semarang dalam cerita semarjawi

cover-semarjawi-semarang

@semarjawi: Dear Bebs, FYI, besok pagi muter reguler #Semarjawi di-close dl ya. Soalnya besok dicarter Bebeb² dr @TravelNBlogID

Grenggg… Bis merah bertingkat itu meninggalkan halaman Taman Srigunting, Gereja Blenduk. Warna yang kontras dengan lingkungan sekitarnya ini menjadikan bis ini menjadi ikon menarik ketika melalui jalan-jalan di kota Semarang. Matahari jam sembilan pagi di kota Semarang bersinar cerah sekali di atas kota atlas ini, tapi seluruh peserta #TravelNBlog 3 yang sudah mengikuti workshop sehari sebelumnya tetap bersemangat untuk naik bis istimewa ini. Untung Lestari, adek ketemu gede yang tinggal di Semarang sampai di titik awal tepat waktu, sehingga tidak ketinggalan.

Iya, istimewa dong! Seingatku, Semarang sudah lama tidak punya bis tingkat. Dulu memang sewaktu aku masih kecil masih sering nail bis tingkat dari jalan Pemuda hingga Simpang Lima, tapi beberapa kali aku pulang atau lewat kota ini, bis-bis itu sudah tidak beroperasi lagi. Kabarnya sih dipindahkan ke Solo, tapi sekarang pun entah masih beroperasi atau tidak. Jadi, keberadaan Semarjawi ini istimewa, karena bentuknya bis tingkat. Serunya lagi, bis ini akan membawa jalan-jalan keliling kota lama Semarang, dan kita bisa melihat dan belajar sekaligus tentang sejarah kota Semarang di masa lalu, yang peninggalannya tersebar di satu jalur tertentu. Lebih asyik lagi, bis ini tidak menggunakan pengudaraan buatan, melainkan alami karena sisi-sisinya yang terbuka, bahkan atapnya pun terbuka! Menyenangkan sekali melewatkan satu jam dengan naik moda transportasi ini.

adi, temannya, noerazhka, devi, yusmei, alett nampang di bis bawah
adi, temannya, noerazhka, devi, yusmei, alett nampang di bis bawah
fahmi, mumun, noerazhka, yusmei, nampang dari atas tangga.
fahmi, mumun, noerazhka, yusmei, nampang dari atas tangga.
we are, yeah!
we are, yeah!

Seperti yang banyak tertulis di buku sejarah maupun tentang arsitektur kota, kota Semarang direncanakan oleh Thomas Karsten pada tahun 1916-1920 dan mulai dibangun pada tahun 1936. Perencanaan kota Semarang mulai dari sisi utara yang kini dikenal sebagai Kota Lama Semarang sebagai pusat bisnis perkantoran, karena dekat pelabuhan yang sibuk sebagai jalur transportasi masa lalu, hingga terus ke selatan area bisnis dan niaga, juga area hunian.

Bis Semarjawi membawa penumpangnya mulai dari Kota Lama Semarang, dengan informasi yang tersampaikan lewat loudspeaker yang disampaikan langsung oleh mbak-mbak atau mas pemandu yang akan bercerita tentang bangunan-bangunan yang dilalui. Dimulai dari Gereja Blendhuk yang menjadi ikon kota, juga menjelaskan lift pertama di Semarang di bangunan yang sekarang menjadi kantor Jiwasraya. Berbagai bangunan dari masa lalu di kawasan Kota Lama termasuk dalam kawasan niaga perkantoran hingga batas pada Jembatan Berok, yang melintasi kali Semarang, yang di zaman kolonial merupakan jalur perdagangan penting. Melalui kali ini, barang hasil bumi dari pedalaman Jawa dibawa hingga Pelabuhan. Gula merupakan satu komoditi unggulan untuk diekspor di masa lalu sehingga aktivitas transportasi laut sangat tinggi. Tak heran di kawasan kota lama banyak sekali perusahaan pelayaran untuk mendukung administrasi aktivitas niaganya. Sayangnya, saat ini Kali Semarang sudah banyak mengalami pendangkalan dan berwarna hitam, sehingga kurang begitu nyaman untuk berlama-lama di tepiannya.

gedung jiwasraya tempat lift pertama
gedung jiwasraya tempat lift pertama
kantor telepon
kantor telepon
jembatan mberok, batas area perkantoran dengan niaga bisnis.
jembatan mberok, batas area perkantoran dengan niaga bisnis.

