ujung selatan teluk dalam, selancar lagundri dan sorake : ya’ahowu nias #6

cover

kupetik bintang, untuk kau simpan..
cahayanya terang, beri kau perlindungan..
sebagai pengingat teman, juga sebagai jawaban, semua tantangan..

[melompat lebih tinggi : So7]

laut indah di tepi : bawomataluo, lompatan di atas bukit : ya’ahowu nias #5

Tempat favoritku melihat bintang adalah di tepi laut. Tengah malam setiba di pantai Sorake di Teluk Dalam, Nias Selatan, alih-alih tidur, aku mengajak Lanny, Fadi, dan Sansan untuk nongkrong di tepi pantai. Sayangnya lampu-lampu penginapan tetap menyala cerah berderet-deret sepanjang pantai Sorake itu.

Kami duduk di tanggul penahan air laut sambil menggantung kaki. Bintang bertaburan di angkasa. Aku dan Sansan memandangi gugusan rasi bintang sambil menebak-nebak zodiak. Tapi pengetahuan kami hanya sebatas menemukan rasi bintang Pari, atau Gubuk Penceng, sehingga ribuan yang lain hanya ditunjuk-tunjuk saja.

Tiba-tiba, PET!
Gelap gulita dan suara genset berhenti di sepanjang pantai Sorake. Kami memandang bintang dan melihat semua kilaunya tampak jelas di angkasa. Listrik mati ini membuat langit bercahaya gemintang dalam gelap yang melatarinya. Sejenak kami terdiam dan memandang langit yang tetiba indah diiringi suara debur ombak di lautan. Angin lembah terdengar di kejauhan, tersisa semilirnya di pantai.

Tak sampai 20 menit keindahan ketika listrik menyala kembali dan kembali deretan penginapan di sepanjang pantai itu menyala lagi terang. Aku yang mengantuk akibat perjalanan panjang memutuskan untuk tidur. Sampai kamar, Lanny langsung terjatuh tertidur sampai pagi. Sepertinya, rencana melihat sunrise kami akan gagal.

sorake
Tapi ternyata jam enam pagi kami sudah nongkrong lagi di depan pantai sambil melihat peselancar yang mondar-mandir membawa papannya. Sempat terheran karena mereka berjalan berjingkat-jingkat di pantai, dan ternyata, ouch, pantainya karang! Harus mengenakan booties atau sepatu pelindung jika tidak ingin kaki terluka atau terpeleset di karang yang tertutup air itu.

peselancar menuju laut

peselancar menuju laut

Anehnya, kami tidak ada yang berniat berselancar. Pagi itu seperti istirahat sesudah sehari sebelumnya asyik bermain air di Ture Loto. Duduk-duduk makan mie rebus dan teh hangat, melihat peselancar di kejauhan berlatih mengendarai ombak seru juga. Ngomong-ngomong, dimana gelombang yang seperti tunnel (terowongan) yang menjadi impian surfer kelas dunia kalau bertandang ke Nias?

“Itu di tengah laut, harus naik kapal ke salah satu pulau di sana, baru sampai ke dekat gelombang-gelombang yang indah,” jelas Java yang pagi itu menggendong Keenan, putra sulungnya berjalan-jalan mencari matahari pagi yang sehat. Kami mengarahkan pandangan ke lautan. Beberapa peselancar bule menaiki ombak selama beberapa menit. Aku mengganti lensa kamera dengan tele, supaya bisa merekam gambar dari jauh. Seru juga rasanya berselancar.

laut yang memanggil-manggil

laut yang memanggil-manggil

Penginapan-penginapan di Sorake rata-rata berbintang satu atau dua. Berderet sepanjang pantai plus warung-warung dengan fasilitas sederhana. Rata-rata bule menginap di tempat ini sampai 3-4 minggu. Wah, kalau seandainya harus menyewa kamar berbintang lima selama sebulan, bisa bangkrutlah ia. Penginapannya cukup sederhana, hanya kamar dan kamar mandi plus kipas angin. Terkadang ditambah juga dengan AC. Di sisi penginapan yang menghadap laut sering terdapat hammock untuk berayun-ayun diiringi angin pantai. Nyaman sekali tidur-tiduran di situ.

