kampung todo: pusat kerajaan yang menyepi

Dalam setiap perjalanan, selalu ada upaya untuk berhenti lebih lama atau membelokkan ke tempat yang tadinya tidak direncanakan. Rencana sederhananya hanya mendarat di Labuan Bajo, menginap di hostel, dan memesan satu kursi pada travel Gunung Mas yang menuju Ruteng pada keesokan harinya. Banyaknya tentengan yang di bawa, termasuk beberapa alat uji, membuatku agak mengabaikan urusan mampir-mampir ini, apalagi perjalanan dengan kendaraan umum yang berganti-ganti.

Beberapa tahun lalu aku melalui jalan yang sama, ternyata kali ini baru kusadari kalau jalanannya penuh dengan kelokan. Untunglah mobil travel ini besar, sehingga tidak membuat mabuk darat. Bang Ronald, supir travel ini penasaran melihatku yang pergi sendiri dengan bawaan yang begitu banyak hingga lima tas. “Mau ke mana, kak?” tanyanya membuka obrolan. “Ke Wae Rebo. Ada otokol yang ke sana kan?” tanyaku. “Oh, nanti kakak turun saja di Pela. Tapi langsung ke sana, kah? Tidak mampir Todo?” sambil mengemudikan mobil yang tetap berkelok. “Wah, nggak tahu ya. Kepingin sih mampir sebentar,“ aku tergoda. “Kakak kalau mau mampir di rumah saya saja. Ada kakak di situ, nanti bisa menginap,” tawarnya.

Hah, hah? Ditawari menginap oleh orang yang nggak dikenal? Memangnya aku berani?
“Kalau mau nanti saya telepon kakak saya. Dia bidan di puskesmas situ,” tawarnya lagi melihatku ragu. Eh, kakaknya perempuan toh. Menarik juga ya, tawarannya. Sesudah beberapa menit berpikir-pikir dan lewat beberapa kelokan, akhirnya kuiyakan saja tawarannya.

Di pertigaan Pela, bang Ronald menurunkan aku dan semua barang yang kubawa sesudah sebelumnya ia benar-benar menelepon kakaknya di Todo. Aku menunggu otokol kayu yang berangkat dari Ruteng, untuk masuk ke daerah pedesaan. Benar, tak lama sesudah aku turun, bang Ronald meneleponku dan mengatakan bahwa sebentar lagi akan lewat otokol yang akan lewat Todo. Wah, ternyata semua supir-supir angkutan ini saling mengenal, ya.

Aku melompat naik ke otokol yang tiba dengan membunyikan musiknya keras-keras sekitar sepuluh menit kemudian. Sebenarnya naik angkutan umum ini karena masalah kepraktisan saja, karena kalau naik ojek sepertinya tidak bisa membawa keseluruhan barang ini, sementara kalau naik otokol walaupun beramai-ramai, namun tinggal duduk manis. Dua orang gadis yang duduk di sebelahku antusias mengajak mengobrol dalam perjalanan satu jam ke depan itu. Walaupun mengobrolnya harus sambil teriak-teriak mengalahkan suara musik, tapi pemandangan lembah kiri kanan yang indah bisa mengalihkan suasana di dalam. Beberapa kali otokol berhenti menurunkan bahan bangunan seperti semen, besi, seng atap yang sepertinya dipesan oleh penduduk desa di sepanjang jalan dari kota Ruteng.

Setiba di pertigaan Todo, aku turun dan menunggu dijemput oleh Bang Eman, suami Kak Yoyan yang masih bertugas di Puskesmas Todo. Bersama-sama ke rumah orang tua mereka, ternyata aku sudah disiapkan makan siang berupa rabuk khas Manggarai yang terbuat dari sagu. Pertama mencobanya memang rasanya agak bagaimana, tapi ternyata enak juga. Rumah Pak Rofinus dan Ibu Vero ini yang menjadi tempat tinggalku malam ini, sembari aku melihat-lihat Mbaru Niang yang beberapa tahun lalu direnovasi oleh pemerintah NTT. Diantar anak-anak mereka yang terkecil, Niang Todo mudah dicapai dengan berjalan kaki dari rumah.

