan ramah di rumahnya di Denge. Ini adalah titik terakhir yang bisa dilalui dengan mobil. Kami langsung disuguhi kopi setelah perjalanan panjang dari Bajawa tadi pagi. “Besok pagi, mulai jalan ke Wae Rebo jam tujuh saja. Kalau di atas itu nanti panas pas sebelum masuk hutan,” jelasnya. Aku sudah mengenal namanya dari buku Pesan dari Wae Rebo yang dieditori oleh Pak Yori Antar seorang arsitek sealmamaterku, yang kubaca sejak setahun yang lalu. Karena rekomendasi teman-teman juga aku menginap di Denge supaya dekat dengan start point berjalan kaki.

Ada dua titik menginap di desa bawah yang direkomendasikan sebagai tempat istirahat sebelum mulai pendakian ke Wae Rebo. Selain di homestay milik Pak Blasius, ada juga Wae Rebo Lodge yang berada di Dintor, desa di bawah Denge. Lokasi penginapan milik Martinus Anggo ini cukup indah, berada di tengah sawah dan menghadap laut. Tapi karena aku ingin yang lebih dekat dengan start point, maka aku memilih Denge. Tarif menginap di rumah Pak Blasius sebesar Rp. 175.000,- per orang per malam termasuk makan malam dan sarapan. Di depan rumah Pak Blasius juga terdapat Pusat Informasi Wae Rebo yang berisi data-data tentang desa itu, juga perpustakaan yang bisa diakses oleh warga sekitar. Namun sayang ketika aku ke sana, perpustakaan ini tutup, dan tidak banyak juga anak-anak yang beraktivitas di situ.

bersama pak blasius monta dan pak aven

bersama pak blasius monta dan pak aven

Paginya kami ditemani Pak Aven, seorang penduduk Wae Rebo yang hendak kembali ke atas usai mengantarkan anaknya ke sekolah. “Anak-anak Wae Rebo kalau sudah masuk usia sekolah tidak tinggal di atas lagi, mereka tinggal di Kombo, kira-kira hanya sekitar 15 menit turun dari rumah Pak Blasius,” ia bercerita sambil membawakan tasku. Oh, 15 menit jarak orang Wae Rebo sama dengan jarak yang kutempuh tidak, ya?

Selama satu jam pertama kami berjalan di atas batu-batuan yang katanya akan dibuat jalan raya beraspal. Benar juga kata Pak Blasius, pohon-pohon masih menaungi jalan ini sehingga tidak terasa terlalu panas. Berjalan di atas batu tidak terasa terlalu sulit dan licin. Jalan ini cukup lebar, sekitar 7 meter, sehingga memungkinkan bila kelak nanti ada mobil yang berpapasan. Setiap rombongan turis harus menggunakan jasa pemandu dengan tarif Rp. 150.000,- pulang pergi. Pemandu ini juga yang akan berbicara dengan tetua di Wae Rebo nanti tentang kedatangan kami, juga menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh ke turis.

mulai dari titik desa terakhir

mulai dari titik desa terakhir

“Nah, di depan sana ada pos 1. Ada sungai sebelum masuk hutan. Nanti bisa beristirahat di situ,” kata Pak Aven. Benar saja, begitu jalan batu itu berakhir, kami melompati bebatuan di sungai sampai seberang, baru tampak jalan setapak untuk mulai mendaki ke Wae Rebo. Beberapa orang sedang duduk-duduk di situ juga sambil merokok. Mereka menghampiri kami dan mengajak berkenalan. Tak lupa mereka menawarkan untuk cuci muka atau minum air sungai jernih di samping kami. Karena aku selalu tersugesti minum air setempat supaya lebih kuat, aku meraupkan tangan dan meminum satu dua tegukan.

