rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

cover

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah,
dan hanya sembilan yang menemui jalan masuk,
yang kesepuluh tidak harus mengatakan,
Ini sudah takdir TUHAN.
Ia harus mencari di mana kekurangannya.

~ Rumi

cerita sebelumnya : rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

Satu hal yang paling menarik hatiku untuk berkunjung ke Ranah Minangkabau adalah Rumah Gadang. Bangunan khas Sumatera Barat tempat bertinggalnya keluarga dengan konstruksi rumah panggung ini bisa ditemui di berbagai kampung. Namun, setiap kali aku bilang ingin melihat Rumah Gadang, pasti orang menunjukkan ke museum Adityawarman atau beberapa restoran yang menggunakan gonjong sebagai penutup atapnya. Nah, kalau ini sih tak beda dengan yang bisa kulihat di TMII. Bangunan yang bagus, namun tak bernyawa karena tak ada yang berkegiatan sehari-hari di dalamnya.

Tidak, yang ingin kulihat adalah rumah gadang asli yang masih ditinggali oleh keluarga. Aku ingin melihat bagaimana mereka hidup di rumah itu, dengan kegiatan sehari-harinya. Sepanjang perjalanan dari Padang hingga Bukittinggi aku hanya menemui tiga rumah gadang di tepi jalan, namun karena hujan kuurungkan niat untuk mampir.

Beruntung aku dan Felicia melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh. Lepas setengah jam kami meninggalkan Bukittinggi, pak supir berhenti dan menunjukkan satu rumah gadang tua yang berada di tepi jalan. Mulanya aku hanya berdiri di pekarangannya, memotret-motret rumah tersebut dari luar, namun pak supir mengajakku untuk masuk. Bercampur gembira dan malu-malu takut, aku mengikuti pak supir yang mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah bercakap sejenak dalam bahasa Minang ternyata pemilik rumah mempersilakan masuk untuk melihat-lihat rumah. Bukan main senangnya aku.

dinging yang tertutup anyaman bambu, dinding depan, pola penutup kolong

dinging yang tertutup anyaman bambu, dinding depan, pola penutup kolong

Menurut Uni Yuni, yang bertinggal di sini, rumah ini sudah ditinggali turun temurun dan umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Kami masuk melalui tangga dari bagian samping, langsung menuju ruangan besar yang difungsikan sebagai ruangan bersama. Agaknya fungsi ruang bersama ini khas di banyak bangunan di Indonesia. Terdapat pesawat televisi di antara dua tiang dengan tikar di depannya untuk mereka menonton juga dua speaker besar. Di samping terdapat mesin jahit untuk sehari-hari yang diletakkan di tepi jendela untuk pencahayaan alami. Di sebelah kanan terdapat kamar dan dapur yang tak berdaun pintu, hanya ditutup oleh kain yang disibakkan apabila penghuni mau lewat. Di rumah gadang, jumlah kamar disesuaikan dengan jumlah anak perempuan, sehingga apabila berkeluarga bisa tinggal bersama suaminya di kamar-kamar tersebut.

ruang bersama

ruang bersama

mesin jahit di tepi jendela dan ambang pintu ruangan bertutup kain

mesin jahit di tepi jendela dan ambang pintu ruangan bertutup kain

Penghuni rumah memanfaatkan ruang bersama ini untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari. Di area dekat pintu masuk terdapat lemari makan, kulkas dan meja makan yang dekat dengan ambang pintu bertirai menuju dapur. Di sudut sebelahnya masih tertumpuk kayu bakar dan sekop untuk mengolah pekarangan. Untuk kegiatan mandi dan mencuci dilakukan di luar rumah gadang. Sehingga harus keluar melalui satu-satunya pintu masuk yang tadi kami ketuk.

meja makan dan lemari makan di sudut dekat pintu masuk

meja makan dan lemari makan di sudut dekat pintu masuk

kayu bakar di sudut ruangan

kayu bakar di sudut ruangan

Terdapat enam tiang kayu kotak berukuran 15 x 15 cm yang berfungsi sebagai penunjang utama atap rumah ini. Lantai panggung berjarak sekitar 1.5 meter dari tanah ini disusun dari papan-papan kayu yang disusun memanjang. Seluruh dinding bangunan juga terbuat dari kayu. Dinding luar pada bagian memanjangnya disusun horisontal, dengan lima jendela yang berjajar menghadap jalan raya. Bilah-bilah kayu disusun membentuk pola mencapai tanah menutupi kolong bangunan.

pintu masuk di samping dan dinding papan depan

pintu masuk di samping dan dinding papan depan

Pada bagian dinding yang pendek, selain tertutup papan, pada bagian luarnya juga dilapis dengan anyaman bambu yang disusun berdiri. Pelapis ini melindungi area telanjang papan kayu supaya tidak mudah rusak karena langsung terekspos cuaca. Jika di bagian memanjang bisa terlindungi oleh teritis ( lebihan atap), maka di bagian pendek terlindungi oleh anyaman bambu ini.

