kehilangan jejak di melaka

cover

“There is another alphabet, whispering from every leaf, singing from every river, shimmering from every sky.”
― Dejan Stojanovic

Perempuan itu melangkah turun dari bis yang membawanya dua jam lalu dari Terminal Bersepadu Sepadan di Kuala Lumpur. Hujan badai dan banjir di beberapa bagian ibukota negara Malaysia itu membuatnya terlambat berangkat hingga tiba di kota yang terkenal sebagai persinggahan kapal Portugis di masa lalu itu. Ia menguap. Dua orang yang tadi duduk di depannya mengobrol begitu keras hingga ia tidak dapat tidur di perjalanan. Badannya lelah dan ia ingin segera tiba di penginapan yang sudah dipesannya sebulan yang lalu.

Ia berjalan keluar terminal mengikuti arah orang-orang. Dipandangnya peta yang terpampang di ponselnya. Duh, aku sekarang menghadap mana ya? Ia mulai memperhatikan bangunan-bangunan sekitar sambil orientasi arah. Bukan hal yang terlalu sulit baginya.

Dilihatnya seorang gadis Tionghoa di depan terminal. “Hai, do you know how should I get to Jonker Street? tanyanya. Gadis itu tersenyum, “There’s a bus at the afternoon, but now you should go by taxi.”

Jaraknya hanya sekitar 3 km lebih, gumamnya sambil membaca peta. “Is it okay to go by walk?” ujar perempuan itu mengingat hal-hal yang sudah ia baca di beberapa blog. Di situ dituliskan lebih baik berjalan kaki sambil melihat-lihat toko-toko menarik di sepanjang jalan. Tapi ini di atas jam sepuluh malam! “No, it’s quite far..” jawab gadis tadi. Perempuan itu tersenyum, “Ah, thanks. I think I’ll looking around.”

Hmm, pikiran nekatnya muncul. Bagaimana jika ia tetap jalan kaki saja mengikuti arah jalan yang sudah ditunjukkan oleh google-map? Rasanya masih cukup aman. Atau kalau capek, tinggal menyetop taksi saja untuk diantar ke tujuannya.

Ia melangkah keluar terminal dan memandang jembatan penyebrangan yang melintas di depannya bertuliskan MELAKA SENTRAL. Jembatan penyeberangan itu lebar dan terlihat nyaman. Pada jam segini, tak tampak orang lain menaiki jembatan untuk sampai di jalan seberangnya. Tidak hanya satu jalan yang dilintasi, namun juga ada junction ke jalan lainnya di persimpangan empat arah di bawahnya. Satu tiang utama menarik bentang jembatan dengan kabel-kabel baja. Rangka besi menahan struktur atap sehingga orang tidak kepanasan atau kehujanan ketika melintas di situ.

Sesampai di seberang, ia bimbang. Tak ada taksi yang melintas. Malas juga kalau ia harus kembali lagi ke terminal untuk naik taksi. Akhirnya diputuskannya untuk terus berjalan ke selatan mengikuti peta yang bisa ia baca. Hmm, jam segini kotanya sepi juga, ya. Okelah, jalan terus saja, nggak terlalu jauh ini.

Sekitar lima ratus meter ia berjalan, ada taksi melintas dan berhenti. “Taxi?” Dilihatnya dua orang India sudah ada di dalam taksi tersebut. “Nak antar mereka dulu, nanti baru ke Jonker Street,” kata supir taksinya. Perempuan itu menggelengkan kepala. Ia tidak berani.

Ternyata, jalan yang ia lalui untuk berjalan kaki cukup besar, sehingga malam itu jalanan agak terasa sepi. Di seberang ia melihat mal yang baru tutup dan banyak pegawai-pegawainya yang baru pulang. Ia sempat menelepon ke hotel dan meminta mobil jemputan, namun tak ada karena sudah malam. Huff, semoga aman saja. Dirapatkannya jaketnya sambil terus berjalan hingga jembatan yang melintas di atas sungai Melaka. Angin berhembus tidak terlalu kencang.

Selanjutnya ia berbelok ke kiri dan melalui jalan yang lebih kecil. Ada beberapa kedai makanan yang masih buka. Sebenarnya ia sudah lapar, namun keinginan untuk mandi dan berganti pakaian yang sudah lengket dari sejak pagi mempercepat langkahnya berjalan. Memang masih banyak kedai yang buka lagi di jalan yang dilewati. Orang masih ramai bercakap-cakap dan menonton televisi sambil bergosip. Masih liburan rupanya, padahal besok hari Senin.

