The road to skyscanner bloscars travel award 2014 : VOTE ME!

gambar

Sophie: You can’t go on forever, some point you have to stop.
Charlie: Then why is it that I feel like a school boy on Sunday? It’s nearly tomorrow and I don’t want to go.
Sophie: Me either. And I always liked school.
[Letters from Juliet ~ 2010]

Dulu sewaktu kecil, aku hobi sekali menulis surat. Sepertinya kalau sudah menulis aku bisa lupa dan bisa bercerita berlembar-lembar. Senang rasanya bisa bercerita pada teman yang ratusan kilometer jauhnya tentang apa yang terjadi di tempat tinggalku sekarang. Berpindah kota hampir setiap 2-5 tahun membuatku banyak teman baru dan yang ditinggalkan untuk berbagi cerita. Kebiasaan yang tak lekang hingga aku SMA. Namun anehnya, aku tak punya buku harian. Pernah punya tapi hanya berisi kegalauan-kegalauan masa remaja yang aku pun malu membacanya. Lebih asik menuliskan kejadian-kejadian lewat surat, karena dirasa ada yang membaca dan membalasnya.

Awal masa kuliahku pun meninggalkan teman-teman SMA seribu km jauhnya, masih diisi dengan surat menyurat. Tapi entah kenapa, waktuku tersita oleh kegiatan-kegiatan kampus yang banyak. Tak ada waktu luang di sore hari yang sempat menulis, karena satu hari penuh berada di kampus. Akhirnya aku benar-benar berhenti menulis surat. Aku mulai melakukan perjalanan, dan sarana menulisku adalah majalah dari klub pencinta alam yang aku ikuti tempat aku menumpahkan cerita. Saat itulah aku punya jurnal harian untuk mencatat hal-hal yang terjadi di perjalanan supaya tidak lupa dan menuliskan cerita perjalananku di majalah. Aku ingat cerita favoritku adalah caving 5 hari di desa Bayah, Banten Selatan. Bagaimana tidak, saat itu aku satu-satunya cewek dalam tim beranggotakan 6 orang, mengurusi 5 orang lainnya, kehabisan logistik dan ongkos pulang, sampai dijemput dengan jeep untuk kembali ke Depok.

Masa-masa awal bekerja dan mengenal friendster, aku mulai lagi menulis di sana walaupun jejaring blog-nya lambatnya minta ampun. Karena jarang melakukan perjalanan lagi, maka mulai bercerita keseharian. Itu pun pendek dan jarangnya bukan main. Kemudian mengenal jaringan wordpress, dan punya blog pertama di situ. Jika melihat tulisan-tulisan awal di wordpress, rasanya ingin tertawa. (oke, blog ini sekarang tidak untuk dipamerkan sama sekali, tapi masih bisa di-google). Jeda panjang menulis membuatku agak mati gaya untuk bercerita.

Tapi di masa tahun 2008-2011, ketika jejaring sosial mulai begitu populer orang menulis di mana saja. Aku lebih sering menulis review buku di goodreads. Menulis review ini kembali mengasah gaya penceritaanku. Bukan, aku bukan penulis review serius seperti di media cetak. Seperti pada awalku menulis tergantung suasana hati, demikian juga saat menulis review. Aku hanya menceritakan pengalaman membacaku, kesan, dan nilai-nilai yang kudapat dari membaca buku. Bersama dengan itu aku memulai lagi perjalanan-perjalananku yang kutuang ceritanya dalam blog di wordpress. Namun tak banyak, sehingga tulisanku lebih sering merupakan ceracau hati yang cuma bisa dimengerti sendiri (dan beberapa pembacanya).

Dan friendster ditutup, saat aku lupa menyelamatkan cerita-ceritaku di sana. Tapi mungkin itu sudah suratan karena hal-hal di situ memang waktunya dilupakan. Terkadang aku juga mikir, kok kebetulan juga, ya?

Aku mulai mengembangkan blog ini, Tindak Tanduk Arsitek, sebagai media curhatku sebagai arsitek. Agak terinspirasi oleh buku 99 Untuk Arsitek-nya Raul Renanda, aku ingin menulis banyak tentang bangunan-bangunan dari sisi arsitekturnya, agak seperti ulasan yang dikerjakan majalah. Jika aku bisa menulis review buku, masa aku tidak bisa menulis review bangunan? Tapi ternyata lama kelamaan ada banyak hal lain yang diulas, sesuatu yang berkaitan dengan ruang kota dan penggunanya, keseharian pengguna dan komuter Jakarta. Bukankah arsitektur adalah menciptakan ruang? Jadi tentu sah untuk beropini tentang ruang-ruang hidup, area-area yang terciptakan oleh bangunan. Tentang plaza, tentang ruang berkumpul, dan banyak hal.

Dan kemudian blog pertamaku menjadi tidak menarik. Racauan kenangan itu harus disimpan dengan baik, cukup diingat oleh segelintir orang yang pernah membacanya saja. Aku berhenti menulis di sana. Sudah hampir 2 tahun kutinggalkan dengan 5000-an hits.

Di sini, aku menemukan diriku yang suka bercerita lagi. Tidak hanya untuk diri sendiri, di blog ini aku ingin berbagi dan beropini tentang banyak hal. Dari stasiun kereta api hingga rumah di tepi bukit. Cerita tentang keseharian jadi arsitek, cerita tentang perjalanan-perjalanan di saat liburnya. Cerita tentang mimpi-mimpi yang menjadi kenyataan. Tempat liburan, ruang hidup masyarakat sekitar, kondisi jalan yang dilewati. Berbagi kisah dari sudut pandangku, yang melihat kegiatan hidup dan ruang pembentuknya.

