surga baca di tengah kampus beringin

“Namun pada saat itupun aku tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan lebih luas.”
― Jostein Gaarder- Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Sebuah bukit batu yang tumbuh di tepian danau. Mungkin itu persepsi seseorang ketika melihat gedung 8 lantai di depan gedung Rektorat Universitas Indonesia. Gedung yang difungsikan sebagai perpustakaan pusat ini memang memiliki bentuk yang unik dibanding dengan bentuk-bentuk bangunan lain di UI yang cenderung vernakular.1)

Menurut sang arsitek, Budiman Hendropurnomo, bentuk unik itu diilhami dari prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Nusantara jaman dahulu. Prasasti yang merupakan rekaman sejarah kejadian penting pada masanya, kini menjadi sumber ide untuk menjadikan rumah bagi sekitar 6 juta buku di dalamnya. Tidak hanya buku, di sini juga ada dokumen, manuskrip, jurnal, peta, rekaman audio visual sebagai koleksinya. Sistem peminjaman berbasis pada ICT (Information and Communication Technology) yang memungkinkan pengunjung untuk mengakses berbagai pusat pembelajaran dan sumber informasi elektronik, seperti e-book dan e-journal di perpustakaan lain di dunia.2)

Melihat bentuknya, seperti hamparan batu yang berada di atas bukit. Bentuk perpustakaan yang terlihat agak acak, seperti bongkahan batu yang ditancapkan di tanah untuk menandai sesuatu. Bentuk prasasti abu-abu di tengah gaya vernakular umum ini memberikan identitas yang kuat sekali terhadap bangunan Perpustakaan ini. Berani untuk memberikan sesuatu yang beda, tetapi memberikan ciri khas yang unik. Lokasi perpustakaan ini di tepi Danau Balairung (sekarang namanya Danau Kenanga), dipindahkan dari lokasi lamanya yang berada di balik hutan Rektorat UI, sekarang satu area dengan bangunan-bangunan utama di UI yang juga mengelilingi danau, Rektorat, Balairung, Masjid UI.


Lantai dasar, difungsikan sebagai area penerima, dilengkapi ruang tunggu, ruang pendaftaran, ruang eksebisi, ruang meeting, ruang training, lobby yang luas, kaya dengan sinar matahari, permainan cahaya di atap transparan, masuk berputar, dan melangkah memasuki lantai berikutnya melalui ramp panjang. Bertemu koridor lebar tempat lalu lalang orang, yang menghubungkan antara ruang koleksi buku dengan ruang koleksi buku lainnya yang dikelompokkan berdasarkan jenis keilmuan bukunya.

kiri : lobby utama, kanan atas : entrance masuk, kanan bawah : ruang tunggu/sosialisasi

pintu masuk ke area koleksi

kiri : ramp penghubung tiap lantai, kanan atas : koridor depan ruang koleksi, kanan bawah : ruang registrasi

Berada di tengah ribuan buku membuat terasa di surga ilmu pengetahuan. Dalam satu ruangan terdapat rak-rak yang tidak disusun meninggi, melainkan rendah dalam jangkauan dan menambahkan mezzanin di atas rak tersebut, sehingga didapat ruang dua kali lebih luas untuk area buku, yang dicapai dengan tangga. Hampir semua rak buku disusun dengan cara mezzanin ini mengelilingi area baca di tengah-tengah ruangan. Area koleksi buku ini dengan udara dikondisikan, di bawah atap yang berbentuk gundukan lansekap hijau. Rumput-rumput yang ditanam di atasnya, membuat suhu perpustakaan stabil dan ideal untuk memelihara buku.

atas : koleksi buku di rak mezzanin, bawah kiri : lorong buku menuju ruang baca, bawah kanan : rak buku

Ruang baca, ada beberapa jenis, ada ruang baca di area koleksi, ada ruang baca umum yang bisa diakses semua pengunjung, ada ruang baca personal (Carrel Study Room) yang digunakan fasilitas bagi dosen terpilih untuk melahirkan jurnal-jurnal internasional. Ruang-ruang baca ini diletakkan di posisi tepi yang sangat kaya cahaya. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan indah danau di sisi luar ruang baca yang berjendela kaca penuh.