“Kalau hendak festival Penti, jadi agak banyak yang turun untuk membeli bahan makanan,” cerita Pak Vitalis yang hendak mengangkat beras dan Pak Wilibrodus yang membawa ikatan ayam hidup. “Kenapa tidak memelihara saja ayam di atas?” tanyaku. “Dulu pernah, tapi kena penyakit jadi mati semua,” jawabnya. Pantas cukup banyak juga ayam yang ia bawa.

sungai mengalir yang airnya segar diminum

sungai mengalir yang airnya segar diminum

bertemu opa tetua di wae rebo yang hendak turun

bertemu opa tetua di wae rebo yang hendak turun

Ada satu keluarga kecil yang berjalan beriringan dengan kami. Anaknya berukur kira-kira tiga tahun berjalan digandeng ayahnya, sementara ibunya membawa bawaan di tangannya. “Nanti anak itu terus berjalan sampai atas, Pak Aven?” melihat mereka yang tidak tampak kerepotan sama sekali. “Penduduk sini sudah biasa, sejak kecil sudah naik turun Wae Rebo. Orang yang sudah dewasa bisa naik turun dua kali sehari,” Pak Aven sambil berjalan terus. Jalanan hanya selebar satu setengah meter dinaungi oleh pohon-pohon besar dan rambatan pakis. Karena cukup rimbun, sinar matahari tidak tembus sehingga kami bisa berjalan dengan nyaman. Jalurnya pun cukup landai, masih bisa berlari-lari santai tanpa terengah-engah. Pak Aven menunjukkan beberapa jalur yang katanya ‘jalan lama’, yang lebih curam daripada jalan kami yang memutar.

pak wilibrodus dan pak vitalis, mengiringi kami sampai atas anak kecil yang kuat berjalan.

pak wilibrodus dan pak vitalis, mengiringi kami sampai atas
anak kecil yang kuat berjalan.

jalan setapak yang agak rimbun, sambil bertemu yang kerja bakti

jalan setapak yang agak rimbun, sambil bertemu yang kerja bakti

Satu jam kemudian kami tiba di Pocoroko, yang biasa juga disebut pos 2. Katanya, di sini tempat terakhir ada sinyal ponsel. Aku sih tidak masalah, karena sudah sejak berangkat ponselku kumatikan. Di situ kami juga bertemu beberapa orang yang sedang merapikan jalan setapak itu supaya nyaman dilalui di Festival Penti nanti. Seperti biasa, mereka mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya. Oh, rupanya ini budaya keakraban di sini. Sambil tersenyum ramah aku membalas dan mengajak bercakap-cakap sambil istirahat.

Pak Wilibrodus yang berjalan beriringan dengan kami sambil membawa seikat ayam hidup menjelaskan, “Di hutan ini banyak tanaman beracun, karena itu kalau turis harus dikawal supaya tidak tersesat dan tidak terkena tanaman.” Ia menunjuk satu gerumbulan di lembah, “Seperti yang itu, bisa membuat tangan panas dan gatal-gatal.” Aku memerhatikan tanaman yang berdaun mirip jelatang itu. Udara sekitar lembah cukup sejuk, namun karena sudah berjalan cukup lama bajuku mulai basah oleh keringat. Kami tidak perlu bertanya, “masih jauh, pak?” karena di sepanjang jalan dipasang patok-patok penanda jarak seberapa jauh lagi jarak menuju Wae Rebo. Tidak ada pemukiman lain di jalur perjalanan kami ini.

beristirahat di pos 2

beristirahat di pos 2

pemandangan dari pocoroko

pemandangan dari pocoroko

Sambil berjalan-jalan santai kurang dari satu jam kami sampai di satu sudut dengan bukaan ke lembah. “Itu Wae Rebo,” gumam Pak Aven. Aku menahan napas, tercekat melihat tempat yang selama ini aku impi-impikan sudah hampir di depan mata. Aku diam dan memandangi pemandangan indah itu sampai Pak Aven mengajak melanjutkan perjalanan yang katanya tak sampai setengah jam lagi. Jalanan mulai menurun hingga melintasi jembatan dan pekebunan kopi ada di samping kiri dan kanan kami. Tak lama kami tiba di satu shelter beratap kerucut dan diminta menunggu. Pak Aven memukul kentongan yang ada di pojok. “Ini adalah tanda bahwa ada tamu datang. Nanti mama-mama akan menyiapkan rumah dan makan untuk tamunya. Kita tunggu dulu di sini.”

