tengah perjalanan

Mungkin ada beberapa teman-teman dan pembaca tulisan-tulisan ini jadi ‘kecele’ salah menduga tentang apa yang diharapkan bisa dibaca dari blog ini. Tidak salah memang, ketika melihat blog ini punya seorang arsitek, mungkin yang diharapkan adalah tips-tips, gambar-gambar bangunan yang indah, atau hasil karyaku.

Awalnya aku membuat blog ini sebagai wadahku untuk mengulas bangunan, karya arsitektur, seperti yang ada di banyak majalah-majalah desain. Latar belakangku yang hobi mengulas buku, membuatku berpikir, seharusnya karya arsitektur juga bisa dikupas, bukan hanya dari sudut wartawan profesional, namun juga oleh arsitek yang sedang belajar merintis karirnya. Dengan mengulas juga diharapkan aku belajar akan kelebihan dan kekurangan arsitek lain.

Namun, di perjalanan penulisan, ternyata lebih sering kutemui hal-hal menarik yang tidak hanya berkaitan dengan bangunan. Interaksi manusia dalam ruang geraknya sehari-hari yang bersinggungan dengan benda-benda arsitektur. Sepotong ruang kota yang merupakan wadah manusia untuk beraktivitas. Tidak hanya satu bangunan. Ada banyak hal yang bisa diolah. Ada banyak hal yang bisa dikritisi, tidak hanya yang indah saja, tetapi terangkum dalam satu ruang gerak yang membentuk wajah kota. Keistimewaan arsitek adalah ia menulis dari sudut pandang ruang.
-baca kelanjutannya->

Advertisements

kereta ekonomi terakhir

Malam ini jam 22.05.

Kereta api ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok-Bogor. Kereta terakhir malam itu. Kelas tiga, isinya rakyat jelata. Hujan deras di luar, walau tidak diiringi petir bertalu-talu , membasahi kursi-kursi fiberglas warna oranye. Jendela tidak bisa ditutup, sehingga percikan air masuk melaluinya. Layak? Yah, namanya rakyat, cuma bisa menerima, sudah kebawa saja untung, tidak ketinggalan dan tidak harus berganti-ganti kendaraan sampai tujuan. Sampai Depok hanya 1500 rupiah. Sampai Bogor hanya 2500 rupiah. Murah, hanya seharga sebotol air mineral 600 ml kios pinggir jalan, sudah bisa memindahkan rakyat sejauh 80 km.

Kereta ini kosong. Bisa dibilang kosong, karena hanya ada sekitar 30-an orang di dalam gerbong. Semuanya duduk. Hanya ada dua perempuan di situ. Aku dan seorang perempuan berperawakan sedang berambut keriting yang sedang menggunakan ponselnya. Ia tidak takut dirampas ponselnya. Aku takut. Maka ponsel kutaruh di dalam tas yang kupeluk di dada. Dan aku memilih membaca buku ini. Buku Cerita tentang Rakyat yang Suka bertanya. Kumpulan cerpen yang bisa diputus-putus membacanya tiap satu cerita. Tak ada petugas keamanan yang tampak di kereta. Tak ada petugas pemeriksa karcis. Mungkin kereta ini bebas, mengangkut siapa saja yang butuh tumpangan ke Bogor. Disubsidi, untuk membawa rakyat bolak balik dari Jakarta ke Bogor.
Continue reading