sandyakala d’oria

2-sunset-d-oria-boutique-hotel-lombok

dengan siapa kau memutuskan untuk berbagi senja?

Matahari masih bertengger tanggung ketika satu per satu langkah kaki kami memasuki bangunan lobby hotel bernuansa alami ini. Udara begitu pekat berkeringat, jauh dari kesejukan desa Sembalun yang baru kami tinggalkan. Segelas jus jeruk segar beserta handuk basah dingin menyambut kedatangan kami. Ah, benar-benar pelipur panas yang menemani selepas turun gunung tadi. Masih jam empat sore rupanya.

Lobby D’Oria Boutique Resort ini cukup lapang, berupa satu bangunan tunggal yang terpisah dari kamar-kamar hotelnya. Dua sofa set menemani kami yang melepas penat sesudah terkungkung selama tiga jam dari dalam mobil. Di luar sana, pucuk-pucuk pohon kelapa berkesiut ditiup angin laut. Semacam penanda bahwa lokasi ini berada dekat pantai. Tak sabar ingin mencelupkan ujung-ujung jari kaki ke air asin kembali. Jalan raya Lombok barat Bangsal-Senggigi berada di depannya, sesekali saja mobil berlalu lalang.
Continue reading

Advertisements

si pelari selfie, sebut saja namanya adie

adie-riyanto-pergasingan-1

 

Friendship … is born at the moment when one man says to another “What! You too? I thought that no one but myself . . .
― C.S. Lewis

 

Aku pertama kali bertemu dengannya hampir empat tahun yang lalu, tanggal 3 Maret 2012. Siang itu, di Ruang Kenanga Istora Senayan Jakarta, seorang lelaki (sebenarnya kurang pas, karena waktu itu wajahnya seperti anak baru lulus SMA) menyapaku, “Mbak Indri Juwono, ya? Yang di Goodreads Indonesia?” Walaupun aku tak terlalu aktif di komunitas itu, tapi lumayan seneng juga ada yang mengenali (bukti bahwa ketenaran tak perlu terlalu kerja keras #eh). Kami berbincang sedikit di acara peluncuran buku karya Gola Gong yang berjudul Travel Writing. Saat itu mungkin tak satu pun dari kami berdua yang berpikir akan menggeluti dunia travel writing di kemudian hari. Datang ke situ sebagai penggemar Gola Gong saja, titik (dan hal-hal lain yang sebaiknya dilupakan). Dan malamnya, ketika menonton konser Roxette di MEIS, sepertinya aku sudah tidak ingat lagi pada sosok pria yang mengajakku berkenalan suangnya itu. Namanya Adie.

Entah dari mana munculnya, ketika aku mulai banyak menulis tentang perjalanan, nama Adie mulai ikut wara wiri di linimasa twitterku. Perlahan-lahan aku mulai ingat, apalagi ia sempat mention dan mengenalkan diri lagi pernah ketemu denganku di Istora Senayan itu (ini juga sebenarnya aku lupa bagaimana sebenarnya caraku ingat). Karena aku ramah dan baik, aku menyapanya balik. Kuperhatikan foto-foto yang dipajang di twitter, tapi tetap saja aku tak bisa ingat wajah seperti apa dulu waktu kenalan. Ya sudahlah, pokoknya sekarang berteman. Di twitter. Di facebook juga.
Continue reading

tugu kunstkring paleis : bercengkrama lewat masa

0-cover-tugu-kunstkring-paleis-review

I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world.
― Sukarno

Berulang kali aku melewati bangunan Tugu Kunstkring Paleis ini dalam perjalanan melewati Menteng. Lokasi tapaknya memang unik, berbentuk hampir seperti segitiga dengan sisi samping menghadap Cut Nyak Dhien yang merupakan jalan terluar Menteng yang berbatasan dengan Cikini, dan sisi lainnya adalah jalan Teuku Umar, salah satu poros utama kawasan yang menghubungkan antara bundaran di depan tapak, bundaran dengan air mancur, hingga taman Surapati yang merupakan square utama kawasan Menteng.

