keping kenangan pulau galang

cover-pulau-galang-camp-vietnam-batam-kapal

All living things contain a measure of madness that moves them in strange, sometimes inexplicable ways. This madness can be saving; it is part and parcel of the ability to adapt. Without it, no species would survive.
― Yann Martel, Life of Pi

Hening mengiringi mobil yang membawa kami memasuki gerbang Camp Vietnam yang berada di Pulau Galang, yang ditempuh sekitar satu jam berkendara dari Pulau Batam melewati Jembatan Barelang. Menurut info yang sempat kubaca sebelumnya, kamp ini adalah tempat para pengungsi dari Vietnam yang merasa tidak aman berada di negaranya karena perang yang berkecamuk di sana. Mereka mencari tanah tempat tinggal tenang hingga keadaan negaranya pulih kembali.

Sudah tidak ada pengungsi yang berada di sini sejak dipulangkannya mereka secara bertahap hingga tahun 1996. Aku berpikir tempat ini semacam camp pengungsian yang pas-pasan seperti sering kulihat di televisi, namun ternyata Pemerintah Indonesia memberikan akomodasi yang sangat baik kepada para pengungsi saat itu. Sejak awal gerbang, pohon-pohon besar dan udara sejuk menyambut kami, dan peta wilayah yang menunjukkan fasilitas-fasilitas yang dibangun kala itu. Menarik, seperti kota baru adanya. Continue reading

Advertisements

wasiat pulau penyengat

pulau-penyengat-kepri-cover-3

Tiga orang tukang becak di Pulau Penyengat menyambut langkah-langkah kaki yang keluar dari perahu motor dari Pulau Bintan itu. Tawaran mereka sangat menarik sebenarnya, menumpang kendara beroda tiga itu hingga daratan tiba. Tapi rasanya terlalu banyak hal di luar yang bisa ditangkap lambat dengan mata. Garis pulau yang dipenuhi rumah berwarna-warni membuahkan rasa penasaran sambil berjalan. Anak-anak yang bermain-main di perahu motor tempel membagikan senyum manisnya.

Dermaga pelabuhan ini panjang ke tengah laut, mengisyaratkan ruang yang dangkal di bawahnya sehingga perahu sulit bersandar dekat daratan. Tiang-tiang besi menopang kanopi seng hingga tepian pulau. Hingga pada satu jalan yang disambut penduduk yang bercengkrama di depan rumah dengan wajah penasaran, apa yang hendak kulakukan? Satu-satunya desa di pulau yang berjarak 2 km terpisahkan laut itu, ternyata cukup ramai dan hidup sebagaimana di daratan yang lebih besar. Pulau yang dahulu menjadi bagian dari Kesultanan Riau ini, pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan yang penting, bukan hanya tempat kedudukan Yang Dipertuan Agung, tetapi juga tempat kedudukan Sultan sejak tahun 1900-an.
Continue reading

mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit. Continue reading

di balik tembok pecinan lasem

cover-lasem-heritage

…kuketahui bahwa pemandangan yang tertatap oleh mata bisa sangat mengecoh pemikiran dalam kepala: bahwa kita merasa menatap sesuatu yang benar, padahal kebenaran itu terbatasi sudut pandang dan kemampuan mata kita sendiri.
― Seno Gumira Ajidarma

Satu hal yang membuatku penasaran pada kota Lasem adalah tembok-tembok tinggi dan tebal yang mengelilingi pekarangan tempat tinggal mereka. Aku jadi teringat ungkapan orang-orang di masa kecilku dulu, kalau pagar tinggi tertutup selalu diidentikan dengan rumah milik orang Cina. Karena Lasem sering sekali disebut sebagai Little Tiongkok, tak heran jika suasana menyusuri jalan-jalannya seperti daerah pemukiman Cina yang didominasi tembok-tembok besar, karena kota ini adalah salah satu pelabuhan Mataram yang diizinkan didarati pedagang Cina pada masa perdagangan rempah dahulu.

Di kampung Karangturi didominasi oleh tembok-tembok dengan pintu-pintu yang sudah berusia tua yang menjadi aksen dominan dari deretan bata ini. Di beberapa bagian yang terkelupas tampak susunan bata yang berukuran besar, pertanda bangunan ini dibangun pada masa yang telah lampau. Warna cat kayu yang kusam tidak berkilat, menyembunyikan apa yang ada di balik tembok tersebut. Handel besar dari besi sering menjadi pajangan unik di jalanan.
Continue reading

koran tempo : memburu mentari di bukit pergasingan

5-bukit-pergasingan-rinjani-dari-puncak-bukit

Kabar bahwa tulisan ini terbit di Koran Tempo tanggal 26 Desember 2015 kuterima ketika aku sedang dalam perjalanan ke Toraja. Tentu saja rasa senang menggelayut dan membuatku bahagia sepanjang perjalanan, bahkan sempat aku penasaran bagaimana layout tulisan ini bakal ada di koran. Karena banyak yang menanyakan isinya sementara tidak mendapatkan korannya, aku mengunggah ulang di sini dalam versi yang belum diedit. Tentunya, dilengkapi dengan foto-foto cantik!

Lamat-lamat aku memperhatikan Rinjani dari tempatku berdiri tengah malam itu. Bahkan di tengah langit yang temaram, siluetnya terpampang anggun di bawah hamparan bintang. Aku cuma terdiam sambil perlahan-lahan menata potongan-potongan kenangan dalam pikiran untuk tetap tenang. Duhai Dewi Anjani yang bergoncang beberapa hari ini, masihkah kau memanggilku untuk mendaki?

Jam empat pagi, adalah waktu yang disepakati untuk bangun dan berjalan ke ketinggian sebelum matahari terbit nanti. Sesudah sarapan teramat pagi di Nauli Bungalow, tempatku beristirahat malam itu di desa Sembalun, mobil membawa kami melintasi desa di pagi buta, menuju satu titik pendakian yang menghadap langsung ke Gunung Rinjani. Pagi itu, kami berenam berencana mendaki Bukit Pergasingan untuk menikmati matahari terbit dari puncaknya. Continue reading