riak menari sungai musi

0-cover-musi-palembang-kapal-XX


dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Sumatera adalah titik istimewa karena salah satu sisinya yang menghadap ke Selat Malaka, sebagai jalur persinggahan atas pelayaran jarak jauh dari Eropa ke Cina. Setelah pelayaran berbulan-bulan di Samudera Hindia, laut tenang di Selat Malaka menjadikan pesisir Sumatera sebagai pelabuhan alami yang merupakan tempat aman untuk reparasi kapal serta berdagang kapur barus, kemenyan, emas, dan lada. Tak pelak lagi, bandar-bandar di sisi timur Sumatera menjadi berposisi strategis sebagai ruang timbunan barang dagangan dan Sriwijaya adalah salah satu bandar yang bersinar. 

Keistimewaan kerajaan Sriwijaya dengan adanya sungai Musi sebagai denyut nadi yang menghantar perekonomian dari muara hingga ke tengah hulu menuju hilir. Sungai ini membawa aneka hasil bumi untuk diperdagangkan ke negeri seberang, dengan kapal-kapal kayu hasil karya pengrajin di masa itu. Di pedalaman hulu sungai Musi berada, terdapat teh, kopi, karet hingga sawit yang dahulu penjualannya melewati sungai.

Bahkan di zaman kejayaannya, tanah Sriwijaya adalah jujugan pembelajaran dari para cendekia dari daratan-daratan seberang, di mana mereka belajar banyak ilmu yang diterangkan dari perguruan-perguruan yang mahsyur. Sungai Musi sebagai penghubung ke pedalaman membuat akses pendatang baik yang belajar maupun berdagang lebih mudah untuk berkontak langsung dengan penduduk pribumi. Lambat laun, sisi sungai menjadi berkembang sebagai halaman muka dari kehidupan sosial sehari-hari.

Potensi Sriwijaya dengan pelabuhannya pun menjadi salah satu titik terpenting Nusantara. Betapa tidak, pelayaran-pelayaran dari Maluku, Makassar atau Tanah Jawa yang hendak ke luar Nusantara menjadikan titik ini atau pelabuhan Muaro Jambi sebagai tempat transit menuju bandar-bandar yang lebih jauh. Dari persinggungan transportasi di masa itu, tibalah pendatang-pendatang dari Cina, Arab, dan tanah Jawa bolak balik datang ke bumi Sriwijaya ini untuk berniaga sutra, keramik, dan aneka barang lainnya. yang berakulturasi dengan penduduk setempat. Beberapa bukti peninggalannya adalah keping-keping emas dan keramik yang bisa ditemukan di beberapa kedalaman sungai Musi. Dari Prasasti Kedukan Bukit pun menjelaskan tentang penemuan tanah sebagai pusat pemerintahan yang kini menjadi kota Palembang.

590px-Srivijaya_Empire_id.svg

Di tepi Sungai Musi yang melintasi kota Palembang kini banyak berseliweran perahu kayu yang difungsikan sebagai speedboat atau taksi air yang menghubungkan antara sisi hulu dan hilir sejumlah daerah di Palembang dan Sungai Musi. Salah satu titik pengrajin perahu yang sudah turun temurun terdapat di Desa Kemang Bejalu Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kayu yang digunakan adalah kayu bungur (Lagerstroemia speciosa pers) yang bisa diperoleh dari hutan-hutan milik warga di Sekayu. Kayu ini menjadi pilihan penting karena sifatnya yang tidak menyerap air sehingga bagus digunakan sebagai rangka dan lapisan luar perahu.

Melintas sungai Musi ke arah utara dengan perahu kayu yang berjalan santai, harus bersiap-siap terempas ombak apabila kapal yang lebih kencang melintas di sisi kiri atau kanan. Ratusan orang hilir mudik setiap harinya menggunakan perahu sebagai alat transportasi yang nyaman dan murah. Tak semua mau memutar hingga jembatan Ampera untuk bisa mencapai seberang. Karena itu perahu-perahu ini jadi andalan untuk melintas sungai selebar kira-kira 504 meter di kota Palembang ini.

