depok – manggarai : PP

stasiun manggarai

“Time goes faster the more hollow it is.
Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

Ada banyak faktor yang membuat aku lebih memilih naik KRL daripada transportasi umum lainnya. Faktor utamanya adalah kecepatan. Faktor kedua adalah ekonomis dan murah. Faktor ketiga adalah, karena memang aku lebih menyukai naik kendaraan umum yang dapat dimuati lebih banyak orang, sehingga ada kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Dengan kepadatan perpindahan kaum komuter yang tak sebanding dengan panjang jalan, kereta sebagai moda transportasi massal memang seharusnya dijadikan pilihan utama jika kepraktisan dan kecepatan menjadi faktor penentu.

Beberapa jalur kereta di Jabotabek sudah ada sejak tahun 1925. Tahun 1976 PJKA mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang, yang beberapa merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Beberapa tempat yang mobilitasnya tinggi pun lama kelamaan berkembang tak hanya satu jalur saja, namun menjadi dua jalur sehingga intensitas kereta yang lewat pun menjadi semakin sering. Karena itu, daerah-daerah yang dilalui kereta menjadi pesat perkembangannya. Permukiman-permukiman baru tumbuh di sekitar stasiun. Makin banyak juga orang Jakarta yang pindah ke pinggiran dan memanfaatkan akses kereta untuk menuju tempat bekerjanya di Jakarta setiap pagi. Mungkin Jakarta sudah sedemikian sumpeknya untuk ditinggali, sementara di pinggiran masih ada area hijau dengan udara yang sejuk untuk mengawali hari.

Aku mulai rutin naik KRL sejak bekerja di kawasan Manggarai tahun 2004. Continue reading

Advertisements

mengejar buih kilau kiluan

Kamu tahu, barisan ombak mengantarkan debar rasa yang sama?
– Tias Tatanka

Sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di tempat bertemunya darat dan lautan, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan perjalanan ke pantai Kiluan Lampung dengan beberapa orang yang tak kukenal sama sekali sembari melepaskan lelah pekerjaan beberapa bulan ini. Aku butuh suasana dan teman-teman baru. Tak peduli apa kata orang bahwa perjalanan itu bukan untuk melarikan diri, yang jelas aku ingin mengikuti perjalanan ke tempat yang alami yang cukup sulit dijangkau ini. Rupanya perjalanan ini menimbulkan kekangenan tersendiri pada suasana yang biasa dilalui, jalanan, pohon-pohon berlari, orang-orang baru, titik perpindahan manusia…

Perjalanan 6 Juli 2012 dimulai dari satu titik di daerah Jakarta Barat, di mana kami yang satu sama lain baru berkenalan menunggu bis menuju Merak. Mudah menemukan bis ini, di seberang RS Harapan Kita, Slipi, adalah pemberhentian terakhir sebelum bis memasuki tol di gerbang Kebun Jeruk. Perjalanan malam hari ini sekitar 2 jam lamanya sampai Pelabuhan Merak sebagai titik temu berkumpul dengan teman-teman lain yang berasal dari berbagai lokasi.

Continue reading