Akhirnya ia lega ketika memeriksa lokasinya di google map sudah berada di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Ini dia tempat The Baba House, tempatnya menginap malam ini. Jalan ini luar biasa cantik dengan deretan ruko-ruko dengan arsitektur Cina diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalan. Lebar jalannya hanya tiga meter tanpa sempadan, membuatnya harus berhati-hati berjalan di tepi jika tidak ingin dilanggar mobil yang baru pulang dari bar-bar sekitar.

Perempuan itu membuka pintu kaca di bawah ruko bertuliskan The Baba House. Ia langsung jatuh cinta pada arsitektur Tionghoa yang diusung di sini. Salah satu yang membuatnya menjatuhkan pilihan pada tempat ini adalah kekhasan hotel ini. Walaupun harganya agak lumayan untuk ditanggung sendiri, tapi ada pengalaman ruang yang menarik dibandingkan beberapa tempat yang sempat ia lihat.

ruang penerima di the baba house. [foto dari asiarooms.com]

ruang penerima di the baba house.
[foto dari asiarooms.com]

“Sorry for being too late,” sapanya pada Baba penjaga hotel yang menyambutnya. Lelaki berusia 60-an tahun itu meminta uang 50RM sebagai deposit, dan 2 RM sebagai pajak kunjungan. “Is there any food stall around still open?” sambil memelas lapar. Ia menjawab sambil menunjukkan lengan ke arah depan,“Yes, you can take that way, turn left until Jonker Street.”

Kamarnya tidak terlalu luas, namun cukup nyaman. Ada wastafel dengan motif biru Cina di sudut dekat kamar mandi. Ia suka dengan handel kamar mandi yang terbuat dari keramik putih biru pula! Jendela kecil antara kamar dan kamar mandi juga menjadikan pemandangan yang agak unik. Setelah merebahkan badan sejenak, ia mandi lalu berjalan-jalan keluar mengikuti saran Baba tadi.

Musik berdentam-dentam di sepanjang jalanan selebar 3 meter itu ketika memasuki area yang masih cukup ramai. Walaupun tak ada yang dikenalnya di tengah malam itu, namun ia tak merasa takut karena kawasan ini tidak nampak menyeramkan. Meja-meja disusun di jalan dengan beberapa orang yang asik bersenda gurau, bercakap sambil minum bir. Udara sesudah hujan ini juga cukup sejuk, walaupun membuat langit terlihat kelam.

Perempuan itu melintasi jalanan sambil tersenyum ramah pada waiter yang menawar-nawarkan menu padanya. Ia berjalan hingga persimpangan Jonker Street. Karena usai hujan, gerobak-gerobak yang katanya berisi jajanan khas tidak ada. Hanya terlihat satu dua namun tertutup plastik. Tidak terlihat menarik. Apa karena ini malam Senin, sehingga tidak terlalu ramai juga yang berjualan, ya?

Akhirnya ia kembali ke jalan pendek tadi dan duduk di salah satu meja di jalan di depan Restoran Peranakan. Dipesannya seporsi Laksa dan Chocolate Blend untuk mengisi perutnya yang lelah berjalan kaki tadi. Ia memperhatikan sekeliling. Suasana di sini cukup meriah, memang asyik untuk sekadar mengobrol-ngobrol saja. Sayangnya hanya ia yang datang sendirian. Beberapa orang datang dalam kelompok dan asyik mengobrol sendiri. Biarlah, pikirnya. Lagipula ia sudah cukup lelah untuk mulai berkenalan dan bercakap lagi. Satu jam kemudian ia kembali ke Baba House. Penerima tamu tadi sudah tertidur di kursi panjang. Ia masuk ke kamarnya setelah sebelumnya sempat berkeliling melihat arsitektur bangunan ini.

elemen interior cina yang kaya

elemen interior cina yang kaya

Rasa lapar melandanya lagi ketika ia terbangun hampir jam 8 pagi esok harinya. Wah, ia agak kaget karena berarti waktu untuk mengeksplorasi kota semakin sedikit karena ia harus check out pada jam 12 siang. Buru-buru ia mandi, berganti pakaian dan berlari-lari kecil sampai ke Sungai Melaka. Sungai yang menghubungkan kota dengan laut lepas yang kita semua kenal dengan Selat Malaka.

rumah toko, arsitektur khas daerah perniagaan [foto dari : http://specials.malaysia.msn.com/merdeka/whats-the-story-behind-these-streets]

rumah toko, arsitektur khas daerah perniagaan
[foto dari : http://specials.malaysia.msn.com/merdeka/whats-the-story-behind-these-streets%5D

Ya,sampai juga ia di kota yang terkenal di semua buku sejarah Indonesia sebagai pelabuhan transit rempah-rempah dari nusantara menuju barat. Pusat perdagangan dan pangkalan strategis dalam perlindungan selat antara Pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu. Di selat ini juga terjadi Pati Unus dari Demak berani menyerang Portugis yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah pada tahun 1521. Sayang, adipati yang gagah berani itu gugur setelah menderita luka parah.

