kereta ekonomi terakhir

Malam ini jam 22.05.

Kereta api ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok-Bogor. Kereta terakhir malam itu. Kelas tiga, isinya rakyat jelata. Hujan deras di luar, walau tidak diiringi petir bertalu-talu , membasahi kursi-kursi fiberglas warna oranye. Jendela tidak bisa ditutup, sehingga percikan air masuk melaluinya. Layak? Yah, namanya rakyat, cuma bisa menerima, sudah kebawa saja untung, tidak ketinggalan dan tidak harus berganti-ganti kendaraan sampai tujuan. Sampai Depok hanya 1500 rupiah. Sampai Bogor hanya 2500 rupiah. Murah, hanya seharga sebotol air mineral 600 ml kios pinggir jalan, sudah bisa memindahkan rakyat sejauh 80 km.

Kereta ini kosong. Bisa dibilang kosong, karena hanya ada sekitar 30-an orang di dalam gerbong. Semuanya duduk. Hanya ada dua perempuan di situ. Aku dan seorang perempuan berperawakan sedang berambut keriting yang sedang menggunakan ponselnya. Ia tidak takut dirampas ponselnya. Aku takut. Maka ponsel kutaruh di dalam tas yang kupeluk di dada. Dan aku memilih membaca buku ini. Buku Cerita tentang Rakyat yang Suka bertanya. Kumpulan cerpen yang bisa diputus-putus membacanya tiap satu cerita. Tak ada petugas keamanan yang tampak di kereta. Tak ada petugas pemeriksa karcis. Mungkin kereta ini bebas, mengangkut siapa saja yang butuh tumpangan ke Bogor. Disubsidi, untuk membawa rakyat bolak balik dari Jakarta ke Bogor.

Di sebelahku, seorang bapak-bapak tua dengan ransel jambon lusuh tidur selonjoran di bangku kereta yang kosong.Ia mengambil empat lima bangku sekaligus. Kepalanya beralaskan seikat karung plastik, entah isinya apa. Sebatang tongkat bambu diletakkan di sebelahnya. Di kananku, seorang bapak-bapak yang mengenakan kaos polo dan selalu mengamati stasiun-stasiun yang dilewati. Ia seperti tidak ingin kelewatan stasiun tujuannya (seharusnya memang semua penumpang tak ingin terlewat tujuannya). Mungkin bapak ini tak terbiasa naik kereta. Lalu lewat seorang pemuda ke arah gerbong belakang. Pemuda itu berperawakan bersih, namun bertato. Aku agak takut. Tapi toh, pemuda itu lewat saja tanpa mengusik orang-orang yang dilaluinya. Depan aku duduk, ada seorang bapak tertidur. Kemeja rapi, celana bahan, sepatu kulit, dan memeluk tas ransel. Naik dari stasiun Sudirman. Mungkin ia lelah bekerja setelah seharian memeras otak di gedung-gedung pencakar langit itu. Sampai pulang semalam ini pula. Mungkin ia memimpikan cepat sampai bertemu keluarganya di rumah. Mungkin juga ia memikirkan anaknya yang masuk SMP tahun ini. Di depan bapak berkaos polo ada anak muda membawa gitar. Mungkin ia habis main ke rumah temannya. Mungkin juga salah satu yang menjajakan suara di warung-warung makan di Tanah Abang ditemani gitarnya. Ia hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Hujan belum berhenti.

Pedagang bebas mondar mandir di dalam gerbong kereta ini. Penjual tahu, penjual jeruk, pedagang jepit dan peniti. Penjual jeruk mengobral dagangannnya yang hampir habis. Sepuluh ribu saja, teriaknya, untuk empat kantong jeruk mini. Penghabisan, katanya. Penjual tahu dan jeruk memakai gerobak beroda yang diluncurkan di dalam gerbong. Bagaimana pengelola kereta mau melarang berjualan? Kita sama-sama cari makan. Ini cara yang halal daripada meminta-minta. Tak perlu dituntut hukum pemerintahan. Jalanan lebih kejam, katanya.

