peta atau tanya : jangan tersesat di jakarta!

Pepatah ‘malu bertanya, sesat di jalan’ memang sudah diakui keampuhannya. Namun bagaimana kalau orang yang anda tanyai menyesatkan? Tokoh Dora dalam kartun balita Dora the Explorer bertanya,
‘Where do we ask when we don’t know which way to go?’
‘Yes, right! The Map!’


Petunjuk mana yang anda pilih apabila anda hendak mencapai ke suatu tempat di metropolitan Jakarta ini? Apakah dengan bertanya orang-orang sekitar, atau dengan membaca peta Jakarta yang terpercaya?

Selama ini yang aku lakukan adalah keduanya. Selain dengan cara bertanya pada orang-orang, membaca peta juga harus aku lakukan untuk memastikan titik lokasi yang dituju. Karena terkadang orang-orang yang ditanyai juga tidak bisa dipercaya. Mereka memberikan petunjuk atas dasar tanda-tanda jalan yang hanya dikenali sendiri, namun mungkin dikenali dengan bahasa yang berbeda oleh orang yang butuh petunjuk. Karena itu aku baca peta kota. Sangat memudahkan karena di peta dilengkapi dengan bangunan-bangunan sepanjang jalan yang dilalui. Sehingga bisa dipastikan yang dilewati supaya tujuan tidak terlewat.

Peta, adalah salah satu alat bantu perjalanan yang membantu mereka yang bisa membacanya. Kenapa dibilang begitu? Karena memang tidak semua orang bisa dengan mudah membaca peta. Hal ini tidak bisa dijelaskan olehku kenapa demikian, karena butuh penjelasan ilmiah oleh orang psikologi. Kebetulan saja aku termasuk orang yang bisa, sehingga suka membaca peta terlebih dahulu sebelum bepergian. Dengan melihat peta aku bisa ‘melihat’ kota sebelum berangkat, dan menentukan titik-titik di mana harus transit, sehingga meminimalkan terjadi nyasar. Setelah mendapatkan informasi dari orang-orang sekitar, aku memetakan jalur perjalanan, lalu menghafalkan patokan-patokannya, sehingga sampai di tujuan dengan selamat.


Peta favoritku di Jakarta adalah peta karya Gunther H Wolthorf. Ada versi digitalnya maupun cetak. Keduanya dilengkapi dengan indeks ribuan jalan di Jakarta yang mengacu pada satu titik koordinat tertentu tempat jalan tersebut berada. Jadi, tinggal cari nama jalannya, lalu tanya teman-teman bagaimana mencapai sana dgn transportasi umum (kalau bawa kendaraan pribadi sih ikuti peta saja). Susahnya, terkadang di peta ini tidak tercantum tanda verboden (dilarang masuk) atau jalan satu arah. Jadi, aku pernah berputar-putar di Menteng dengan peta di pangkuan, karena jebakan jalan satu arah ini. Belum lagi kalau bangunannya berubah fungsi atau berganti nama, sehingga menjadi patokan yang salah.


Peta kedua favoritku adalah GoogleMap di ponsel. Sangat berguna kalau kita tersesat di tengah riuh kota Jakarta untuk tahu bagaimana mencapai jalan keluar yang kita kenali. Aku pernah terjebak macet di sekitar daerah padat sebelah utaranya Stasiun Kota, dan dengan bantuan Google Map di ponsel, akhirnya menemukan lagi jalan ke arah Gunung Sahari. Karena ada fitur My Location yang bisa mendeteksi di mana kita.
Di luar negeri, titik-titik bangunan di Google Map ini bahkan sudah ditandai dengan foto bangunan. Sehingga kita benar-benar bisa merasa mengenali jalan yang akan kita lalui dengan melihatnya lebih dulu. Bosku pernah mengalami keuntungan ini ketika jalan-jalan ke London. Jadi dia bisa membuat rute perjalanannya dengan benar dan tidak tersesat walaupun di negeri orang.

Kendalanya di negara kita, tentu ketergantungan pada sinyal GPRS/3G/EDGE yang timbul tenggelam membuat Google Map ini tidak selalu mudah diakses. Kalau sudah begitu, navigasi mulutlah yang berperan dalam menemukan jalan yang benar. Alias bertanya tentu saja. Dan juga, bertanyalah pada orang yang benar. Jika satu orang memberikan petunjuk yang berbelit-belit, carilah pendapat kedua. Tidak semua orang memiliki kemampuan memberikan informasi yang benar. Banyak yang memberikan hanya sepotong-sepotong dan berdasarkan patokan yang hanya ia saja yang tahu, apa yang ada di pikirannya saat itu. Tidak bisa menyalahkan mereka karena mungkin memang patokan-patokan itu yang ia kenal, terkadang bukan patokan umum yang mudah tertangkap mata. Salah satu yang bisa ditanyai adalah supir/kernet angkutan umum atau tukang parkir atau kios rokok pinggir jalan. Mereka biasanya bisa menjelaskan sedikit tentang daerah lewatannya. Kalau bertanya pada orang lewat, bisa jadi ia tidak tahu juga, karena siapa tahu juga, itu bukan daerah ‘jajahan’nya. Bertanyalah, karena ‘malu bertanya, sesat di jalan!’

tanahabang-sudirman-fx-cikini-depok. kamis. 14 april 2011.
gambir-roxy. senin. 23 mei 2011.

Advertisements