Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.
lampau melekat dari angkor wat
“What breaks in daybreak? Is it the night? Is it the sun, cracked in two by the horizon like an egg, spilling out light?” ― Margaret Atwood
Aku nggak bisa tarik tunai lewat Mandiri Visa di Phnom Penh, Kamboja. Panik? Iyalah, masa di negara orang nggak punya uang tunai. Khawatirnya, karena rencana nanti malam sampai Siem Reap, dan besok paginya langsung ke Angkor Wat, dan nggak tahu juga bayar tiketnya pakai cash atau bisa pakai kartu. Untuk amannya, kudu punya cash dollar bukan? Nah itulah, uang cashku kurang untuk beli tiket Angkor Wat senilai 37 dolar itu.
Alhasil sesampai di Siem Reap malam hari, check in di Lub D hostel yang penuh bule, aku melanjutkan makan malam dengan sisa-sisa dolar yang ada. Yup, di Kamboja tidak hanya berlaku mata uangnya sendiri, namun juga kita bisa menggunakan dollar Amerika. Duh, beginilah rasanya jadi turis kere nggak punya cash hadeuhh. Karena capek perjalanan, jadinya mengantuk langsung tidur saja, apalagi hostelnya bagus banget.
Pagi hari yang cerah itu aku malah menelepon adkku, minta dikirimin uang via CIMB Niaga, dan jalan kaki keliling kota. Alhamdulillah banknya pun tidak terlalu jauh, sehingga akhirnya punya pegangan cash di tangan. Ternyata kota ini cukup menarik, dengan sungai sebagai waterfront dan cukup bersih, juga pasar dan pusat perbelanjaan yang lumayan ramai.
Sambil berkeliling kota, daripada ke mana-mana lagi, aku mending ke Museum Siem Reap untuk mempelajari tentang sejarah kota ini dan bagaimana bangunan bersejarah ini dibuat.di masa lalu.
Menjelajah malam hari di Siem Reap cukup hidup dibandingkan dengan melihatnya di siang hari, beberapa spot terlihat berbeda dengan lampu-lampu yang menerangi bangunan dan jalannya.
Sayangnya di pagi dini hari berikutnya itu hujan agak sedikit rintik-rintik sehingga jalanan menjadi agak becek. Dengan diantar tuktuk yang sudah dipesan sejak malam sebelumnya, aku sampai di pintu gerbang Angkor Thom, dan membeli tiket senilai 37 dollar untuk one day pass yang ternyata akhirnya bisa dibayar dengan swipe kartu Mandiri Visa (yang tidak bisa ditarik cashnya itu). Jadilah uang dollarku aman di dompet. Lucunya, di tiket Angkor Wat ini dicetak dan ada wajah kita di situ. Bener-bener kenang-kenangan, deh.
Tempat berdirinya kompleks Angkor Thom ini sebenarnya adalah ibukota terakhir kekaisaran Khmer di masa lalu, yang akhirnya ketika sebelum berubah model pemerintahan dan ibukota berpindah ke Phnom Penh.
Angkor Wat (aksara Khmer: អង្គរវត្ត, artinya “kota candi” atau “kota percandian”)[2] adalah bangunan percandian terbesar di dunia yang masih berdiri dan terpelihara karena menempati lahan seluas 162,6 hektar (1,626 km²). Bangunan bersejarah dibangun pada awal abad ke-12 sebagai candi kenegaraan oleh Raja Suryawarman II di Yasodarapura (aksara Khmer: យសោធរបុរៈ, sekarang Angkor), ibu kota Kerajaan Kambujadesa. Candi tempat ibadah Raja ini pada mulanya adalah candi agama Hindu yang dibaktikan kepada Dewa Wisnu, kemudian dialihfungsikan menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12.
