sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

0-cover-sriwijaya-air-sunrise

Setiap perjalanan terbangku bermula, aku selalu memasrahkan diri pada semesta, pada birunya langit dan awan-awan putih yang menggelayut, pada udara yang menjadi tempatku berada, pada menit-menit yang terhitung pasti, akan semuanya aku berdoa.

Selalu aku memilih untuk duduk di tepi jendela, di mana lubang kecil itu akan menunjukkan lansekap tanah, tinggi rendah nusa di bawahku. Di sana kadang aku memandang sawah, jalan, kumpulan pemukiman, sungai berkelok, dan gunung-gunung. Benar, gunung adalah pemandangan favoritku jika sedang berada di udara. Jika tidak sedang tertutup awan, membaca gunung seperti berbicara pada alam, pencapaian pada ketinggian tapak. Membaca peta, mencocokkan apa yang ada di kepala dengan yang dibawah sana, menerka-nerka nama.

dobel boarding pass, sriwijaya air dan nam air

dobel boarding pass, sriwijaya air dan nam air

Pagi itu aku di Bandara Soekarno Hatta bersama Shabrina, Bobby, Gio dan Lenny menuju Kupang, satu ibukota di Nusa Tenggara Timur. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk sebelah jendela untuk mendapatkan pandangan favoritku. Kali ini kami terbang dengan Sriwijaya Air yang menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 737-500W. Pesawat ini akan membawa kami hingga di Bali sebelum berganti dengan Nam Air ke Kupang.

pagi sriwijaya air sebelum berangkat

pagi sriwijaya air sebelum berangkat

“Flight attendant on position.”

Sepuluh menit kemudian sesudah take off terhampar langit pagi biru. Sayangnya di atas Jakarta dan Jawa Barat, aku tidak bisa melihat pegunungan bumi Pasundan karena pesawat terbang tinggi di balik awan. Aku melamun, membayangkan seandainya bisa menemukan puncak gunung Ciremai yang tertinggi. Lama kelamaan volume awan menipis dan memperlihatkan laut Jawa di bawah sana. Seandainya aku duduk di sisi kanan, aku pasti bisa memandang gunung Slamet, Sindoro, Sumbing di atas Jawa Tengah.

Ketika udara semakin cerah, aku tersadar berada di atas semenanjung pulau Jawa bekas kerajaan Demak dahulu. Dari langit, terlihat jalur-jalur jalan Kudus, Rembang, Pati, hingga kota Jepara di ujung utara titik penyeberangan ke kepulauan Karimun Jawa. Gunung-gunung batu kapur di pesisir utara Jawa memanjang hingga sekitar Bojonegoro.

Pesawat memasuki area Jawa Timur, di mana beberapa kontur punggungan kukenali sebagai Arjuno-Welirang, yang beberapa waktu yang lalu kulewati dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Malang. Tak berapa lama kemudian terlihat pegunungan yang berbaris rapi di sepertiga bagian Jawa Timur, gunung Batok yang banyak muncul di kartu pos, gunung Bromo dan kepundan kawahnya, kemudian yang puncaknya berdiri agung sebagai titik tertinggi di Jawa, Semeru.

puncak semeru

puncak semeru

Menjelang garis pantai Banyuwangi, pesawat yang kami naiki menurunkan ketinggiannya, sehingga pantai timur yang putih bersih itu muncul dalam horison, disambung dengan laut biru mendayu menuju Pulau Bali. Melayang lembut di angkasa, burung besi ini memasuki udara Pulau Dewata, dan mendarat di bandara Ngurah Rai. Aku menggumam syukur dan menunggu penumpang lain keluar sebelum membereskan barang-barang kami untuk menuju terminal kedatangan.

tim TBI dan awak pesawat sriwijaya

tim TBI dan awak pesawat sriwijaya

Penerbangan berikutnya kami ke Kupang menggunakan pesawat Nam Air yang juga satu grup dengan Sriwijaya Air. Pesawat yang digunakan juga sama, Boeing 737-500W. Seharusnya di bandara tadi kami bertemu dengan Richo dan Ima, namun baru di pesawat aku berkenalan dengan Richo. Di mana Ima? Oh, rupanya pesawat Nam Air yang kami naiki sekarang berangkat dari Surabaya dan transit Denpasar, sehingga Ima pasti tidak turun pesawat dari tadi. Karena aku belum pernah bertemu dengannya, jadi aku kembali duduk manis di samping jendela dan berhenti mencari Ima di antara penumpang, karena pesawat segera take off lagi.

