tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

cover-sunyaragi

“Ngapain ke Goa Sunyaragi, kan cuma batu doang,” begitu kata salah seorang kerabat yang aku tinggali ketika aku pamit hendak ke situs bebatuan di selatan Cirebon itu. Seandainya ia tahu, bahwa keponakannya ini memang tergila-gila pada batu dengan ukuran besar, apalagi Goa Sunyaragi adalah salah satu tempat yang menggoda untuk ditilik, karena susunan batu-batunya yang membentuk ruangan-ruangan bak istana. Gunakan daya khayal secukupnya, dan jadikan dirimu seorang puteri.

Berada tak jauh dari terminal Harjamukti, Goa Sunyaragi bisa dicapai dengan kendaraan umum hingga tepat di depannya, atau dengan kendaraan pribadi. Pertama tiba aku celingukan mencari di mana pintu masuknya karena dikelilingi oleh pagar, sampai seorang petugas memanggilku untuk mendaftar dulu di satu pendopo. Dengan harga karcis sebesar Rp. 8000/orang, bebas berkeliling lingkungan situs yang cukup rapi ini. Bisa juga menggunakan pemandu, sih. Tapi karena mau agak lama, jadi aku hanya menguping sedikit-sedikit dari pemandu di rombongan depan.

Aku tadinya berpikir bahwa ini adalah goa alam seperti yang pernah aku kunjungi. Namun dugaanku salah, situs yang bernama lengkap Taman Goa Sunyaragi ini adalah situs budaya yang dibangun pada tahun 1703 di masa pemerintahan Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati dan digunakan sebagai tempat bertapa raja-raja. Nama Sunyaragi sendiri berasal dari kata “sunya” yang berarti sepi dan “ragi” yang berarti raga. Memang, jaraknya cukup jauh dari Keraton Kasepuhan (di zaman itu, agak lumayan jauh naik kuda), dan mungkin dulu suasana di sini cukup sepi. Dan uniknya, arsitek yang membangun Goa Sunyaragi itu seorang Tionghoa, yang diduga dimakamkan di sekitar sini juga.

Benar, hening seketika menyergap ketika memasuki situs pertama, Bangsal Jinem. Pola jejak dari susunan goa ini seperti memasuki istana. Disambut dengan Goa Pengawal dan kolam di kanan dan kiri, dibelah oleh jalan lurus menuju Bangsal Jinem yang merupakan gerbang awal tempat raja memberikan perintah kepada para pengawalnya. Ketika mencoba memasuki ruang di Goa Pengawal, tinggi atasnya hanya setinggi badanku. Hmm, mungkinkah penjaga di zaman dahulu hanya setinggi mungilnya aku?

goa pengawal

goa pengawal

sisi dalam goa pengawal

sisi dalam goa pengawal

sumur pembasuh

sumur pembasuh

Di Bangsal Jinem, terdapat ruangan-ruangan seperti layaknya istana tempat tinggal sementaranya seorang pimpinan. Sesudah melewati lorong di baliknya, gelap gulita langsung membutakan mata, beradaptasi dari sinar yang terik itu masuk ke ruang gelap, karena dialing-aling oleh dinding. Mungkin di zaman dulu keadaan ini untuk menciptakan keheningan kala bertapa.

Tembus ke bagian belakangnya, terdapat pendopo dengan vista langsung ke taman bagian dalam dan situs goa yang tersusun dari batu-batu karang membentuk relief-relief tertentu. Ketinggiannya bervariasi mengikuti lekak-lekuk batu karangnya. Ada pohon di tepi kolam yang sedikit memberi kesejukan di panas kota Cirebon yang menggigit.

air di kiri dan kanan bangsal jinem

air di kiri dan kanan bangsal jinem

bangsal jinem memiliki bentukan seperti singgasana raja

bangsal jinem memiliki bentukan seperti singgasana raja

Taman ini adalah batas antara antara bagian pesanggrahan (bangsal Jinem) dengan area goa. Goa Pawon dan Goa Simanyang masih berada di pelataran ini. Goa-goa kecil ini dulu digunakan oleh pelayan-pelayan raja untuk memenuhi kebutuhan selama bersemadi. Karang-karang ini berada di bukit-bukit rendah, menyatu dengan lekak-lekuknya, namun menjadi ruang-ruang tersendiri.