Pada tahun 1177, kira-kira 27 tahun sesudah Suryawarman II mangkat, kota Angkor diserbu bangsa Campa, musuh bebuyutan bangsa Khmer.. Kedaulatan negara Kambujadesa dipulihkan raja baru, Jayawarman VII. Sang raja mendirikan ibu kota dan candi kenegaraan baru beberapa kilometer di sebelah utara Angkor Wat, yakni kota Angkor Thom dan candi Bayon yang ia baktikan untuk kepentingan agama Buddha, karena merasa sudah dikecewakan dewa-dewi Hindu. Pemerintahan ini juga sedikit demi sedikit mengubahnya menjadi sebuah situs agama Buddha, dan banyak ukiran bertema Hindu diganti dengan karya seni agama Buddha.
Angkor Wat
Menjelang subuh aku bersama banyak orang lainnya sudah berada di sebelah luar candi Angkor Wat untuk menunggu momen menarik sebelum matahari terbit. Namun karena awan basah menaungi langit pagi itu, sehingga latar fajar keunguan yang diharapkan tidak nampak pagi itu. Jadi aku memutuskan untuk masuk ke dalam gerbang Angkor Wat yang besar sekali itu.
Angkor Wat merupakan perpaduan dua langgam utama bangunan candi Khmer, yakni langgam candi gunungan dan langgam candi berserambi. Bagian pertama memiliki denah persegi empat yang dikelilingi oleh danau persegi lebar sebagai pembatas, yang bisa diseberangi dengan jembatan. Pada bangunan candi lapis pertama dikelilingi serambi keliling menyerupai koridor, yang dibagi empat bagian koridor dengan ketinggian sekitar 1 meter di atas dasarnya. Bangunan pembuka ini dinamakan Hall of Thousand Gods dengan banyak ukiran dewa dewi Hindu di dindingnya.
Baru sesudah itu aku masuk ke hall besar di tengah yang merupakan hall utama, dengan serambi berkeliling dan candi-candi ada sudut-sudutnya, dan candi besar dengan ujung anak tangga hampir empat meter tepat di tengah. Candi utama ini dirancang sebagai lambang Mahameru, persemayaman para dewa menurut kosmologiHindu–Buddha. Candi besar ini dikelilingi oleh empat candi pada empat penjurunya yang seolah “menyangga” keagungan candi utama dengan formasi pancayatana. Sayangnya karena aku menggunakan kain lilit dan tidak mengenakan rok atau celana, dianggap hanya scarf dan tidak sopan sehingga tidak boleh naik ke atas. Sementara peziarah lain yang menggunakan pakaian yang pantas (celana pendek juga tidak boleh), dapat naik ke Candi Mahameru di atas.
Dilihat dari bentuknya yang ramping, tampak bahwa candi ini adalah candi Hindu yang lebih meninggi langsing ke atas, walaupun di kemudian hari malah berubah menjadi candi Budha untuk beribadah hingga hari ini.
Karena itu aku memilih melipir ke arah belakang dan mengamati serambi paling belakang yang terbuka menghadap hutan. Aku berjalan menyusuri koridornya dan mengambil beberapa gambar ukiran pada dinding dari kedua sisi serambi yang identik ini. Memang arsitektur zaman dahulu ini selalu harus sama kiri kanannya supaya terjadi keseimbangan kosmos.
Walaupun ada pintu masuk dari sebelah timur, tapi terkesan sepi dan tidak banyak didatangi orang, dan langsung berhadapan ke jalan yang sepi. Tidak seperti area barat yang terawat, bagian ini terlihat agak kurang terpelihara.
Bayon
Penghentian kedua dengan tuktuk adalah ke Kompleks Candi Bayon, atau disebut Candi seribu wajah. Didirikan oleh Raja Jayawarman IV yang memeluk Buddha, Bayon menjadi candi utama untuk beribadah. Terletak di sebelah utara Angkor Wat sesudah menembus hutan, merupakan oase menyepi yang cocok untuk berbicara pada dewa.
Candi ini adalah candi terpenting yang menjadi pusat dan lambang kekuasaan Jayawarman VII, termasuk juga proyek pembangunan besar lainnya seperti pembangunan tembok kota, jembatan nāga dan seluruh kota Angkor Thom, termasuk candi Preah Khan, Ta Prohm, dan Banteay Kdei. Terdapat 216 wajah Buddha terukir pada berbagai sudut candi ini,yang pada beberapa tempat sudah tidak lagi utuh, melainkan hanya reruntuhan saja mengelilingi pola aksial candi ini.
