tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya.

1-toraja-kete-kesu-tongkonan

Dalam setiap pemukiman tongkonan seperti di Kete’ Kesu’ ini, terdiri dari deretan tongkonan banua (rumah) sebagai perlambang perempuan yang berukuran lebih besar dan luas, dan deretan tongkonan alang (lumbung) sebagai perlambang lelaki yang berukuran lebih kecil. Deretan ini saling berhadapan dengan halaman yang disebut ulu ba’ba, sebagai perlambang keseimbangan. Pada tongkonan banua, tiang kolom berbentuk segi empat, sementara tongkonan alang, tiang kolom berbentuk bulat. Di tanah lapang di antaranya ini, kadang-kadang ditemui si kerbau hitam yang besar seolah menjaga lingkungan tongkonan yang berada disekitarnya.

7-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

8-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

3-toraja-kete-kesu-tongkonan-alang

Rumah adat Tongkonan berdiri di atas susunan tiang kayu di atas umpag batu yang menopang badan rumah dan atapnya. Seperti prinsip kepala badan kaki yang jamak digunakan dalam pembangunan rumah adat atas kepercayaan masyarakat, tongkonan dibagi menjadi tiga, yaitu bagian kolong (suluk banua), bagian ruangan rumah (kale banua), dan atap (ratiang banua). Yang menjadikan rumah ini khas adalah bentuk atapnya yang menyerupai tanduk kerbau, dengan orientasi arah utara-selatan.

Atap yang tinggi menjulang ini tersusun dari bambu berlapis-lapis dari buluh yang dibelah dua kemudian ditumpuk berhimpitan sedemikian rupa untuk menahan masuknya air di musim penghujan. Beberapa bagian atap di Kete’ Kesu sudah banyak ditumbuhi rumput liar yang memang menjadi subur karena udara pegunungan yang lembab. Pada bagian teritis di luar, ada tiga bagian susunan bambu yang di bagian atasnya bersusun sepuluh hingga lima belas lapis bambu sehingga memberikan struktur penutup atap yang kokoh dan kuat.

5-toraja-kete-kesu-tongkonan-atap-bambu

6-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua-detail-atap

Ujung utara dan selatan dari atap ini dinamakan Longa, kemudian ditambahkan tiang tinggi untuk menahannya bernama Tulak Somba. Sepanjang tiang ini marak dengan hiasan tanduk kerbau, pertanda kebanggaan sudah berapa banyak kerbau yang dipotong untuk upacara-upacara yang pernah dilalui bersama tongkonan ini. Tak jarang di muka tongkonan terpasang hiasan kepala kerbau sebagai penanda status sosial si pemilik tongkonan.

9-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

9a-toraja-kete-kesu-tongkonan-ukiran

Tongkonan harus berorientasi pada arah utara selatan, dengan bagian depan menghadap utara, sebagai perlambang Ulunna Langi, atau langit tempat tertinggi. Kadang-kadang, di bagian depan diberi tambahan teras dan tangga kayu setengah menanjak untuk menuju ruangan utama di bagian atas. Di sebelah selatan terdapat area kosong yang dibatasi oleh tiang-tiang kayu penopang rumah. Aku menduga bahwa area yang hanya beralaskan tanah ini adalah tempat penghuni rumah dahulu menyimpan hewan peliharaannya, atau juga sebagai tempat menyimpan persediaan kayu bakar, atau alat pertanian untuk kegiatan sehari-hari.

14-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

11-toraja-kete-kesu-tongkonan-gigi-babi

12-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua-detail

10-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua-detail

Pada tongkonan keluarga bangsawan seperti terdapat di Kete’ Kesu, ukiran-ukiran cantik mendominasi badan rumah hingga sekeliling bangunan. Warna merah tua dan hitam dengan motif floral mendominasi sehingga tampak kontras dengan warna kayu yang memudar. Pewarna alami membuat warna ini terserap ke dalam kayu dan terkesan kusam. Namun karena ukiran yang dipahat pada kayu cukup dalam, motif ini masih dapat mudah diraba atau tertangkap mata.

13-toraja-kete-kesu-tongkonan-alang-detail

Di daerah Lemo, ternyata kami menemukan tiga tongkonan berjejer yang masih asli, bahkan atapnya sudah ditumbuhi oleh pakis-pakis yang bertemu dengan lembabnya penutup atap berbentuk tanduk kerbau itu. Ketiga bangunan ini terlihat lebih sederhana daripada yang tadi kami lihat di Kete Kesu. Kayu-kayunya telanjang tanpa ukiran, namun struktur bangunannya sama persis dengan filosofi tongkonan.

15-toraja-lemo-tongkonan

Bentuk bangunan ini memang tersebar di hampir semua wilayah Toraja, namun sudah tidak banyak lagi yang menggunakan material atap bambu karena digantikan dengan seng yang mungkin lebih mudah pemasangannya. Di beberapa tempat yang dilalui sambil berjalan kaki tadi, kami melihat beberapa rumah tongkonan banua lengkap dengan tongkonan alang di depannya, namun atapnya tidak lagi bambu alami melainkan seng gelombang.

Kesempatan berikutnya datang ketika kami tiba di desa Palawa, sekitar satu jam naik mobil di sebelah utara Rantepao yang kebetulan ketika kami kunjungi sedang merenovasi beberapa buah Tongkonan. Pak Angel, salah satu pemilik rumah adat ini menjelaskan bahwa mereka sedang merekonstruksi lagi bangunan yang telah berumur ini. Kayu-kayu baru dan masih bersih baru dipahat berdiri di atas sambungan-sambungan tanpa paku dengan teknik artisan pengunci sambungan kayu tanpa paku.

