berjalan kaki di bandung, sejarah kota dan asia afrika

bandung-dago

“Bahwasanya, matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit!”
Soekarno – Indonesia Menggugat, 1930

Berkeliling Bandung, adalah mengurai kenangan tentang sejarah bangsa yang terserak di sini. Tidak hanya bagi kawasan Pasundan dan sekitarnya, tapi pada dunia ketiga yang berupaya untuk berubah. Tahun 1955, untuk pertama kalinya Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, dihelat sebagai pertemuan antar kepala negara untuk menciptakan dunia yang lebih damai.

Kontur kota yang berbukit-bukit dan udara sejuk setiap pagi tentu menjadi salah satu paremeter untuk kegiatan yang tidak menaikkan emosi, berjalan dari satu-satu bangunan yang tersebar di berbagai tempat, memberi cerita akan warna kota pada suatu masa. Jejak-jejak arsitektur yang fana dan tertinggal untuk dinikmati hingga kini, menjadi suatu pertanda wajah kota pernah seperti apa.

Poros-poros tengah kota yang mewarnai perjalanan Asia Afrika, memberikan cerita dalam setiap langkah di bawah rimbun pohon Ki Hujan yang mendominasi, cerita tentang fasade-fasade pernah menjadi apa dan berupaya tetap dijaga. Satu dari sedikit kota yang percaya bahwa sejarah arsitekturnya adalah unik, karenanya terus ada dan dijaga.

Walaupun demikian, berjalan kaki di Bandung melewati bangunan-bangunan ini bisa dilakukan dengan cukup menyenangkan, mudah dan juga asyik. Bisa memakan waktu sekitar 2-4 jam untuk melewati satu per satu, namun di bawah rerimbun pohon dan jajanan yang bertebaran, juga pemandangan yang berubah-ubah, perjalanan ini cukup direkomendasikan.

GEDUNG DWIWARNA

Dulu, gedung yang dibangun tahun 1940 oleh G. Hendrik ini pernah memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai tempat Indische Pensioen Fondsen atau Dana Pensiun se-Indonesia, kemudian berubah menjadi Gedung Kempei, Gedung Rekomba, Gedung DPR Negara Pasundan, Gedung DPRD Jawa Barat, hingga kini menjadi Gedung Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jawa Barat. Fungsi spesialnya karena bangunan ini pernah menjadi sekretariat KAA tahun 1955. Karena kegunaannya sekarang sebagai kantor, sehingga butuh izin terlebih dahulu untuk memasuki bangunan ini, meskipun demikian, area depan dan lobby dengan plakat bersejarah masih mudah dimasuki oleh umum. Gedung yang berlokasi di Jl WR Supratman ini menjadi titik pertama untuk menjalani rute.

gedung dwi warna

gedung dwi warna

tampakk depan gedung dwiwarna, supratman

tampakk depan gedung dwiwarna, supratman

interior gedung dwiwarna

interior gedung dwiwarna

GEDUNG SATE

Memadukan berbagai unsur arsitektur, seperti jendela dengan tema Moor Spanyol, dan Rennaisance Italia untuk bangunannya menjadi ciri gedung yang dibangun oleh Ir. J. Gerber ini. Pada bagian atapnya gaya atap pura Bali atau pagoda Thailand menjadi model atap yang bertumpuk. Di puncaknya terdapat “tusuk sate” dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden, yaitu jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Uniknya lagi, gedung ini dibangun dengan orientasi arah menghadap Gunung Tangkuban Perahu. Penampakan gunung yang ditendang Sangkuriang ini cukup jelas dari ruangan puncak Gedung Sate saat udara cerah.

dari puncak gedung

dari puncak gedung

memandang tangkuban

memandang tangkuban

RUMAH JALAN GEMPOL

Tak jauh dari situ, melewati rumah-rumah di Jalan Gempol yang masih amat kental nuansa pasundannya, dengan dinding kayu dan atap panggang pe dengan genteng tanah liat yang kecil-kecil, ditambah pohon rambutan yang meneduhi rumah. Tak jauh dari sini ada kupat tahu Gempol yang terkenal juga Roti Gempol yang tak kalah mahsyur untuk sekadar pengganjal perut sejenak.

rumah kayu masa lalu

rumah kayu masa lalu

GEREJA KATOLIK BEBAS “S-ALBANUS”