Lewat dari Kota Lama, bis melewati depan titik nol km kota Semarang yang merupakan salah satu penanda bahwa jalan ini merupakan salah satu ruas Jalan pos yang didirikan di zaman Gubernur Jendral Daendels. Sejenak Semarjawi berhenti di depan Kantor Pos yang sudah berdiri sejak dulu pun menjadi saksi aktivitas pengiriman surat menyurat ini. Hingga kini, bangunan berarsitektur Hindia Belanda ini masih berfungsi sebagaimana aslinya di masa lalu. Tentu, karena bertukar berita masih menjadi kebutuhan. Walaupun sudah banyak papan reklame di sekitarnya, tapi bangunan Kantor Pos ini masih memberikan aura yang kuat dan kokoh sebagai penanda bagi lingkungan sekitarnya.

tugu nol kilometer semarang
tugu nol kilometer semarang
kantor pos sejak zaman dahulu
kantor pos sejak zaman dahulu

“Awas kabel listrik….!!!”
Begitu teman-teman mengingatkan untuk tidak berdiri di atas bis. Memang, melanjutkan perjalanan hingga jalan Pemuda yang tidak terlalu ramai ini banyak kabel melintang centang perenang melintasi jalan. Tapi memang bis ini didesain tentu memperhitungkan posisi kabel tinggi kabel, sehingga Matthew, salah seorang teman yang berasal dari Kanada tidak terkena kabel walaupun ia bertubuh jangkung. Kabel-kabel ini memang agak mengganggu pemandangan ketika memotret.

wira dan ghana berbagi kursi
wira dan ghana berbagi kursi
pasar johar di kejauhan
pasar johar di kejauhan
halte bus trans semarang
halte bus trans semarang

Sepanjang Jalan Pemuda kami memperhatikan area bisnis niaga di masa lalu yang sampai sekarang masih terpelihara. Trotoar sepanjang jalan dan bangunan tanpa halaman dengan fasade merapat jalan menjadi ciri khas kawasan niaga di masa lalu, sehingga pembeli bisa berjalan-jalan sepanjang trotoar dan langsung berhadapan dengan etalase-etalase toko. Seperti ini masih bisa dilihat di jalan-jalan di Eropa, sehingga jalur ini masih asyik untuk dilalui sambil hunting ‘street photography’. Jalur pejalan kaki dengan ubin berwarna merah yang cantik memberi latar menarik untuk difoto. Kami melintasi depan Toko Oen, salah satu toko legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1936. Hingga sekarang, Toko Oen masih tenar sebagai tempat membeli es krim yang lezat. Favoritku di sini adalah rasa rhum & raisin, yang bercitarasa manis dan segar.

lumpia yang enak banget.
loenpia yang enak banget di jalan pemuda
toko oen, rum & raisin yang dinanti
toko oen, rum & raisin yang dinanti

Lebih jauh ke utara, Semarjawi melalui area rekreasi di masa lalu. Mal Paragon yang kini berdiri megah, dulunya adalah de Harmonie ballroom, yang digunakan oleh kaum muda Belanda untuk bersosialisasi, berdiskusi, mengobrol, dansa dansi, dan ngopi-ngopi. Dengan berdirinya mal ini di titik yang sama berarti mengambil fungsi ruang kota yang sama dengan rancangan Thomas Karsten di masa lalu. Rancangan kota yang indah, teratur dan bertahan hingga seratus tahun. Di samping tempat berdirinya Mal Paragon, dulu berdiri bioskop Grease, yang kini menjadi hotel Merbabu. Duh, jadi teringat masa kecilku sering menonton film di situ bareng mama. Persimpangan lima di Batas Mal Paragon ini adalah batas area niaga bisnis dengan area hunian. Pola kota ini tergambar jelas dari bangunan-bangunan dan peruntukan lahan.

paragon mall, socialite.
paragon mall, socialite.

