tanjung puting, sebuah mimpi dari partikel supernova

cover-tanjung puting partikel supernova

    “Kenapa kamu di sini, Zarah?”
    Dadaku seperti dihunjam. Pertanyaan final itu harus kujawab.
    “Saya mencari rumah, Bu,” jawabanku meluncur begitu saja, “Mungkin bisa saya temukan di sini.”
    Bu Inga lurus menatapku, mencari sesuatu yang perlu ia konfirmasi. “Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam,” katanya lembut sambil menempelkan tangan di dada. “Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita.”
    Partikel – Dee (h.213)

Mendengar kata Tanjung Puting, seketika ingatanku melayang pada Partikel. Di situlah Zarah Amala menemukan ‘rumah’-nya, tempat di mana ia dirindukan. Bukan oleh keluarganya, namun oleh kekuatan yang begitu mencintainya. Dan aku menggumam dalam hati, harus ke sana.

Tanjung Puting bukan destinasi wisata yang populer seperti banyak tempat lain. Banyak yang bertanya, “Di mana itu?” ketika aku bercerita tentang lokasi yang ingin kukunjungi karena sebuah buku itu. Aku sendiri awalnya tidak tahu dengan pasti, di mana Tanjung Puting berada. Aku pikir hutan tropis ini berada di tengah pedalaman Kalimantan, di aliran sungai tempat orangutan bisa berkeliaran dengan bebas, hutan yang masih terjaga dengan cara menuju ke sana yang tidak mudah dan tidak murah. Karena menurut informasi, cara menuju Tanjung Puting hanyalah menyewa kapal, dan seketika hal itu yang membuatku gentar, takut dengan biayanya.

Namun seorang teman yang tinggal di Kalimantan berhasil meyakinkanku untuk mengunjunginya. Indra, begitu ia biasa dipanggil, seorang blogger yang berdomisili di Palangkaraya, mengajak beberapa orang teman untuk melihat Tanjung Puting, tempat orangutan di-recovery, belajar di alam, sebelum dikembalikan ke habitat asalnya. “Ayo, rame-rame ke sini! Nanti aku antar,” begitu ajakannya. Karena ia juga memiliki jasa perjalanan, ia memberikan banyak informasi tentang Tanjung Puting, “Sebenarnya kalau untuk domestik nggak terlalu mahal, koq.” Hm, jadi semakin kepengin ke sana. Sayangnya beberapa teman jalan jadwalnya nggak pernah bisa klop, sehingga terus menerus ditunda. Hmm..

2-tanjungputing-hutan-orangutan

Taman Nasional Tanjung Puting berada di propinsi Kalimantan Tengah, tepatnya di ujung barat dayanya dan bisa dicapai dengan kapal kelotok dari Pelabuhan Kumai yang berjarak satu jam dari Pangkalan Bun. Kota ini sendiri terpisah sejauh delapan jam dari ibukota propinsinya, Palangkaraya. Tempat ini dikenal sebagai lokasi rehabilitasi orangutan, tempat mereka yang lolos dari perburuan diselamatkan (biasanya di usia muda), latihan untuk hidup di hutan sampai bisa mandiri dan membentuk kawanan sendiri. Kalimantan yang menjadi habitat asli orangutan perlahan-lahan rusak oleh industri dan mengancam keselamatan primata besar berbulu cokelat keemasan yang kecerdasannya mendekati manusia ini.

Dalam satu sub cerita di Partikel, Dee menceritakan perjalanan Zarah menyusuri Sungai Sekonyer di Kalimantan tengah bagian barat ini, naik perahu kelotok selama tiga hari, mengunjungi tiga kamp tempat tinggal orangutan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana tempat-tempat itu sebelumnya, hanya terbentuk dari gambaran di kepalaku seperti di buku, menyusuri hutan dan berjalan kaki dengan awas.

    Puluhan kelotok yang mengangkut wisatawan kemari adalah akibat daya tarik kera berbulu oranye itu, yang kehilangan rumahnya meter demi meter, hari demi hari, gara-gara eksploitasi manusia. Seiring dengan populasinya yang menurun, popularitas orangutan malah meningkat, dan manusia akan kembali menemukan cara untuk menumpanginya. Aku merenungi simbiosis aneh itu sepanjang makan siang. (h.182)

1-tanjungputing-sungai-sekonyer

“Kak, ke Tanjung Puting, yuk! Bulan depan, pas long holiday,” celetuk Putri, travel blogger muda yang kebetulan ketemu di salah satu acara. Aha! Seketika aku tertarik. “Nanti sama mas Indra aja,” bujuknya. Walaupun tadinya agak ragu dengan jadwalku, tapi dua hari kemudian aku memastikan, “Yuk!” Kapan lagi punya teman jalan ke tempat impian bareng seseorang yang punya motivasi yang sama? Sepertiku, Putri pun tertarik ke Tanjung Puting dengan alasan buku ‘Partikel’-nya Dee Lestari.

Ternyata sesudah berkasak-kusuk mencari tambahan teman supaya biaya tour menjadi lebih murah per orangnya, kami mendapati rombongan kami berisi 5 orang yang akan menjelajahi Tanjung Puting bersama-sama. Sahabatku Lanny, teman jalanku Felicia, dan teman Putri bernama Ima ikut bergabung.