Ia berpikir untuk mencari sesuatu yang khas di sini untuk mengisi perut. Di tepi jembatan yang melintasi Sungai Melaka, ia melihat Hard Rock Cafe. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya. Di sampingnya ada restoran sederhana yang menyajikan chicken rice ball dan kopi, tulisnya di papan di atasnya. Kedai Kopi Chung Wah, terpampang besar di atap warung kecil itu.

“Rice ball and coffe,” katanya kepada pemilik restoran yang menyapanya dalam bahasa Inggris berdialek Cina yang agak susah ia tangkap. Ia pasrah saja mau disuguhi berapa banyak karena kurang bisa menangkap kata-kata mereka. Matanya berbinar-binar melihat lima bola-bola nasi, satu potong ayam rebus, dan kopi hangat dihidangkan bersama sumpit di hadapannya. Tak lama ia melahap nasi ayam itu dan menyesap kopi hangat yang ditambahi susu kental manis.

Sesudah perutnya terasa kenyang ia berjalan ringan ke arah Stadthuys. Ia sempat mampir kantor pariwisata dan meminta peta sekitar. Yang dituju pertama adalah sebuah gereja dengan turis yang bergerombol di depannya. Eh, rupanya ada seorang pria yang menawarinya dipotret di depan bangunan yang berdiri di tahun 1763 itu.

gereja stadhuys [foto dari : http://www.gomelaka.my/stadthuys/

gereja stadhuys
[foto dari : http://www.gomelaka.my/stadthuys/

Dilangkahkan kakinya menyusuri jalan Laksamana. Sebagian besar bangunan di sini berwarna merah marun agak muda. Kalau dalam skema warna, ia biasa menyebutnya coral red. Gedung-gedung ini sebagian adalah bekas kantor-kantor pelayaran di zaman Belanda, yang sekarang berubah menjadi toko. Sebagai area bisnis, tak ada halaman di depan bangunan-bangunan tersebut, hanya koridor menerus yang dinaungi fascia di atasnya. Bisa dibandingkan dengan banyak kawasan niaga lawas di Jakarta atau Bandung, yang selalu rapat dengan jalan raya.

ornamen yang 'gundul' di belakang gereja

ornamen yang ‘gundul’ di belakang gereja

Ia berputar ke belakang jalan itu dan menemukan banyak kantor pemerintahan di balik ruang bisnis tadi. Ada rumah sakit yang berhalaman cukup luas di sini. Di ujung jalan ia melihat papan larangan merokok di seluruh kawasan Melaka. Berita bagus sekali ini! Tapi ia tidak menemukan dimana tempat yang diperbolehkan untuk orang-orang yang tidak bisa tahan dengan larangan tersebut. Bahkan di jalan, ia menemukan zon dilarang merokok!

smokers don't allowed !

smokers don’t allowed !

Sayang sekali ketika ia tiba di kompleks Stadthuys lokasinya sedang direnovasi. Ia hanya berputar dan mengambil foto mobil pemadam kebakaran untuk dikirimkan pada sahabatnya yang pencinta jenis tersebut. “Museumnya baru buka lagi bulan Maret 2014,” jelas penjaganya. Terpampang jelas di spanduknya : Duka Cita dimaklumkan bahawa Muzium Sejarah dan Etnografi akan ditutup bermula pada 18 Februari 2013 sehingga 16 Februari 2014 untuk kerja-kerja baik pulih. Kami memohon maaf atas sebarang kesulitan yang anda alami.

mobil pemadam kebakaran lawas di teras muzium sejarah

mobil pemadam kebakaran lawas di teras muzium sejarah

jendela krepyak, salah satu penyelesaian suhu udara di daerah tropis

jendela krepyak, salah satu penyelesaian suhu udara di daerah tropis

mendaki meninggalkan muzium yang tutup

mendaki meninggalkan muzium yang tutup

Rupanya jalan berikutnya agak mendaki hingga ia harus mengatur nafasnya. Eh, ia ketemu lagi dengan pria yang tadi memotretnya di depan gereja. “My name is Guo, from Vietnam,” kenalnya. Ia tersenyum, “Indri, from Indonesia..”
“Wah, I want to go to Indonesia next year..”
“Oh, yeah? Which part?”
“I want to see Mount Bromo. And Yogyakarta.”
“Nice place, I went there last year..”
“Oh really? I must contact you then.”
“Are you going alone?”
“Yes, you too? We can walk together..”