goa pawon, tembus ke area luar

goa pawon, tembus ke area luar

goa simanyang, menyaru dengan perbukitan

goa simanyang, menyaru dengan perbukitan

dinding karang di samping bangsal jinem

dinding karang di samping bangsal jinem

gapura bentar, dari luar menuju area taman pesangggrahan

gapura bentar, dari luar menuju area taman pesangggrahan

Di seberang area pesanggrahan dibatasi oleh kolam, terdapat Goa Peteng yang di bagian pintu masuknya terdapat patung Perawan Sunthi, memiliki legenda jika seorang gadis memegang patung tersebut, bisa berat jodoh. Nah, hati-hati, ya. Karena areanya sempit, bisa jadi tidak sengaja terpegang, lho.

tepat sesudah menyeberang kolam di kiri kanan ada patung berbentuk lingga, bernama perawan sunthi

tepat sesudah menyeberang kolam di kiri kanan ada patung berbentuk lingga, bernama perawan sunthi

patung perawan sunthi

patung perawan sunthi

Memasuki bagian dalam goa ini sangat menyenangkan, seperti bermain-main dalam labirin. Namun karena lorong-lorongnya yang agak sempit, untuk yang berbadan ekstra harus agak berhati-hati di dalam. Hmm, mungkin badanku yang nggak gede-gede ini karena aku keturunan Cirebon yang kecil-kecil ini? Melintasi dalam lorong, naik dan keluar lagi, dengan tangga-tangga di dalam goa untuk mendaki hingga ruangan di atas. Di dalamnya sangat tercipta kesan sakral dan hening, berjalan pelan dan hati-hati, hingga titik tertinggi. Ruang-ruang di dalamnya ini yang menjadi tempat bertapa sultan-sultan dari Keraton Kasepuhan.

menara di atas goa peteng

menara di atas goa peteng

ada jalan-jalan di dalam goa ini

ada jalan-jalan di dalam goa ini

terus naik sampai puncak

terus naik sampai puncak

pemandangan dari atas, baru karang menghampar

pemandangan dari atas, baru karang menghampar

sepertinya daerah sini adalah area pemandian

sepertinya daerah sini adalah area pemandian

Di sebelah Goa Peteng terdapat patung gajah yang dibangun dari rangkaian batu karang. Cantik sekali! Di dinding luarnya juga ada relief manusia dan ular yang tersusun dari bebatuan karang ini. Jika berdiri dari bukit di sebelah atas Bangsal Jinem, gunungan batu karang ini terlihat indah dengan latar Gunung Ciremai di kejauhan. Perlambang-perlambang ini pasti memiliki makna tersendiri untuk yang membangunnya dulu.

patung gajah dari karang

patung gajah dari karang

gajahnya masih bisa dijangkau

gajahnya masih bisa dijangkau

bagian belakang goa peteng

bagian belakang goa peteng

Di balik Goa Peteng, ada situs tambahan lagi yaitu Taman Candrasengkala yang dikelilingi oleh parit dalam, dan memiliki gapura yang mirip dengan Candi Bentar. Situs ini juga dibangun dari batu-batu karang, namun bertingkat-tingkat dengan ruang di dalamnya yang juga cukup sempit. Ruangan ini bisa dimasuki dengan berputar melalui lorong-lorong di belakangnya, juga didaki sampai atas. Walaupun bisa dipanjat dari depan, namun rasanya tidak sopan dan hormat juga di sini.