Karena jalur yang dilewati adalah daerah pemukiman, maka sangat mudah ditemukan bangunan keagamaan yang menunjang aktivitas sosial di sekitarnya, seperti gereja ini. Namun seiringnya berjalannya waktu, fungsi-fungsi ruangnya pun berubah. Sekarang, bangunan satu lantai ini dikelola oleh salah satu yayasan sebagai tempat kursus bahasa Belanda.

gereja ubah fungsi

gereja ubah fungsi

GOR SAPARUA

Salah satu gedung dengan ruang terbuka di Bandung yang marak dengan berbagai aktivitas olahraga setiap harinya. Di hari Sabtu sore atau Minggu pagi, bisa ditemukan anak-anak yang bermain roller blade dan skateboard di sini, beserta orang-orang dewasa yang jogging atau bersepeda keliling lapangan. Gedungnya sendiri sering digunakan untuk pertandingan basket dan bulutangkis dengan kapasitas 4000 orang. Posisi strategis dan aura selalu berjiwa muda di sini membuat lokasi ini juga sering dijadikan helatan konser musik.

coba lewatkan minggu pagi di sini

coba lewatkan minggu pagi di sini

GEDUNG JAARBEURS

Konon kabarnya, gedung ini dahulu tahun 1920-1941 dan difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan pameran dagang tahunan dan menjadi tujuan wisata pada expatriat Hindia Belanda yang sedang bertugas di Indonesia, juga ruang temu dari para pengusaha dari Bandung maupun mancanegara untuk berbicara bisnis mereka. Gedung tipe kolonial dengan arsitek C.P. Wolff Schomaker dan R.L.A. Schomaker ini dihiasi dengan tiga patung torso di bagian depan, yang juga pernah digugat karena tidak sopan. Sekarang fungsinya menjadi Makodiklat TNI AD dengan fasade tetap dipertahankan.

tiga torso menyangga

tiga torso menyangga

TAMAN LALU LINTAS

Ruang terbuka hijau yang selalu menjadi rujukan bermain anak-anak se-Bandung Raya ini didirikan pada tahun 1955, tahun yang sama dengan terselenggaranya KAA di Bandung. Area ini merupakan area pembelajaran lalu lintas untuk anak-anak dengan segala moda transportasi darat yang ada di dalamnya, jalur kereta api, jalur bersepeda, beserta dengan segala rambu yang bisa diamati dengan pendamping. Jujur saja, aku mengalami masa kecil dengan bermain-main di sini, dan sekarang teman-temanku pun masih suka bermain di sini beserta anak-anaknya. Taman ini memang penuh kenangan berbagai generasi.

GEREJA KATEDRAL BANDUNG

Lokasinya yang berada di antara SD Banjarsari dan SD Merdeka membuatku selalu memperhatikan bangunan ini sejak kecil karena bentuk atap dengan kemiringan yang super curam tersebut dari dalam mobil antar jemput. Juga dibangun oleh C.P. Wolff Schomaker, gereja di Jl Merdeka ini masih digunakan oleh umat Katolik hingga sekarang.

bagaimana cara mengganti gentingnya?

bagaimana cara mengganti gentingnya?

TAMAN VANDA

Tepat di depan Katedral yang berseberangan dengan Kantor Walikota Bandung ini berdiri Bioskop Vanda, yang dahulu sempat punya nama Bioskop Rex dan Bioskop Panti Karya. Dulu sewaktu kecil kuingat pernah menonton film Si Kabayan Saba Kota yang dibintangi alm Didi Petet di sini. Namun seiring dengan menurunnya pasar bioskop, membuat usaha ini tutup dan akhirnya bangunannya dibongkar dan berubah menjadi taman Vanda pada tahun 2015, ruang terbuka untuk bersosialisasi penduduk Bandung menikmati keramaian kota.

taman vanda di sudut merdeka

taman vanda di sudut merdeka

dari tepi jalan bandung

dari tepi jalan bandung

BALAIKOTA BANDUNG

Gedung di jalan Wastukencana ini adalah salah satu yang paling populer di sekitar Bandung karena taman-taman terbuka di sekitarnya yang sering sekali digunakan warga Bandung untuk bercengkrama. Di sore hari banyak orang berolahraga, berkomunitas, hingga keluarga muda yang sedang mengasuh balitanya bermain-main di situ, sampai mojang-mojang geulis yang menghabiskan waktu hingga senja menjelang di taman kota yang ramah dengan warganya ini.

GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT

Tanggal 2 Desember 1930, Soekarno membacakan Pledoi terkenal berjudul Indonesia Menggugat (Indonesië Klaagt Aan) di bangunan yang berfungsi sebagai Den Landraad Te Bandoeng sejak tahun 1917 ini. Pledoi yang di sebagai pembelaan sekaligus kegeraman pada penangkapannya sebagai redaktur media Fikiran Rakjat yang dianggap meresahkan pemerintahan Belanda di masa itu. Saat ini, bangunan ini lebih banyak berfungsi sebagai ruang pamer, ruang-ruang diskusi bertukar pikiran, juga kelas-kelas menulis atau seni yang sering diadakan di sini. Salah satu pojok menarik untuk menghabiskan sepi di Bandung atau bersua dengan teman seperjuangan.

gedung indonesia menggugat

gedung indonesia menggugat

ruang pledoi indonesia menggugat

ruang pledoi indonesia menggugat

bersama soekarno

bersama soekarno

kurasi seni

kurasi seni

JALAN BRAGA

Salah satu jalan yang terkenalsebagai pusat kegiatan niaga, tempat kaum muda zaman dahulu berakhir pekan, berbelanja, berdansa-dansi, berjalan-jalan di arcade toko-toko yang berjajar. Lebih sering nampak kendaraan padat merayap di sini karena banyak juga restoran-restoran lucu yang mengundang untuk mampir dan penasaran mencoba makanannya. Salah satu film terkenal dari novel Dewi ‘Dee’ Lestari yang berjudul Madre juga mengambil setting di salah satu toko yang berderet. Di trotoarnya juga bisa ditemukan aneka penjual lukisan maupun sketsa wajah yang cantik. Yang uniknya, jalan raya di Braga tidak menggunakan aspal, melainkan batu andesit lempeng yang disusun.

braga dan batu andesit

braga dan batu andesit

fasade toko masa lampau

fasade toko masa lampau

penjual lukisan di braga

penjual lukisan di braga

pojok braga

pojok braga

PENJARA BANCEUY

Terletak di Jalan Banceuy yang kini berubah wajah menjadi pusat onderdil mobil, penjara ini pernah menjadi tempat ditahannya para pelaku kriminal sejak didirikan tahun 1877. Bersama dua rekannya Gatot Mangkoepradja dan Maskoen Somadipraja, Bung Karno pernah dijebloskan di sini setelah ditangkap pada akhir Desember 1929. Sekarang bangunan ini sudah lenyap, hanya menyisakan sel nomor 5 dan salah satu menara pengawasnya dalam kondisi yang tidak terlalu terawat.

sisa sel tak terawat

sisa sel tak terawat

GEDUNG SWARHA

Bangunan yang berada di ujung alun-alun Bandung ini dahulu berfungsi sebagai hotel yang menampung peserta KAA beserta Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Hotel Braga. Bagian bawahnya yang sekarang menjadi toko kain, pernah menjadi media center untk meliput konferensi tersebut, karena letaknya yang berhadapan dengan Kantor Pos Besar Bandung sehingga memudahkan pengiriman berita.

sudut alun-alun

sudut alun-alun

GEDUNG MERDEKA

Inilah bangunan utama yang dipergunakan sebagai tempat untuk menggelar Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Dibangun tahun 1895, gedung yang sebelumnya bernama Societet Concordia ini adalah gedung pertemuan yang hanya boleh didatangi oleh orang Belanda, di sana mereka berpesta sambil dansa dansi dan menyaksikan pertunjukan kesenian. Juga dirancang oleh CP Wolf Schomaker, penutup lantai gedung ini adalai granit yang didatangkan dari Italia, dengan tempat minum bersantai dari bahan kayu pilihan yang disebut chickenhout. Kandelir kristal yang gemerlap tergantung membuat suasana ruangan menjadi semarak.

