jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.

“Kaak, aku di belakang kaliaann!!” sapa Firsta di whatsapp ketika kebetulan aku melihat ponsel. Padahal aku tadi mengambil ponsel karena mau memotret. Eh, lha. Kok, mbak discoveryourindonesia.com ini ada di belakang? Belum juga kami sampai halte Museum Nasional. Perempuan berambut panjang itu melambai-lambaikan tangannya di kejauhan sambil berlari-lari melayang ringan. Sontak aku dan kak Bolang melihat ke bawah. Oh, kakinya menapak? Baiklah, itu benar kak Firsta. “Aku turun di halte BI tadi, terus jalan ke sini, mbak,” katanya sambil memamerkan giginya yang sudah tidak berkawat lagi.

foto intaian kak Firsta dan selfie pertama kami

foto intaian kak Firsta dan selfie pertama kami

Karena lapar, kami bertiga kembali ke titik aku tadi menunggu di depan patung Arjuna Wiwaha, lalu berjalan terus ke depan kantor Balaikota menyusur jalan Medan Merdeka Selatan, sampai menemukan area parkir motor. Di balik parkiran itu terdapat banyak kedai makanan yang bisa mengganjal perut kami sebelum mulai menjelajah lagi. Eh, Fahmi Kucing ke mana nih? Sebenarnya kami juga janjian dengan pemilik blog catperku.info ini untuk mengarungi Monas pertama. “Aku baru bangun, mbak,” katanya di telepon. Wah, pasti programmer ini sibuk meng-koding hingga larut malam. Okelah, nanti kami kirim lokasi via google maps saja deh supaya ia menyusul.

Kami bertiga berjalan ke arah tugu Monas yang masih berhias bendera merah putih di sekelilingnya. “Aku belum pernah naik puncak Monas, yuk!” ajak kak Bolang. Tapi ketika tiba di depan tugu setinggi 132 meter itu, lha ramai sekali orang mengantri di pelatarannya. Rupanya hari libur seperti ini orang banyak juga yang memiliki keinginan seperti kami. “Duh, penuh banget. Nanti kita balik lagi pas hari kerja aja, deh,” kata kak Firsta. Aku pun mengiyakan. Jadi sambil mengisi waktu menunggu Fahmi, kami mencoba kamera GoPro mungil yang dibawa kak Bolang. Hihi, niat utama kami jalan-jalan hari ini ‘kan belajar selfie.

yuk selfie!

yuk selfie!

cara memegang erat tongkat selfie

cara memegang erat tongkat selfie

Agak siang kami berjalan menuju masjid Istiqlal yang berada di arah timur laut. Eh, di depan pagar ternyata ada dokar berjajar-jajar. Sesering-seringnya aku ke tempat ini, aku nggak pernah naik kendaraan ini. Jadilah kami mencoba naik dokar beramai-ramai dengan jarak dekat, hanya dari titik itu sampai pertengahan jalan Medan Merdeka Utara, sebelum Istana Negara, lalu memutar lagi kembali ke titik semula. Mulanya agak ragu apakah kudanya bisa menarik kami bertiga, namun ternyata kami kembali dengan selamat. Dan,… batang hidung Fahmi masih belum kelihatan juga. Kemana perginya pria yang hendak mengakhiri masa lajangnya ini, ya? Apa ia tetiba harus menjemput calonnya? Padahal di pesan whatsapp ia mengatakan sudah tiba di kawasan Monas.

habis naik dokar

habis naik dokar

“Fam, lihat ke arah timur laut, ada kubah Istiqlal, kami menunggu di pintu keluar pojok itu.”
“iya, masih nyari nih.”
“Kami di dekat patung kuda ya, patung Diponegoro.”

Sembari mengisi waktu, tetap saja aku dan Firsta mainan GoPro-nya kak Bolang. Karena kamera ini tidak ada layar yang bisa dilihat sesudahnya, jadi semua gaya hanya berdasarkan feeling belaka. Sesudah lebih dari 15 menit, Fahmi belum kelihatan juga. Hmm, masa dari parkiran yang sama seperti kami tadi, butuh lama sekali sampai titik ini.