Di masa lampau, Niang Todo ini adalah pusat Kerajaan Manggarai di daerah Flores Barat. Karenanya, banyak bangunan yang ditemui sejak dari Labuan Bajo tadi yang merupakan tipologi dari rumah niang Todo. Dari kejauhan sudah nampak atap-atap kerucut yang menjadi ciri khas dari rumah adat ini. Area niang Todo tidak berdiri sendiri, melainkan di tengah pemukiman warga yang bentuknya lebih modern. Sebelum tiba di sana, aku bahkan melewati sekolah dan gereja yang merupakan pusat aktivitas sosial desa Todo. Banyak anak-anak yang penasaran dengan kedatanganku ke sana. Kala itu memang tidak ada pengunjung lain ke niang Todo selain aku.

Sesudah bercakap-cakap dengan Bapak Titus yang merupakan penjaga situs ini, aku melihat bahwa ada dua pusat dari area niang ini, yaitu compang dan kuburan raja Todo. Area yang dikelilingi dinding berbatu ini berada dalam satu garis lurus berbatu-batu yang dianggap sebagai pusat dan mengarah pada bangunan utama, sebuah niang berukuran besar dengan atap kerucut yang tinggi yang dinamakan Niang Wowang. Ditemukan juga dua meriam dari abad 18 yang salah satunya bertuliskan “Liverpool” di antara jalan-jalan batu ini yang menjadi gerbang masuk area.

Ketika senja menjelang gelap, semburat ungu terlihat di tepian batas langit, sebagai latar siluet dari rumah-rumah kerucut ini. Posisi pemukiman yang berada di atas bukit, menjadikan warna langit berubah perlahan-lahan hingga gelap. Berada di sekitar bukit-bukit dengan pepohonan nira menjulang tinggi, membuat material ijuk menjadi salah satu bahan utama sbagai penutup atap niang. Ijuk yang dibeli lembaran itu dikeringkan dengan dijemur hingga sekitar dua minggu, sebelum dipasang pada atap.

Keesokan harinya, aku kembali lagi ke situ karena belum berhasil masuk ke niang Wowang. Sebelum ibu-ibu penghuni niang ini ke kebun, mereka membukakan pintu sehingga kami bisa masuk dan melihat struktur di dalamnya. Pada bagian langit-langit area masuk, terdapat bilah-bilah papan yang penuh ukiran di balik naungan atap ijuk.

Pada saat Todo-Pongkor konsentrasi mengikuti perang Adak Tanah Dena, pasukan Nggaeng Cibal melancarkan serangan ke pusat kekuasaan Todo-Pongkor. Saat itu, terjadi pembakaran rumah adat Todo, yang disebut tapa niang dangka,poka niang wowang. Konon, niang dangka saat itu tak bisa dibakar. Pasukan dari Nggaeng Cibal kemudian memperdayai seorang perempuan tua yang namanya Kembang Emas saudari dari Kraeng Mashur Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa untuk mengetahui mengapa niang dangka tidak bisa dibakar. Perempuan tersebut kemudian memberti tahu niang dangka bisa dibakar bila bisa mengambil jimat yang ada dibubungannya. Pasukan dari Cibal pun mengambil jimat di atas bubungan. Lalu, kemudian baru bisa membakar niang dangka tersebut. Sayangnya, mereka juga membakar perempuan yang memberitahu keberadaan jimat itu. Pasukan Cibal berusaha mengembalikan Watu Cibal yang dicaplok pada perang Weol II, namun tak bisa diangkat. Sampai sekarang Watu Todo dan Watu Cibal tertancap bersanding di kampung Todo.

Mbaru Niang berdiri pada pondasi batu dan tiang-tiang yang menyusun topangan lantai dengan ketinggian sekitar satu meter dari tanah. Di permukaan hanya tampak tiang-tiang yang dilumuri residu sebelum masuk ke dalam tanah. Tiang-tiang kayu utama sejumlah sembilan buah menerus hingga lingkar-lingkar atap yang berada pada level-level tertentu. Niang Wowang yang dahulu merupakan pusat kerajaan Manggarai, di dalamnya pun setiap tiang diukir dengan simbol-simbol. Posisi niang utama ini berada di ujung compang dan jalur batu-batuan, mengikuti aksis utama dalam desa ini.

