tourism & community development : mempertahankan lokal

DSC_0230

Apakah masyarakat di tempat yang didatangi selalu senang dengan adanya pengunjung?
Apakah kehadiran kami mengganggu derap kehidupan mereka?
Apakah mereka menganggap kami sebagai penonton saja?

Seringkali pikiran demikian ditepiskan ketika melihat senyum mengembang di wajah mereka. Indonesia sangat terkenal sebagai negara yang amat ramah, selalu memberikan wajah ceria untuk pendatang yang mengunjungi daerah mereka. Tidak sedikit wajah-wajah ceria mewarnai hasil-hasil foto anak-anak Indonesia. Sehingga seolah-olah mereka memang terlihat selalu gembira dengann adanya pendatang (baca : turis).

Masyarakat di sekitar tempat wisata adalah orang-orang yang paling terkena dampak dari pelaku pariwisata. Merekalah yang memiliki tempat indah, kemudian dikunjungi, kemudian terpublikasikan, kemudian dikunjungi lagi, lalu menerima dampak negatif dan positifnya dari aktivitas wisata di situ. Memang sudah seharusnya bahwa wisata itu dikelola oleh penduduk sekitarnya sendiri, bukan oleh orang luar yang ujug-ujug datang dan mengambil keuntungan dari keindahan ini. Apalagi jika tempat wisata itu adalah area bertinggal mereka sehari-hari. Pengunjung akan datang dan mengamati bagaimana mereka hidup dan tinggal bersama mereka.
Continue reading

Advertisements

susur tangerang : mulai dengan cisadane

DSC_0002

Sungai menjadi jalan pulangnya ke rumah tak berwadak, tapi ia selalu tahu di mana harus mengetuk pintu.
[Dee – Supernova, Akar]

Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bahwa susur Tangerang-ku akan berawal dengan wisata air begini. Baru dua menit tiba di bantaran sungai, duo blogger karib kak Tekno Bolang ‘lostpacker’ dan kak Wiranurmansyah yang setia menunggu sejak pagi langsung mengajakku naik perahu kecil untuk merasakan aliran sungai Cisadane. Aku juga dikenalkan dengan kak Fendi, teman mereka berdua.

Wih, aku meniti lunas kapal tersebut mencari tempat duduk yang paling oke. Meskipun tidak terlalu bisa berenang, tapi aku tidak pernah takut naik perahu. Di perahu ini tidak ada pelampung penyelamat, jadi modal pasrah saja apabila ada apa-apa. Yakinlah kalau tukang perahu ini sudah jago mengemudikan perahunya.

Sebenarnya perahu ini bukan perahu wisata, tapi perahu penyeberangan warga yang ada di sisi barat Cisadane ke area keramaian di sisi timur. Ketika berada di perahu, terlihat jelas sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi, berbatasan dengan sungai adalah bantaran kali dengan tanggul beton dan jalan raya. Sementara di sisi barat sungai ini ada deretan pohon bambu dan rumah-rumah penduduk. Air sungai pun langsung ketemu dengan tanah merah tepian. Untunglah rumah-rumah ini cukup berjarak dari sungai, sehingga tidak terlalu sering terkena dampak pasang sungai.
Continue reading

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading

graffiti restaurant : meet the hours

DSC_0587

Love, like a chicken salad or restaurant hash, must be taken with blind faith or it loses its flavor.
Helen Rowland

Perlu 15 menit bagiku untuk menyetir dari persimpangan Lebak bulus di depan PoinSquare dan Carefour untuk sampai di Hotel Mercure, tempat restoran Graffiti berada. Menerima undangan dari kak Olyvia Bendon untuk menemaninya bersantap malam di sana, aku tiba di lobby hotel yang ditata hangat dengan lampu bernuansa kuning. Ada satu pembatas unik dari besi yang bernuansa bulat-bulat dengan jarum jam. Wah, banyak waktu di sini.
Continue reading