Sementara kami menunggu, Pak Vitalis dan Pak Wilibrodus melanjutkan langsung ke rumah. “Nanti mampir ke rumah kami, yaa!” sambil berpamitan. Beberapa orang melalui kami yang sedang duduk-duduk sambil melepas lelah. Lamat-lamat terdengar suara orang menangis kencang di kejauhan. Eh, ada apa itu? “Lihat tadi yang berjalan bersama kita? Itu sudah tidak pulang lima belas tahun. Orang tuanya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Itu suara kakaknya yang menangis haru karena lama tidak bertemu,” Pak Aven menjelaskan pada wajah kami yang bertanya-tanya. “Kami saling mengenal sejak masih kecil, karena itu ikatan persaudaraan antar penduduk kuat sekali.”

pos ketiga bisa mengintip wae rebo dari sini. masih sanggup tersenyum sesudah berjalan 3.5 jam.

pos ketiga bisa mengintip wae rebo dari sini. masih sanggup tersenyum sesudah berjalan 3.5 jam.

jembatan menuju wae rebo

jembatan menuju wae rebo

pos tunggu

pos tunggu

Aku memasukkan kamera ke dalam tas ketika Pak Aven mengajak untuk memasuki desa untuk menemui sesepuh desa untuk meminta izin tinggal. Begitulah kebiasaan di sini, setiap pengunjung harus melalui ritual yang dilakukan di Mbaru Gendang yang merupakan rumah terbesar, untuk mengutarakan niat kedatangannya. Setelah melalui berbagai keramahan warga Wae Rebo yang kami temui sepanjang jalan tadi, kedatangan kami pun diterima dengan baik. Usai ritual meminta izin, Pak Aven mempersilakan kami untuk beristirahat di Mbaru Niang yang paling depan yang khusus dibangun untuk tamu. Kami pun sudah diizinkan untuk berfoto-foto dengan bebas.

suasana desa wae rebo di siang hari

suasana desa wae rebo di siang hari

Sudah lama aku ingin mengunjungi desa adat Wae Rebo, sejak aku membacanya di koran Kompas sekitar tahun 2009. Melihat Pak Yori Antar, yang pernah jadi dosenku semasa kuliah dulu bisa sampai di Wae Rebo dan menuliskan pengalamannya, membuatku ingin tiba di desa adat ini dan mempelajari arsitektur vernakular serta kehidupan sosial warganya yang membentuk ruang-ruang yang dibutuhkan.

    Berbekal pengalaman dari tanah rantau, Martinus Anggo mencoba berbagi pengalaman kepada masyarakat setempat. Masyarakat yang hidup dari bercocok tanam itu merasa sulit memelihara kampung tradisional Wae Rebo. Martin menawarkan untuk mencari income tambahan selain dari pertanian. Martin meyakinkan bahwa pariwisata adalah aset andalan Wae Rebo yang mampu menjawab keluh kesah dan jeritan hati masyarakat. Meski pada tahun-tahun sebelumnya sudah ada wisatawan yang masuk ke Wae Rebo, masyarakat tetap saja menghadapu dilema atas pilihan itu. Memilih “ya” untuk mengembangkan pariwisata berarti masyarakat tetap berjalan kaki keluar masuk Wae Rebo. Membiarkan jalan setapak menuju Wae Rebo adalah permintaan pariwisata dan juga sebuah tuntutan untuk menyelamatkan hutan Wae Rebo. Sedangkan memilih menolak pariwisata berarti masyarakat tetap hidup miskin karena tidak ada paenghasilan tambahan. Kampung yang belum pernah disentuh oleh kendaraan bermotor sejak bumi terbentuk hingga sekarang ini menjadi beban yang amat berat yang akan diwariskan kepada anak-cucu di Wae Rebo.
    (Martinus Anggo, Bab Awal sebuah Perjuangan, Pesan dari Wae Rebo, hal 37)