Tapi ternyata si programmer muda ini tak lama tersesat mencari kami. Didoakan semoga tak mudah juga tersesat menuju pintu hati (lah!). Kami melambai-lambaikan tangan heboh untuk menarik perhatiannya yang sedang celingukan di depan patung Diponegoro. Nah, kan! Akhirnya lengkap juga berempat memulai penjelajahan kami. Sebelum meninggalkan lapangan Monas, aku berganti kebaya yang menjadi dress code-ku dengan Firsta.

janjian pakai kebaya. thanks fotonya, first!

janjian pakai kebaya. thanks fotonya, first!

komplit kan untuk pelajaran selfie

komplit kan untuk pelajaran selfie dari kak bolang

Kami berjalan kaki sampai Masjid Istiqlal, dan beristirahat di sana sambil menunggu adzan Dhuhur. Karena masuk dari pintu selatan, kami langsung ke area ruang wudhu dan beristirahat di tepi koridor sambil menikmati angin semilir. Ternyata, tak satu pun dari teman-temanku yang pernah memasuki area dalamnya. Aku pernah dua kali ke sini untuk sholat Ied pada masa kuliahku dulu bersama keluarga. Masjid yang dibangun oleh arsitek F.X. Silaban ini pada tahun 1978 ini memiliki 5 lantai di bagian dalam, yang mengitari hall besar di tengahnya.

“Kalau pulang kerja menunggu kereta jam 11 malam, aku sering memotret Istiqlal yang bersebelahan dengan Katedral dari stasiun Juanda. Lampu-lampu malamnya bagus sekali,” ceritaku. “Tapi motretnya pakai hape, jadi kualitasnya seadanya.”

istiqlal dari jauh

istiqlal dari jauh

di luar pelataran tempat kami ngobrol

di luar pelataran tempat kami ngobrol

Sambil duduk-duduk di koridor, kami mengobrol ngalor ngidul soal blog, soal buku, dan perjalanan-perjalanan kami. Entah kenapa kalau obrolannya mengasyikkan, aku menganggurkan kamera dan asyik menikmati percakapan yang ada. Kak Firsta memakai sarungnya yang dibawa dari Laos, kami menginterogasi Fahmi soal rencana pernikahannya, dan kak Bolang bercerita soal rencananya menulis buku dari perjalanannya ke Nusa Tenggara. Sementara kami bercengkrama, beberapa turis mancanegara lewat dengan mengenakan jubah yang disediakan khusus oleh pihak masjid. Beberapa orang yang lewat juga memakai pakaian muslim berbordir-bordir, sehingga aku dan Firsta yang memakai kebaya tidak terlalu aneh pakaiannya.

Ketika adzan dhuhur berkumandang, kami masuk ke hall utama masjid. Fahmi dan kak Bolang mengeluarkan sarung mereka dan berjalan ke arah pria, sementara aku dan Firsta meminjam mukena ke satu bilik untuk sholat.

yang ganteng sholat dulu

yang ganteng sholat dulu

di bawah ruang bertingkat

di bawah ruang bertingkat

ruang dalam dengan pilar-pilar berkilau

ruang dalam dengan pilar-pilar berkilau

area sholat pria dengan pintu-pintu di belakangnya

area sholat pria dengan pintu-pintu di belakangnya

Keluar dari Istiqlal, kami berjalan kaki ke Katedral yang berjarak tidak jauh dari situ. Siang hari yang terik tidak menghalangi kami untuk terus menyeberangi sambil terus mengobrol sepanjang jalan. Sayangnya, jalur jalan kaki kami tidak dilengkapi pedestrian yang layak. Jadilah kami berjingkat-jingkat di tepi aspal yang sesekali dilewati bis transjakarta. Kami masuk ke pelataran katedral yang banyak mobil terparkir. Karena sedang ada pesta pernikahan, jadi kami tidak bisa masuk ke dalam katedral.

dari seberang katedral

dari seberang katedral

menjulang tinggi

menjulang tinggi

Keluar dari katedral kami menyerbu tukang buah di tepi jalan. Tadinya aku mau makan semangka, tapi karena ada nangka, jadinya pingin makan nangka juga. Kami berjalan sekeliling masjid Istiqlal menuju tujuan selanjutnya : Es Krim Ragusa! Pasti apa yang ada di restoran ini bisa mengobati penat karena terpapar panas sesiangan dan keringat mengucur. Sayang tempatnya penuuh sekali membuat kami agak kesulitan mencari tempat duduk. Hmmm, es krimnya memang lezat. Rasanya pengen ke sini lagi merasakan citarasa es krim tradisional.

es krim di terik panas, hmmm...

es krim di terik panas, hmmm…

Barulah kami mewujudkan niat sesungguhnya, yaitu naik city tour bus Jakarta dari depan halte Masjid Istiqlal. Gara-gara aku berbagi foto di grup whatsapp Travel Blogger Indonesia beberapa waktu lalu, ternyata banyak yang kepengin diajak naik Mpok Sity (begitu bis itu dipanggil) termasuk kak Bolang, kak Firsta, dan kak Fahmi ini. Tapi kalau naik sendiri kan nggak asyik, ketahuan jomblonya gitu, jadi mendingan rame-rame begini.

