menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading

Advertisements

osaka : tradisional, modern, dan hura-hura

0-cover-osaka-castle-TEXT


Anywhere there is life, there are eyes. And things, too, speak to those who have ears to hear.
― Eiji Yoshikawa: Taiko

“Ini istananya Hideyoshi Toyotomi?” Aku kagum melihat istana besar yang selama ini hanya ada dalam benak, dari buku-buku yang kubaca. Hideyoshi Toyotomi kukenal dari buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang beberapa tahun yang lalu menemani perjalananku ke kantor. Taiko mengisahkan perjalanan seorang pengantar sandal, hingga menjadi seorang panglima besar kerajaan Jepang di tahun 1586. Buku ini menjadi salah satu buku yang mempengaruhi hidupku tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam buku Taiko dikisahkan tentang Jepang pada abad ke-16, ketika keshogunan tercerai berai. Hideyoshi yang lahir sebagai anak petani, datang sebagai abdi Oda Nobunaga seorang daimyo di provinsi Owari, mempelajari sekitar dan memohon kesempatan bertempur sehingga akhirnya ia bisa menjadi salah satu pelindung Kaisar. Dengan kesetiaannya yang tinggi akhirnya ia mendapatkan kepercayaan untuk memerintah di satu propinsi, dan berlanjut dengan penaklukan daerah-daerah lain di Jepang hingga akhirnya ia menjadi seorang Taiko, yang berkedudukan di Osaka dan mendirikan istana di bekas kuil Ishiyama Honganji. Dengan sentral pada istana, penduduk yang sudah bermukim sejak lokasi ini menjadi kuil, makin meluas dan menjadi cikal bakal kota. Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Edo, Osaka menjadi pusat pemerintahan Jepang karena tempatnya yang strategis di tepi lautan sebagai pusat ekonomi dan transportasi. Continue reading

kansai international airport, gerbang masuk jepang dari tengah laut

kansai-international-airport-japan-3

It can hardly be a coincidence that no language on earth has ever produced the expression, ‘As pretty as an airport.’
― Douglas Adams, The Long Dark Tea-Time of the Soul

Aku pertama kali mendengar nama Bandar Udara Kansai di Osaka ini adalah ketika aku mengambil mata kuliah Struktur dan Konstruksi di semester 5. Pada mata kuliah yang mengajarkan tentang bangunan bentang lebar ini, beberapa contoh diberikan seperti stadion, jembatan atau bandara. Beberapa kebutuhan fungsi ruang memang membutuhkan jarak antar kolom yang lebih jauh, sehingga teknologi bentang lebar yang ditemukan oleh arsitek dan ahli-ahli konstruksi ini menarik untuk dipelajari.

Gambar goresan tangan arsitek Renzo Piano yang mensketsa tema ‘lepas landas’ menjadi dasar desainnya untuk mengembangkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh bandara internasional ini. Bandar udara dengan kode KIX ini berdiri pada tahun 1994 dengan dua area, yaitu daerah landasan pesawat dan bangunan bandaranya sendiri dengan termasuk fungsi penerimaan penumpang dan area komersial. Continue reading

inspirasi dialog rumah sandri

cover-rumah-sandri-gaharu

“To be creative means to be in love with life. You can be creative only if you love life enough that you want to enhance its beauty, you want to bring a little more music to it, a little more poetry to it, a little more dance to it.”
Osho

“Rumahmu ini Sandri banget, ya!” ujarku dalam satu kesempatan kesekian kalinya ke kediaman teman kuliahku di kawasan Cipete ini. Sandri yang kukenal sejak masa kuliah dengan gayanya yang ajaib dan unik dengan berbagai asesoris menempel di badannya, masih tidak berubah sampai kini. Masih berprofesi sebagai arsitek dan menikah dengan Didit, seorang desainer grafis, mereka mendesain rumahnya dengan nyaman sesuai dengan karakter masing-masing. Walaupun mengusung gaya yang agak mirip, tapi baik Sandri maupun Didit punya ciri khas masing-masing.  Continue reading