Aku memasuki Mbaru Niang yang merupakan bangunan khas Wae Rebo. Bangunan yang kutinggali sementara ini difungsikan sebagai penginapan apabila ada tamu yang datang. Bangunan ini dilengkapi dengan dapur untuk para mama memasak dan juga kamar mandi di bagian belakangnya. “Setiap hari ada kelompok mama-mama yang bergantian mengurusi turis. Jadi dana yang dibayarkan sudah termasuk penginapan dan makan di sini,” kata Pak Aven. “Oh, berarti termasuk biaya perawatan desa juga, ya?” tanyaku. Pak Aven mengiyakan. Sudah seharusnya demikian, karena bangunan tradisional membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Memang kedengarannya aneh, karena seharusnya bisa lebih murah, namun perubahan iklim dan tanaman yang berangsur-angsur lama membuat bahan material untuk membangun rumah menjadi makin sulit didapat dan semakin jauh. Ketika aku menginap di sana, kami dikenai Rp. 250.000,- per orang per malam.

Rumah-rumah di Wae Rebo berbentuk kerucut dengan ujung yang menerus sampai ke bawah. Bentuk seperti ini jamak ditemukan di pemukiman-pemukiman adat di kawasan Manggarai Flores ini. Ada tujuh rumah yang berada di desa ini berdiri mengelilingi tanah lapang tempat mereka bersosialisasi dan beraktivitas di pagi dan sore hari. Usia desa ini sudah memasuki generasi ke-18, sementara satu generasi saja mencapai usia 60 tahun.

rumah tempat menginap tamu

rumah tempat menginap tamu

pintu masuk melalui tangga

pintu masuk melalui tangga

tidur di hamparan kasur yang tersedia

tidur di hamparan kasur yang tersedia

lapis kedua dari rumah bersusun

lapis kedua dari rumah bersusun

sambungan dengan dapur

sambungan dengan dapur

tiang-tiang penumpu yang ditanam dan dibungkus plastik dan ijuk, diikat oleh kayu kenti.

tiang-tiang penumpu yang ditanam dan dibungkus plastik dan ijuk, diikat oleh kayu kenti.

menu makan sebagai tamu

menu makan sebagai tamu

mama-mama yang memasak di dapur

mama-mama yang memasak di dapur

Di tengah-tengah kampung ini terdapat compang yaitu lingkaran yang berdinding batu dan di tumbuhi rumput setinggi kira kira 80 cm. Compang menjadi tempat utama masyarakat Wae Rebo melakukan persembahan kepada Tuhan dan leluhur. Berdiri di tengah-tengah desa di tepi compang dapat dirasakan dengan kuat pola melingkar yang menyelubungi kehidupan pemukimannya. Tujuh buah Mbaru Niang melingkari compang di seputar pelataran rumput desa. “Tidak boleh berdiri di atas compang,” pesan Pak Aven.

Di dalam Mbaru Niang fungsi rumah terbagi menjadi dua bagian, yaitu Nolang dan Lutur. Tidak ada beranda di rumah kerucut ini, hanya bilik kecil yang berfungsi sebagai ruang antara atau foyer sebelum memasuki area Lutur yang merupakan area untuk menerima tamu dan bersosialisasi. Orientasi di dalam Mbaru Niang pun melingkar, sehingga bilik-bilik di dalam yang dijadikan kamar menghadap pada satu arah, yaitu tiang yang dinamakan bongkok yang menjadi titik pusat dari rumah berdenah lingkaran itu. Di badan bongkok ini terdapat takik-takik untuk naik ke lapis lantai yang kebih atas untuk menyimpan cadangan makanan.