Sebenarnya, waktu paling bagus untuk ke sini adalah sore hari atau pagi hari, ketika udara tidak terlalu panas lagi, karena udara di Cirebon ketika siang, luar biasa panasnya. Pagi, ketika matahari baru muncul di balik Gunung Ciremai mungkin bisa dicoba sebagai latar yang menawan. Nah, dua kali aku ke sini, keduanya hingga tengah hari, sehingga membawa minum yang banyak dan kacamata hitam sangat wajib. Tapi tidak terlalu melelahkan, karena situs ini tidak terlalu besar.

taman candrasengkala

taman candrasengkala

candrasengkala dari depan

candrasengkala dari depan

bagian belakang candrasengkala

bagian belakang candrasengkala

Sebenarnya banyak hal yang bisa menjadikan Taman Goa Sunyaragi ini menjadi potensi wisata unggulan di Cirebon. Keunikan batu-batu karangnya ini, cerita tentang kegiatan di dalamnya di masa dulu, bisa menjadi hal yang menarik wisatawan mancanegara juga untuk datang ke sini. Apalagi kalau didahului dengan mengunjungi keraton-keraton yang juga memiliki petilasan batu karang juga. Seandainya ditambahi dengan brosur yang memberikan sedikit penjelasan lokasi, pasti tempat ini tak akan kalah dengan situs-situs di Jawa Tengah, misalnya candi Ratu Boko.

Kalau festival-festival kebudayaan bisa dilaksanakan di satu panggung buatan di depan lebih menarik massa, dan juga lebih meningkatkan kebanggaan masyarakat Cirebon akan peninggalan kotanya yang sangat unik ini. Ah, semoga taman ini dirawat lebih hijau dan lebih rapi, dengan air-air sebagai penyeimbang kerasnya batu.

Tapi, terlalu ramai juga tidak nyaman, ya?

Yang masih jadi pertanyaanku, batu karang itu dari mana? Pesisir Cirebon tidak mengandung terlalu banyak karang.

gapura bentar, menghadap ke pelataran pertunjukan

gapura bentar, menghadap ke pelataran pertunjukan

Sunyaragi Cave Park located near Harjamukti Terminal at Cirebon. Here you can find a cultural site which build from some reef stone. I still wonder why this type of rocks can be arranged so that it becomes a building with a function as a place for meditation kings of Cirebon in the past. Sites whose full name is Park Goa Sunyaragi cultural site was built in 1703 in the reign of Prince Kararangen, ancestry of Sunan Gunung Jati and used as a place for meditation kings. Sunyaragi name itself comes from the word “sunya” meaning quiet and “raga” which means the body.

The first site is Bangsal Jinem along with Goa Pengawal in front of the divided the two pools. Inside are rooms like a temporary palace residence of a leader. After passing through the hallway behind it, darkness was immediately blinded, adapted from the scorching rays into the dark room, because hiding by a wall. Maybe in the old days this state to create silence.

Through to the rear, there is a pavilion with a direct vista onto the garden and the inside of the cave sites are composed of rocks forming certain reliefs. The altitude varies follow-dent pits, through its coral reef. The main building of this cave area is Goa Peteng that at the entrance there is a statue of the Virgin Sunthi, has a legend if a girl holding the statue, can be severe mate.

On the side there is a statue of an elephant Goa Peteng constructed from a series of rock. Very beautiful! On the outer walls there is also a relief of man and snake is composed of rocks. If you stand on the hill at the top of Bangsal Jinem, this rock mountains look beautiful against Ciremai Mountains in the distance.

Behind Goa Peteng, there are additional sites again that Candrasengkala park surrounded by a moat, and has a gate similar to Bentar Temple. The site is also built on the rocks, but stratified with space in it which is also quite narrow.

Actually, many things that could make this Goa Sunyaragi park as leading tourist potential in Cirebon. The uniqueness of this coral stones, stories about the activities in ancient times, could be an interesting thing for foreign tourists to come here. Especially if it was preceded by palaces visit earlier which also has coral rock too. If completed with a brochure that gives little explanation of the location, this place definitely will compare to some sites in Central Java.

inside the cave park

inside the cave park

during clear weather, suppose to see mount ciremai behind

during clear weather, suppose to see mount ciremai behind

tentang keraton-keraton di Cirebon :
keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana.
keraton kanoman : tetap putih di tengah keramaian.
keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga

cerita-cerita Cirebon :
cirebon : mudik dan perut yang manja
solo traveling at cirebon | bersendiri di kota udang

Advertisements

57 thoughts on “tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

  1. Noe says:

    Klo liat gapuranya doang, sekilas kayak Bali ya. Ngga nyangka euy ternyata di Cirebon.

