terres des hommes : melihat dunia dari udara Antoine de Saint-Exupéry

IMG_20140821_191230

Setiap perjalananku bermula, sejak lepas landas aku memasrahkan diriku pada langit. Pada birunya atmosfer dan awan-awan yang berarak. Aku paling suka duduk di tepi jendela, memandang keluar, memperhatikan bangunan di bawah sana yang perlahan mengecil, memandang arus sungai yang berkelok, danau-danau yang tampak seperti pecahan genangan, pepohonan seperti gerumbulan hijau, gunung-gunung yang dikitari awan tipis, tepian garis pantai yang kontras dengan birunya laut, kapal-kapal yang menuju daratan, hingga cuma biru di sekeliling.

    Namun aneh sekali pelajaran geografi yang kuterima waktu itu! Guillaumet tidak memberi pelajaran tentang Spanyol kepadaku; ia menjadikan Spanyol sahabatku. Ia tidak membicarakan hidrografi ataupun penduduk, bukan juga binatang ternak. Ia tidak berbicara tentang kota Guadix, tapi tentang tiga pohon jeruk dekat Guadix sepanjang sebuah ladang : “Waspadalah kepada pohon-pohon jeruk itu, tandai pada peta…” Dan sejak itu, pada petaku, pohon jeruk menempati tempat lebih penting daripada Sierra Nevada. Ia tidak berbicara tentang kota Lorca kepadaku, tapi tentang rumah petani dekat kota Lorca. Tentang sebuah rumah petani yang hidup. Dan tentang para petaninya. Dan tentang para petani perempuannya. Dan pasangan itu, yang entah berada di mana, seribu lima ratus kilometer dari kita, memiliki peranan yang luar biasa pentingnya. Mereka tinggal dengan nyamannya di lereng gunung, seperti penjaga mercu suar, dan di bawah naungan bintang-bintang, mereka selalu siap menolong manusia. (h.16)

Satu malam ketika aku mengangkasa membelah gelap, lepas dari bandara Minangkabau, meninggalkan lampu-lampu sepanjang jalur lepas landas, mulai menjauh dari daratan. Tak lama yang terlihat hanya lampu-lampu kota, kemudian kerlip samar di perbukitan, sampai menembus awan dan tak ada cahaya lagi yang nampak. Cuma gelap di luar jendelamu. Lalu tiba-tiba gemuruh terdengar dan pesawat mulai terguncang. Lampu kabin dimatikan dan kami semua harus menggunakan sabuk pengaman. Mengintip keluar jendela hanya lampu-lampu pada sayap dan sesekali terang di ujung sana oleh petasan kilat. Yang bisa dilakukan hanya berdoa.

    Jadi perlahan-lahan aku meninggalkan matahari. Aku meninggalkan dataran keemasan yang terbentang luas yang akan menyambutku manakala terjadi kerusakan… Aku meninggalkan patokan-patokan yang mungkin menunjukkan jalan kepadaku. Aku meninggalkan lekukan-lekukan gunung di langit yang memberitahuku kalau ada bahaya. Aku memasuki malam. Aku terbang. Yang tersisa untukku hanyalah bintang-bintang…

    Kematian bumi itu terjadi perlahan-lahan. Dan sedikit demi sedikit pula aku kehilangan cahaya. Bumi dan langit menyatu perlahan-lahan. Bumi naik dan seolah-olah seperti asap. Bintang-bintang pertama bergetar seperti dalam air hijau. Masih harus menunggu lama sebelum mereka berubah menjadi intan yang keras. Aku masih harus menunggu lama sebelum dapat menyaksikan permainan bintang jatuh yang sunyi. Di tengah malam-malam tertentu, aku telah melihat begitu banyak percikan beterbangan seolah-olah ada embusan angin besar di antara bintang-bintang. (h.134)

Antoine de Saint-Exupéry adalah seorang pilot berkebangsaan Perancis yang bertugas awal sebagai pilot pesawat pos yang terkenal dengan bukunya Le Petite Prince. Ia lebih bercerita tentang pengalaman batinnya ketika melintasi Sahara, yang banyak memakan korban pesawat di masa itu atau pengalaman sahabatnya menyelamatkan diri di tengah pegunungan salju di Andes. Ia berkisah tentang manusia-manusia yang ditemuinya, tentang karakter, perbedaan, cara pandang. Orang-orang yang terkadang memandangnya musuh, atau teman. Namun sebagai pembawa pesawat pos, dirinya selalu ditunggu, dianggap pembawa kabar dari seberang.