Di tengah itu juga terdapat dapur yang merupakan sentra aktivitas seluruh anggota keluarga. Tungku segiempat yang berada di belakang tiang utama selalu ramai oleh mama-mama yang bergantian memasak atau menghangatkan badan. Di atasnya terdapat rak untuk meletakkan kayu bakar. Dengan pengasapan sambil memasak, kayu bakar yang diletakkan akan semakin cepat kering. Uniknya, rak yang digantung ke lapis kedua rumah ini memiliki detil ujung berbentuk bulat, yang bermakna kepala bayi yang keluar dari perut ibunya. Ya, seperti kebanyakan makna rumah di daerah Flores, rumah di Wae Rebo ini pun adalah rumah kaum perempuan.

compang, yang berada di tengah-tengah desa, tempat suci

compang, yang berada di tengah-tengah desa, tempat suci

pintu masuk mbaru gendang, rumah utama degan pelataran batu di depannya

pintu masuk mbaru gendang, rumah utama degan pelataran batu di depannya

di dalam mbaru gendang terdapat 8 bilik hunian, rumah lain hanya 6

di dalam mbaru gendang terdapat 8 bilik hunian, rumah lain hanya 6

bisa juga tidur menghampar di area depannya

bisa juga tidur menghampar di area depannya

perangkat upacara disimpan di mbaru gendang

perangkat upacara disimpan di mbaru gendang

perangkat dapur dari keluarga, mereka selalu memiliki kumpulan cangkir seng

perangkat dapur dari keluarga, mereka selalu memiliki kumpulan cangkir seng

area lutur, dengan dapur di tengah-tengah

area lutur, dengan dapur di tengah-tengah

penggantung kayu bakar di atas tungku, berupa hiasan berbentuk kepala bayi

penggantung kayu bakar di atas tungku, berupa hiasan berbentuk kepala bayi

Mbaru Niang ditumpu tiang-tiang kayu yang ditanam di atas batu di dalam tanah yang menjadi pondasi bangunan ini. Tiang-tiang ini ditanam sedalam 1.5-2 m. Untuk menghindari kelapukan, pada pembangunan terakhir bagian yang masuk ke dalam tanah dilapisi plastik dan diikat dengan ijuk. Penutup atapnya menggunakan ilalang yang didapat dari Pulau Mules. “Jauh sekali, Pak Aven. Memang di sekitar sini tidak ada ilalang yang cukup?” tanyaku sambil membayangkan apa susahnya menanam ilalang. “Pulau Mules ada di depan Dintor sana, ilalangnya cukup bagus, kuat dan panjangnya mencukupi,” jawabnya. Seperti sempat kubaca, ilalang ini berlapis-lapis sehingga membentuk atap tebal yang tidak akan tertembus air ketika hujan. Seluruh proses pembangunan Mbaru Niang yang dikerjakan bergotong royong ini memakan waktu empat bulan, yang tiga bulan di antaranya adalah masa pengadaan material sampai di atas.

tiang ditakik di dasarnya . sambungan antar tiang tanpa menggunakan paku

tiang ditakik di dasarnya. sambungan antar tiang tanpa menggunakan paku

di bagian bawah tungku terdapat perkuatan kayu horisontal di atas tiang-tiang yang tertanam

di bagian bawah tungku terdapat perkuatan kayu horisontal di atas tiang-tiang yang tertanam

Aku mengobrol dengan Judith, seorang turis asal Austria yang mengunungi Wae Rebo hanya dengan pemandu Indonesia saja. Ia bertanya, “What do you want to be in this village?”
“Children! They are so fun, just running everywhere, playing all the time..”
“I want to be the dog! Look they are just lazy, waiting for the food. And this place just like heaven to them!”

Benar, anjing-anjing kampung berkeliaran di sini tanpa mengganggu, mereka bermalas-malasan di pelataran batu depan Mbaru Gendang. Aku yang biasanya takut anjing pun tidak merasa gentar dengan kehadiran mereka. Anjing-anjing ini cenderung mengambil jarak dengan manusia, apalagi yang bagi mereka asing. Jika panas terik, mereka berbaring di bawah Mbaru Niang di antara tiang-tiang penumpunya.

aku dan judith

aku dan judith

anjing-anjing yang banyak berkeliaran, santai

anjing-anjing yang banyak berkeliaran, santai

Sore hari di Wae Rebo adalah saat-saat paling mengasyikkan. Saat matahari mulai surut ke arah barat, ketika orang-orang pulang dari kebun dan anak-anak bermain di pelataran, duduk-duduk di depan Mbaru Niang sambil memandangi semuanya itu. Di sini, waktu seolah tidak penting diukur lewat sebuah jam. Keluar dan melihat tinggi matahari mulai menyerong dan berada sedikit di atas bukit, ketika cahaya kekuningan itu menyoroti sebagian desa. Udara pegunungan tetap sejuk ditimpalimoleh suara burung-burung. Angin yang bertiup semilir juga menggerakkan awan-awan yang seolah menari di langit. Anak-anak berlarian bertemperasan di tanah lapang.