Sayap kiri gedung ini dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika yang dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers. Selain memiliki ruang pamer tetap, di sini juga dilengkapi dengan perpustakaan dengan koleksi sejumlah buku mengenai sosial, politik, dan budaya negara-negara Asia Afrika serta negara-negara lain. Terdapat satu ruangan audio visual yang menayangkan video dokumenter tentang kondisi dunia tahun 1950 dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Ruangan paling besar di sini adalah ruang konferensi yang menjadi ruang utama penyelenggaraan acara dengan berhias bendera berjajar dari berbagai negara peserta.

sumber : aptikom

sumber : aptikom

interior ruang konferensi asia afrika

interior ruang konferensi asia afrika

antara gedung dan cikapundung

antara gedung dan cikapundung

Kota Bandung memang menyimpan beragam cerita bersejarah tentang perubahan wajah kota yang perlahan-lahan, dari sekelompok lingkung bangun yang memiliki nilai sejarah sehingga menggelitik rasa ingin tahu tentang asalnya. Sejak dahulu hingga sekarang, pesona alaminya membuatnya hanya bersolek sedikit cantik dengan potensi dibanjiri oleh pelancong yang ingin menghabiskan rasa nostalgi. Rekomendasi penginapan Bandung di sekitar jalur Supratman-Merdeka-AsiaAfrika ini adalah Ivory by Ayola yang tenang, strategis dan mudah dicapai, dan bisa dibaca review-nya.

p.s. Sebagian foto adalah koleksi Goodreads Bandung dari beberapa acara. Sebagai seseorang yang beberapa kali tinggal di Bandung dan cukup sering bolak balik ke Bandung beberapa tahun ini, ternyata aku tak punya banyak foto dari beberapa gedung bersejarah ini, sehingga mungkin tulisan ini akan diedit lain waktu dengan foto yang baru.

catatan : Fotoku yang berbaju jingga itu tahun 2010 waktu itu sedang acara Bandung Citywalk dari Nol kilometer-Gedung Merdeka, hingga Gedung Sate. Sementara yang foto berbaju hitam itu 2015 napak tilas KAA dengan rute Gedung Dwiwarna-Gedung Sate terus hingga Gedung Merdeka.

wilujeng sumping, baraya…

0-bandung

alun-alun

Advertisements

28 thoughts on “berjalan kaki di bandung, sejarah kota dan asia afrika

  1. omnduut says:

    Terakhir ke Bandung tahun lalu dan terkagum-kagum dengan taman-tamannya yang kece. Tapi memang masih kerasa macet *lah iyalah ya hahaha, mana akhir pekan* baca tulisan ini langsung kepikiran buat balik lagi. Nganu, soalnya instagramable buanget muahaha

  2. iyoskusuma says:

    Betul, Mba. Udara Bandung yang adem (walau hari terik) bikin emosi ga cepet naik. Ngademin hati. Kerasa banget, sejak pindah ke Jkt jadi lebih irit senyum sama orang asing. Bahahaha.

    Banyak juga saksi bisu sejarah bangsa ya di Bandung. Selama ini ga pernah sengaja jalan2 buat napak tilas sejarah di Bandung. Menarik!

  3. disma says:

    Setelah baca, gatal rasanya kalau tidak ikut ngoceh, first of all baca ini sekalian nostalgia suasana Bandung, pemilihan spot-spot ceritanya beberapa ada yg saya baru tau selebihnya sudah pernah mengunjungi. Jadi kali ini Bandung sebagai kota sejarah ya selain kota belanja, kota jajanan, kota pelajar, 🙂

    • indrijuwono says:

      Makasih komennya yaa.., Bandung termasuk salah satu kota yang cukup lumayan menjaga bangunan lamanya yang mengikuti satu masa tertentu. Cukup banyak bangunan tua, dan berfungsi dengan baik.. 😊

      • arniarnie says:

        Jalan sama temen habis dari perpus ITB saat selesaikan tesis. Kemudian mampir di toko Chinese beli kue kering. Lihat pelukis di ujung jalan. Dulu belum ada kursi di tepi jalan, yang penting masih ada jalur pedestrian buat nikmati saujana.

  4. Nana says:

    Keren!!
    Aku jarang ke Bandung, sekalinya ke sana paling cuma gara-gara acara kantor. Pengin bisa jalan-jalan menyusuri gedung-gedung bersejarah.

  5. PARAMITA says:

    Yaaahh, jadi kangen bandung lagi deh abis baca tulisan mbaknya :””
    Padahal 2 minggu lalu baru pulang dari sana. Di sana hawanya enak, tempatnya bersih2, banyak tempat wisata tapi sayang macetnya ga ketulungan. Hahaha. Tapi aku tetep merindukan bandung 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s