Pintu masuk utama Niang Wowang ini berada di depan, yang harus menunduk ketika memasukinya, yang sebenarnya hanya untuk laki-laki. Perempuan diperbolehkan masuk melalui tingkap di bawah dapur yang dihubungkan dengan tangga ke tanah, langsung ke area bertinggal di belakang.

Seperti pada umumnya struktur rumah kerucut Manggarai, area ini terbagi menjadi nolang dan lutur, serta terdapat lima level pada kerucutnya sebagai tempat menyimpan benda-benda keramat. Terdapat tiga lajur kolom dengan ukiran pada masing-masing tiang. Bagian depan adalah tempat raja dahulu menerima tamu, sementara yang datang akan menghadap bergantian dari tepi keliling ruangan.

Niang Wowang ini sebagai tempat untuk menyimpan berbagai peralatan keramat yang akan dikeluarkan pada saat upacara-upacara adat dan ritual-ritual tertentu. Dan di bagian belakang juga terdapat tungku yang dipergunakan untuk memasak dan juga mengasapi material atap sehingga bisa kuat bertahun-tahun.

Yang paling sering dicari orang di sini adalah gendang yang terbuat dari kulit manusia. Alkisah ceritanya adalah seorang gadis cantik bernama Loke Nggerang yang berkulit kemerah-merahan, yang dipinang oleh Raja Todo, namun menolaknya karena cintanya pada sang kekasih dan orang tuanya. Karena penolakannya ini membuat raja marah dan menjatuhkan hukuman mati padanya, kemudian kulit dari punggung dan perut dijadikan gendang. Benda ini yang sekarang tersimpan di Niang Wowang dalam kotak kaca beserta rempah-rempah pengawetnya. Walaupun sudah tidak pernah digunakan, namun gendang ini masih memiliki nuansa magis dan miris apabila dipandangi. Cerita lara dari badan si pemiliknya dahulu.

Versi lain mengatakan bahwa Loke Nggerang diperebutkan oleh Raja Todo, Raja Goa dan Raja Bima yang berkuasa pada zamannya untuk menjadi permaisuri, namun gadis ini lebih memilih mati. Gendang dengan bahan kulit tubuhnya ini menjadi simbol pemersatu.

Tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai dan hendak mendirikan pusat kekuasaan sipil di Todo. Namun, karena topografinya yang kurang baik, lalu pindah ke Puni, Ruteng. Setelah resmi menaklukan Manggarai pada 1908, Belanda kemudian memindahkan Raja Todo (1914-2924) yaitu Kraeng Tamur ke Puni. Belanda melihat Manggarai yang meliputi Wae Mokel awon (batas timur) dan Selat Sape salen (batas barat) adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi Cibal, tidak ada lagi Todo, tidak ada lagi Bajo, maka disebutlah Manggarai.
Karena itulah, pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor.

Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan. Bersamaan dengan diangkatnya Raja Bagung, Belanda juga menyekolahkan Kraeng Alexander Baruk, anak dari Kraeng Tamur, ke Manado. Tahun 1931/1932, Alexander Baruk kembali dari sekolahnya kemudian diangkat menjadi raja Manggarai. Namun, karena raja Bagung masih hidup, maka keduanya tetap raja. Raja Bagung sebagai “raja bicara” sedangkan yang mengambil keputusan adalah Raja Baruk. Sehingga dulu ada istilah putus le Kraeng Wunut, bete le kraeng Belek.
Kekuasaan keduanya berakhir saat keduanya meninggal dunia. Raja Bagung meninggal 1947. Sedangkan, Raja Baruk meninggal 1949. Kemudian, keduanya diganti oleh Kraeng Langkas atau Kraeng Constantinus Ngambut, juga dari Todo, menjadi raja hingga 1958.