Namun, sesudah digunakan, ada beberapa yang mungkin tidak sesuai harapan. Auditoriumnya di lantai 8, yang beberapa waktu lalu digunakan untuk diskusi bersama Jostein Gaarder, penulis buku “Dunia Sophie” hanya memiliki pintu masuk di kiri dan kanan, untuk kapasitas tampung sekitar 500 orang. Pintu masuk itu mengarah ke lorong yang sempit sampai area foyer auditorium yang juga tidak terlalu luas. Bayangkan apabila terjadi kondisi darurat, tentu lorong dan foyer tersebut tidak mampu menampung luapan orang yang keluar dari auditorium untuk bergegas ke tangga biasa maupun darurat. Selai itu, ruang di dalam auditorium ini sebenarnya indah,menghadap danau, tetapi karena audiens bisa memandang ke luar, sehingga menjadi agak silau dan panas di siang hari. Selain itu pancaran proyektor pun menjadi tidak maksimal karena ruangannya terlalu terang.

kiri : ruang baca tepi danau, kanan : lorong menuju ruang baca

Ada satu taman di atap yang bisa diakses oleh beberapa pengunjung berijin saja. Dari atas taman ini kita bisa duduk-duduk memandang area UI yang luas. Sayang, karena kurang perawatan atau sering diinjak orang, beberapa bagian rerumputan di taman-atap ini sudah terlihat gundul. Duduk-duduk di atas sini diterpa angin terasa semilir menyenangkan walaupun di siang hari bolong. Bangunan yang masih menjulang memberikan naungan bayangan pada sisi taman-atap ini.

kiri atas : baca di taman-atap, kiri bawah : bukit taman buatan, kanan : taman-atap yang rumputnya menggundul

Area lansekap luarnya, merupakan tempat interaksi sosial pengunjungnya. Terdapat sunken plaza 2) bertrap di bawah pohon besar yang membuat kita bisa duduk-duduk dan berdiskusi di bawahnya. Lalu area berundak yang menghadap danau, untuk menikmati sore yang indah. Dermaga kayu yang menjorok ke danau, membentuk ruang bercengkrama sebagai penghubung antara daratan dan air.

kiri atas : dinding luar, kanan atas : menghadap sunken plaza, kiri bawah : gedung pertemuan apung, kanan bawah : undakan menghadap danau

“Do not read, as children do, to amuse yourself, or like the ambitious, for the purpose of instruction. No, read in order to live.” ― Gustave Flaubert –

argo parahyangan. jakarta-bandung. 28.12.2011.

1)vernakular : tradisi setempat, bentuk yang mengadopsi bentuk setempat, lokal.
2)sumber : Indonesian Design, Oktober 2011
3)sunken plaza : area yang direndahkan untuk membentuk ruang berkumpul sendiri

Advertisements

20 thoughts on “surga baca di tengah kampus beringin

  1. pandasurya says:

    memang keren, gede, mewah, tapi apakah sudah ada semacam evaluasi menyeluruh tentang pemanfaatan seluruh fasilitas yang ada?
    saya pikir, tentunya sebelum dibangun kan udah ada kajian tentang pemanfaatan fasilitas yg akan tersedia ya. supaya gak ada fasilitas yang mubazir gt. *copas komen*
    yah pengalaman saya yg baru 1 kali masuk menilai bahwa banyak juga fasilitas yg “sepertinya” tidak/belum terpakai maksimal.
    well, penilaian dari 1 kali kunjungan tentu masih jauh dari valid 🙂

    • indrijuwono says:

      yah, walaupun bukan saya yang mestinya jawab, tapi kalau ngedesain pasti sudah dipikirkan pemanfaatan ruang yang dibutuhkan. fasilitas yang diperlukan juga sudah dipikirkan. tentunya kalau umur bukanya belum setahun, belum bisa dievaluasi bagaimana tingkat pemanfaatannya.
      penciptaan kegiatan-kegiatan positif harus ditingkatkan supaya pemanfaatan ruangnya maksimal.

      gak mungkin ada bangunan yang baru dan tahu-tahu mendadak ramai. yang jelas, kalau dibandingkan dengan perpus pusat yang lama, perpus ini jauh lebih ramai dan hidup. orang berkegiatan di sini. kalau yang lama hanya standar perpus, sepi, hanya datang dan baca.
      di sini, orang berdiskusi dan lainnya..

  2. pandasurya says:

    pertanyaan saya memang tidak ditujukan pada penulis artikel ini sih. tapi lebih pada pertanyaan yg muncul dari diri sendiri aja, dari kacamata orang awam yg baru berkunjung masuk ke dalam 1 kali dan mendapat kesan seperti demikian.

    yup2, baguslah kalo begituh, memang perlu diperbanyak lagi perpustakaan yg bisa mengaktifkan kegiatan positif bagi para pengunjungnya:)

    • indrijuwono says:

      pertanyaan kan harus dijawab katanya.. opini dari sudut pandangku adalah fasilitas ini ‘harus’ dimanfaatkan semaksimal mungkin..

  3. ana says:

    err… mba indri ini komen yang ngga penting yah. Tapi itu model2 nya udah pose ya?? kayaknya kenal orang-orangnya…….. *sok kenal* hehehehe

    sekali-sekali aku ke sana ah.. masa belom pernah ke sana sih…

  4. indrijuwono says:

    @giewahyudi @blogbacasmart mungkin baru tahun depan koleksinya lebih lengkap. kalau sekarang sih, baru untuk lihat-lihat saja sudah oke. tapi kalau berminat cari data di sini juga oke..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s