Armada bis ini ada lima, dan waktu berputar untuk satu rute lengkapnya selama satu jam. Di hari Minggu, bus ini beroperasi mulai jam 11 dengan titik naik dan turun di halte-halte tertentu yaitu Sarinah, Bunderan HI, Monas, Istiqlal, dan Balaikota. Di hari-hari biasa bis ini baru beroperasi jam 2 siang dan berhenti di semua halte di atas. Di dalam bis ada pemandunya yang akan memberi berbagai penjelasan tentang rute-rute yang akan kami lalui, dalam bahasa Indonesia. Yah, kalau punya teman bule mau diajak naik bis ini juga nggak apa-apa, bantu saja untuk menjelaskan.

mpok siti melenggang di thamrin

mpok siti melenggang di thamrin

Sebelum bersama geng hore ini, aku pernah naik Mpok Sity ini dari Bunderan HI. Karena nggak kebagian tempat duduk di atas, aku duduk di bangku paling depan di samping bu supir yang sedang bekerja. Iya, supirnya perempuan loh. Rute Jakarta City Tour Bus ini dari Bundaran HI, Sarinah, Museum Nasional, Harmoni, belok kanan ke Pecenongan, terus sampai Pasar Baru, lewat Gedung Kesenian Jakarta, Lapangan Banteng, belok kanan Katedral, Istiqlal, sepanjang jalan Juanda, belok kiri lewat area Sekretariat Negara, ketemu Medan Merdeka Utara, lewat depan Istana Merdeka, belok kiri ke Medan Merdeka Barat, lewat depan Monas, lalu belok kiri lagi dan berputar di depan Balaikota Jakarta, terus sampai patung Muhammad Husni Thamrin, masuk Jalan Thamrin lagi, Sarinah, lalu kembali lagi sampai Bundaran HI. Foto-foto di bawah adalah ketika aku naik Mpok Sity sebelumnya.

mbak pramugari, polisi, guide, dan supir

mbak pramugari, polisi, guide, dan supir

interior bagian bawah

interior bagian bawah

boleh lah selfie dulu

boleh lah selfie dulu

interior bagian atas

interior bagian atas

dari jendela paling depan

dari jendela paling depan

Karena kami hanya naik dari Istiqlal dan turun Sarinah, jadi kami baru melewati sebagian dari rute itu. Berarti episode jalan-jalan Jakarta ini bakal ada jilid-jilid berikutnya, nih. Bagi yang mau ikutan, ayo ajak aku tanpa ragu-ragu. Kabarnya Mpok Sity ini masih gratis hingga akhir tahun 2014 ini. Short time Jakarta. Enjoy!

jalan-jalan 23.08.2014
ditulis di kereta depok-bogor 21.09.2014 dirapikan di rumah kentang 21:16

p.s. gara-gara jalan-jalan ini hampir semua orang yang aku temui di acara kumpul traveler besoknya, nanya : habis dari monas yaa…

foto25

Advertisements

20 thoughts on “jakarta : berjalan di jantung kota

  1. Lestari says:

    Kemarin aku abis dines dari Jakarta, sampai sana subuh, balik lagi kereta malam. Monas keren pisan dari Gambir. Pengennya sih poto tapi maluuuuuu! Hahaha :p

    Masih punya cita-cita naik kereta ekonomi ke Jakarta, jalan-jalan pake bis kota, wkwkw :p

    Tapi Mbok Siti juga menarik nih 😀

  2. Sefin says:

    wah, seru!
    bisa sama gitu bagian nge-Monas sama makan es krim Ragusanya 😀
    nggak pernah ngebayangin sih keliling Monas pake kebaya…panas banget nggak, tuh? :))
    daaan aku mau banget nyoba naik Jakarta City Tour Bus!
    posting yang menarik~
    kakak-kakak TBI ini kece-kece anet, yha~ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s