2-musi-palembang-kapal-kayu-sewaan

3-musi-palembang-kapal-kayu-sewaan

4-musi-palembang-kapal-kayu-sewaan

5-a-musi-palembang-kapal-kayu-sewaan

5-musi-palembang-kapal-kayu-sewaan

Dari seberang Ilir Sungai Musi, berderet-deret rumah rakit di kawasan Seberang Ulu yang berdiri di atas bantaran sungai. Kawasan ini dikenal sebagai daerah Pecinan karena banyak etnis Tionghoa yang tinggal di situ akibat pemisahan wilayah Ulu dan Ilir yang dilakukan oleh kesultanan pada abad 16. Dengan berdirinya Benteng Kuto Besak sebagai keraton pada masa itu, pihak pemerintahan menetapkan kawasan seberang Ulu untuk pendatang dari Siam, Jawa, Eropa, Arab, Melayu, dan lain-lain. Jika tidak dibangun jembatan Ampera pada tahun 1962, tentunya Palembang Ulu dan Ilir tidak pernah menjadi satu. Salah satu spot terkenal di Palembang adalah Kampung Kapitan, yang sekarang menjadi salah satu titik tujuan wisata.

Rumah-rumah di tepian ini menghadirkan berbagai aktivitas tepian sungai. Beberapa tempat terlihat cenderung kumuh dan terbengkalai, dengan sampah-sampah yang menepi dan membuat langkah menjadi gamang. Tak sedikit WC di tepi sungai, bersamaan dengan irama mencuci di pagi hari. Beberapa penduduk yang berjiwa bisnis membuat kios-kios solar yang bisa memenuhi kebutuhan pengguna perahu motor yang berlalu lalang apabila membutuhkan bahan bakar. Warung-warung apung ini cukup mudah ditemui di tepian.

6-musi-rumah-kayu-seberang-ulu

7-musi-rumah-kayu-seberang-ulu

8-musi-rumah-kayu-seberang-ulu

9-musi-rumah-kayu-seberang-ulu

10-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-kios-solar

11-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-kios-solar

Saat melintasi sungai Musi, jamak dilihat tongkang pasir yang menggali dari dasar sungai. Selain upaya penambangan, memang dasar sungai Musi mengalami pendangkalan cukup serius hingga ke arah muara, sehingga dibutuhkan pengerukan sehingga kedalaman air mencapai level yang dibutuhkan kapal besar untuk lewat. Tak heran, semakin ke arah hilir, di mana kegiatan industri semakin tinggi, semakin banyak kapal-kapal besar yang berseliweran, atau hanya menjangkar di tengah sungai atau dibantu kapal-kapal pandu yang bisa menarik kapal besar untuk bisa merapat di dermaga.

Pertumbuhan pemukiman di tepian sungai Musi berlangsung linier, dari satu tepian dan terus memanjang menutup muka sungai, mungkin supaya lebih dekat dengan jalur transportasi sehari-hari itu makin berkembang ke arah daratan tertumpuk dengan rumah lainnya yang melapis hingga tepi jalan raya yang cukup berjarak dari tepi sungai. Dengan pendangkalan sungai akibat endapan, daerah ini menjadi rentan terhadap banjir apabila tiba-tiba ada volume air yang meningkat.

13-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-kios-solar

14-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-anak-anak

15-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-kios-solar

16-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-dermaga-kapal

17-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-dermaga-kapal

Jika disisi sungai seberang Ilir cukup lumayan tertata karena lebih banyak bangunan publik yang berdiri disana beserta pusat pemerintahan. Seberang Ulu mulai dikembangkan pembangunan, seiring dengan dibangunnya Stadion Jakabaring yang menjadi magnet baru bagi dunia olahraga, sehingga jalan-jalannya menjadi lebih mulus. Lagipula, jalan trans Sumatera juga harus melintas sisi ini.

Sungai Musi marak dengan aneka kegiatan pariwisata, mulai dari tepi sungai di Seberang Ilir yang selalu ramai di akhir pekan, juga even tahunan seperti Festival Sriwijaya, satu acara kesenian di tepi sungai, Musi Triboatton, pertandingan olahraga di sungai, juga menjadi tuan rumah untuk menyaksikan fenomena alam gerhana matahari total yang diperkirakan berlangsung tanggal 9 Maret 2016. Dengan aneka pesona Palembang yang cukup banyak, tak dipungkiri bahwa Sungai Musi menyimpan begitu banyak potensi bahkan sekadar untuk berperahu di tengah sungai.

18-musi-rumah-kayu-seberang-ulu-jembatan-ampera

Satu daerah industri di sisi seberang ilir yang didominasi oleh pabrik pupuk yang berskala nasional yang sudah berdiri bertahun-tahun, memanfaatkan sungai Musi sebagai jalur transportasi maupun angkutan yang cukup sibuk berlalu lalang setiap harinya. Belasan kapal besar berlalu lalang dengan kecepatan sedang untuk mensuplai aneka kebutuhan, mulai dari angkutan kontainer, bahan baku, alat berat, juga angkutan energi.