Tak sedikit para biksu yang berdoa di candi ini dan beberapa pengunjung beragama Buddha pun tampak beribadah dan jalan berkeliliing. Beberpa patung budha pun masih utuh pada koridor aksisnya.
Dei Chnang Gate
Pintu gerbang utara dengan empat wajah yang dianggap representasi Raja Jayawarman VII sebagai titisan Avalokiteshvara yang dilangkapi dengan ukiran gajah dan jalan masuk di bawahnya. Pintu ini sebagai gerbang masuk ke Angkor Thom.
Preah Khan Temple
Melanjutkan kea rah timur, aku diantarkan ke Preah Khan Temple yang ini dibangun oleh Jayawarman VII untuk menghormati ayahnya. Tidak terlalu besar, dan terlihat seperti sudah pernah direstorasi. Dibangun dengan batu candi berwarna hitam, ukiran-ukiran di dindingnya lebih ke kehidupan sehari-hari kerajaan.
Eastern Mebon Temple
Ketika akhirnya hujan sudah benar-benar mereda, kami mampir ke Eastern Mebon Temple atau Candi Timur yang dulu kabarnya berada di tengah danau buatan, yang mungkin kini sudah mengering. Berbeda dengan yang lainnya batu yang membangunnya berwarna merah bata dengan stupa bata yang mengelilinginya. Pada bagian ujung terdapat arca gajah, yang mungkin bermakna sebagai pelindung kawasan ini.
Ta Prohm Temple
Kawasan terakhir ini adalah favoritku. Berada benar-benar di tengah hutan yang rimbun, kompleks bangunan ini lebih terlihat sebagai kuil tempat beraktivitas belajar di dalamnya daripada menyerupai candi. Terdapat beberapa bangunan kuno yang dibangun dari batu candi, dengan bekas pintu-pintu kayu, yang mungkin digunakan sebagai tempat belajar di masa lalu. Udara sejuk hutan dan kanopi pohon yang menjulang tinggi membuat titik ini teduh dan rimbun.
Berbeda dengan candi Angkor lainnya yang dipugar secara menyeluruh, para arkeolog Perancis pada abad ke-19 sengaja membiarkan Ta Prohm tetap menyatu dengan hutan. Akar pohon yang menjalar menembus dinding memberikan kesan mistis dan petualangan. Tak heran tempat ini juga dijadikan lokasi syuting Tomb Raider yang terkenal saat itu.
Pengalaman ruang di area Ta Promh ini cukup tenang dan membantu fokus untuk mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan di masa itu. Terbayang para biksu belajar di sini dari berbagai bangunan batu dan dikelilingi hutan yang memperdengarkan suara alamnya. Harum tanah tertimpa air hujan pun memberikan ketenangan alami di ruang-ruang tenang ini. Bahkan pengunjung pun tak berisik ketika melangkah di dalam kuil ini.
Sudah menjelang sore ketika aku tiba kembali di kota Siem Reap naik tuktuk itu. Masih ada waktu sebelum aku naik sleeper bus yang kupesan untuk kembali ke Phnom Penh ini sebelum terbang ke Kuala Lumpur lagi. Sempat menyesal sih, karena sebenarnya ada pesawat dari Siem Reap ke Kuala Lumpur langsung, tidak harus aku balik ke ibukota Kamboja itu lagi. Tapi karana tiket sudah dibeli, jadi aku ikuti saja perjalananya dengan sleeper bus seharga 12 dolar AS ini.
Keesokan harinya aku dibangunkan untuk pindah naik tuktuk ke bandara Phnom Penh, sialnya nggak bisa ditawar dengan harga 10 dolar. Berhubung sudah gak ada ide mau naik apa lagi, dan sudah capek juga, aku naik juda sampai bandara yang ternyata tidak terlalu besar itu. Kelar check in dan lewat imigrasi, aku baru bisa beristirahat sambil menunggu pesawat yang akan membawa ke bandara KLIA 2.