Tag Archives: pasir putih

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading kanca, dodola, dan doa seorang ayah

ujung selatan teluk dalam, selancar lagundri dan sorake : ya’ahowu nias #6

cover

kupetik bintang, untuk kau simpan..
cahayanya terang, beri kau perlindungan..
sebagai pengingat teman, juga sebagai jawaban, semua tantangan..

[melompat lebih tinggi : So7]

laut indah di tepi : bawomataluo, lompatan di atas bukit : ya’ahowu nias #5

Tempat favoritku melihat bintang adalah di tepi laut. Tengah malam setiba di pantai Sorake di Teluk Dalam, Nias Selatan, alih-alih tidur, aku mengajak Lanny, Fadi, dan Sansan untuk nongkrong di tepi pantai. Sayangnya lampu-lampu penginapan tetap menyala cerah berderet-deret sepanjang pantai Sorake itu.

Kami duduk di tanggul penahan air laut sambil menggantung kaki. Bintang bertaburan di angkasa. Aku dan Sansan memandangi gugusan rasi bintang sambil menebak-nebak zodiak. Tapi pengetahuan kami hanya sebatas menemukan rasi bintang Pari, atau Gubuk Penceng, sehingga ribuan yang lain hanya ditunjuk-tunjuk saja.

Tiba-tiba, PET!
Gelap gulita dan suara genset berhenti di sepanjang pantai Sorake. Kami memandang bintang dan melihat semua kilaunya tampak jelas di angkasa. Listrik mati ini membuat langit bercahaya gemintang dalam gelap yang melatarinya. Sejenak kami terdiam dan memandang langit yang tetiba indah diiringi suara debur ombak di lautan. Angin lembah terdengar di kejauhan, tersisa semilirnya di pantai.
Continue reading ujung selatan teluk dalam, selancar lagundri dan sorake : ya’ahowu nias #6