earthday2015 : dilema batu kapur

tebing-karst-citatah

The harder you fall, the heavier your heart; the heavier your heart, the stronger you climb; the stronger you climb, the higher your pedestal.
― Criss Jami, Killosophy

Kira-kira sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku cukup sering berkunjung ke daerah Citeureup, kabupaten Bogor, karena di sana banyak sekali goa-goa kapur yang bisa dikunjungi. Yang kuingat adalah goa Keraton yang bisa masuk horisontal dengan ornamen-ornamen yang indah. Stalagtit yang menggantung, yang terbentuk dari endapan air kapur, disinari cahaya senter kami. Lalu ada beberapa goa vertikal yang sempat kami turuni sebagai latihan menggunakan menggunakan tali statik dibantu dengan jummar untuk naik kembali.

    Beberapa tahun yang lalu aku bertanya lagi pada junior-juniorku tim caving, masih sering ke Citeureup?
    Goanya sudah runtuh, kak.

Tak heran, daerah Citeureup yang merupakan perbukitan kapur ini memang dikelilingi obyek-obyek batu yang sangat menarik. Selain goa-goanya, juga ada tebing Klapa Nunggal yang sering dijadikan tempat latihan panjat tebing dengan struktur overhangnya yang keren. Bukit-bukit ini juga yang membuat dua perusahaan semen raksasa, bermarkas di situ dan mengeksplorasi endapan-endapan putih ini sebagai bahan baku produksinya. Semen yang menjadi bahan baku bangunan ini tidak pernah mengalami masa surut produksi. Setiap saat, setiap hari di setiap pembangunan sudut kota selalu membutuhkan semen.

    Dan aku tercenung. Saat aku menanyakan pada juniorku itu, aku sedang bekerja di salah satu anak perusahaan semen raksasa dengan logo tiga buah lingkaran itu. Aku tahu perkembangan ekspansinya, silo-silo tinggi yang gambarnya berasal dari studio kami.

    Goa-goa dan bukit indah itu, hancur oleh industri manusia.

goa-pawon

Tak lama dari saat itu, aku dan teman-teman berjalan-jalan ke daerah Citatah, Kabupaten Bandung yang terkenal dengan Goa Pawon dan Taman Batu. Hampir seperti di Citeureup, wilayah ini penuh dengan perbukitan kapur yang kadang juga dijadikan tempat latihan panjat tebing. Sesudah berkeliling dalam goa, kami menuju taman batu yang sebenarnya berada di atas Goa Pawon tadi. Tapi kami memilih memakai mobil dan melalui jalan memutar dan membuat kami melewati beberapa penambangan batu kapur.

Di tempat ini, penambangan kapur adalah pekerjaan sehari-hari untuk warga setempat. Kapur digunakan antara lain untuk bahan baku kosmetik, bahan papan gipsum, campuran semen, bahan pemutih, bahkan pasta gigi. Di sebelah kiri tampak workshop kapur yang mengepulkan asap hitam. Di sini kapur yang didapat dengan meledakkan satu sisi perbukitan diolah dengan cara dibakar hingga dihaluskan. Lambat laun, akan habis juga kawasan ini?

Sementara di sisi-sisi karst lainnya, batu kapur amat tua dan keras berevolusi menjadi marmer, yang dijadikan pelapis dinding atau lantai yang mewah pada bangunan-bangunan di kota, memindahkan urat alami pada bebatuan pada pahatan. Marmer yang sejuk menjadi idola untuk dipasang sebagai simbol, terus menerus ditatah, diambil, direnggut dan dipindahkan. Marmer Citatah menjadi salah satu primadona untuk finishing bangunan mewah.

    Di mana aku ketika itu? Apa aku menjadi salah seorang yang merekomendasikan pemakaian marmer di salah satu bangunan yang didesain? Begitu banyakkah kebutuhan manusia akan marmer, sampai harus terus menerus memotong bukit kapur?

    Manusia tidak pernah cukup. Dan aku salah satu perpanjangan tangannya.

citatah-tambang-kapur

Akhir bulan lalu aku mengobrol dengan seorang warga Rembang yang gigih memperjuangkan kota Rembang dan Lasem untuk dilestarikan peninggalan budayanya. “Jika kita berniat melestarikan heritage, apakah kita akan merusak alam? Tentu kita akan jaga,” ujarnya. Dari mulutnya meluncur juga cerita tentang perjuangan warga Rembang yang menolak pengalihfungsian Pegunungan Kendeng menjadi area penambangan bagi pabrik semen yang akan didirikan. Pembangunan pabrik semen dipastikan akan menghancurkan lingkungan karst yang sudah bertahun-tahun menjaga keseimbangan ekologis daerah ini.