Aku jatuh cinta lagi dengan desa, dengan pemukiman tradisional, dengan pola hidup sederhana. Pada kebahagiaan yang ada pada saat berkenalan dengan mereka. Menyadari bahwa perjalanan bukan hanya ‘been there, done that’ tapi juga menjalin persahabatan tulus dengan orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan. Tidak melupakan guide yang mengantar ke mana pun aku inginkan ketika menyusuri Bromo-Ijen-Meru Betiri, setia berkontak dengan tuan rumah yang membantu di Nias, atau rajin menyapa teman-teman goodreads di sekeliling pulau Jawa, yang selalu menjadi jujuganku ketika datang ke kota mereka.

Persahabatan ini priceless. Sesuatu yang bisa dipertahankan dengan senyuman. Dari situ aku bisa mendapat banyak hal yang memperkaya pengalaman perjalanan. Tidak hanya sekadar tujuan, tidak hanya sekadar ingin menulis sesuatu yang berbau arsitektur, tapi suasana hati yang terbangun ini yang membuat semua bukan sekadar sarana yang membantu, tapi bagian dari proses cerita ini ada. Semuanya bagian dari remahan tulisan yang aku tuliskan sesudah perjalanan.

Juga pembaca, ketika melihat ceritaku menginspirasi mereka, memberikan informasi untuk mereka yang mau berkunjung ke tempat-tempat yang mau mereka kunjungi, aku bahagia. Senang melihat kepingan ini berguna untuk orang lain yang tidak aku kenal, yang menyapa di dunia maya, dan akhirnya menjadi teman. Satu hal lagi yang terbangun dari blog ini.

Dan malam itu, ketika aku sedang asyik chat, masuk di emailku bahwa aku terpilih menjadi salah satu Finalis Skyscanner Bloscars Travel Award 2014. Ah, rasanya nggak percaya. Blog yang masih newbie ini terpilih masuk satu ajang nasional bersaing dengan 9 blogger-blogger keren lainnya, Backpackstory, Backpacker Borneo, Cumi Lebay, Debbzie, Discover Your Indonesia, Fahmi Anhar, Mixed Up Already, The LosTraveler, dan TripToTrip Asia. Sesuatu cerita yang kubagi dengan teman-temanku, ternyata terapresiasi dengan ajang ini. Rasanya masih nggak percaya tapi itulah adanya.

10-finalists

Ketika ada pertanyaan, akan ke mana jika menang tingkat nasional? Tanpa ragu aku bilang, INDIA! Lho, kok India? Alasan pertama, karena India adalah tempat yang ingin kukunjungi sejak aku SMA. Sejak aku membaca kisah Gola Gong di Balada si Roy. Ingin berbaur di warna warni kotanya, mendengar ketipung tabla, menunggu senja di Varanasi, memandang Agra monumen cinta, menyusuri jalan-jalan Kolkata dan Delhi, berkereta di Daarjeling, atau terbang ke Ladakh, dengan danaunya yang indah, tinggal di rumah penduduknya. Menikmati budaya yang masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Kenapa tidak di Indonesia saja? Bukankah masih banyak tempat menarik di Indonesia. Benar, di Indonesia masih banyak tempat menarik, berlimpah malah. Sesudah berkeliling Jawa, Sumatera, dan akan ke paparan Sunda Kecil di selatan sana, aku berpikir bahwa Indonesia layak dijelajahi dengan perjuangan, bukan liburan semata. Dengan jarangnya harga murah ke daerah terpencil, membuat perjalanannya harus direncanakan dengan baik. Kalau tempatnya memang impianku, aku rela menabung untuk ke sana. Memang Indonesia hanya untuk yang berani. Yang mau jatuh bangun dalam transportasi umum antar pulau, terguncang-guncang dalam pesawat kecil, namun sebanding dengan potensi keindahan yang tersembunyi nanti.

Sementara keluar negeri, bisa dibilang dengan sistem transportasi yang baik bisa tercover dengan sistem tiketnya Skyscanner yang akan kumenangkan nanti. Tiket yang kumenangkan bisa berkeliling naik kereta maupun pesawat untuk ke bagian-bagian India yang bagus. Kalau ke luar negeri bisa dengan cara yang lebih murah, kenapa mesti mahal? Selama ini toh aku ke luar negerti selalu karena hadiah atau tiket promo. Kalau di dalam negeri, bayar mahal pun harus rela, karena tak ada pilihan transportasi. Untuk menjaga keindahannya juga sih, sehingga tidak perlu berbondong-bondong orang datang karena murah.

Nah kan, sudah dibilang dari awal kalau aku hobi bercerita. Panjang ceritanya. Jadi jangan ragu deh, untuk membantuku pergi ke India. Buka tautan ini dan klik PILIH, lalu masukkan alamat emailmu. Selain itu, kamu juga bisa ikut kompetisi menulis tips perjalanan yang berhadiah tiket sebesar 5.000.000 rupiah setiap minggunya.

PILIH : TINDAK TANDUK ARSITEK DI SKYSCANNER BLOSCARS AWARDS 2014!

Hujan gerimis di depok. 10.02.14. 03:55 AM
[photo kolase by firsta @discoverurindo]

Advertisements

7 thoughts on “The road to skyscanner bloscars travel award 2014 : VOTE ME!

  1. eloratour says:

    Duh, nggak mau milih …
    Tapi Blogger ini penyuka Balada Si Roy Gol A Gong, jadi ingat cerita Roy perjalanan ke India yang kelabu .. hiks,

    Mau nggak milih,
    Tapi blogger ini cinta Wisata Dalam Negeri …

    Terpaksa deh .. 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s