cerita dari batu-batu di pantai kolbano

0-cover-kolbano-kupang

batu-batu ini bercerita sejak kapan mereka berada di sana
bertemu dengan debur-debur laut yang menggelora

batu-batu ini tak tahu, kenapa mereka tetap menjadi batu
bukannya berubah menjadi pasir seperti tepi-tepi yang lain

batu-batu ini merasa kuat, karena laut tak menggerus mereka
bongkah padat endapan karang beribu tahun lalu Continue reading

Advertisements

rumah-rumah yang berlari dalam perjalanan menuju kolbano

rumah-adat-timor-soe-0-cover

Aku menempelkan hidungku pada kaca mobil yang melaju dari kota Soe. Pepohonan berlari, tiang listrik berkari, rumah-rumah berlari. Pegunungan  yang membentang dari Soe menyajikan lansekap timbul tenggelam, menyembunyikan kehidupan di balik pepohonan gewang yang tegak berdiri tinggi.

Pikiranku kembali pada satu berita di tahun 1990-an tentang batang-batang rumah adat Timor yang dicat warna sesuai dengan warna sarung kesukaan  penghuninya. Di mana desa itu berada? Karena yang tertangkap mataku sekarang adalah rumah-rumah berwarna senada, monokrom serupa sepia dari balik kaca mobil.

Continue reading

ziarah keramik gunung jati

0-ziarah-keramik-gunung-jati

Suatu hari, pernahkah kau teringat bahwa
ziarah adalah berkencan dengan sepi?
Menuju ruang persinggahan antara yang fana
dan baka dalam tetumbuh batu nisan.
Di sini, mengingat kembali hal muasal yang terjadi
ratusan tahun lalu,
ketika nama-nama itu masih hidup.

Dinding-dinding putih itu berbicara
tentang negeri jauh,
Menyeberang lautan, asal dari Ratu Ong Tien.
Serupa keramik yang menempuh perjalanan
panjang untuk menemani sang puteri,
dipersunting Sunan Gunung Jati
Continue reading

mega mendung dalam batik trusmi

0-cover-batik-trusmi-cirebon-x

“Apa guna warna langit dan bunyi jengkerik? Apa guna sajak dan siul? Yang buruk dari kapitalisme adalah menyingkirkan hal-hal yang percuma.”
― Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali

Berulang kali aku pulang ke Cirebon, bisa dibilang aku tidak pernah menyempatkan diri ke pusat batik Trusmi yang terkenal itu, karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah keluarga. Padahal motif mega mendungnya yang terkenal itu terpapar hampir di semua tempat khas di Cirebon.

Ternyata, lokasi sentra batik di daerah Trusmi ini cukup mudah dicapai, bisa naik angkot GP tujuan Plered dan turun di depan gerbang besar bertuliskan selamat datang di Trusmi. Bisa berjalan kaki sambil melihat-lihat kanan kiri aneka toko batik yang berjajar di sepanjang jalan, atau naik becak sampai satu sentra batik terbesarnya yang berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Cirebon-Plered.

Continue reading