Hingga lanjut ke kawasan Tugu Muda, kawasan banyak terlindungi oleh pepohonan sehingga suasananya rimbun dan teduh. Duduk di bagian atas bis, harus berhati-hati karena banyak ranting menjulur. Tidak terlalu terasa panas lagi di sini. Menurut mas pemandunya, dahulu di sini adalah kawasan pemukiman, karena itu terlihat halaman-halaman luas di depan beberapa rumah-rumah yang masih berderet beberapa di sepanjang jalan. Pelatarannya ditanami pepohonan yang besar dan menaungi. Walau kini sudah banyak berubah fungsi menjadi kawasan niaga juga, berjalan kaki di sini pasti mengasyikkan karena trotoarnya cukup lebar! Mungkin bisa bergandengan berlima dengan santai ketika melintasi jalur pejalan kaki yang juga dilengkapi dengan satu lajur keramik kuning bertekstur untuk dikenali penyandang tunanetra.

gerbang balaikota semarang
gerbang balaikota semarang
aku dan lawang sewu
aku dan lawang sewu

Paling ujung adalah satu titik ikon penting kota Semarang, yaitu Lawang Sewu dan Tugu Muda. Aku sudah beberapa kali ke Lawang Sewu, termasuk sore sebelumnya masuk ke bangunan yang dulu adalah kantor the Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan jawatann kereta api di tahun 1900-an. Masih teringat lagi keasyikan berwisata kemarin yang serasa trip reuni bareng Firsta, Ariev, dan Fahmi di Singapore tahun lalu. Bis berputar mengitari Tugu Muda dan kembali melewati jalur yang tadi hingga berputar lebih lanjut di kota lama Semarang. Ketika lewat Wisma Perdamaian yang merupakan rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, kepingin rasanya berteriak menyapa bapak yang ramah ini. Eh, tapi ternyata beliau tidak tinggal di situ.

tugu muda semarang, di belakangnya adalah wisma perdamaian, kediaman walikota
tugu muda semarang, di belakangnya adalah wisma perdamaian, kediaman gubernur
lestari, inung, dan dewi 'dedew' nyempil foto
lestari, inung, dan dewi ‘dedew’ geng semarang nyempil foto

Walaupun melintasi jalan yang sama, namun pemandunya tetap giat menjelaskan tentang bangunan-bangunan yang dilalui (walaupun sedikit mengobrol dan terdengar di loudspeaker) dan Semarjawi juga berjalan agak lambat sehingga kami bisa mengambil gambar dengan leluasa. Banyak orang-orang yang berjalan di trotoar melihat kami dengan pandangan ingin tahu (entah iri kepengin naik bis atau heran karena kami mau-mau saja berpanas-panas di bus tanpa atap). Sempat terpikir untuk melambaikan tangan dari atas bis, tapi untunglah hanya sampai tataran niat. “Bukan artis, In….,” kata suara hatiku.

bis bagian atas, bisa berdiri dan mulai panas
bis bagian atas, bisa berdiri dan mulai panas

“Yang di depan kita adalah Stasiun Tawang, salah satu jalur transportasi yang berumur panjang. Di depannya adalah polder Tawang, di mana orang-orang bisa berekreasi sambil memancing di situ,” jelas mas pemandu. Polder ini berbentuk kotak segi empat yang berfungsi untuk menyeimbangkan muka air di musim penghujan. Namun entah apa yang terjadi dengan sistem drainase kota, di stasiun Tawang maupun poldernya selalu tergenang banjir hingga rel tidak bisa dilewati kereta. Cerita tahunan.

