7 Mitos Tinggal di Apartemen

Kamu punya keinginan untuk tinggal di apartemen? Atau kamu termasuk orang yang gak kepengen tinggal di hunian vertikal itu? Banyak cerita orang tentang apartemen yang memang harus dipertimbangkan dalam membeli unitnya, apalagi yang lokasinya di tengah kota. Memang, baru satu dekade ini hunian vertikal menjadi boom di Indonesia, seiring dengan tingginya kebutuhan untuk tempat tinggal yang dekat dengan lokasi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, sehingga muncullah berbagai mitos-mitos yang menyertainya.

1. Hidup di apartemen membuat susah bersosialisasi

Lorong-lorong yang sempit dan waktu bertemu yang jarang membuat orang-orang yang tinggal di apartemen jarang bersosialisasi seperti layaknya landed house. Tapi tidak bisa demikian juga mengatakan, karena semua kembali ke personality masing-masing, karena orang-orang di landed house ini pun juga kadang-kadang mengalami kesulitan yang sama. Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang ada di apartemen, diharapkan pertemuan antar penghuni akan terjadi dan interaksi sosial pun bisa berlanjut. Jadi ngobrol-ngobrol sambil masak bareng, masih mungkin dilakukan di apartemen, koq! Continue reading

Advertisements

7 kriteria memilih apartemen di jakarta

Untuk seseorang yang tinggal di pinggiran kota seperti saya, menempuh perjalanan panjang setiap hari ke tengah kota itu sudah biasa, mengikuti manusia-manusia yang juga setiap matahari menampakkan sinarnya ikut bergerak ke arah utara. Kadang-kadang dalam kereta, kadang-kadang di balik kemudi, dan setiap hari kembali lagi di pinggiran untuk beristirahat, dan mengulang rutinitas lagi setiap hari.

Dulu saya juga pernah punya pikiran, nggak mau tinggal di Jakarta karena berasa nggak ganti hari. Agak wajar karena waktu itu saya sempat tinggal di sebuah kost di Jakarta Utara yang panasnya kebangeten baik siang atau malam kayaknya pengen ngendon saja di bawah AC, beristirahat di ruangan yang hanya sepertiga kamar saya di Depok. Continue reading

orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

Melakukan perjalanan sendirian, tentu saja tidak bisa semata menggantungkan harapan pada jadwal yang benar atau perjalanan yang lancar. Apalagi jika lokasinya di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari dengan pola yang berbeda juga.

Sesudah dua hari berkeliling Ternate Tidore dengan sinyal Telkomsel yang tewas karena kabel bawah laut yang sedang diperbaiki padahal itinerari pun belum ada, atas petunjuk ibu pemilik penginapan, aku mengangkat ransel menuju pelabuhan Dufa-dufa, untuk menyeberang ke Jailolo. Speed boat berkapasitas 15 orang mengantar kami meninggalkan ibukota Maluku Utara untuk menuju pulau terbesar di propinsi tersebut, Halmahera. Continue reading