ke arah pelabuhan melaka

ke arah pelabuhan melaka

dari st.paul's hill

dari st.paul’s hill

Lalu mereka menuju bangunan tertinggi di bukit itu. Menurut peta area itu bernama St. Paul’s Hill. Dari atas bisa melihat sebagian bentang Melaka hingga sungainya di kejauhan. Bangunan tertinggi di situ hanya tersisa dinding tanpa atap. Dindingnya dari bata besar dan tebalnya hingga 30 cm. Ketika memasuki bagian dalamnya, ada banyak batu batu lempeng pipih bertuliskan nama-nama asing. Perempuan ini pernah melihat bentuk serupa di Museum Taman Prasasti di Jakarta. Tak salah lagi, ini pasti kuburan, dan lempeng ini adalah nisan. Bangunan ini adalah St. Paul’s Church yang dibangun pada tahun 1521 oleh Portugis. Bentuknya persegi dan tinggi. Walaupun banyak pengunjungnya, namun ruangan ini terasa senyap. Rasanya ada aura kelabu yang membayangi di sana.

tugu penerima di depan reruntuhan gereja

tugu penerima di depan reruntuhan gereja

atap kayu sudah lapuk, tinggal bata dinding yang tebal.

atap kayu sudah lapuk, tinggal bata dinding yang tebal.

di dalam gereja, bekas wuwungan yang tinggi.

di dalam gereja, bekas wuwungan yang tinggi.

tebal dinding 30 cm

tebal dinding 30 cm

batu nisan berjajar

batu nisan berjajar

pemakaman dalam bangunan

pemakaman dalam bangunan

Ia mengajak Guo turun menuju sungai Melaka. Mereka berdua berjalan hingga bertemu kincir air di tepi sungai. “What is Kincir?” tanyanya. Hmm, sejenak ia lupa padan katanya dalam bahasa Inggris.

“Eeh, mills. This is water mills,” jawabnya sambil menunjuk roda kayu itu. “Do you speak Malay?” sambung Guo. “Hehe, Bahasa Indonesia is quite similar with Malay,” sambil berjalan menyusuri alfresco dek kayu di sepanjang sisi sungai. Tak sampai lima menit,mereka tiba di dermaga yang disandari oleh kapal untuk program Melaka River Cruise. Ini adalah salah satu wisata yang direkomendasikan untuk dilakukan di Melaka apalagi yang memiliki waktu singkat seperti kami. Dengan harga RM 15 kami bisa menikmati sungai selama satu jam naik perahu berkapasitas maksimal 30 orang.

kincir air

kincir air

alfresco kayu yang berderak sebelum naik kapal

alfresco kayu yang berderak sebelum naik kapal

Sungainya bagus dan bersih dengan bantaran lebar dengan kafe-kafe dan bangunan yang dicat menarik. Tampak beberapa orang juga berjalan-jalan kaki di sepanjang tepian. Panas mulai menyengat karena matahari mulai naik. Sudah lewat jam sepuluh pagi. Langit biru cerah melatari bangunan-bangunan di tepian itu.Karena dua hari sebelumnya adalah hari kemerdekaan Malaysia, masih ada bendera-bendera yang membentang merentang di tepian sungai. Perahu berjalan agak lambat mendekati ujung. Rupanya ada kampung adat di sana yang sebenarnya bisa dikunjungi kalau punya cukup waktu.

sungai bersih

sungai bersih

jembatan-jembatan indah

jembatan-jembatan indah

bianglala dan jembatan

bianglala dan jembatan

bendera membentang

bendera membentang

kapal yang dinaiki di samping jalur monorel

kapal yang dinaiki di samping jalur monorel

bantaran sungai yang bersih

bantaran sungai yang bersih

Perahu berputar kembali dengan tambahan satu penumpang bule yang naik dari ujung. Setengah jam kemudian kami semua tiba di dermaga tadi. Guo mengajak untuk mengunjungi Muzium Samudera yang tadi kami lihat dari tepian. Harga karcisnya RM 6 termasuk ongkos masuk museum yang di sebelahnya. Museum ini sangat indah dengan replika-replika kapal di dalamnya. Kapal ini sendiri adalah replika kapal Flor de la Mar, kapal Portugis yang karam dan tenggelam di selat Malaka. Isinya tentang sejarah kelautan Melaka dan perkembangan perdagangan dari zaman kesultanan Melayu Melaka hingga ke zaman Kolonial Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang.

muzium samudera dari kayu

muzium samudera dari kayu

dek kapal yang menawan

dek kapal yang menawan

interior remang dan cantik

interior remang dan cantik

“Wah, almost 12. I must check out from the hotel!” ingat perempuan itu sambil melihat ponsel. “Yes, me too. What if we meet again and try street food? Are you in hurry?” tawar Guo. “Actually, yes. I have to leave at 2 by bus at Melaka Sentral. It means, half past two from here, right?” jawabnya, ”But I thought it still okey with street food. It must try!”
“So we meet again near Jonker Street statue about.. half hour from now?”
“Okay!”

