Tag Archives: TBI

bangga dengan batik indonesia di luar negeri

IMG_0766

Bulan lalu pergi ke Jepang, aku punya wishlist : Harus pakai batik untuk berfoto-foto di tengah hutan bambu Arashiyama! Jadi seminggu sebelum keberangkatan, aku menyempatkan diri  untuk menjahitkan kain batik madura-ku ke penjahit langganan. Batik Madura ini kudapat dari seseorang yang membawakannya dari Yogyakarta ketika kami bertemu di Banyuwangi. Dijahitkan di Depok dan dipakai di Jepang. Panjang bukan perjalanannya?

Pertama kali memakai batik, tentu ketika di SD, ketika hari Jumat dan Sabtu bergantian memakai batik atau pakaian pramuka. Ketika itu batik harus dipakai sebagai atasan dengan bawahan rok putih. Kala itu hingga sepuluh tahun berikutnya, batik masih dipakai hanya untuk menghadiri undangan saja, bukan untuk pakaian sehari-hari. Yang dominan memakai batik adalah bapak-bapak, sementara ibu-ibu hanya mengenakan sebagai kain bawah ketika mendampingi si bapak, dipadukan dengan kebaya sebagai atasannya. Atau batik hanya muncul sebagai pakaian rumah, dipakai ibu-ibu di kampung, atau sebagai daster.
Continue reading bangga dengan batik indonesia di luar negeri

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading jakarta : berjalan di jantung kota