    Dan itu batu2nya ya ampuun cantiik sekali. Pingin kesitu ah kpn2. Ini baru tau soal Sunyaragi aku, katrok ya :))

    • indrijuwono says:

      gapura bentar ini khas kerajaan hindu mataram sebelum Islam masuk, kak. ini ciri khas cirebon, karena di gerbang-gerbang masuk bangunan di kota cirebon banyak pakai gapura ini. yuk, cirebon deket ini…

      • darsonogentawangi says:

        wah, saya belum pernah merasakan mudik mbak…. sekolah, kuliah, kerja selalu di banyumas… hihihihiy…
        Semoga suatu saat bisa kesana… ada temanku juga yg tinggal di Cirebon…
        hehehe……

      • darsonogentawangi says:

        wah, kebetulan nich…. tahun depan ada program piknik naik kereta sama isteri…
        masih bingung mau kemana… Yogya, Bandung atau mana…
        wuihh…. Cirebon kayaknya bakalan asuk calon destinasi nich…
        🙂

      • darsonogentawangi says:

        Iya mbak… kotanya relatif tenang… #jarang ada demo.. hihihiy…

        Kotanya kecil mbak (Purwokerto) tapi megasyikkan.. ya itu, selain tenang fasilitas pendidikannya juga bagus… Geliat ekonominya juga…. SOALNYA Purwokerto itu kota jasa…..
        jarang ada pabrik…. tidak seperti di Cilacap atau Purbalingga 🙂 so, udaranya lumayan bagus …
        Ya hanya saja, ini menurut saya sih, mungkin beberapa tahun lagi bakalan ada banjir disana… Tata kotanya itu lho… hadeuhhh… ini sih menurut saya 🙂

        Kalau saya kebetulan tinggal di tepi sungai Serayu 🙂
        Dari ruang keluargaku saja sungai itu kelihatan…
        kampung mbak… tapi dekat dengan kota lama BANYUMAS… Kota lama dg puluhan gedung tua…. Kota yg dulunya merupakan cikal bakal Kadipaten Banyumas…

      • indrijuwono says:

        wah, asyik. aku baru pernah lewat aja, kak, sekali jalan darat. tapi lebih serringnya naik kereta, itu pun tengah malam. kapan-kapan kalau ada kesempatan main ke situ dan melihat air terjun kuning, ya…

      • darsonogentawangi says:

        air terjun/curug disini banyak banget mbak…
        yang lagi trend itu namanya CURUG NANGGA…
        iya mbak sini… asyik lho…
        🙂

      • Arif Wibowo says:

        Iya nanti berkunjung ke postingnya yang lain. Pengin juga motret di Sunyaragi….dari Jakarta naik KA ke Cirebon trus motret Sunyaragi cukupkah waktunya…bagaimana caranya?

      • indrijuwono says:

        Bisa banget. Naik exa/bisnis dari stasiun Kejaksan lalu jalan kaki sampai alun-alun terus naik angkot D6 tujuan terminal Harjamukti, Nanti kalau sudah sampai by-pass minta turun di goa Sunyaragi.

  2. Muhammad Akbar says:

    Bebatuannya unik banget yah,
    dulu waktu ke cirebon gak sempat wisata sejarah seperti ini.
    cuma sempati wisata kuliner menikmati nasi jamblang.

    mungkin harus ke cirebon lagi dan mengunungi tempat ini.

  3. Fahmi (catperku) says:

    Pertanyaanku sama, batu karangnya itu dari mana? terus dari dulu memang dibuat dari batu karang gitu ya? Jadi penasaran 😀 Jakarta cirebon naik bus lama nggak ya? Lebaran ini nggak kemana – mana, kayaknya cirebon salah satu yang kepikiran buat dicoba dateng 😀

  4. Dita says:

    Pernah ke sini kak, tapi sayangnya pas lagi gerimis. Jadi gak puas deh explore-nya. Mau banget diajakim keliling cirebon sama yang ngerti banget Cirebon giniiii….abis lebaran yuk kaaaak :3