Kebutuhan lahan sangat luas pada perusahaan-perusahaan semen akan berdampak pada kehilangan lahan pertanian, hingga petani dan buruh tani akan kehilangan lapangan pekerjaan. Ada 109 mata air, 49 goa, empat sungai bawah tanah yang masih mengalir dan mempunyai debit bagus, serta fosil-fosil yang menempel pada dinding goa, makin menguatkan keyakinan bahwa kawasan karst Watuputih harus dilindungi.”(sumber : www.mongabay.co.id)

Pabrik semen lagi? Sebegitu tinggikah permintaan kapur sebagai bahan baku? Aku tercekat dalam hati. Sebegitu besarkah kebutuhan manusia akan bangunan? Sebegitu perlunya mereka untuk selalu memperbaharui tempat tinggal mereka? Seberapa pentingnya bahwa penyelesaian akan fungsi-fungsi ruang adalah sebuah bangunan?

    Dan aku ada di mata rantai itu. Aku ada di tengah-tengah pengguna semen yang maha banyak itu, sebagai pembisik. Sebagai seseorang yang menginginkan impiannya terwujud dengan bantuan olahan kapur itu. Seolah menyetujui pembangunan, penggunaan untuk berbagai material untuk kepentingan manusia. Atau mungkin sekelompok kapital.

    Duh, Bumi. Aku minta maaf.
    Aku mencintai bebatuan dengan membiarkan mereka berada di tempatnya. Tapi aku juga berdiri di sisi yang lain. Bagaimana cara menumbuhkan batu kapur lagi?

stone-garden-citatah

depok.22.april.2015.selamat.hari.bumi.

Advertisements

37 thoughts on “earthday2015 : dilema batu kapur

  1. Gara says:

    Dilematis, dan kondisi alamnya sudah memprihatinkan, karena sudah ada dampak langsungnya; sudah ada bukit kapur yang hancur. Haduh, bingung mau bagaimana :hehe.

    • indrijuwono says:

      mencoba mengurangi pemakaian semen, deh. tapi susah banget, karena bahan utama. di palimanan, cirebon, depan gunung kapur yang di depannya pabrik semen, kualitas udaranya jadi rusak, sampai harus memakai masker.

      • Gara says:

        Mungkin kita mesti kembali ke abad 17 atau 18 yang menggunakan putih telur sebagai perekat ya Mbak…

      • indrijuwono says:

        mungkin perlu kembali menggunakan bangunan kayu, karena lebih mudah ditumbuhkan daripada menumbuhkan batu.

        pertanyaan aku sih : memang kita butuh bangunan sebanyak itu, ya?

      • Gara says:

        Melihat masih banyak orang yang tinggal tanpa bangunan di bantaran rel kereta, baik sebelum masuk Stasiun Senen, Stasiun Duri, atau Stasiun Tanah Abang, sulit untuk berkata tidak, Mbak.

  2. papabackpacker says:

    Oh, jadi ini alasan kenapa orang Rembang pada demo, di berita nggak ada yang bahas ginian. Saya kira orang Rembangnya yang kolot gegara nggak mau maju, makanya saya nggak pernah respek sama beritanya. Dari tulisan ini saya jadi tau kalau yang kolot itu pemerintah mbak. Tulisan bagus mbak, jadi nambah wawasa 😀

  3. Badai says:

    Jadi ingat Gunung Putri di Citeureup yang tinggal nama sahaja, karena gunung kapurnya sendiri sudah habis dikeruk manusia 😥

    Padahal kawasan karst semestinya jadi area konservasi karena ia menyimpan sejarah bumi dan sumber mata air tak terhingga…

  4. hartro says:

    bentar lagi bukit2 kapur bakalan habis dibabat sama manusia2 serakah,, kalo bermanfaat banyak buat rakyat kecil sih masih mending, kenyataannya yang ngambil banyak untung ya cuma para pengusaha berduit doang, sedih banget,

  5. yedi says:

    setiap hari harus memikul air, tempat tinggalku tepat di bawah tebing 125 citatah, lapangan bola yang dulu dijadikan tempat bermain, kini habis dijadikan pabrik produksi marmer.. sediiih nyaaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s