    Jadi kami mengajak mereka terbang, dan begitulah tiga orang di antara mereka sempat mengunjungi Prancis yang tidak mereka kenal. Mereka termasuk ras yang sama dengan orang-orang, yang ketika pergi ke Senegal denganku, menangis melihat pepohonan.

    Ketika aku mengunjungi mereka kembali di tenda, mereka bercerita mengagumi gedung pertunjukan musik di mana perempuan-perempuan telanjang menari di antara bunga-bungaan. Laki-laki itu, yang tidak pernah melihat pohon, air mancur, atau bunga mawar, hanya tahu melalui Quran adanya taman tempat mengalir sungai-sungai karena begitulah digambarkan surga. Bagi mereka, surga dengan isinya yang cantik-cantik hanya dapat dicapai melalui kematian pahit di atas pasir oleh tembakan seorang pengkhianat, setelah menjalani tiga puluh tahun kesengsaraan. Tetapi Tuhan mengecewakan mereka, karena telah menganugerahkan semua kekayaan itu kepada orang Prancis, tetapi tidak mengharuskan mereka untuk menebusnya dengan kehausan atau kematian. Itulah sebabnya para kepala pasukan yang sudah tua itu kini bermimpi. Itulah sebabnya seraya mengamati Sahara yang terbentang, kosong, di sekeliling tenda mereka dan yang sampai mereka mati hanya memberikan kesenangan sedikit sekali, mereka mencurahkan isi hati :

    “Kau tahu… Tuhan orang Prancis… Ia lebih murah hati kepada orang Prancis jika dibandingkan Tuhan orang Moor kepada orang Moor!” (h.100)

Melihat dunia dari atas sebenarnya tak jauh beda dengan kita yang menyusurinya lewat roda. Hanya sesuatu yang datang dari atas terkadang lebih didewakan, dianggap lebih istimewa. Masih ingat film God Must be Crazy ketika adegan terlemparnya botol Coca Cola dari pesawat dan disambut dengan banyak pertanyaan ‘apakah ini?’ oleh yang menemukannya di bawah? Seandainya botol itu tiba melalui dunia yang lebih horisontal, mungkin akan lebih lambat dan lebih mudah pengertian akan dicapai.

Pertanyaan tentang hidup, ketika batas antara hilang dan kematian begitu tipis, tentang harapan yang terus dipupuk selama berhari-hari terdampar jatuh di gurun pasir, mencari oase-oase yang kadang semu di antara pilihan untuk melanjutkan atau bertahan ditemukan. Bergerak sambil terus meninggalkan jejak atau pasrah ditelan udara panas yang bisa membuat gila. Cerita panjang tentang melintasi pasir yang menyesatkan hanya dengan bantuan kompas, tanpa tahu di mana mereka sebenarnya dalam peta panduan yang mereka bawa.

Setiap tempat adalah satu titik istimewa di peta, yang punya cerita sendiri dari siapa yang pernah membuat jejaknya. Bisa terkenang akan pepohonan yang berbuah ranum, bisa tentang jalan berkelok yang berdebu, bisa tentang guncangan di udara, atau gadis-gadis cantik yang menggetarkan hati, bahkan sekadar perasaan bangga pernah tersesat dalam satu pecahan ombak. Bahkan tidak punya rasa atasnya pun tidak menjadi masalah. Hidup memang bagian dari perjalanan. Safe flight.

Terres des Hommes : Bumi Manusia (1939)
Antoine de Saint Exupery
Gramedia, 2011. 224 halaman.

[tanah abang-depok. 21 agustus 2014. 19:59]

Advertisements

2 thoughts on “terres des hommes : melihat dunia dari udara Antoine de Saint-Exupéry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s