berjalan kaki di bandung, sejarah kota dan asia afrika

bandung-dago

“Bahwasanya, matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit!”
Soekarno – Indonesia Menggugat, 1930

Berkeliling Bandung, adalah mengurai kenangan tentang sejarah bangsa yang terserak di sini. Tidak hanya bagi kawasan Pasundan dan sekitarnya, tapi pada dunia ketiga yang berupaya untuk berubah. Tahun 1955, untuk pertama kalinya Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, dihelat sebagai pertemuan antar kepala negara untuk menciptakan dunia yang lebih damai.

Kontur kota yang berbukit-bukit dan udara sejuk setiap pagi tentu menjadi salah satu paremeter untuk kegiatan yang tidak menaikkan emosi, berjalan dari satu-satu bangunan yang tersebar di berbagai tempat, memberi cerita akan warna kota pada suatu masa. Jejak-jejak arsitektur yang fana dan tertinggal untuk dinikmati hingga kini, menjadi suatu pertanda wajah kota pernah seperti apa.

Poros-poros tengah kota yang mewarnai perjalanan Asia Afrika, memberikan cerita dalam setiap langkah di bawah rimbun pohon Ki Hujan yang mendominasi, cerita tentang fasade-fasade pernah menjadi apa dan berupaya tetap dijaga. Satu dari sedikit kota yang percaya bahwa sejarah arsitekturnya adalah unik, karenanya terus ada dan dijaga.
Continue reading

Advertisements

ivory by ayola hotel, menangkup rindu pada bandung

IVORY-AYOLA


Katanya, Bandung itu tempat melabuhkan rindu.

Kota ini selalu memberikan aura kangen yang begitu kental, pada jalan-jalan di bawah pohon, udara sejuk berhembus, tukang somay hokkie dan es krim durian di trotoar, senyum manis mojang priangan dari sudut-sudut toko, kafe-kafe kopi yang hangat, percakapan santai di taman berteman bajigur, celoteh sunda yang penuh canda, hingga teriakan aceh merdeka dari dalam angkot.

Dan pusat seputaran rindu itu adalah poros Dago-Merdeka-Riau-Supratman, pusat kota yang menjadi riuh oleh penduduk asli maupun pendatang, pusat kemacetan di kala akhir pekan, namun juga tempat strategis menghabiskan kenangan, terlingkungi oleh kanopi-kanopi pohon yang romantis, seakan memanggil-manggil untuk pulang. Continue reading

giveaway cirebon : enam tahun blog

4-batik-trusmi-giveaway

I love writing and people love me writing so I love them too.

Aku punya rahasia menulis.
Aku tidak bisa melanjutkan tulisan, apabila tidak menemukan kalimat pertama.
Kalimat pertama adalah kunci.

Ingatkah kalian apa yang terjadi dalam hidupmu ketika umurmu 6 tahun? Aku sih ingat, ketika dulu duduk di kelas 2 SD (karena masuk SD di umur 5 tahun) dan menerima rapor terbagus sepanjang sejarah aku terima rapor selama 12 tahun, tidak tahu kenapa bisa sebagus itu padahal rasanya sih sekolah sambil bermain-main saja. Belajar, gembira, mengerjakan pe-er, setiap pulang sekolah bermain karet, petak umpet, jajan di pinggir sekolah, berlarian mengejar layang-layang, menonton film anak-anak di TVRI jam 17.30, dan mengerjakan pe-er hingga lagu Garuda Pancasila berkumandang dari layar kaca.

Tanpa terasa, blog tindaktandukarsitek.com ini sudah sampai di tahun ke enamnya pada tanggal 20 Mei 2016! Usia yang jika setara dengan anak kecil adalah saat mendapatkan pendidikan formal yang terarah. Jika dibilang, usia enam tahun adalah masa lucu-lucunya, masa bermain-main asyik tetapi harus belajar disiplin. Mengenakan seragam baru, penuh semangat untuk belajar, mencari hal-hal baru dalam hidupnya. Entah kalau ada yang bilang bahwa pendidikan itu membelenggu, tapi aku termasuk yang berpikir bahwa pendidikan itu mencerahkan, diimbangi oleh pencerahan dari alam sekitar dan tentu saja cukup bermain. Continue reading

nara heritage walk : kota pejalan kaki

0-nara-japan-buddha-hall-kofukuji-X

“No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.”
― Gautama Buddha, Sayings Of Buddha

Sudah lama aku mendengar tentang kota Nara di Jepang, yang digadang-gadang sebagai sister-city dari beberapa kota di Indonesia. Dengan penjelasan seorang teman yang baru dari sana dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota tinggalku dan Windu, membuatku mencari pengalaman baru di kota taman yang istimewa ini. Nara ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dengan kereta dari Osaka. Jejaring JR Pass membuat kami hanya menunjukkan kartu saja dalam perjalanan di area prefektural Kansai ini.

Yang istimewa, kota Nara ini bisa dijelajahi sambil berjalan kaki. Pertama kali tiba di stasiun Nara, kami langsung menuju bangunan Tourist Information Center. Di situ kami bisa memdapatkan peta kota Nara beserta jalur umum yang dilewati sembari berjalan kaki. Seorang bapak tua akan menjelaskan dalam bahasa Inggris yang baik, tentang tempat-tempat yang bisa kami kunjungi. “You can walk to these place by four to six hours,” sambil menandai dengan pensil merah. Gambar rusa yang lucu menghiasi peta wisata kami, yang merupakan simbol kota Nara. Continue reading

himeji museum of literature, bahasa arsitektur tadao ando

0-cover-1

“What is it to die but to stand naked in the wind and to melt into the sun?”
― Kahlil Gibran, The Prophet

Orang Jepang sangat terkenal dengan kebiasaannya membaca. Sering dilihat dari berbagai ilustrasi, orang Jepang yang membaca di kereta, di bis, di taman, atau di banyak tempat. Mereka mempelajari tulisan-tulisan sastra sejak kecil, mulai dari legenda hingga cerita, kemudian sebagian menulis cerita juga di masa dewasa, dan tak sedikit yang mengembangkan dirinya dengan cerita bergambar. Maka tak heran, berbagai bangunan untuk mengakomodasi kecintaan rakyat Jepang terhadap literasi ini dibangun, salah satunya yang sengaja kukunjungi ketika berada di kota Himeji.

Selagi masih di kota ini, aku menemukan bahwa ada karya Tadao Ando yang berada di kota tersebut, yaitu Himeji Museum of Literature. Letaknya yang tak jauh dari jalur bis yang kami lewati sesudah turun dari Mount Shosha, tempat Kuil Engyoji berada. Hanya berjarak sekitar 200-an meter, kami menemukan dua bangunan dengan bentuk massa solid yang saling bersebelahan.
Continue reading