annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.

Keramahannya cukup mempesonakan dan memberanikan.
“Mengapa? Tidak tahu?” aku kembali bertanya. “Karena tak pernah menyangka akan bisa berhadapan dengan seorang dewi secantik ini.”
Ia terdiam dan menatap aku dengan mata-kejoranya. Aku menyesal telah mengucapkannya. Ragu dan perlahan ia bertanya:
“Siapa kau maksudkan dewi itu?”
“Kau,” desauku, juga ragu.
Ia meneleng. Airmukanya berubah. Matanya membeliak.
“Aku? Kau katakan aku cantik?”
Aku menjadi berani lagi, menegaskan:
“Tanpa tandingan.”
“Mama!” pekik Annelies dan menoleh ke pintu belakang. Celaka! Pekikku mengimbangi – dalam hati saja tentu.(Bumi Manusia)

Beberapa fragmen kunci ini dipentaskan pada Teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 25-27 Agustus 2016. Beruntunglah aku sempat mendapatkan tiketnya pada hari pertama dijual yang langsung sold out dalam beberapa jam penjualannya. Bagi yang pernah menonton teater Nyai Ontosoroh, beberapa adegan sudah terasa sangat akrab. Tetapi merangkaikan fragmen-fragmen tersebut menjadi satu pementasan baru dengan Annelies sebagai pusat cerita, adalah tantangan untuk tim produksi teater ini. Bunga Penutup Abad menceritakan kepergian Annelies ke Belanda, yang hadir lewat surat-surat Panji Darman dari pelabuhan-pelabuhan yang dilaluinya, untuk Minke dan Nyai Ontosoroh yang begitu kehilangan belahan hati mereka, seperti dituliskan oleh Pramoedya di awal buku Anak Semua Bangsa dengan kilas balik kenangan romansa dalam Bumi Manusia yang kubaca bertahun-tahun yang lalu.

Nyai Ontosoroh meradang, bahwa karena mereka pribumi, karena itu harus mengalami penderitaan seperti ini, ditahan dalam rumahnya sendiri, sementara anak kandungnya harus pergi seorang diri ke negeri yang asing, dijauhkan dari identitasnya sebagai pribumi. Bersama Minke, ia membaca surat-surat Panji Darman yang bernada sendu, menceritakan kepedihan Annelies selama dalam perjalanan sembari mengenang saat Minke dan Annelies dahulu memadu kasih.

Mama, Minke, betapa terperanjatnya aku ini melihat mata itu tak bersinar. Betapa beda dengan waktu pesta lulusan dulu! Betapa beda dengan waktu hari perkawinan dan kuberes-bereskan hadiah di kamar pengantin! Betapa hebatnya aniaya yang ditimpakan padanya sehingga mampu memadamkan sinar matanya.(Anak Semua Bangsa)

teater-bunga-penutup-abad-annelies-minke

teater-bunga-penutup-abad-jean-marais-may

teater-bunga-penutup-abad-lakon

teater-bunga-penutup-abad-nyai-ontosoroh

Penjajahan Belanda di Indonesia bukan hanya tentang perampasan berbagai rempah tanah air ke negeri Eropa, bukan cuma pemaksaan kehendak untuk menguasai, tapi juga perampasan harga diri bangsa pribumi Melayu si pemilik tanah tumpah darah, yang dikerdilkan kepribadiannya, dipaksa untuk mengakui bahwa Eropa lebih unggul dan harus mengalah di buminya sendiri. Lama kelamaan sikap ini memperkuat rasa inferior, takut pada si kulit putih yang memerintah dengan segala aturan yang ia buat di tanah jajahan, atau mengagungkan ke-Eropa-an tanpa sadar.

Nyai Ontosoroh yang diambil sebagai gundik Belanda sejak berusia belasan tahun, mengelola Borderij Buitenzorg milik Herman Mellema, belajar tata cara Belanda hingga halus, banyak membaca dan berpengetahuan, tapi tetap tak didengar suaranya karena ia hanyalah seorang pribumi. Annelies kesayangannya direnggut karena status dirinya yang seorang pribumi di tanah jajahan Eropa. Penjajahan memaksakan bangsa pemilik tanah menjadi budak di negerinya sendiri, tak bisa merdeka atas dirinya dan harus menghamba pada orang Eropa, Mellema yang telah mengambilnya.

Sang kekasih, Minke yang asli pribumi, mengenyam pendidikan Belanda dengan nilai terbaik, selamanya dianggap pribumi dan tidak didengar pendapatnya. Ia menyuarakan hatinya dengan menulis kegelisahan dalam bahasa Belanda, berharap suaranya akan lebih banyak didengar oleh orang, namun meragu pada keyakinannya sendiri. Ditegur oleh sahabatnya Jean Marais, si pelukis bijak sahabat karibnya.