Bergegas ia kembali ke Baba house, mandi, packing dan tak lama kemudian ia sudah sampai di pojokan Jonker Street. Guo sudah menunggu dengan satu ransel kecil. Ia agak kaget melihat perempuan itu hanya membawa satu ransel hijau 20 liter. “That’s only your luggage?”, herannya yang cuma dijawab dengan senyum meringis.

Mereka menyisiri Jonker Street, melihat-lihat toko cinderamata hingga akhirnya tiba di Famosa Chicken Rice Ball. Karena sudah mencoba rice ball tadi pagi, perempuan itu hanya menbeli 10 butir baso ikan untuk mengganjal perutnya. Tambahan seporsi es kacang bisa mengenyangkan perut juga. Mereka bertukar cerita tentang kehidupan sehari-hari. Guo bercerita bahwa ia bekerja di konsultan NGO yang banyak meneliti perumahan rakyat, sementara lawan bicaranya berbagi kesehariannya sebagai seorang arsitek yang suka melihat pemukiman adat. Rupanya minat mereka di pemukiman hampir sama. “You must come to Vietnam! I’ll drive you around by motorcycle,” undang Guo.

last food, yummy!

last food, yummy!

Bis menuju Melaka Sentral tersedia di depan gereja Stadthuys tempat mereka bertemu pertama kali tadi pagi. Malangnya, ketika sedang menyeberang jembatan, bis itu lewat dan kemungkinan lewat lagi baru setengah jam kemudian. “I think I have to take a taxi,” pikir pejalan perempuan itu daripada ketinggalan bis dari Melaka Sentral menuju bandara. Akhirnya mereka menghentikan taksi yang lewat. “Okay. Bye for now, hope we contact again. I think I’ll walking around because my plane to Hanoi tomorrow morning. I’ll get late afternoon bus to LCCT.” Mereka berfoto bersama di depan tugu dan bertukar nomor kontak. “Thank you! Nice to meet you!” sebelum memasuki taksi.

“Fiften ringgits,” kata supir taksi yang mereka setop. “Hah? It’s not that far?” kaget juga mendengar harga itu. “Biase itu, nanti kita sambil putar-putar kota,” bergeming si supir taksi. Tak punya pilihan lain, ia ikut saja dengan harga yang dipatok tersebut. Supir taksi itu menawarkan kalau ternyata ketinggalan bis, bisa mencarter taksinya dengan ongkos RM 150 ke bandara. Wah, lebih mahal dari harga tiket promo yang membawanya bolak balik Jakarta – Kuala Lumpur – Jakarta.

EPILOG
Indri berhasil mengejar bis ke LCCT, yang ternyata baru berangkat jam 14.15. Ia sempat khawatir apakah bisa mengejar jam penerbangannya kembali ke Jakarta. Tapi akhirnya, ia bahkan sempat untuk belanja coklat untuk oleh-oleh lagi di bandara.

Guo hanya sekali membalas email Indri. Ia mengabarkan lewat email beberapa minggu kemudian bahwa sempat menginap di bandara LCCT malamnya sebelum terbang pagi-pagi ke Hanoi. Sampai sekarang, mereka tidak pernah berkontak lagi lewat dunia maya.

[ditulis di perjalanan Jakarta Cirebon, selesai sekitar Jatibarang, 28-07-2014 : 1925]
perjalanan 1 September 2013, Melaka, Malaysia.
karena banyak foto yang hilang ketika ditransfer, jadi menggunakan bahan dari internet.

menyusuri sungai di melaka river cruise

Advertisements

10 thoughts on “kehilangan jejak di melaka

  1. Matius Teguh Nugroho says:

    Sayang bgt foto-fotonya hilang. Padahal aku mau lihat pemandangan jalanan saat malam sepi.

    Aku suka kota-kota seperti Melaka. Kecil, tenang, bersih, dengan sungai yg membelah kotanya. Btw si Guo itu nggak difoto, kak? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s