Menurut beliau, membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk menyelesaikan bangunan tongkonan ini. Di desa Palawa mereka masih menggunakan atap bambu untuk menjaga cita rasa tradisi material yang asli. Menurutku, penggunaan material alami ini juga membuat udara di dalamnya menjadi lebih sejuk, dan tidak perlu mendatangkan jauh-jauh dari luar, cukup dengan memelihara bambu dalam kebun-kebun mereka sebagai bahan mengganti material ketika masanya lapuk kelak.

17-toraja-palawa-tongkonan

16-toraja-palawa-tongkonan

19-toraja-palawa-tongkonan

Pak Angel mengajakku masuk ke dalam tongkonan yang ia huni bersama keluarganya. Naik dari tangga, kami menemukan ruang tengah yang dinamakan sali dan memiliki banyak kegunaan sebagai ruang tamu, ruang berkumpul, juga dapur dan ruang persemayaman jenazah sebelum diupacarakan. Perletakan pintu masuk di bagian timur atau utara sebagai perlambang arah kebaikan yang akan memberi energi positif pada rumah.

Di bagian utara rumah disebut tangdo, yang bagian lantainya lebih tinggi kira-kira 10 cm. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang tidur laki-laki atau kakek nenek yang lebih dituakan sebagai perlambang pengawas terhadap keluarga. Sementara di bagian selatan yang dinamakan sumbung, berfungsi sebagai ruang tidur orang tua dan anak-anak yang masih disusui serta anak-anak gadis, juga tempat menyimpan pusaka. Tinggi lantai sumbung yang juga ditinggikan seperti halnya tangdo, sebagai perlambang anggota keluarga yang dilindungi.

20-toraja-palawa-tongkonan

21-toraja-palawa-tongkonan

Bila ingin melihat kekayaan arsitektur Toraja ini lagi, cobalah mampir ke desa Bori yang juga di sebelah utara pusat kota Rantepao. Kontur tanah yang berbukit-bukit di desa ini membuatnya terlihat indah dengan deretan tongkonan yang berbanjar melebar, dilihat dari pesawahan sebelum masuk desa. Di sini tongkonan merupakan rumah keluarga yang dimiliki turun temurun, jamak dimiliki oleh penduduk desa sebagai perlambang kesatuan kekeluargaan, berdiri sebagai pelengkap kehidupan sehari-hari, beserta aktivitas manusia didalamnya.

22-sustainable

Rumah adat Tongkonan memang menjadi salah satu kekayaan arsitektur tradisional Indonesia yang bergandengan dengan kebudayaan masyarakat Toraja. Tidak hanya sebagai situs pariwisata, namun juga kepedulian untuk melestarikan salah satu warisan nusantara sebagai salah satu ruang hidup sehari-hari.

Tulisan ini dimuat di majalah Pesona Nusantara edisi Juni-Juli
majalah-pesona

SulselTrip2015/16
makassar dan hujan sehari
toraja tau-tau: berangkat dari rantepao
tertawan arsitektur tongkonan
menuruni batutumonga hingga palawa
rammang-rammang: berdialog dengan batu

Advertisements

15 thoughts on “tertawan arsitektur tongkonan

  1. Gara says:

    Saya dapat banyak sekali pengetahuan setelah membaca tulisan ini, soal bagian-bagian rumah dan ukiran-ukiran rumah juga jenis sambungan kayu tanpa paku. Memang nenek moyang kita sudah sangat maju dalam teknik pembangunan ya, membuat rumah bukan sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas namun ada filosofinya.
    Saya tertarik dengan berbagai orientasi arah pembangunan tongkonan, juga letak pintu yang mengutamakan arah timur dan utara. Sepertinya bangunan tradisional memang mengutamakan arah-arah itu ya. Dan lagi, bahasa Toraja terdengar familiar, kalau di sana duduk itu “tongkon”, di dalam bahasa Sasak duduk itu “tokol”. Mungkin karena sesama famili Austronesia, ya.

    • indrijuwono says:

      Sepertinya arah matahari memang jadi pedoman di banyak arsitektur tradisional Indonesia. Matahari terbit melambangkan semangat menyambut hari ya.
      Aku rasa, nggak banyak rumah menghadap ke barat juga karena kalau sore itu memang panas bangettt.. namanya juga tinggal di katulistiwa.

      • Gara says:

        Rumah saya di kampung menghadap barat, Mbak, hehe.
        Iya, matahari memang sudah jadi sesuatu yang vital ya. Namanya pun sumber kehidupan.

  2. iyoskusuma says:

    Rumah adat ini (mungkin hampir semua rumah adat di Indonesia) jauh dari kesan minimalis ya. Penuh cerita/nilai yang leluhur pasang di rumah-rimah adat. Sampe arah atap bangunan dll pun diperhitungkan ga sekedar ‘berfungsi’. Salut!

    Makasih tulisannya, Mba Indri! 🙂

    • indrijuwono says:

      iyaa, indah banget ya. aku sudah diceritain tentang toraja ini sejak masa kuliah oleh dosenku, trus jadi penasaran banget tentang ini. sesudah belasan tahun, akhirnya ke sini jugaaa..

  3. Matius Teguh Nugroho says:

    Tongkonan ini jadi salah satu satu kekayaan arsitektur asli Indonesia ya. Segala sesuatunya diperhatikan. Nggak cuma penataan ruang, namun juga arah, material pembangun, sampai ukiran dekoratif. Mudah-mudahan kearifan lokal ini terus dijaga dan bahkan semakin dipromosikan di ranah nasional dan global 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s