2-tanjungputing-partikel-dee

Aku, yang belum pernah menjejak bumi Kalimantan semangat sekali mengurus perjalanan kami. Hampir tidak ada hal yang perlu diurus sebenarnya, selain membeli tiket pesawat yang harganya sedikit naik. Semua urusan di Kalimantan ditangani oleh Indra. Sengaja kami memilih maskapai Kalstar karena jenis pesawatnya yang berbeda dengan yang biasa kunaiki, dari Jakarta langsung ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Nanti dari situ akan disambung mobil ke Pelabuhan Kumai selama kurang lebih satu jam.

Kalimantan dengan hutan tropisnya menarik minatku untuk mengunjungi salah satu belahan hutannya. Di sinilah sebenar-benarnya zamrud katulistiwa berada. Di pulau yang disebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Hutan tropisnya dengan aneka varietas tanaman dan binatang yang bersembunyi di dalamnya. Dan manusia yang hidup bersisian dengan hutan, mengatasi segala problemanya dengan alam. Kalimantan yang terpatri dalam pikiranku adalah hutan, bukan aneka tambang yang didengungkan oleh teman-temanku di tempat kuliah.

5-tanjungputing-partikel-dee

    Esok paginya, aku dibangunkan oleh suara owa yang bersahut-sahutan bercampur tonggeret yang memekakkan hutan dengan bunyi bergoak-goak konstan bagai mesin. Satu fantasiku yang terjungkir tentang hutan adalah suara-suara ini. Dulu, kupikir hutan adalah tempat yang sunyi sepi. Aku salah besar. Setiap saat telinga kita dibombardir kor tonggeret, cericit burung, teriakan monyet, fan entah hewan apa lagi yang tersembunyi di siluet pepohonan. (h.185)

Dari atas pesawat jenis Embraer E-195 ini, aku melihat sungai berlekuk hingga muara, di tengah gerumbul hutan-hutan hijau yang menyejukkan mata. Langit berawan menyambut kedatanganku yang akan menjejak bumi Kalimantan untuk pertama kalinya. Inikah zamrudku yang tetap hijau?

bandara pangkalan bun

kalimantan-dari-udara

perjalanan 14-17 mei 2015
trip oleh tourtanjungputing.com

cerita tentang perjalanan :
tanjung puting, lintas alam demi orangutan
pondok tanggui, cerita tanjung puting dan tapak hijau

Advertisements

32 thoughts on “tanjung puting, sebuah mimpi dari partikel supernova

  1. Rullah says:

    Hutan di Kalimantan memang jadi paru-parunya dunia, tapi kadang terpikirkan dengan tergesernya pohon-pohon di hutan menjelma menjadi Sawit. Ada semacam ketakutan tersendiri

  2. Muhammad Akbar says:

    Tanjung Puting kita tak sempat bertatap muka,
    padahal saya sudah di Palangkaraya,walaupun sebenarnya masih butuh 7 jam lagi tapi setidaknya saya sudah sangat dekat denganmu.

    ahhh, selalu ada alasan untuk datang kembali.

    Pengen juga baca buku partikel dee, sebelum ke Tanjung Puting.
    *bolehlah dipinjamkan bukunya*

  3. Rifqy Faiza Rahman says:

    Ikut senang melihat Mbak Indri melakukan perjalanan karena terinspirasi dari buku. Semoga satwa bersahaja itu tetap nyaman terlindung di sana, dan menggugah kesadaran bagi pembalak hutan dan industri yang memberangus hutan hujan tropis yang tumbuh dan terbentuk sekian tahun lamanya.

      • Rifqy Faiza Rahman says:

        Saya masih awam soal industri Mbak, dalam pikiran udik saya bertanya: ‘masa gak ada sih alternatif lain menghasilkan produk-produk yang selama ini berbahan baku minyak kelapa sawit?’ Yang disayangkan kan betapa industri itu dibangun besar-besaran, tapi pemulihan lahan hutan yang telah hilang lambat sekali berjalan.

        Jujur, saya sering sinis: kenapa harus di Indonesia sih sawitnya. Lalu muncul persoalan, lalu di kemanakan lagi para pekerja kebun ini? Complicated…

  4. Gara says:

    Dan dalam pikiran saya, sebenar-benarnya kehidupan adalah ketika kita berada di tengah-tengah benda yang hidup, yang meski sepintas sunyi, mereka hidup, bukan ketika kita berada di hutan beton dan semua gegap gempita teknologi ketika kita lupa bahwa mereka semua adalah benda mati :hehe. Perjalanan yang sangat, sangat memperkaya dan kayaknya saya penasaran dengan apa yang bisa disesap dari perjalanan ini :hehe.
    Foto-foto yang menakjubkan, as always, dipadu dengan deskripsi yang sangat apik :hehe.

    • indrijuwono says:

      Ya Tuhan, kata-katamu bagus sekali. Menunggu suara-suara alam itu memang sangat masuk ke jiwa, ya. Mungkin karena itu aku sangat jarang memakai earphone kecuali di kantor, karena sangat suka dengan suara sekeliling.

      • Gara says:

        Kalau saya pakai earphone di kantor malah bahaya Mbak, nanti tidak bisa mendengar obrolan terkini atau panggilan atasan :haha. Terima kasih!

      • indrijuwono says:

        Saya malah pakai earphone supaya gak digangguin panggilan atasan, hihihi. Tapi memang saya jarang mendengarkan musik kalau di jalan. Lebih suka mendengar suara lain-lain. Suara orang mengobrol, suara angin, suara air, suara kambing, dan lain-lain..

  5. bukanrastaman says:

    ah saya juga baca buku itu kak.. dan memang keren banget dee bisa membuat kita seakan ada disana dan mengarungi setiap rangkaian katanya 🙂

    btw kalo nyewa kapalnya berapa ya kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s