Jalur air ini mungkin memang lebih efektif daripada lewat darat dan membebani struktur jalanan. Walaupun pemeliharaan sungai pun tidak mudah karena kapal-kapal ini memerlukan kedalaman muka air tertentu sehingga mereka tidak kandas di jalur sungai. Pengerukan harus senantiasa dilakukan rutin supaya jalur ini bisa terlalui dengan lancar.

21-sungai-musi-kapal-besi-besar

22-sungai-musi-kapal

23-sungai-musi-kapal-container-field-pupuk-sriwijaya

24-sungai-musi-kapal-besi-besar-jangkar

25-sungai-musi-kapal-besi-besar-jangkar-pupuk-sriwijaya

26-sungai-musi-kapal-besi-besar-sandar-dermaga

Tapi perlu diingat, bahwa sungai Musi ini hidup setiap hari, ada atau tidak ada festival atau keramaian yang diadakan berbagai pihak. Keistimewaan kota yang memiliki waterfront ini karena sungai ini masih dijadikan jalur transportasi sehari-hari, baik penduduk, turis, maupun pelaku industri. Gemerlap hiruk pikuk sungai Musi ini memang menjanjikan suasana memesona yang menjadikan sungai ini sebagai muka kota yang semestinya indah, namun juga menyimpan banyak persoalan lingkungan serius. Pencemaran sungai akibat aktivitas rumah tangga dan industri, kerusakan daerah aliran sungai, tingginya laju endapan, fasade perumahan yang tidak selalu sedap dipandang menjadi beberapa persoalan yang menghantui sungai ini sebelum kelak menjadi aset yang amat membanggakan sebagai kota air yang cantik.

Di hulu sana, masih ada petani ikan di keramba, sementara di hilir, kapal-kapal keluar masuk yang menunjang kegiatan industri juga tak kalah ramainya. Pemeliharaan sungai ini mutlak diperlukan karena banyak sekali keterkaitan ruang-ruang sosial, budaya, maupun industri dengan sungai Musi, karena ia sebagai nadi tanah Bumi Sriwijaya, dipelihara untuk tetap mengalir hingga muara.

Serpong, 06.03.2016. 11.33
peta dari wikipedia kerajaan Sriwijaya
tentang Palembang :
seberang ilir jembatan ampera
tentang jarak pulau kemaro

 

27-sungai-musi-kapal-pabrik-pupuk-sriwijaya

28-sungai-musi-kapal-pabrik-pupuk-sriwijaya

29-sungai-musi-kapal-pulau-kemaro

30-sungai-musi-kapal-jembatan-ampera

 

 

Advertisements

17 thoughts on “riak menari sungai musi

  1. bukanrastaman says:

    ikan-ikan sungai musi sekarang gimana kabar ya>

    kadang kala alam menyajikan kebutuhan untuk manusia. tetapi beberapa manusia malah merusaknya, membangun atas nama keserakahan dan sinergi yang kurang

    • indrijuwono says:

      pindang patin pun asalnya mestinya dari musi.. hmm *tetibalapar* sebenarnya masih bisa diperbaiki karena pembangunan tepi sungai tidak terlalu banyak dan lebih terpusat ke arah hilir. jadi yang hulu mestinya masih bisa diperbaiki. semogaa..

      • bukanrastaman says:

        bener sekali kak, apalagi tidak sekeruh di angke ya, yang katanya semua ikannya banyak merkuri cmiiw hehehe

        semoga aja kak, Indonesia selalu butuh tangan dingin arsitek2 dengan wawasan seperti kak Indri. sukses selalu kak. semoga apa yang kita impikan tidak terbentur oleh kebijkan dari sang penguasa yang kadang menyedihkan 😦

      • indrijuwono says:

        setiap pembangunan pasti menimbulkan dampak, dan apalagi sebagai engineer mesti tahu bagaimana meminimalisasikan dampak ini supaya lokasinya tetap sustain dan berkepanjangan.
        Palembang punya pesona yang luar biasa, ikonik dan cantik, mesti bisa dibuat lebih baik.

  2. jonathanbayu says:

    Liat foto Sungai Musi jadi inget Sungai Mahakam. Sama-sama sungai besar yg bisa menampung kapal-kapal besar. Cuma perbedaannya Musi lebih terlihat rapih. Banyaknya tambang membuat sungai jadi tercemar dan banyak binatang terancam, salah satunya pesut mahakam.

  3. alrisblog says:

    Sungai Musi sebagai urat nadi perekonomian mungkin sudah eksis sejak sebelum kerajaan Sriwijaya.

    Tahun 1848 tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain di Asia dari Bourbon Mauritius sebagai tanaman hias. Jadi pada masa kerajaan Sriwijaya belum ada kelapa sawit. Kerajaan Sriwijaya eksis dari 671 – 1183.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s