Sebenarnya, pernah dibangun satu hotel berbintang di pantai Sorake ini. Namun karena peminatnya kurang, akhirnya tidak bisa menutup biaya operasional dan tutup terbengkalai. Sayang sekali, padahal bangunannya berbentuk rumah adat khas Nias dan layoutnya bagus. Sewaktu kami sempat mampir, kompleks hotel ini seperti daerah mati. Sisa bangunan yang masih berdiri mulai lapuk dimakan cuaca. Iya, dengan tarif yang mahal sementara kebutuhan menginap berminggu-minggu, hampir mungkin hotel ini tak mungkin didatangi oleh peselancar yang butuh lama menginapnya.

meliuk

meliuk

meluncur di atas air

meluncur di atas air

Lagipula aku bertanya-tanya, peselancar itu dapat uangnya dari mana ya? Apakah dari berselancar saja bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Apakah mereka berselancar karena kehidupannya atau hanya sekadar hobi? Lagi-lagi aku tak menemukan jawaban dari orang-orang ini. Mereka mondar mandir dengan celana pendek atau bikini di sekitar penginapan, menjawap ‘hai’ jika disapa. Badan berbentuk itu terkadang penuh gambar tatto di mana-mana. Aksen bicara mereka tak selalu sama. Ah, menurutku pertanyaan seperti itu bisa bersifat terlalu pribadi. Biarlah kami sama-sama menikmati keindahan gelombang Sorake.

camar laut yang bertengger di batu

camar laut yang bertengger di batu

mendorong perahu ke tengah laut

mendorong perahu ke tengah laut

pantai karang yang dilintasi

pantai karang yang dilintasi

Ketika matahari mulai muncul di atas laut, ternyata nampak banyak peselancar yang mencobai ombak-ombak rendah di sana. Beberapa menit, lalu terjatuh. Namun ada kalanya yang sukses menaiki sampai agak lama sebelum terhempas lagi. Menjelang siang, kami berkemas dan menuju desa adat Bawamataluo yang tak jauh dari situ.

lagundri
Sorenya, Java menurunkan kami di pantai Lagundri, sekitar dua kilometer dari Sorake, hanya terpisahkan satu sungai yang konon ada buaya di muaranya. Sebenarnya perjalanan ini bisa ditempuh pendek saja, namun karena asyik bercanda di dalam mobil, akhirnya kami sempat kelewatan pantai Lagundri itu cukup jauh dan akhirnya balik lagi.

Karakteristik pantai Lagundri ini berbeda dengan Sorake. Pantai ini berpasir halus dan bersih, dan ombaknya cukup tenang. Terdapat mercu suar di salah satu sisinya. Deretan pohon-pohon kelapa yang doyong ke arah laut. Setelah meletakkan barang-barang seadanya saja di tepian pantai, kami berlarian ke laut. Ombak tenang mengalun memecah ketika air naik sekaki, sepaha, sampai akhirnya sedada, masih asyik juga untuk direnangi. Setiap ada ombak datang kami berlompatan gembira. Tak peduli kepala terhempas air tapi tetap canda dan cebur-ceburan lebur bersama kami.

menara suar di kejauhan

menara suar di kejauhan

laut di tengah teluk

laut di tengah teluk

Inilah laut, tempatmu bisa membuang semua masalah. Samudera luas yang menelan apa saja. Lupakan semua, raihlah gembiramu di sini. Tinggalkan kamera dan ponsel di tepian, dan nikmatilah deburan air yang menyapu semua nestapa yang ada. Melihat batas-batas cakrawala dan menunggu matahari terbenam. Kami berenang terus-menerus mengasyikkan. Air laut bening dan mudah dilihat dasarnya. Di kedalaman sedada masih pasir putih yang bermain di bawah kaki.