“Ada yang aku masih sayangkan. Mungkin juga disayangkan oleh ribuan orang: mengapa kau hanya menulis dalam Belanda? Mengapa kau hanya bicara pada orang Belanda dan mereka yang mengertinya? Kau tak berhutang budi sedikit pun pada mereka seperti pernah dikatakan oleh ibumu. Apa yang kau harapkan dari mereka maka kau selalu bicara pada mereka?” (Anak Semua Bangsa)

teater-bunga-penutup-abad-setting-panggung

teater-bunga-penutup-abad-aktris-aktor

Reza Rahardian yang berperan sebagai Minke memperlihatkan kualitasnya sebagai aktor yang bisa berubah-ubah peran, tak terlihat sisa lakonnya belakangan. Berlakon sebagai pribumi yang patah hati dan kesepian, ekspresi wajahnya dari getir sembari membaca surat-surat, tersipu dan gembira dalam adegan-adegan kilas balik.

Sementara itu, aktris muda yang sedang naik daun, Chelsea Islan yang dipercaya memerankan Annelies si gadis Indo yang anggun dan cantik itu. Air muka yang terkadang manja, malu dan ceria menjadi banyak bumbu dalam fragmen-fragmen romansa. Banyak yang penasaran dengan akting Chelsea di pentas ini, karena sebelumnya ia lebih dikenal sebagai pemain salah satu serial televisi dengan karakter yang sama, sayangnya agak kurang menampilkan Annelies yang anggun.

Beberapa kali berperan sebagai Nyai Ontosoroh membuat lakon ini menyatu dengan Happy Salma yang sorot mata dan semangatnya tampil dalam dialog-dialog panjang yang kharismatik. Menjadi seorang pribumi yang dipaksa untuk mengalah memperlihatkan ekspresinya yang anggun, marah, hingga dipaksa untuk tegar.

Karakter yang kuat dimunculkan oleh Jean Marais, yang diperankan oleh Lukman Sardi. Aktor yang sudah pernah bermain dalam berbagai peran ini juga memberikan kesan yang kuat dalam dialog-dialog yang menggugah Minke untuk menulis dalam bahasanya sendiri. Lukman mengubah Jean Marais yang segmennya tak banyak menjadi pencuri perhatian. Jean si pelukis, yang mengabadikan wajah Annelies dalam kanvas, kemudian diberi judul Bunga Akhir Abad.

Nasib Annelies yang malang di negeri seberang menjadi penutup lakon yang bermain selama 2.5 jam ini. Fragmen kenangan kemarahan Nyai Ontosoroh dan Annelies menerima keputusan bahwa ia harus berangkat ke negeri Belanda, menyerah pada sistem yang dipaksakan tanpa melihat nilai rasa, gambaran kesedihan dari sang ibu yang tidak bisa mendampingi puterinya di saat akhir. Cambuk bagi si kekasih untuk memperjuangkan bukan di tangan kebijaksanaan penjajah, tapi kepada cinta dan harga diri negeri.

Teater, sebagai salah satu upaya memvisualkan salah satu karya sastra terbaik bangsa, mengobati rindu pada Bumi Manusia sesudah pentas Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh. Meskipun demikian, masih ditunggu pertunjukan-pertunjukan lain yang lebih mengeksplorasi pikiran-pikiran Minke tentang negerinya sendiri yang menjadi roh dari keseluruhan tetralogi.

“Tidak, Nak, ini perbuatan manusia. Direncanakan oleh otak manusia, oleh hati manusia yang degil. Pada manusia kita harus hadapkan kata-kata kita. Tuhan tidak pernah berpihak pada yang kalah.” (Anak Semua Bangsa)

teater-bunga-penutup-abad-aktris-aktor-penutup-1

teater-bunga-penutup-abad-aktris-aktor-penutup-2

thanks to Althesia, Azia Asmi, Mekar A Pradipta yang sudah menemani menonton pertunjukan ini di bangku paling depan.

Advertisements

14 thoughts on “annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

  1. althesia says:

    ahhhh sudah ada tulisannya, produktif sekali kamu teh in…hahaha yaay masih terpesona dengan akting Lukman Sardi loh…baru kali ini liat dia akting live di teater soalnya. Kalo reza rahardian mah udah lah ya, film apapun dia selalu berhasil menjiwai karakternya. Buat aku chelsea islan masih terlalu kaku memerankan annelies, sedangkan happy salma yaa sebelas dua belas lah dengan reza dan lukman. Keluar duit 400rb worth it banget nonton ini, apalagi di kursi paling depan, semua ekspresi tampak jelas. Kejutan dari reza yang mengekspresikan sisi lucu seorang minke jadi penghibur disaat dialog panjang yang mambawa kantuk. Thanks teh in, kapan2 kita nonton bareng lagi ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s