polder tawang di depan stasiun
polder tawang di depan stasiun

Dan yang paling asyik, bis ini melintasi jalan-jalan yang belum pernah aku lalui! Sesudah melewati polder, terus ke selatan akan menemukan tanah kosong tempat tadinya gedung teater Semarang, Sobokarti, berdiri. Sayangnya hanya tinggal gerbangnya saja. Untung aku naik bis di bagian atas, sehingga bisa melongok ke halaman Sobokarti yang terlindungi tembok tinggi dan di baliknya dipenuhi tanaman liar. Aktivitas teaternya pindah ke gedung Marabunta yang unik dengan hiasan dua semut di atasnya.

patung semut di atas marabunta
patung semut di atas marabunta

Ketika bis berbelok lagi, ternyata melewati Katedral St. Joseph yang cantik sekali dengan dinding bata ekspos berwarna merah. Tidak hanya katedralnya, kawasan susteran dan sekolah pastoran juga menggunakan material yang sama untuk dinding. Harmoni warna bata merah kontras dengan latar depan hijaunya daun pepohonan yang terkadang tertepis oleh tinggi bis. Dan lagi-lagi, kabel listrik yang asyik melintas di depan bangunan agak mengurangi pengambilan gambar.

susteran dan asrama
susteran dan asrama
katedral st. joseph
katedral st. joseph

Sekembalinya bis di depan Taman Srigunting, tempat kami tadi memulai perjalanan, rasanya belum rela melepas bis cantik berwarna merah ini untuk kembali ke tempatnya beristirahat siang. Ya, karena seharusnya bis ini hanya beroperasi di sore hari, itu juga harus pesan supaya kebagian tempat duduk. Memang, cuma kami peserta #TravelNBlog yang gagah berani untuk naik bis ini siang-siang di bawah terik matahari. Mana tidak takut hitam lagi.

jalanan kota lama, agak terbengkalai
jalanan kota lama, agak terbengkalai
gedung marba di depan taman srigunting
gedung marba di depan taman srigunting
melintas jalan dengan sepeda
melintas jalan dengan sepeda
mari semuanyaaaaa...
mari semuanyaaaaa…

Seru! Kepingin mengulang lagi pengalaman ini, bis tingkat menjadi salah satu transportasi favoritku sesudah kereta api. Lain kali aku mau mencoba lagi dengan mendaftar di Retro Cafe, di belakang Taman Srigunting. Biayanya hanya 10.000 di hari kerja atau 15.000 di hari libur. Yah, setara deh dengan satu potong lumpia goreng di Jalan Pemuda. Terserah deh mau dapat jadwal Semarjawi yang mana, Senin – Kamis : 18.00-20.00, Jumat : 16.00-21.00 atau Sabtu – Minggu : 08.00-10.-00 dan 15.00-21.00. Eh, kalau aku sudah jauh-jauh ke Semarang, harus pasti kan, ya? Bisa juga mengecek-ngecek di semarjawi.com untuk persiapan info. Mari ke Semarang, dan Jalan-jalan Wisata!

Semarang | 29 Maret 2015 | #TravelNBlog

29-semarjawi-epilog

Sebelum diedit, tulisan ini akhirnya jadi pemenang ke 4 di Lomba Blog on the spot
tengok-tengok tulisan pemenang lainnya :

Albert Ghana – lostinparadise.web.id – Jelajah Semarang Sehari dengan Semarjawi
Rifqy F Rahman – papanpelangi.co – Kota Lama, Tentang Geliat Pagi dan Semar Jawi
Slamet Riyadi – slamsr.com – Semarjawi, Bus Wisata Semarang
Alifia Afflatus – afflatuzz.blogspot.com – Traverse in Kota Lama With Semarjawi

Ada juga tulisan tentang kota Semarang oleh beberapa teman, termasuk Lestari, hostku yang sempat menghilang ke Art Gallery beberapa saat sesudah turun dari bis merah ini. Duh, dia tidak mengajak-ajak. Lain kali kalau ke Taman Srigunting lagi, mesti mampir ke sana sepertinya.