Di kejauhan, kami melihat beberapa orang berlatih berselancar yang memang bisa menyewa papan selancar seharga Rp 15.000/30 menit itu. Ombak-ombak ringan memang menarik untuk dikendarai. Tetapi kami tetap tidak mencoba dan memilih untuk bermain air. Beberapa turis lokal tampak di pantai, namun hanya sebentar dan mereka berlalu.

memeriksa kamera

memeriksa kamera

menyisir ombak

menyisir ombak

Lelah bermain air, kami ke tepi pantai dan membuka bekal kami yaitu durian!! Durian khas Nias yang matang ini dikelomoti sambil memandang laut yang masih menderu. Langit mulai turun temaram dengan lembayung bergaris di kejauhan. Tadinya kami berniat berjalan kaki sampai Sorake, tapi mengingat ada sungai yang ada buayanya membuat kami gentar. Jadi kami menelepon Java menjemput kami kembali ke Sorake.

Bukannya langsung mandi, aku dan Sansan malah berjalan-jalan ke tengah laut mencobai berjalan di pantai berkarang yang agak sakit di kaki menunggu matahari tenggelam. Ada satu perahu tua yang terdampar entah bukan di tengah lautan. Beberapa peselancar masih menaiki ombak di kejauhan, sementara kami duduk-duduk menikmati matahari terbenam. Byur!! Ombak menyapu kami. Rencana selama sepuluh menit itu pun gagal karena gelap turun dengan cepat dan jalan karang menjadi tak nampak.

Tertatih aku menyusuri pantai karang itu kembali bersama seorang peselancar yang turun dari perahu. Cuma lampu-lampu penginapan yang memandu jalan kami. Tapi ternyata mata sudah agak terbiasa dalam gelap, sehingga agak tak sulit meraba langkah kaki ini.

Ah, tak terasa sudah hari terakhir perjalanan kami. Pagi itu kami terbangun lagi di pantai Sorake dan memandang peselancar-peselancar itu untuk terakhir kalinya. Usai sarapan, kami berkemas dan diantar kembali ke Bandara Binaka. Oh, rupanya jalan yang kami lalui malam sebelumnya itu berada di tepi laut di pesisir timur pantai Nias. Ada satu titik pandang yang sering dijadikan tempat beristirahat sambil memandang ke laut. Kami berhenti sebentar untuk meregangkan badan di sana menikmati angin berkesiur.

Sekitar jam 11 kami tiba di Bandara Binaka, celingak celinguk di bangunan transport mungil ini, masih tutup! Karena kami tidak bisa check-in dulu, maka kami hanya tidur-tiduran saja di teras bandara yang cukup besar itu. Java pamit pada kami semua karena harus mengajar Bahasa Inggris di salah satu sekolah binaannya. Aduuh, rasanya sayang sekali berpisah dengan sahabat kami empat hari ini. Penjelajahan mengelilingi pulau mungil yang indah ini takkan pernah terlupakan.

Pukul 13.55 pesawat kami baru tiba dan baru mengudara lagi 35 menit kemudian. Untung pesawat ke Jakarta kami jam 18.00 sehingga keterlambatan penerbangan Gunung Sitoli-Medan ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Dengan hati berat kami memasuki kembali badan Wings Air ATR 72-500 itu yang membawa kami terbang ke Nias.

temu terakhir...

temu terakhir…

Saohagolo, Nias! Sampai bertemu kembali!

perjalanan 8-9 Juni 2013
rainy depok : 17.11.2013 : 13.41

Advertisements

7 thoughts on “ujung selatan teluk dalam, selancar lagundri dan sorake : ya’ahowu nias #6

  1. Java Yafaowolo'o Gea says:

    Hahahaha ” Sebenarnya perjalanan ini bisa ditempuh pendek saja, namun karena asyik bercanda di dalam mobil, akhirnya kami sempat kelewatan pantai Lagundri itu cukup jauh dan akhirnya balik lagi.”….. itu gara-gara cerita apa ya? xixiixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s