ruang luas, ruang sempit

pejalan kaki

ruang luas menjauhkan, ruang sempit mendekatkan.

Pernahkah kamu mengalami ketika kamu mengambil jalan memutar tetapi lebih terasa dekat karena ruang yang kamu lalui lebih sempit? Pernahkah kamu diharuskan ke suatu tempat melintasi lapangan yang nyata-nyata lebih dekat, namun kamu memilih untuk menyisir koridor kelilingnya padahal lebih jauh secara jarak? Pernahkah kamu merasa bahwa lambat itu berharga?

Ada pengalaman yang kemudian membuat aku berpikir tentang ini. Malam itu aku pulang dari ITC Depok, seperti biasa mencari angkutan kota nomor 04 di dekat stasiun yang berada di belakang ITC Depok tersebut. Di tengah jalan kakiku di lorong sempit antara tukang-tukang jualan itu aku berpikir, lho, bukannya kalau lewat depan ITC lalu ke lampu lalu lintas sesudah terminal di samping ITC lebih dekat ya? Hanya melipir tepi jalan Margonda di depan terminal saja. Terus kenapa aku selalu lewat lorong ini? Padahal kalau dihitung langkah kaki, pasti perjalananku lebih panjang.

Lalu aku tiba pada pendapat, kalau lewat jalan belakang ITC ini memang terasa lebih dekat. Perjalanan melalui kios-kios yang menjual aneka macam barang, mulai dari baju anak, sepatu, tas, sampai buah-buahan ini, memberikan pengalaman yang intim, rasa berada di kebanyakan orang, memberi kesan melingkupi. Walaupun tak berminat membeli barang-barang tersebut, namun interaksi dengan orang-orang hanya sebatas berpapasan memberi pengalaman tak sendiri. Titik tujuan yang tak terlihat membuat aku leluasa untuk berjalan santai tanpa terbebani target. Dan tahu-tahu sudah sampai seiring sembari berjalan dan melihat-lihat kiri kanan.

pasar-lorong-stasiun

Sedangkan apabila aku memilih untuk menuju angkutan umum melewati depan ITC, melewati depan terminal, terus sampai lampu lalu lintas, berjalan di bahu jalan yang tak ada trotoarnya, berbagi jalan raya dengan pengguna kendaraan bermotor dan pedagang kaki lima, ugh, aku tak suka. Padahal jarak melangkahnya lebih pendek daripada melalui lorong semi pasar di belakang ITC itu.Tepi jalan itu keras dan berdebu, ditambah raungan pengendara motor atau bis yang menaikturunkan penumpang. Dan utamanya, jalan ini lebar, dan aku berada di sisinya. Aku tak merasa aman, seperti dikepung keterbukaan yang berbahaya. Dan titik tujuan yang terlihat di ujung sana, terasa jauh.

terminal depok-tanpa trotoar-jalan margonda

Sekarang coba lagi melintasi satu tanah lapang. Apakah lebih nyaman menyeberangi lebar lapangan itu dengan berlarian di tengahnya, atau berjalan mengelilingi jalan setapak yang ada di seputar tanah lapang tersebut? Perhatikan intonasi langkahnya. Orang cenderung berlari atau mempercepat langkah ketika melintasi lebar lapangan, karena ada rasa kosong dan sendiri melingkupinya.Rasanya seperti dilihat oleh dunia. Sementara untuk yang memilih untuk berjalan di jalan setapak di sekeliling, akan memperlambat jalannya, bisa santai karena tidak merasa kosong, ada perdu atau semak yang terasa menemani.Di tepi, orang bertindak sebagai penonton.

Seperti halnya fatwa umum bahwa jarak terdekat adalah satu garis lurus, jika ingin cepat, ambillah jalan yang terpendek. Namun apabila ingin berlambat-lambat, buatlah ada sesuatu yang berharga untuk dilewati, sehingga tidak terjebak dalam kesia-siaan waktu. Cepat itu berharga, lambat itu indah, sempit itu intim.

studio envirotec. 04.10.2012. 03:42 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s