Lestari – jejaksematawayang.com – Nyicip Cafe Jadul Kota Lama
Dewi Rieka – dewirieka.com – Mencuri Ilmu di Travel N Blog 3 Workshop Semarang 🙂
Uniek Kaswarganti – uniekkaswarganti.com – Impian Mewah Bocah Semarang

gereja blenduk di tangan vira indohoy.
gereja blenduk di tangan vira indohoy.

49 thoughts on “semarang dalam cerita semarjawi

  1. Meskipun saya belum pernah naik keduanya, tapi sepintas, bus ini agak mirip dengan bus Hop On Hop Off yang ada di negeri tetangga ya, Mbak?
    Pasti pengalaman menyenangkan bisa berkeliling kota dengan bus ini :)). Tapi btw, sepertinya semua bangunan Sociteit de Harmonie sudah berubah bentuk ya, baik di Jakarta maupun di Semarang :)).

    Mbak, saya sudah membalas e-mail yang kemarin… tapi sepertinya saya salah menekan jadi yang terkirim e-mail kosong *glek*. Nanti saya cek lagi ya Mbak :hehe. Mohon maaf… :hihi.

    1. Di Jakarta malah sudah tidak ada bukan? Atau berubah jadi gedung Bina Graha, ya? Kalau mengingat bukunya Pramoedya tempat Society Harmonie itu tempat mainnya Minke sepertinya di daerah situ..

      1. Sudah tidak ada karena menjadi lahan parkir Kementerian Sekretariat Negara kalau saya tidak salah, Mbak. Mengenai Bina Graha, kalau saya tidak salah lagi, setahu saya dulu dibangun di dekat kantor Woodbury and Page, firma yang mencetak foto-foto kartu pos Batavia Lama :)).

      2. Duh, sayang banget ya berubah jadi lahan parkir. Padahal aku pengen banget menyusur jejak Minke..
        Wah aku baru tahu yang sejarah beberapa bangunan pemerintahan ini. (Haha, baca sejarah kota dan sejarah bangunan juga macam-macam).
        Di Semarang tadi juga beberapa bangunan lama, bioskop Semarang Theater yang 3 tahun lalu aku ke Semarang masih ada, sekarang sudah jadi parkiran kayaknya.. 😥

      3. Atas nama modernisasi ya Mbak :sedih. Sama nasibnya dengan Hotel Des Indes di seberang simpang empat Harmonie, sekarang sudah jadi kompleks ruko.

    1. Waaa, aku disambangi gadis sampul… Belum rapi, mbak dedew, nanti diberesin lagi.
      Iya, at least fungsi areanya masih sama, pertanda perencanaan kotanya memang bagus dulunya…

  2. Awalnya udah daftar ikut acara ini, tapi ternyata aku jadi panitia Kursus Biomol selama 6 hari. Duh nyesel 😦 Semoga Jogja diberi kesempatan untuk yg keempat 🙂

  3. pengen banget ngerasain naik bisa yang satu ini, kayak yang dibandung juga belom, ah pengen kesemarang lagi, kemaren banyak travel blogger ya Mba, ah seru banget pastinya hehehe

    1. Hiahahaha, kalau niat banget emang gitu sih. Kalau menurut editornya tindaktandukarsitek yang kece dan bawa catokan itu, yang kemarin blog on the spot belum bisa masuk. 😉

      1. Nggak jadi pajang gambarnya mungkin, karena pertimbangan etis-tidaknya karena akhirnya diikutkan kompetisi meski ‘nothing to lose’, (iseng2 berhadiah)… setelah kemarin lusa lihat info adanya writing competition dan perombakan naskah draft. tapi saya tetap beri tautan gambarnya supaya lihatnya ke sini saja: http://wp.me/p60Eiy-8T 🙂 tx.

  4. […] Bulan berikutnya yaitu Maret bergulir dengan rapat-rapat kantor seperti biasa, dan kututup dengan perjalanan yang manis, menimba ilmu lewat TravelNBlog di Semarang. Kota yang pernah menjadi tempat tinggalku selama lima tahun ini memang memiliki kenangan-kenangan di sudut kotanya sehingga layak untuk disusuri lagi dengan cara yang berbeda. Naik bis Semarjawi yang seru! […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s