  5. Walter Pinem says:

    yahhh baru kemaren dari cirebon, telat nih baca artikel ini. keren banget itu bangunannya, unik. foto2nya keren kak 😀

  6. fauziamir says:

    Kerennn…. apalagi batu-batunya…, bikin saya semakin cinta sama batu saja…, bisa jadi tempat yang must visit kalau ke cirebon.. tapi pertanyaannya.. kapan yah saya ke cirebonnya ?? hahah

  7. Gara says:

    Pertama tahu situs ini dari acara TV yang berbau supranatural, dan kalau saya tak salah ingat, tempat ini beraura sangat positif.
    Mungkin gerbang Goa Pengawal sengaja dibuat rendah supaya orang yang akan masuk ke sana harus menunduk sebagai tanda hormat?
    Pertanyaan saya sih sama dengan kakak-kakak di atas, ini koralnya dari mana, ya? Terus satu lagi, kalau Mbak pergi sendirian, lalu yang mengambil fotonya Mbak itu siapa, dong…
    Itu patung Perawan Sunthi pasti ada legendanya. Jadi penasaran, euy. Ajakin ke sana dong Mbak… :hehe.

    • indrijuwono says:

      Nggak koq Gar, aku nggak pergi sendirian ke Goa Sunyaragi ini. Lha Cirebon itu kan kota kelahiranku. Banyak yang bisa digeret di sini (tapi susah). Nah kan.. Koral itu dari mana, kann???
      Belum sempet ngulik Perawan Sunti itu.

      • Gara says:

        Oh iya, kan kampung halaman… :hehe. Kayaknya cuma saya yang meski di kampung halaman juga ujung-ujungnya pergi sendiri :hehe.
        Kalau cowok yang memegangnya, apa yang akan terjadi?

  8. BaRTZap says:

    Udah lama pengen mengunjungi situs satu ini, sayangnya belum juga kesampaian. Terakhir kali waktu road trip pulau Jawa pun, cuma sekedar lewat, padahal dua hari singgah di kota udang ini. Mungkin ditakdirkan untuk balik lagi ke Cirebon kayaknya nih. Btw, itu patung Perawan Sunti nya ada penandanya gak? Kalau gak sengaja terpegang khan bisa gawat 🙂

  9. Suryati Zamzam says:

    Indri, masih inget saya gak dri….gambar dan ceritanya oke banget…ma kasih sudah post tentang gua Sunyaragi, tempat main aku waktu masih kecil. Gua ini favorit anak-anak tahun 1973-1980-an ketika lebaran untuk mengisi liburan.

    Entah informasi yang kudapat dulu salah atau informasi sekarang yang berbeda karena Gua Peteng yang Indri jelaskan dalam artikel ini dulu kami menyebutnya Gua Padang Ati karena memang tidak terlalu gelap. Saya sering masuk gua ini dan berusaha untuk tidak memegang perawan sunthi hingga sampai ke menaranya. Sedangkan Gua Cendrasengkala itu dulu kami menyebutnya Gua Peteng, karena terkenal sangat gelap, waktu saya kecil dulu hanya gua inilah yang tidak berani saya masuki, karena terlalu gelap dan ada banyak cerita didalamnya yang cukup menyeramkan untuk anak kecil seusia kami dulu.

    Bangsal Jinem juga dulu tidak ada, atau tidak seperti yang terlihat dalam gambar disini. Bangsal ini mulai ada ketika saya kelas 6 SD atau sekitar tahun 1981 atau lebih ketika ada pemugaran gua Sunyaragi. Kalau diperhatikan lebih teliti maka akan terlihat batu dan bata yang menyusun bangsal Jinem ini berbeda dengan gua padang ati dan gua peteng (atau gua peteng dan cendrasengkala versi sekarang).

    Apapun itu terima kasih banyak untuk Indri…kapan kita bisa jumpa lagi…?

    • indrijuwono says:

      wah, makasih banyak infonya mb Suryati. Waah, tentu saja saya ingat teman lama di Cirebon. Sudah lama nggak ketemu ya kita. Itu sebagian datanya aku juga hasil nyari info kiri kanan, tapi ternyata mb Suryati lebih kumplit nih yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s