Dari Niang di Todo ini, menjadi tipologi dari bangunan-bangunan di seluruh kawasan Manggarai, terutama pada bangunan publik dan pemerintahan. Atap kerucut dengan penutup ijuk cukup mudah ditemukan di jalan Trans Flores, maupun sebagai bangunan gereja atau sekolah di jalur-jalur pedalaman. Beberapa masih menggunakan rangka kayu sebagai dudukan ijuk, tapi anehnya ada atap seng yang membentuk kerucut, kemudian disamarkan dengan atap ijuk yang menutupi. Iya, sengnya masih terlihat mengintip di sela-selanya.

Transformasi atap kerucut ini menjadi limas segi enam atau segi delapan dengan penutup seng cukup banyak dijumpai dalam perjalanan menuju Todo. Pengenalan material logam ini pun perlahan-lahan seolah mengurangi potensi sumber daya alam yang melimpah sebagai penutup atap. Padahal ijuk ini diambil dari pohon enau yang melimpah di kawasan Manggarai. Pastinya di zaman dahulu pepohonan ini lebih banyak lagi tumbuh di bukit-bukit. Batangnya menjadi tiang, seratnya menjadi atap, dan buahnya bisa disuling menjadi sopi, minuman keras khas Manggarai.

Niang-niang di Todo ini sempat punah selama beberapa lama, hingga akhirnya dari pemerintah memberikan bantuan untuk membangun ulang niang-niang tersebut. Yang bertahan lama adalah niang Wowang yang beberapa tahun lalu kulihat kerucutnya dari tepi jalan, sementara niang lainnya baru dibangun dalam kurun waktu 3-4 tahun ini.

Tetapi sayangnya, bangunan niang yang mengelilingi compang ini tidak semuanya dihuni penduduk dan digunakan sebagai area berkehidupan. Satu niang yang berada di sebelah kiri niang gendang, hanya ditinggali satu keluarga saja yang bertani kemiri. Tidak ada kehidupan komunal dalam satu rumah, hanya berkegiatan biasa sehari-hari. Jika matahari sudah meninggi, rumah menjadi sepi karena ditinggalkan ke kebun. Apalagi rumah yang tidak ditinggali akan terasa sangat kosong.

Karena hari sudah siang, tiba saatku untuk pamit dan menunggu otokol lagi menuju Dintor. Sambil menyesap kopi di hamparan lembah dan dedaunan nira, aku mengobrol banyak dengan Pak Rofinus mengenai kampung Todo dan kehidupan di sini serta relasi warga terhadap rekonstruksi niang di kampung adatnya.

Posisi niang dan desa adat yang berada di tengah-tengah pemukiman biasa membuatnya agak diabaikan, kecuali pada saat acara-acara budaya. Niang-niang ini tidak menjadi sentral dari desa yang sudah tergeserkan dengan sistem administrasi modern, sehingga keberadaannya pun hanya sekadar hiasan atau bangunan adat yang tidak menyatu, karena tidak digunakan sebagai ruang berkehidupan sehari-hari yang menjadi penting keberadaannya di desa.

Suatu hari kelak, mungkin rumah-rumah kita juga akan berubah menjadi museum. Hanya sebagai penanda bahwa pernah ada kehidupan di sini, keberadaan atas bentuk arsitektur yang khas. Mungkin saat itu pohon-pohon pembentuknya sudah menjadi sejarah, menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh dengan cukup dan menjadi pelindung kehidupan.

Perjalanan Maret 2018, ditulis Januari 2019.

Data tambahan:
http://www.floresa.co/2015/08/13/sejarah-kekuasaan-di-manggarai-raya-dari-perang-todo-vs-cibal-hingga-pilkada-langsung/
https://www.kompasiana.com/asitasuryanto/5ab21556bde5754c55696b55/masuk-ke-peradaban-lama-di-kampung-todo-pulau-flores

10 thoughts on “kampung todo: pusat kerajaan yang menyepi

  1. Pengalaman pribadi kayak gini pasti jauh lebih berkesan 🙂 menarik banget, sampe ditawari nginap segala. Dulu aku rombongan, jadi ya agak susah, terburu waktu karena banyak destinasi yang harus dikunjungi. Bahkan gak sempat masuk ke Niangnya >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s