Tak seperti biasanya, tak ada anak-anak kecil yang menyapu lantai gerbong sambil berjongkok, dan menengadahkan tangan meminta imbalan dan belas kasihan orang-orang yang duduk sepanjang gerbong. Tak ada juga pengamen dengan kotak musik tergantung di dada mengiringi suara nyanyian lagu dangdutnya. Mungkin karena hujan sehingga mereka malas keluar. Atau mungkin karena sudah malam dan anak-anak kecil penyapu itu sudah belajar di rumah. Mungkin pengamen tadi juga sedang mengajari anak-anaknya menyanyi di rumah.

Inilah rakyat sebenarnya. Yang berjuang untuk keluarganya dan tidak diperhatikan oleh empunya negara di mana mereka tinggal. Yang kemarin ditemui Dahlan Iskan ketika ia naik kereta sejenis ini untuk pergi rapat ke Bogor. Kereta yang kalau pagi ke arah Jakarta terisi hingga satu setengah kali lipatnya kapasitas gerbong. Satu kapasitas gerbong, setengahnya lagi di atap kereta. Penumpang atap bodoh bernyawa tujuh. Tidak penting keselamatan, yang penting bisa duduk dengan berangin daripada berdesakan dalam gerbong. Inilah rakyat yang berpeluh keringat dalam satu kotak benda transportasi yang akan membawa mereka sampai tujuan. Dan mereka hanya bisa pasrah ketika jumlah kereta ekonomi dikurangi dan diganti dengan kereta AC yang lebih mahal ongkosnya. Mereka bertanya tapi tidak didengar. Maka semakin sempitlah kotak gerbong diisi oleh wajah-wajah rakyat yang jujur lelah.

Cerpen terakhir tamat. Juru Runding oleh Puthut EA. Tentang seorang lulusan SD yang karena ketekunannya bisa menjadi orang berpengaruh. Sehingga banyak orang-orang yang membutuhkan jasa dia untuk menegosiasikan sesuatu. Mungkin perlu seorang Mbarno sebagai Juru Runding antara rakyat dan pengelola kereta?

Kereta masuk stasiun UI. Bapak berkaos polo itu bertanya, sudah sampai mana? UI, jawabku. Ia tidak percaya, ia berjalan ke pintu kereta untuk melihat keadaan sekeliling, lalu kembali duduk di sebelahku. Benar UI, mbak. Di stasiun berikutnya ia turun. Ketikan kereta perlahan memasuki stasiun Depok Baru bapak dengan ransel jambon lusuh berdiri dan beranjak turun. Sekarang di deretku tinggal aku dan dua anak muda yang mendengarkan earphone dari ponsel yang digenggamnya. Di luar terdengar suara ting tong ting tong tanda kereta melintasi jalan raya dan palang persimpangan ditutup. Aku berdiri. Lantai gerbong masih basah terkena terpaan hujan dari luar akibat pintu dan jendela yang tak bisa menutup. Kereta berhenti di stasiun Depok Lama. Aku turun. Kupandangi kereta rakyat itu. Orang-orang yang beragam. Sama, aku juga rakyat. Lalu aku bergegas berlari supaya tak kehabisan ojek.

Aku bertanya, kenapa sarana untuk rakyat keadaannya demikian menyedihkan ya? Mungkin juga bukan pengelola kereta yang salah. Pengguna yang merusakkannya juga. Pengelola berulang kali memperbaiki. Hujan belum berhenti. Untung tidak ada gangguan sinyal. Untung tidak ada kabel listrik tersambar petir, langganan penyebab keterlambatan kereta kalau hujan. Terima kasih, kereta rakyat.

Depok lama. 23.10.
27.12.2011

tulisan pernah ditulis sebagai resensi latar membaca buku Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya, di http://www.matabukuindri.blogspot.com/2012/01/cerita-tentang-rakyat-yang-suka.html

Advertisements

3 thoughts on “kereta ekonomi terakhir

  1. arnie says:

    saya juga senang naik kereta, moda transportasi murah nan cepat. Sayang, kondisi akhir-akhir ini makin mengkhawatirkan. Bagi ibu hamil seperti saya, harus berpikir dua kali untuk naik kereta ke Jakarta/Bogor pada jam sibuk. Kenapa tampaknya kota dan isinya hanya tersedia bagi mereka yang ‘normal’?

    • indri juwono says:

      arnie, tangga stasiun2 dari cikini sampai jayakarta itu 63 anak tangga. harus ngatur napas buat naiknya. padahal ini bangunan publik yang seharusnya mengakomodasi kepentingan yang banyak, termasuk yang tidak normal juga, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s