“Halo, namaku Indri. Boleh kenalan?”
Satu-satu mereka memperkenalkan diri. Ada Ronald, Ton, Atris, atau Aten, adiknya Ton yang tidak berbaju, mereka semua merubungiku. Aku membagi-bagikan cup agar-agar dan wafer yang mereka sambut dengan gembira. Seudah itu aku mengeluarkan buku bacaanku untuk diceritakan bersama-sama. Sebenarnya aku agak kecele, karena kukira aku akan banyak bertemu dengan anak-anak usia sekolah di sini. Ternyata begitu memasuki umur 6 tahun mereka dipindahkan ke desa Kombo, yang tak jauh dari Denge, dan pulang seminggu sekali.

Anak-anak ini semua penasaran dengan buku yang kupegang, jadi kubaca beberapa cerita dengan gaya bahasaku sendiri, dan mereka memerhatikan dengan tekun. Tapi satu per satu mulai berlarian di belakang, dan akhirnya aku juga ikut bermain dengan mereka. Kuminta mereka berlari bermain apa saja sambil kuabadikan lewat video. Lucunya, begitu selesai merekam mereka senang sekali melihat wajahnya sendiri. Kemudian kuajari bermain ‘kepala, pundak, lutut, kaki’ berulang-ulang lebih cepat sampai kami tertawa-tawa kelelahan. Hmm, lain kali kalau ke sana lagi akan kuajak main ular naga panjangnya, ah.

membaca buku bersama-sama

membaca buku bersama-sama

pelataran luas membuat asyik berlari

pelataran luas membuat asyik berlari

selalu tertarik dengan orang baru

selalu tertarik dengan orang baru

Ketika ibu-ibu mereka memanggil menyuruh mandi, aku mengisi waktu untuk bertandang ke rumah Pak Aven. Beliau tidak tinggal di Mbaru Niang, melainkan di rumah kayu yang terletak sebelum masuk pelataran bundar Wae Rebo. Ada sekitar lima rumah kayu di dekat kediaman Pak Aven. Di depan rumahnya ada beberapa pohon kopi yang berbuah merah. “Sebenarnya saya punya kamar di Mbaru Gendang sana, tapi memilih tinggal di sini,” ceritanya. Ayahnya, Opa Rafael adalah salah satu sesepuh desa Wae Rebo. Pak Aven tinggal dengan istri dan dua anaknya yang masih balita. Dua anaknya lagi yang lebih besar tinggal di desa Kombo bersama kerabat mereka. “Kalau ditanya berapa penduduk desa Kombo dan berapa penduduk Wae Rebo, jawabnya pasti sama, seratus dua puluh orang. Setiap hari ada orang Wae Rebo turun ke Kombo, atau orang Kombo naik ke Wae Rebo. Semua bersaudara, leluhurnya sama,” cerita Pak Aven. Desa Kombo memang didirikan oleh pendudukan Jepang di tahun 1940-an untuk membangun fasilitas-fasilitas pendidikan untuk masyarakat Wae Rebo di daerah yang lebih dekat dengan keramaian.

