karimun jawa : bertinggal di tengah laut

“The sea is emotion incarnate. It loves, hates, and weeps. It defies all attempts to capture it
with words and rejects all shackles. No matter what you say about it, there is always that which
you can’t.” 
― Christopher Paolini, Eragon

Manusia, kodratnya memang hidup di atas tanah. Karena itu jika tinggal tidak di tanah, akan kebingungan, dan akal pikirannya akan berusaha mencari cara bagaimana cara bertahan hidup di situ. Contoh sederhana aku rasakan ketika sampai di Wisma Apung, sebuah penginapan di tengah lautan di kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Sesudah terayun ombak dan gelombang selama hampir tiga jam sepeninggal dari Jepara, kemudian mendarat di Pulau Karimun Jawa besar, dilanjutkan naik perahu bermotor selama lima menit ke Wisma Apung, aku mendapati diriku merasa lapar amat sangat dan tak ada apa pun yang bisa dimakan di situ.

Penjaga Wisma Apung berkata,”Makanan baru datang jam tujuh malam, mbak. Sekarang lagi dimasak.” Waduh, makan apa ini? Masa kita menyate baby shark yang sedang asyik-asyik berenang di sekeliling penginapan? Jangan dong, hiu kan binatang dilindungi. Akhirnya kami menelepon tour leader dan memintanya untuk membelikan makanan lagi untuk kami dan diantar ke Wisma Apung. Seharusnya kan dia bilang kalau di sini tak ada makanan, sehingga bisa membeli terlebih dahulu di Pulau Karimun Jawa besar sebelum menyeberang. Continue reading

Advertisements

ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.
Continue reading