arsitek desa dari rumah intaran

cover

Namanya Gede Kresna. Aku mengenalnya sejak masa kuliah dulu di Arsitektur UI, ketika presiden kami masih sama-sama Suharto. Kresna, begitu ia biasa dipanggil, dua angkatan di atasku, masih suka main bareng karena di jurusan kami yang hanya berisi 50-an orang per angkatan ini, antar angkatan tidak ada senjang melainkan akrab. Apalagi aku punya satu sahabat, Ida Ayu Trepti Pratiwi, yang juga sama dengannya berasal dari Bali, sehingga sering mengikuti obrolan mereka yang kebali-balian.

Tengah tahun lalu dalam perjalanan ke Bali aku kembali bertemu dengannya. Setelah sekian bulan aku ingin sekali berkunjung ke Rumah Intaran, tempat Kresna tinggal bersama istri dan kedua anaknya, yang berada di kawasan Singaraja, Bali Utara. Rumah Intaran adalah ruang bekerja sekaligus tempat belajar dan berkreasi. Membaca status-status yang ditulis Kresna di facebook, selalu menerbitkan keinginan untuk bertukar pikiran dengan arsitek yang kembali ke alam ini. Seperti ini statusnya beberapa jam yang lalu :

Continue reading

Advertisements

antara sumber daya alam dan lingkungan binaannya

tambang kaolin, belitong

tambang kaolin, belitong

Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?

[Bumi Manusia ~ Pramoedya Ananta Toer]

Aku pernah satu kali berkunjung ke tambang di Belitong, yaitu tambang kaolin yang berada tak jauh dari bandar udara Tanjung Pandan. Tambangnya terdiri dari gunung serpihan kaolin putih yang kelak digunakan sebagai bahan baku bahan pecah belah. Di tepi gunungan itu ada danau besar berwarna hijau toska. Menilik dari warnanya, sepertinya danau ini mengandung belerang yang berkonsentrasi cukup tinggi.

Sebenarnya kunjunganku ke Belitong juga ingin melihat lubang-lubang bekas galian timah yang banyak bertebaran tampak dari udara. Aku sering berpikir, kalau sudah digali, lalu lubang itu dibuat apa? Bukankah seharusnya dikembalikan lagi pada kondisi aslinya? Aku tahu, bahwa hasil tambang logam bukanlah makhluk hidup yang bisa memperbarui dirinya sendiri apabila habis. Timah yang menjadi salah satu sumber daya alam utama di sini lama kelamaan akan habis untuk memenuhi kebutuhan industri.

Di museum yang aku lihat, di tambang yang amat luas terdapat ratusan pekerja yang melakukan proses penggalian. Sebagian pekerja dirumahkan di sekitar lokasi pertambangan, dan beberapa yang pejabat memiliki rumah dinas yang lumayan. Di film Laskar Pelangi ditunjukkan bahwa ada perbedaan sekolah antara anak-anak PN Timah dan yang bekerja biasa. Melihat ini aku menjadi miris. Kenapa harus dibedakan sekolahnya? Bukankah penduduk asli adalah mereka yang seharusnya bisa menikmati sumber daya alam di pulau mereka sendiri? Karena kerakusan teknologilah maka industri menjadi banyak meraup kandungan logam di daerah ini.
Continue reading

a temporary life in singapore

145

I do not think that when in a hotel you have to feel “at home”, on the contrary, you have to get the feeling that you are definitely elsewhere…
― Aurelio Vazquez Duran

Grand Mercure Roxy Hotel yang berdiri tahun 1999 ini menjadi tempat tinggalku selama di Singapura bersama trip dari Skyscanner. Dinding luarnya dari cat tekstur warna merah keunguan berpadu dengan krem dan deretan jendela, menjadi bentuk yang cukup umum dan khas di tahun pembangunannya itu. Sesuatu yang dikatakan post modern di masa itu. Namun demikian, suasananya di tengah pemukiman menjadikannya nyaman dan hangat dengan pergerakan yang tenang, bukan arus lalu lalang yang terlampau cepat. Pepohonan rindang menaungi sekitarnya, sehingga di luar hotel pun merasa sejuk.

Dari bandara aku dijemput dengan shuttle bus khusus untuk hotel ini, ke lokasi yang terletak di East Coast Singapore. Aku memasuki lobbynya yang lumayan besar dan luas. Terdapat dua komputer Apple di sudut untuk keperluan tamu selama menunggu. Resepsionisnya yang ramah akan melayani di belakang konter panjang berlapis HPL dengan urat kayu. Satu kafe kecil terdapat di sudut yang lain dengan sofa-sofa empuk untuk menunggu sambil mencoba makanan dan minuman ringan.
Continue reading

a library walk at singapore

 kanopi utama

entrance

I have always imagined that Paradise will be a kind of library
~ Jorge Luis Borges

Sejak mengerjakan Perancangan Arsitektur 5 semasa kuliah mengikuti prinsip desain Ken Yeang, aku selalu bermimpi bisa mengunjungi bangunan karyanya yang berprinsip bioclimatic ecodesign. Ken Yeang, arsitek berkebangsaan Malaysia ini, selalu menerapkan konsep bangunan hemat energi, dengan memanfaatkan sinar matahari yang berlimpah di negara-negara tropis ini. Setelah gagal mengunjungi Menara Mesiniaga di Kuala Lumpur karena hujan deras di kunjungan beberapa bulan sebelumnya, ternyata saat ini kesempatanku adalah mengunjungi National Library of Singapore, yang berlokasi di daerah Bras Basah, hanya 5-10 menit berjalan kaki dari National Museum of Singapore dan Singapore Art Museum.
Continue reading