Usai meneguk kopi sore, kami naik ke bukit di atas rumah Pak Aven. Di sana ada perpustakaan yang kabarnya dibangun oleh Hatta Rajasa untuk masyarakat Wae Rebo. Sayangnya ketika aku ke sana, perpustakaannya tutup. Padahal aku ingin melihat aktivitas anak-anak di dalam taman ilmu ini sambil membacakan cerita. Tak ada satu pun anak-anak di sini seperti yang pernah kulihat dalam satu tayangan televisi. Melepas kecewaku, aku duduk-duduk di atas bukit sambil memandang keseluruhan desa yang mulai dinaungi bayangan bukit-bukit yang jatuh di halaman.

menumbuk kopi sebelum diseduh

menumbuk kopi sebelum diseduh

bersama mama yang hendak memasak

bersama mama yang hendak memasak

perpustakaan di atas bukit

perpustakaan di atas bukit

Angin lembah bertiup cukup kencang di atas, ditemani semburat jingga di kejauhan sana yang tertutup awan. Dari atas jelas sekali pola melingkar desa yang dibentuk juga dari lingkaran-lingkaran Mbaru Niang. Jika saja pandangan bisa melihat sawah, pasti akan terbaca juga pola melingkar di sawah-sawah tanah Manggarai ini. Aku mendengar bahwa warga Wae Rebo menanam kembali pohon-pohon di hutan yang akan dipergunakan untuk membangun kembali rumah mereka di masa yang akan datang. Kearifan yang diwariskan dari nenek moyang setiap bangunan tradisional nusantara, gantikanlah pada alam atas apa yang telah diambil, untuk tetap tumbuh dan ada penerusnya ketika dibutuhkan kelak.

Inilah prinsip pembangunan dengan material yang berkesinambungan. Walaupun membutuhkan waktu yang lama, namun harus ada upaya dari awal dan sikap bangga dengan lokalitasnya sehingga kebiasaan menanam untuk menggantikan ini bisa terus berlanjut hingga berbagai generasi. Masyarakat Wae Rebo sudah lama mempersiapkan diri sebagai tuan rumah turis mancanegara dengan keramahan dan hati tulus mereka untuk menjaga desanya. Keunikan, ketenangan, dan keindahan di sini semoga tetap berlangsung lama seperti pola melingkar yang mereka miliki. Tak putus menerus. Matahari yang juga bulat pun mulai tenggelam ke peraduannya.

Mohe Wae Rebo!

wae rebo 35 sunset

perjalanan 10-12 november 2014 | ditulis 25.02.2015 batam-jakarta
sebagian foto oleh jay

aku menuju wae rebo melalui kelimutu, moni, ende, bajawa, ruteng di cerita ini :
flores flow #1 : fly to kelimutu
flores flow #2 : maria, gadis pemandu sa’o ria koanara
flores flow #3 : debu lintas trans ende-bajawa
flores flow #4 : luba, doa dari kaki gunung Inerie
flores flow #5 : loka, batu, dan bena
flores flow #6 : dingin bajawa, panas aimere, dan hujan ruteng

simak juga :
flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo
flores flow #9 : anak-anak wae rebo

flores flow #10 : pulang dari wae rebo naik apa?

Advertisements

32 thoughts on “flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

  1. Gara says:

    Penduduk yang ramah, alam yang menakjubkan, kehidupan yang sederhana dengan ditingkahi tawa polos anak-anak desa, serta adat budaya yang masih terjaga kearifan lokalnya. Tempat ini sempurna πŸ™‚
    Haduh, melihat kabut yang masih bisa bercumbu dengan hijaunya pohon di pegunungan itu betapa indahnya. Dan gelas seng! Saya lupa kapan terakhir kali saya melihat perabot seng :hehe.

    Semoga tempat ini tetap abadi.

    • indrijuwono says:

      tempat ini indah dan nyaman sekali.
      semoga niat orang-orang yang membangun wae rebo ini masih tetap tulus sampai kapan pun, tidak rusak oleh rasa iri. semoga semangatnya pun tertularkan ke generasi-generasi mudanya. πŸ™‚
      kalau ada pemukiman indah lainnya, rekomen aku ya, gara!

  2. namakuastin says:

    wuaaaaaa.. kereeeewnnn! suka bahasan dr arsitekturnya. kudunya waktu itu aku sempetin ke wae rebo, meski kaki kesleo. hiks. *elus2 kaki*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s