nam air di bawah terik matahari

nam air di bawah terik matahari

Dan jalur penerbangan ke timur ini memang indah karena sebaran pulau-pulau di sana. Usai melihat jalur jalan tol ke Nusa Dua, pesawat terbang di atas selat Lombok. Kurapatkan mataku pada kaca jendela ketika melintasi udara pulau seribu masjid demi menikmati hamparan hijau sawah dan tembakau di bawah sana, dan gunung cantik di sisi Lombok bagian Timur, Rinjani. Untunglah panorama kawah Segara Anak belum tertutup kabut.

puncak rinjani dan segara anak

puncak rinjani dan segara anak

Melayang di atas pulau Sumbawa, lansekapnya yang berbukit-bukit kecoklatan menandakan sepertinya kemarau sudah berlangsung cukup lama di sini. Jalan-jalan dan rumah-rumah tak tampak karena altitude pesawat, serta serpihan awan tersebar di sana-sini. Di tengah gunung gemunung, aku memandang ragu pada satu kepundan lebar. Apakah itu Tambora, gunung yang letusannya 200 tahun yang lalu mengguncangkan dunia?

kepundan tambora yang meletus 200 tahun yang lalu

kepundan tambora yang meletus 200 tahun yang lalu

Kami terbang di perairan antara Sumbawa dan Flores. Sempat terbersit di benakku, apakah kami akan melintasi langit di atas Pulau Padar yang cantik seperti lengkung bulan itu? Tapi yang terlihat adalah beberapa pulau-pulau yang tampak kecil di tengah lautan biru. Beberapa tempat berwarna toska menandakan lautnya yang dangkal. Di atas pulau Flores yang cantik, tertangkap bukit-bukit dataran tinggi yang menawan.

labuan bajo yang damai

labuan bajo yang damai

Aku masih berharap jalur ini akan melewati puncak gunung Kelimutu yang mahsyur dengan danau tiga warnanya, tapi ternyata sisi kiri pandangku hanya laut, terus laut, hingga tiba-tiba pesawat mengambil manuver berputar dan aku sadar akan mendarat di bandara transit berikutnya, Maumere.

Dengan satu hentakan, pesawat mencium landasan bandara Frans Seda, Maumere. Burung besi itu sempat berhenti selama tiga puluh menit untuk waktu penumpang turun dan naik lagi ke pesawat. Di sini kami baru bertemu dengan Ima, yang ternyata sudah di pesawat sejak dari Surabaya. Pesan pramugari, kami boleh meluruskan kaki dan berjalan berkeliling, tapi tak boleh turun dari pesawat. Jadilah kami bercengkrama sejenak dengan pramugari dan pilot Nam Air ini.

kesempatan langka di kokpit, di frans seda airport

kesempatan langka di kokpit, di frans seda airport

Mengudara lagi di atas lautan, kami terbang melintasi laut Sawu yang biru. Tiga puluh menit menjelang, di atas lansekap kering yang tidak aku kenali, pesawat menurunkan ketinggiannya, mengeluarkan roda-roda, dan menjejak tanah Timor. Saatnya kami meregangkan tubuh. Selamat datang di Bandar Udara El Tari, Kupang.

laut maumere

laut maumere


lintas flores

lintas flores


pulau timor dari udara

pulau timor dari udara


jelang mendarat di kupang

jelang mendarat di kupang

Sriwijaya Air – Nam Air
www.sriwijayaair.co.id
Sriwijaya Air : CGK-DPS 05.45 WIB – 08.35 WITA
Nam Air : DPS-KOE 09.20 WITA – 11.35 WITA

#ExploreTimor #ExploreTheDiversity
perjalanan 20.11.15
pulomas-fx-depok 11.12.15 23:45

Advertisements

10 thoughts on “sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

  1. Gara says:

    Duh, birunya bikin mupeng! Dan cuaca saat itu sedang cerah-cerahnya ya Mbak, gugusan gunung dan pulau itu tampak begitu jelas. Terima kasih sudah berbagi Mbak :hihi, perjalanan di sana pasti menggetarkan dan saya menunggu kisah-kisah selanjutnya :)).

  2. yonathan says:

    Luar biasa foto-fotonya, terimakasih sudah mempercayai kami Sriwijaya Air dan NAM Air sebagai partner traveling nya, kami nantikan perjalanan berikutnya

    Regards,
    Yonathan-SJ/IN Kupang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s