Daerah Menteng sendiri dikembangkan sebagai pemukiman pada tahun 1890 oleh P.A.J. Moojen dari Belanda yang terinspirasi oleh model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitek pembaharu dari Inggris. Dahulu ketika pusat pemerintahan masih berada di Beos (Jakarta Kota sekarang), Menteng adalah kawasan suburban yang menjadi daerah pemukiman yang elit dengan taman-taman yang berada di dalamnya yang tadinya adalah kebun luas di mana banyak tanaman ‘Menteng’ yang tumbuh di atasnya.
Continue reading

5 hal favorit di film surat dari praha

surat-dari-praha-review-resensi-cover

Aku menonton Surat dari Praha dua hari yang lalu, ketika tahu-tahu punya waktu menonton, tertarik melihat posternya, tetapi sayangnya mal di samping kantor di wilayah Bogor tak lagi memutar film itu. Segera kucari posisi bioskop di Jakarta Selatan yang tak terlalu jauh dari pintu tol. Biasalah, film Indonesia memang sering dianaktirikan sehingga waktu tayangnya tak lama. Karena tak berhasil mendapatkan teman kencan juga, aku nonton sendirian di Kalibata, yang terhitung cukup lumayan untuk pulang ke rumah malamnya.
Continue reading

perempuan yang menangis di dalam mobil ketika turun hujan

rain-in-the-car

Sepertinya langit baru membuka kerannya, ketika rintikan banyu turun satu per satu dari atas. Perempuan itu berlari, menyeberang jalan dan membuka pintu mobilnya, lalu duduk terdiam. Ia bisa saja langsung menyalakan mesin dan berlalu supaya tidak habis dimakan tarif parkir yang menggila.

Bebannya pecah. Satu per satu air mata mengalir di pipinya seiring hujan yang semakin menderas. Mungkin ia memilih menangis di tengah rinai supaya tak ada yang mendengar suaranya. Toh, pelan saja.

Terkadang ia terlalu keras terhadap dirinya sendiri.” Begitu dialog yang tadi didengarnya. Mungkin benar. Mungkin selama ini ia terlalu menuntut sempurna untuk dirinya, sehingga ia pikir orang-orang pun bisa bersikap yang sama. Everything must be right. In order.
Continue reading

harris & pop hotel kelapa gading, strategis di jakarta utara

cover-pop-harris-hotel-kelapa-gading

Somethings in life aren’t as easy as drinking orange juice, see?
― William Astout

Kelapa Gading dikenal sebagai daerah yang berkembang sangat pesat dalam tiga dasawarsa ini. Berawal dari lahan kosong yang kemudian berkembang menjadi tanah permukiman, lambat laun Kelapa Gading menjadi area bisnis yang mumpuni untuk orang-orang yang bertinggal di situ. Daripada harus memulai usaha di tempat yang lebih jauh, dekat tempat tinggal menjadi satu alternatif pilihan.

Karena itu juga, ruko-ruko yang berderet di sepanjang Jalan Boulevard Raya tidak pernah sepi, seakan apa pun yang dijual di situ pasti laku. Aneka toko kue, restoran Cina, toko bangunan, biro jasa, bank, apotik, karaoke, atau bidang-bidang bisnis lainnya sukses menangguk untung di kawasan Jakarta Utara ini.

Pertokoan menjamur mulai dari sepanjang jalan Boulevar Raya, hingga berubah menjadi pusat bisnis yang diperhitungkan. Tak heran, lokasi Kelapa Gading yang berada dekat dengan kawasan industri Pulogadung, atau kawasan industri Sunter, maupun pelabuhan dagang terbesar yaitu Tanjung Priok membuatnya menjadi kawasan penunjang yang strategis. Puluhan perumahan terus tumbuh, juga gedung-gedung apartemen sebagai hunian.
Continue reading