Atap rumah ini berbentuk dua pasang gonjong tanduk kerbau yang berbahan seng. Sudah agak jarang pemasangan atap berbahan ijuk seperti yang dulu dipakai di rumah gadang. Di balik atap ini terdapat struktur atap yang membentuk gonjong tersebut. Di rumah yang kami kunjungi ini, struktur atap tertutup oleh langit-langit yang terbuat dari papan-papan kayu. Fungsi lain dari langit-langit ini adalah gudang untuk meletakkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Seperti halnya arsitektur kayu yang berusia tua, bangunan ini tidak menggunakan paku untuk konstruksinya. Sambungan kayu diikat dengan pasak, yang membuatnya lentur ketika gempa.

langit-langit kayu yang di atasnya untuk tempat menyimpan barang

langit-langit kayu yang di atasnya untuk tempat menyimpan barang dan kepala kerbau simbol kebanggaan

Di pekarangan rumah gadang ini, selain terdapat kebun, juga ada antena parabola berdiameter 1.5 m di depan. Rupanya, penghuni tidak mau ketinggalan berita-berita yang sedang hits. Ada kabel listrik yang melintang masuk rumah. Untuk bangunan antik yang sudah berusia ratusan tahun ini, pemeliharaan elektronik sangat penting karena apabila terjadi sambungan pendek bisa menghanguskan bangunan. Sayang bila harus kehilangan salah satu ikon budaya Minangkabau ini.

sudut pintu masuk maupun keluar, ambang pintu masuk yang sudah tua termakan rayap

sudut pintu masuk maupun keluar, ambang pintu masuk yang sudah tua termakan rayap

Sebenarnya aku tak puas berada sebentar di sini. Ingin di lain kesempatan mencoba bertinggal beberapa hari supaya bisa mencecap bagaimana denyut kehidupan di rumah gadang, juga merasakan bagaimana arsitektur kayu yang lampau ini mengakomodasi iklim lokal dan tetap bertahan hingga kini.

Melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh, sebelumnya di Nagari Koto Lima Puluh kami juga melihat beberapa rumah gadang. Bahkan setelah tiba di kota Payakumbuhnya sendiri terdapat beberapa gaya rumah gadang yang disesuaikan dengan tingkat sosial penghuninya. Ada beberapa rumah gadang yang memiliki pintu masuk di depan, dengan polesan eksterior yang lebih mewah menandakan kedudukan orang di dalamnya.

Melihat banyaknya warisan kekayaan budaya yang beragam yang bisa terus kita lestarikan, semestinya rumah gadang bisa menjadi salah satu potensi wisata bertinggal, sehingga tidak hanya dijadikan benda monumental seperti museum atau ruang pamer, namun tetap ditinggali dan dirawat untuk terus mengenal budaya lokal keseharian yang khas dari daerah ini.

perjalanan 31 Maret 2013
ditulis 30 Juli 2013. when the lights out at enviro corner.

cerita selanjutnya : rendang minang #7: cadas batu lembah harau

Advertisements

11 thoughts on “rendang minang #6: rumah gadang di tepi jalan

      • lulu says:

        Kalau keluarga ayah punya rumah gadang, tapi ga terlalu besar. Di sana orang nyebutnya Rumah Bodi. Letaknya di Balai Nan Duo, Koto Nan Ampek. Yang cukup besar dan kalau nggak salah pernah jadi penelitian itu rumah sepupu gw. Di Balai Nan Duo juga, disebutnya Rumah Koto.Tapi udah sepuluh tahun gw ga pulang kampung, jadi gw lupa-lupa ingat.

  1. chris13jkt says:

    Wah untung juga bisa mampir dan masuk menjelajah di rumah gadang tua seperti itu.
    Eh itu Pak Supirnya asyik juga yah, mau nganterin bertamu ke rumah penduduk begitu.

  2. Vira says:

    “Sambungan kayu diikat dengan pasak, yang membuatnya lentur ketika gempa. “… baru tauuuu…! Trus kenapa bangunan2 baru pada pake paku, sih?

    • indrijuwono says:

      karena kalau pakai pasak lebih ribet bikin pasaknya kayu kan kecil, juga cara bikin sambungannya juga khusus supaya bisa ngunci, namun lentur.
      kalau pakai paku, bisa langsung kaku berdiri gitu, lebih cepat pengerjaannya. tapi kalau kaku kan lebih gampang patah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s